
Kira-kira pukul 01.33 pagi, seorang wanita paruh baya dengan pakaian kemeja rapi membuka pintu kamar mereka dan tersenyum melihat kedua anaknya telah terlelap . Ia masuk, membetulkan selimut dan mematikan lampu kemudian keluar menutup pintu dengan hati-hati.
Rabka terbangun, meregangkan tubuhnya lalu melirik jam yang menunjukkan pukul 04.57 pagi. Dengan mata berat ia menyeret langkah menuruni tangga yang mengarah menuju ruang makan. Pagi ini ia menemukan kejanggalan pada meja yang terisi penuh makanan. Padahal,biasanya mereka berdua harus memasak bersama atau menunggu pesanan yang dipesan oleh ibu dari kantor. Maklum, ibu jarang memasak karena ia berangkat sangat pagi dan pulang sangat malam, bahkan tak jarang ia tidak di rumah. Ia adalah seorang sekertaris perusahaan elektronik besar. Jadi, memang jadwalnya sangatlah padat, kemana bos pergi kesanalah ia pergi. Sedangkan Ayah adalah seorang tentara. Tentara di Kota Medianpolis sangatlah penting. Mereka ditempa terus menerus, setiap bulannya ada beberapa pelatihan yang wajib diikuti entah kemana saja, entah di dalam kota, di luar kota atau bahkan di luar negri .
Rabka terus berjalan memeriksa seluruh rumah, mencari siapa orang yang memasak makanan sebanyak ini.
“mungkin itu Ibu, tapi…ibu kan sedang berada di luar kota sekarang ini. Tidak mungkin ia pulang, baru saja kemarin ia berangkat.” Pikirnya.
Ia membuka kamar ibu dan ayahnya. Ada yang berbeda di sana biasanya kamar ini selalu rapi namun, kali ini ada beberapa lembar kertas dan pena yang berserakan di meja.
“Ibu…”panggilnya, karena tak ada jawaban Ia berbalik arah.
Ada sebuah pintu yang terbuka, langsung saja ia hampiri. Didalamnya ada seorang wanita yang tengah merapikan baju.
“Ibu!!”serunya karena dugaannya tepat.
“eh…,Rabka sudah bangun?” Tanya wanita itu.
“ibu kok sudah pulang, bukannya ibu ada rapat?” Tanya Rabka tanpa mengindahkan pertanyaan Ibu.
“iya…,ibu tidak jadi berangkat…,ketika pesawat tiba di bandara tujuan, ada pesan dari pihak bersebrangan bahwa rapatnya ditunda mendadak, Dan ibu langsung pulang ke sini tadi pagi” jawab Ibu.
“oh…,begitu ya…”kata Rabka mengangguk-angguk.
“Tidak apa –apa kan?” Tanya ibu.
“Jelas boleh dong…” jawab Rabka geli disahut dengan gelak tawa ibunya.
“Ayo makan!”ajak ibunya.
"Ayo...!" jawab Rabka bersemangat.
Ketika Rabka menciduk nasi ke piringnya, Arna datang menuruni tangga dengan mata agak terpejam. Ia tersenyum lucu melihat tingkah adiknya yang setengah tidur.
“Sudah gosok gigi?” Tanya Rabka.
Arna hanya membalas dengan anggukan.
“kok masih ngantuk?” Tanya ibu heran.
“Gak ngantuk ko bu…,Cuma pengen tidur” jawab Arna ngasal.
"ah.., dasar Arna!." ujar Rabka.
“Oh iya! Kapan kalian masuk sekolah?” Tanya ibu selagi mereka menyantap hidangan.
"setelah libur....!" jawab Arna dengan niat menggoda.
“tanggal 7 november” sanggah Rabka.
“berarti lusa kan?” Tanya ibu.
“yupz…” jawab Arna.
Ibu hanya menganguk angguk menyudahi topik pembicaraan.
“nah…,mau ikut ibu belanja?” Tanya Ibu
__ADS_1
dengan senyum lebar.
“mau…!!!” jawab mereka berdua bersemangat.
“sekarang, mandi..” kata ibu tak kalah semangat.
Ibu mengambil kontak mobil yang tergantung di lemari. Mobil telah terparkir di depan gerbang. Ibu mempersilahkan dua anak kesayangannya untuk memasuki mobil. Perjalanan itu terasa sangat maenyenangkan karena terus dibumbui dengan gurau senda dan tawa mereka bersama. Sesampainya di sana, ketika ibu membuka pintu mobil, tanpa aba-aba mereka melompat menerjang halaman supermarket yang dipenuhi mobil. Ibu memang jarang berbelanja di pasar, lagipula pasar tradisional di kota hanya ada satu dengan pilihan barang yang sama sekali tidak lengkap. Itupun sekarang sedang dalam tahap renovasi.
“ayo masuk!” ajak ibu sambil menggandeng tangan kedua anaknya menyebrangi lokasi parkir mobil yang cukup luas.
Di ambang pintu supermarket ada suara yang sudah tidak asing lagi menyapa kedatangan mereka, Yakni suara dua robot penjaga pintu masuk. Robot-robot itu berdiri memamerkan kecanggihan teknologi masa kini kepada semua orang. Ibu membuka catatan belanja dari tasnya. Sedangkan Arna dan Rabka telah lepas dari gandengan dan asyik bermain seluncurran di lantai licin mall. Tak lama, ibu melambaikan tangan mengajak mereka mendekat.
“Ekskalator?” ujar Rabka tidak senang begitu melihat Ekskalator di depan mereka.
Arna terkikik melihat wajah kakaknya yang
berubah masam itu. Seakan ia punya kenangan yang sangat tidak menyenangkan dengan kata ekskalator. Tapi itu memang kenyatan.
Dulu, saat Rabka masih kecil. Ayah dan ibu pernah mengajaknya menaiki ekskalator ke tingkat paling atas supermarket pada saat itu ia sangat girang. namun, ketika mereka sampai, ia terlambat melangkahkan kakinya, sehingga sandal kesayangannya tersangkut di ekskalator itu. Sedih rasa hatinya mengetahui sandal itu telah rusak. Meskipun ayah dan ibu telah membelikannya sandal baru, namun kata ekskalator tetap menyisakan kenangan buruk. Lamunannya buyar saat ibu memanggilnya untuk menaiki ekskalator.
“kenapa harus ekskalator?” Tanya Rabka.
“ya…,kan memang harus naik ekskalator. Memangnya mau naik apa lagi?” ibu bertanya balik.
“tapi kan, ada tangga!” elaknya.
“enak naik Ekskalator lah…gak perlu capek bawa barang” jawab ibu mantap.
Mereka pun pergi ke lantai atas menaiki ekskalator. Saat berada di atas ekskalator, Arna terlihat kegirangan berbeda dengan Rabka yang terlihat was-was dan waspada. Mereka telah selesai berbelanja, mereka telah kembali ke rumah.
“ada apa bu?” Tanya Arna.
"eh... enggak, itu ayah pulang besok...!" Jawab ibu sambil menutup telepon masih dengan ekspresi gembira.
“yesh…” seru Rabka
“Hore…,berarti kita bisa berjalan-jalan keliling kota!” seru Arna tidak kalah senangnya.
“iya dong…!!” jawab ibu.
“eh,sudah sudah sekarang makan dan cepat tidur! Besok kita sambut ayah.” Kata ibu menyudahi.
Serentak mereka berhamburan ke meja makan.
Pagi –pagi buta terdengar suara pintu pagar rumah dibuka. Arna melompat dari tempat tidurnya, kemudian berlari menuju kamar Rabka lalu mengguncangkan tubuh kakaknya hingga terbangun. Namun tidak lama ia menutup matanya kembali.
“kak…!! KAK!!! BANGUN! AYAH DATANG” ujar arna sebal.
Rabka membuka matanya lalu turun dari kasur dengan mata berat. Tanpa mempedulikan kakaknya lagi, Arna berlari menggandeng tangan kakaknya menuruni tangga. Rabka hanya bisa mengikuti Arna dengan langkah terseok-seok karena mengantuk. Di bawah, mereka melihat seorang lelaki berpakaian seragam tentara lengkap yang sedang berhadap-hadapan dengan ibunya. Arna lngsung saja melompat menerjang lelaki itu, ia langsung berbalik menangkap tubuh anaknya lalu mengangkat tubuh Arna tinggi-tinggi. Rabka menghampiri mereka dengan senyuman. Ayah mengelus kepalanya lembut.
“Ayah kapan datang?” Tanya Rabka.
“Barusan. Kalian keburu bangun sih!” jawab Ayah
“Bukan aku…,tapi itu lho… Arna” goda Rabka.
“Woy…!kenapa aku??” seru Arna.
__ADS_1
“Arnawa…,Arnawa…!”kata Ayahnya. serentak mereka semua tertawa.
Arna dan Rabka sangat menikmati hari-jari yang bisa dibilang jarang itu. Karena keluarga mereka memang jarang berkumpul, mereka lebih sering menjalankan rutinitas-rutinitas yang cukup padat.
keesokan harinya, sekolah telah dimulai kembali. Arna duduk di bangku kelasnya, Kelas 4D yang kebetulan masih sepi karena jam istirahat. Entah kenapa hari ini terasa janggal, padahal selurh keluarganya sedang berkumpul. Seharusnya ia gembira dan bersemangat. Namun, terasa aneh baginya. Ia hanya bisa melamun memikirkan apa yang terjadi.
“DOR….!!!!” Kejut seseorang dari belakang. Arna langsung berbalik badan.
Tenyata, itu adalah sahabat dekatnya Gio.
“Gio…kaget aku!!!” seru Arna.
“ya maaf, habis… kamu ngelamun terus sih!!!” jawab Gio.
“aku juga tidak tahu kenapa. Tapi, aku rasa ada yang tidak beres.” Jawab Arna.
“Memangnya ada kejadian apa?” Tanya Gio.
Arna hanya mengangkat bahu. Hening.
Di suatu rumah, seorang perempuan dan seorang pria sedang memasak bersama. telepon di meja berbunyi dengan nyaringnya. Pria itu berjalan menerima telepon lalu mengangguk-angguk serius. Wanita tadi mendekat
“ada apa?” Tanya wanita itu penasaran.
“emm…,maaf tapi sepertinya ada perintah mendadak.” Jawab si pria enggan.
“hah, apa?! Kau baru saja pulang!” seru wanita itu tidak senang.
“ya…,mau bagaimana lagi? Pengabdian tidak boleh setengah-setengah!” jawab si pria sambil mengenakan seragam tentara lengkap.
"hah..." si wanita menghela nafas panjang.
“hmh, maafkan aku, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk berkumpul. Tapi lain kali saat aku pulang nanti, kita berempat akan berlibur bersama.” Hibur si pria yang merasa agak bersalah.
“janji?” Tanya wanita yang mukanya kembali berseri seakan mendapatkan secercah harapan kembali.
“ya.” Jawab sang pria.
"kita akan pergi ke tempat yang jauuhhh...agar kita bisa menikmati ketenangan bersama-sama lagi!" pinta si wanita seakan memberi persyaratan.
“aku berjanji” jawabnya sambil menyingkirkan sehelai rambut yang jatuh di muka wanitanya lalu beranjak mengambil ransel yang tergeletak di atas meja dan melangkah gagah menuju keluar rumah.
Wanita itu turut mengikut di belakangnya dengan agak berat. Sebuah lambaian diarahkan padanya oleh si pria yang sudah berada di ambang pintu mobil dan segera ia balas dengan lambaian dan senyum yang agak dipaksakan. Namun sepertinya si pria tidak menanggapinya dan langsung memasuki mobil, memacu kuda baja menyusuri jalan beraspal. Si wanita memalingkan mukanya dari mobil yang hampir menghilang ditelan padatnya rumah penduduk, menatap bunga-bunga dengan rasa kecewa.
Tak lama ia terpaku di sana, bunyi klakson membuyarkan ratapannya. Ia membalas dengan tolehan cepat menatap mobil yang rupanya bukan mobil yang barusan pergi. Hatinya kecut kembali. Seorang pria berseragam hijau turun menyapa lalu bertanya
“Bapaknya ada bu?”
“oh, barusan saja ia pergi.” Jawab wanita itu.
“maksud kedatangan saya ke sini adalah mengabarkan bahwa Bapak akan diberi cuti beberapa hari setelah pelatihan rutin.” Kata pria berseragam langsung pada tujuannya.
“eh…,Tapi jelas-jelas tadi suami saya pergi karena ada panggilan.” Jawab wanita bingung.
“coba telepon dulu Bu saya akan menanyakan kejelasannya!” kata si pria heran namun cepat.
“oo..iya saya coba.” Jawab si wanita masih bingung.
__ADS_1