
“Entah kenapa setelah kejadian di lapangan tembak hari itu aku jadi malas keluar kamar!” ujar Reeko membuka pembicaraan.
“Apa karena pada saat itu Kak Gan menggila dan hampir membunuh kita ya?” gumam Reeko melanjutkan kata-katanya walau tidak dibicarakan pada Rezon.
“Apa??” Tanya Rezon, rupanya ia mendengar perkataan Reeko tadi.
“Eehhh… tidak… aku tidak berkata apa-apa!”
“Tapi….aku rasa.. yang hampir dibunuhnya saat itu adalah Arna bukannya kita.” Kata Rezon sambil menggaruk-garuk janggutnya.
Mendengarr perkataan Rezon, keduanya terdiam.
“Eh…” gumam Reeko.
“Bukankah yang hari itu hampir mati adalah Arna bukannya kita? Lalu kenapa kita melakukan ini dan mencampakkan orang yang membela kita mati-matian? Seharusnya sekarang kita bermain bersamanya, bukannya membiarkannya sendiri!” Kata Rezon baru sadar dengan tindakan keji mereka.
“Arna pasti kesepian!” Ujar Reeko mengingat bahwa Arna adalah anak baru.
“Kita harus menemuinya sekarang!” Timpal Rezon.
“Kita harus minta maaf!” Kata Reeko lagi.
“Ayo!!” Ajak Rezon sambil menyeret Reeko keluar kamar meninggalkan pekerjaan mereka yang masih belum terselesaikan.
Di depan kamar ada beberapa anak perempuan yang sedang berbincang-bincang bersama setelah usai latihan ringan sebelum tidur.
“Lay.. kau lihat Arna?” Tanya Reeko mengambil alih.
“Arna yang bertarung dengan Kak Gan itu?”Jawab anak berambut blonde sekaligus bertanya balik.
Rezon mengangguk kencang agak berlebihan, sampai-sampai kepalanya terlihat hampir lepas.
“Tadi sih iya…” Jawab gadis blonde itu lagi.
“Dimana?” Tanya Reeko tergesa-gesa.
“Dia bersama Ryan di aula latihan, lalu mereka keluar dari Aula melalui pintu utama entah kemana .” Jawab anak itu.
“Oke! Terimakasih!” Ujar Reeko sambil menarik Rezon.
“Tunggu…!!” Tolak Rezon.
“Siapa Ryan?” tanyanya.
“Dia…” kata Layna gadis Blonde itu.
“Ah.. sudahlah! Masa bodoh dengannya!” kata Reeko tak sabar.
“Eh..eh..eh.. Ree!”
Di sisi lain, Arna dan Ryan sedang berjalan bersama menikmati semilir angin di taman depan gedung untuk menghilangkan penat kemudian berlatih kembali.
Arna menengadah ke langit, cahaya temaram bulan tidak terlalu tampak dari sini kaena terhalang cabang pohon, tapi kelelawar, burung hantu dan hewan malam lainnya yang justru tampak berlalu-lalang dengan riang. Begitu nikmat membiarkan dingin menerpa kulit wajahnya dan menyapu kegetiran disana, sempat terbawa suasana mulutnya menyenandungkan nada seirama dengan gejolak malam hari.
Sayang kenikmatan itu terhenti karena kedatangan seseoraang yang hampir memjbuat jantung kedua anak itu copot.
__ADS_1
“Eh.. Guru!” Arna salah tingkah dan segera memperbaiki posisi duduknya, sementara Ryan hanya menggap-menggap seperti seekor ikan koi.
“Sudah tidak lelah?” Tanya Guru sambil duduk di sebelahnya.
Mereka berpandangan sesaat, tapi justru hal itu yang membuat mereka dapat memahami kegugupan di hati masing-masing.
“Ti..tidak guru, kami sudah lama beristirahat!” Jawab Ryan karena kawannya hanya bungkam.
Tingakah guru selanjutnya membuat hati mereka semakin nanar, pada awalnya dia hanya tersenyum, tapi kemudian tertawa hingga giginya tampak oleh mereka. Mau tidak gugup bagaimana? Biasanya guru tidak pernah bertingkah semacam ini, dia tidak tertawa lebar melainkan hanya tersenyum dan jika marah, dia akan berbicara beberapa patah kata atau menggelengkan kepalanya. Lagi-lagi mereka hanya berpandangan heran.
“Semangat kalian sangat tinggi!” Ujar Guru, tangannya menepuk lembut pundak kedua bocah itu.
Ryan nyengir menampakkan ekspresi yang membuat geram alias greget berlawanan dengan Arna yang tidak menampakkan apapun. Sebenarnya tindakan guru barusan malah mengungkit kembali memori tentang sang ayah. Dimana setiap kali berada di sampingnya, Ia selalu digendong di atas pundak sang ayah, diajak berlari keliling rumah mengandaikan bahwa sedang menaiki pesawat terbang dan kemudian mengambil buah di cabang yang tinggi. Api dendam kembali berkobar menyisakan asap yang berupa napsu haus darah, batinnya pun mengumpat ribuan kata tidak pantas walaupun sebenarnya malah menambah parah luka sendiri.
“Apa tujuan kalian?” Tanya Guru dengan senyuman hangat.
“Aku ingin membalas budi, guru telah menyelamatkanku. Jadi aku akan berjuang sekuat tenaga memperjuangkan apa yang Guru perjuangkan!” Jawab Ryan dengan semangat berapi-api.
Sorotan mata guru saat itu belum dapat Ia mengerti maknanya, sementara tangannya berpindah dari pundak ke atas kepala Ryan yang hanya tertunduk dengan muka semerah cabai. Berbanding balik dengan kawannya, perasaan Arna justru semakin tidak menentu emosinya naik turun diantara ingin memulai hidup baru atau kembali menyelami masa lalu. Pada akhirnya Ia hanya menghela napas dalam, pasrah membiarkan beban bertengger di pundaknya.
“Ayah…, aku sendirian…” Arna berbisik lirih lebih seperti rintihan.
“Bagaimana denganmu Arna?” tanya Guru membalikkan kesadarannya pada dunia nyata.
“Aku…, tujuanku adalah..”
Pikirannya kosong, yang ada hanya pantulan peristiwa teror busuk dari Organisasi Viper Army yang membunuh ratusan nyawa tak berdosa, suara ratap tangis yang didengarnya pasca ledakan terdengar jelas, teriakan dipenuhi rasa marah, pedih, sakit, dan dendam bersatu menjadi paduan suara di sekelilingnya yang menyorakkan penebusan dosa dengan hujan darah. Kata-kata terlontar begitu saja dari mulut Arna, padahal tak ada niatan yang timbul di hatinya saat itu.
“Aku akan membalas perbuatan terkutuk mereka! Aku akan membalas dan menghancurkan mereka sampai habis, persis seperti yang mereka lakukan pada korban-korban yang terbunuh oleh rasa terbakar, kepedihan dan siksa. Harus mereka rasakan! Siksa itu, harus... Aku bersum…” Perkataan Arna terhenti pada titik itu karena dadanya terasa sangat sesak, sementara akal warasnya menolak mati-matian.
Sambil menghela napas perlahan, Ia memandang wajah dua orang disampingnya dengan was-was karena takut tidak bisa menerima reaksi mereka. Tapi diluar dugaan, ekspresi mereka datar saja seakan tidak ada yang terjadi, padahal barusan Ia sudah berteriak seperi orang gila.
“Apa kalian tidak mendengarku tadi?” tanya Arna hanya untuk memastikan.
Tetapi mereka terdiam seribu bahasa, tak ada yang menyahut meski hanya dengan raut wajah. Merasa ada yang tidak beres, Ia mencoba berbicara lebih keras.
“Apa yang…” Arna tersentak.
Mulutnya bahkan tidak bergerak, padahal Ia sudah berteriak sekeras mungkin, sampai dadanya serasa pecah dan tenggorokannya serak dipenuhi lendir. Tapi kenapa, tak ada yang mendengar? Bahkan mulutnya tidak terbuka.
“Bagaimana denganmu Arna?” tanya Guru lagi.
“Eh…aku…” namun, detik itu juga Ia merasakan sakit yang teramat di bagian dada dan kepala.
Ada sesuatu yang memenuhi paru-paru dan kepala, begitu penuh sampai kepalanya serasa hendak meledak dan bernapas terasa sangat sulit. Hal yang dapat dilakukannya saat itu hanya berdiri dan berlari kencang meninggalkan Guru dan Ryan yang hanya bisa memperhatikan Arna dengan pandangan heran.
Napasnya makin tidak menentu ketika sampai di gerbang asrama, hampir di saat bersamaan Rezon dan Reeko menghadang jalannya.
“Arna…!” Suara Reeko memantul di rongga telinganya.
Ia tidak menjawab, sosok di depannya lebih terlihat seperti bias warna saja. Dengan langkah lunglai dan beberapa kali hendak terjatuh, Arna meneruskan perjalanan. Sedangkan yang ada dalam pikirannya saat itu hanyalah buku yang sempat ditulisnya sebelum latihan.
“Arna, kau baik-baik saja?” Suara gadis itu melembut, langkahnya terdengar mengikut di belakang.
Di dekat pintu kamar Ia nyaris saja ambruk tapi sesuatu menopang tubuhnya.
__ADS_1
“Arna!” Panggil seseorang, tapi suaranya terdengar lebih berat dibanding suara tadi.
Sesaat dia terdiam dalam posisi itu, pandangannya menjelas. Bias warna di depan ternyata adalah seorang anak lelaki dan perempuan.
“Rezon?” Tanya Arna yang mulai dapat meengendalikan diri.
“Arna kau baik-baik saja kan??” tanya Reeko panik.
Sementara kepalanya mulai tersa berdenyut, yang terakhir dia dengar hanyalah suara lembut Reeko memanggil namanya.
“Arna! Arna.., Bangun!”
“Masih suara Reeko, aku harus bergegas!” Pikir Arna dan matanya terbuka.
Hal pertama yang menyapa matanya adalah langit-langit kamar berhiaskan sebuah lampu temaram dan terlihat sangat familiar.
“Reeko?” tanya Arna seperti orang bodoh saat dilihatnya Reeko sedang melompat-lompat di sisinya.
“Yeah..!!” Sorakan Reeko membuatnya semakin heran.
“Kalian sedang apa?” tanya Arna melihat adanya Rezon di sampingnya juga dan ekspresi mereka terlihat sangat girang.
“Minum ini dulu.” Kak Axton menyerahkan sebotol air padanya.
“Kak Axton juga ada??” Ia semakin linglung karena para sahabatnya berkumpul disini.
“Sebenarnya aku disini karena guru menyuruhku memeriksamu. Tadi kau belari entah kemana saat berbincang dengan guru.” Kata Kak Axton yang membuatnya tersadar akan perbuatannya tadi.
“Astaga!” Seru Arna menepuk jidatnya bingung apa yang harus dijelaskannya pada guru nanti.
“Kak.., tolong jangan bilang ayah ya…” Ujar Reeko dengan muka memelas.
“Lalu?” Jawab Kak Axton masih dengan datar.
“Bilang saja kalau Arna keburu ke kamar mandi…!” Usul rezon berkacak pinggang seakan idenya adalah yang terbaik.
“Woy!” Semprot Reeko sementara tangannya menyikut perut Rezon.
“Dasar congkak! Idemu itu payah tau!”Lanjutnya pada Rezon yang sedang merintih berguling-guling di lantai.
“Tega…” Ujar Rezon makin galau.
“Huh.., baiklah serahkan padaku!”Jawab Kak Axton pada akhirnya dan langsung disambut oleh sorak-sorai ketga anak tersebut.
“Yeah! Tapi.., Arna..” Rezon membuyarkan perayaan mereka.
“Apa?” tanyanya heran.
“Tadi, saat pingsan kau memanggili kakakmu. Apa yang terjadi?” Tanya Reeko terus terang sementara Rezon memiringkan kepala layaknya anak kucing.
“itu…” Arna berhenti bebicara, tapi pikirannya berputar mencari jawaban.
“Aku.., memanggil kakak?” Tanya Ana masih tidak yakin dengan perkataan Reeko barusan.
Reeko mengangguk pelan, seketika itu pula kepalanya dipenuhi oleh gejolak.
__ADS_1
"Ahahahahaha.." Ia menekan kepala dengan sangat keras, mungkin kalau diteruskan bisa-bisa terbenam ke bawah bantal.