
Ada pesan dari Olia, teman sekelasnya yang bertuliskan keterangan:
“video dari salah satu cctv di pasar saat kejadian pengeboman” karena merasa penasaran Arna langsung saja melihatnya, sebenarnya agak ngeri tapi ia nekat saja.
Di video, ada banyak sekali orang-orang yang menggerombol di satu titik. Dengan dua orang di tengahnya ada seorang wanita dan anak remaja. Wanita itu tergolek lemah dan si remaja membantu mendudukkannya dibantu dengan beberapa orang lainnya. Saat video menampakkan wajah tokoh-tokoh dengan lebih jelas, Arna terperangah.
“Kak Rabka!!!” batinnya.
Ia semakian antusias sekaligus was-was.
Mata wanita itu terbuka tiba-tiba, ia memegang tangan Rabka erat-erat lalu berkata dengan suara lemah
“dunia akan menyaksikan hancurnya kota iblis ini. Mereka akan terkubur dalam dosa-dosanya, HANCURLAH!!!!”
suara wanita itu serak parau membuat orang yang mendengarnya menjadi merinding.
“Apa??” Tanya Rabka heran.
“Kau akan menjadi temanku di alam baka” lanjutnya.
“Kau Sudah Tidak Waras Ya??!” kata Rabka sambil mencoba melepas tangannya dari genggaman si wanita.
“Jangan Pergi!!!” teriak si wanita seperti orang gila.
Suasana menjadi gaduh, banyak orang yang segera menjauh dari gerombolan. Namun lebih banyak lagi yang datang.
“Payah…, Lepaskan…!!!!” teriak Rabka seekeras mungkin, tangannya terlihat memerah seperti terbakar.
Cahaya unggu gelap muncul di tangan wanita itu, mengukir suatu motif di tangannya, ular viper bermahkota. Cahaya itu makin terang dan segera menyelimuti tubuh wanita itu. Rabka menutup matanya karena silau lalu beralih pandang ke arah lain. Angin panas mulai bertiup, menyapu barang-barang di sekitar mereka. Rabka, Wanita itu dan orang-orang di sekitarnya telah lenyap ditelan debu yang menyelimuti segala penjuru.
“AR …..N …JNGA…!!!” suara Rabka terdengar samar, ditelan gemuruh suara angin yang lebih terdengar seperti guntur.
Lalu, ledakan melenyapkan segalanya, bahkan gambar di kamera CCTV bergoyang parah.
Sambil menggertakkan gigi, Arna membanting handphonenya ke kasur. Ia mencengkram keras pergelangan tangan kanannya hingga memutih sebab kehabisan darah. Nafasnya terengah-engah, api dendam mengalir di sekujur tubuhnya bersama air dari kedua matanya yang menyala- nyala tajam. Ia marah, dendam pada wanita itu. Marah, pada ingatannya, dan pada dirinya sendiri yang tidak bisa mencegah kepergian kakaknya karena ternyata, selama ini ingatannya benar.
__ADS_1
“Jadi…, Kak Rabka Sudah…”
Arna merasa sangat terpukul, ia mati rasa. Sebenarnya perasaannya meledak-ledak setelah membuka kado ulang tahun dari Kakaknya, ditambah lagi dengan tayangan Video yang baru saja dilihatnya. Namun, rasanya perasaan itu tertahan oleh sesuatu hal, sehingga Ia hanya bisa menangis bisu di meja. Pada akhirnya, karena lelah bergumul dengan kekecewaan dan kebenciannya sendiri, Ia tertidur pulas.
Entah, jam berapa Ia terbangun. Pada saat itu layar handphonenya menyala kembali menandakan adanya pesan yang masuk. Layar masih tetap menunjukkan pesan di grup kelasnya. Namun, anehnya video dan pesan yang berhubungan dengan video yang dikirim oleh Olia itu lenyap seakan tidak ada yang membicarakannya tadi.
••••
Saat itu ada telepon asing di handphone milik ibu. ketika Ibu menerimanya, Ia cepat-cepat pergi ke luar menggunakan mobil entah kemana.
Arna sama sekali tidak terpengaruh oleh hal itu. Ia tetap diam berlarut-larut dalam pikirannya. Rasanya ia ingin membisu sampai ibu berkata jujur, karena Ibu tidak seharusnya menyembunyikan Kematian Rabka. Tetapi, sisi lain dari dirinya ingin tetap bungkam karena ibu pasti sama sedihnya dengannya, setidaknya ia bisa mengurangi beban ibu dengan tetap tegar dan berpura-pura seperti orang bodoh yang tidak mengerti apapun.
Apakah ia berhak marah karena hal itu? Karena Ibu melakukan ini karena dirinya juga, Ataukah kemarahannya itu dikarenakan Kematian Rabka yang tidak wajar? sesungguhnya Ia sendiri tidak tahu. yang jelas, Bagaimana ibu tega menyembunyikan banyak rahasia darinya?
••••
Suatu hari ia tengah bersantai di rumah saat Ibu mengajaknya pergi ke suatu tempat. Ibu bilang mereka harus memakai baju yang rapi dan resmi. Padahal, kalau sekedar pergi jalan-jalan sih, apa saja bisa dipakai.
“misteri apa lagi ini???” batinnya protes pada keadaan yang tidak pernah jelas akhir-akhir ini.
Mereka berhenti di sebuah pemakaman militer. Melihat itu, jantung Arna seakan terasa mau copot.
“siapa?” pikirnya. “apa Kak Rabka?” lanjutnya masih dengan perasaan was-was.
Tapi ia menurut saja apa yang dikatakan oleh ibunya dan mengikuti ke mana ibu mengandengnya. Jantungnya berdetak sangat cepat ketika melihat para tentara yang sedang menaburkan bunga di depan foto-foto beberapa anggota militer yang dipajang di atas nisan besar.
“ Ayah…” gumamnya tak berkedip.
Ibu Nampak berkaca-kaca menatap foto itu sambil tetap mengandengnya. Jiwanya berontak tak percaya, tapi berbeda dengan raganya yang hanya bisa berdiri mematung tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
"Ya Tuhan..., apa ini?? Kalau ini mimpi, tolong keluarkan aku dari sini...!!" Arna menengadahkan wajahnya ke arah langit perlahan-lahan.
Barusan, Ia diberitahu kalau helikopter yang mengangkut ayahnya dan beberapa anggota militer lainnya melakukan penerbangan atas perintah palsu dari semacam pemberontak, sehingga mereka hilang di lautan Medhi. Walaupun ia diberitahu penyebab tewasnya Ayah namun informasi itu juga tak begitu jelas.
"Tapi, orang macam apa yang tega melakukan ini? Ayahku, dia satu-satunya Ayahku, aku tidak punya lagi! ayahku bukan mainan yang bisa dikoleksi dan dilenyapkan seenaknya! semoga setan itu pergi ke neraka! aku ingin Dia disiksa seribu kali!!" Umpat Arna dalam batin.
__ADS_1
Karena kali ini Ia telah kehilangan segalanya, ketakutannya telah terjadi.
Semua orang melakukan upacara pemakaman dengan hikmat. Tetapi Arna hanya bisa menyimak semua itu dengan perasaan hampa. Bahkan, ketika Ibu menaburkan bunga di depan foto ayahnya dan menangis tersedu-sedu ia hanya membisu. seperti biasa hanya batinnya yang bergejolak membara.
••••
Ketika upacara telah selesai, Ibu dan dirinya tidak pulang. Mereka pergi ke sisi lain pemakaman secara beriringan, sepanjang langkahnya ia hanya diam. Entah kenapa ia tak bisa menjerit atau menangis seperti orang lainnya saat pemakaman itu. Namun, ia merasakan sesuatu perasaan yang ia tidak mengerti menggumpal di dada.
Ia dan ibu sudah berada di depan barisan di hadapan makam baru yang berhias kembang-kembang. Mereka berdua berdiri sejenak di sana. Perlahan, ia mengangkat kepala menengok nisan di depannya. Rasanya seakan semua darahnya berlari ke kepala dan habis tak tersisa saat ia membaca sebuah kata pendek tercantum di nisan. Ia terduduk di tanah, kedua lututnya seakan tak berfungsi lagi. Matanya menyala kembali tangannya terkepal. Api dendam membara kembali, membakar seluruh hatinya yang telah menjadi abu.
Entah mengapa lagi-lagi ia tidak menangis hanya matanya yang mengisyaratkan kemarahan. Ia menggigit bibirnya menahan perasaan aneh memenuhi rongga-rongga di dadanya yang memang telah sesak .
"Ka..kak...!"
Ibu yang telah menangis mengikutinya duduk di tanah lalu merangkulnya erat. Ia sama sekali tidak menangis. Malah, sejak malam pertama di rumah tanpa kehadiran Ayah dan Kakak, Ia tak bisa menangis lagi. Matanya terasa panas saat sedih, dan sedihnya terasa hampa. Sepertinya, tak ada lagi air mata yang tersisa untuk tangisan lainnya.
“Apa ini yang disebut tegar? Tidak. Pasti bukan! Lalu apa??” pikirnya marah.
“kau sudah merenggut segalanya dariku! Ayah, Kakak, Kebahagiaan. Apa lagi???!! Apa yang kau mau? Dasar tak punya hati!!!” Jeritnya dalam hati walau ia tidak tahu untuk siapa perkataan ini harusnya ia maksudkan.
Orang-orang yang mengikuti mereka dari pemakaman tadi melihat mereka lirih seakan juga ikut merasakan duka yang sebegitu dalamnya. Layaknya sebuah film yang ditonton bersama-sama di lapangan luas, mereka bungkam.
••••
Beberapa hari setelah pemakaman itu, Arna sudah kembali bersekolah lagi. Semua teman sekelasnya sudah menyiapkan pesta ulang tahun dan mengucapkan keprihatinan padanya walaupun sedikit terlambat. Semuanya seakan normal kembali. Namun, kenyataan sebenarnya tidak begitu. Sejak hari pemakaman itu, ia tidak bisa menyatakan perasaan apa yang terus mengalir di dadanya sepanjang hari tanpa henti. Keberadaan Arna sendiri juga seakan pudar, ia lebih sering melamun dan menyendiri saat sekolah, bahkan pelajaran, ia seakan tidak bisa fokus. Sosok Arna yang terkenal jenius, lincah, jagoan, dan humoris seakan hilang menjadi Arna yang dingin, pemurung dan serius. Namun, tidak begitu dengan kawan-kawannya yang selalu setia menemani walau bagaimanapun perubahan Arna. Mereka juga mengerti kenapa Arna merubah dirinya sedemikian rupa.
Hari demi hari, Arna semakin terbiasa dengan keadaan ini. Tanpa Ayah, Kakak, dan kehadiran Ibu yang semakin jarang dirumah. Meski begitu, Arna seringkali merasa kesepian. Untunglah Gio selalu menemaninya, tak terasa makin lama sahabatnya yang satu ini malah menjadi seperti saudaranya yang ketiga.
••••
**Suatu hari.....
Eps Berikutnya...tunggu Ya...
Dua hari lagi**...
__ADS_1