
Kak Axton yang dipanggil menoleh dengan tatapan heran begitupun Arna dan Reeko, tapi Rezon tidak langsung meneruskan kalimatnya. Sejurus lama mereka terdiam membiarkan kekosongan suasana diisi dengan bayang-bayang peristiwa yang cukup menegangkan siang tadi.
“Aku..” Sontak semua menajamkan telinga dan pikiran seakan itu adalah sesuatu yang melibatkan nyawa.
Rezon menghembuskan nafas dan getaran tubuhnya terlihat sangat jelas, entah seberat apa hal yang akan dikatakan olehnya. Sementara itu Kak Axton memperhatikan wajah adiknya yang terlihat terbebani dengan tatapan penuh sesal namun sama-sama tak dapat dimengerti. Mereka sama saja, keduanya terkurung dalam naik turunnya gelombang perasaan yang menyesakkan dan tidak dapat berekspresi. Arna melirik ketiga temannya sekali lagi, kini Reeko hanya bungkam sementara tangannya terus mengobati luka Kak Axton, sedangkan Rezon masih terpaku di tempatnya, dan Kak Axton sendiri membuang muka berlawanan dengan mereka seakan menghindari sesuatu.
Sambil menghembuskan napas panjang Ia mengalihkan pandangan untuk meringankan gejolak hati. Sayang sekali lorong sedang sepi, sehingga tak ada hal yang dapat menghiburnya, malah lebih terasa seperti seluruh penghuni lenyap dan hanya menyisakan kesuuraman pada dinding-dinding gedung, sepertinya bangunan ini turut melarutkan diri dalam suasana. Berbeda sekali dengan sang mentari yang malah menyiramkan panas berlebih pada permukaan bumi, ditambah lagi dengan panasnya suasana hari mereka hutan ini lebih terlihat seperti padang pasir luas.
“Aku minta maaf.” Ujar Rezon memecah suasana.
Kak Axton menoleh dengan ekspresi terkejut, tapi dengan segera dapat mengendalikan diri lalu membelai rambut adiknya.
“Tidak perlu minta maaf,” mata dinginnya memancarkan kasih sayang yang membuat orang lain terasa nyaman di dekatnya.
Rezon menggigit bibir menahan amarah sementara kedua tangannya bergetar hebat.
“Rezon…” Panggil Arna mengisyaratkan agar Rezon tidak hilang kendali atas dirinya.
“Kau berdarah dan aku tidak salah??”
“Rez..!” Reeko menyela.
“Aku tidak bisa melindungi diriku sendiri, hanya bisa mengandalkan orang lain. Kau tidak akan paham, karena kau orang hebat! Kau tidak akan pernah kalah. Tapi aku, karena aku.. karena…” Kak Axton meletakkan telunjuk di depan mulut adiknya yang langsung terdiam kemudian mendekap Rezon menenggelamkannya ke dalam pelukan.
Arna dan Reeko terpana melihat rentetan peristiwa kedua kakak adik itu di depan mereka. Pada awalnya Arna sudah terkejut karena kata-kata yang dikeluarkan oleh Rezon, tapi kemudian lebih menganga lagi karena tindakan Kak Axton pada adiknya itu. Ternyata ledakan amarah Rezon itu berhasil diredam dengan kasih sayang kakaknya yang selalu ia bangga dan irikan, Arna tidak menyangka Kak Axton yang disebut sebagai senior terdingin melakukan hal itu untuk menenangkan adiknya. Bukannya tidak pantas atau semacamnya, justru itulah hal yang palang tepat untuk dilakukan, tapi siapa sangka yang melakukannya adalah Kak Axton sendiri.
“Sungguh beharga Rezon baginya..” Pikir Arna sementara rasa sakit terasa kembali di dalam dadanya.
“Seperti dirimu bagiku..” Ia memaksakan senyum untuk menghibur kawan-kawannya dan untuk melipur hatinya sendiri.
••••
__ADS_1
Malam terasa panjang dikarenakan keingintahuannya belum terbayarkan, kini Ia duduk sendiri memandang ke luar jendela asramanya yang makin gelap tanpa kehadiran mentari. Sudah dua minggu semenjak kejadian pertarungannya dengan Kak Gan, itu berarti satu bulan setengah Ia telah bergabung dengan organisasi True Shadow. Meskipun kekuatan dan kelincahannya telah menyamai anggota lain, tapi kini yang menjadi pikirannya adalah asal-muasal masalah dua minggu lalu.
Paling tidak hal yang diketahuinya adalah, Kak Gan merupakan saingan berat dari Kak Axton selain Kak Olio, dia adalah peraih medali perak turnamen True Shadow yang diadakan setiap dua tahun. Tapi hubungan mereka berdua sangat berbeda dengan hubungan Kak Olio dan Kak Axton, mereka berdua bagaikan seorang musuh bebuyutan yang saling membenci. Tetapi Arna belum berhasil mendapatkan jawaban Tentang alasan tumbuhnya kebencian diantara mereka.
Ia menghela napas panjang untuk yang kesekian kalinya, matanya tetap tertuju pada pemandangan di luar jendela kamar. Tapi tak lama rasa haus menyerang tenggorokannya, karena malas beranjak dari kasur, Arna mencoba meraih gelas di atas meja. Namun tak sengaja Ia menyenggol sebuah buku, dengan gerakan secepat kilat Arna menyambar buku tersebut seakan dibawah tidak ada tanah lagi. Buku tersebut telah berada di tangannya sampulnya biru muda, terlihat dari modelnya itu adalah buku baru tapi tidak begitu dengan kenangan yang melekat di sana.
Beberapa saat Ia tertegun, kemudian tangannya meraba permukaan sampul yang licin dan halus. Timbul niat di dalam hatinya untuk membaca isinya, namun tak sampai membuka halaman pertama keraguan datang tiba-tiba.
Seminggu lalu Arna sudah memutuskan untuk tidak membuka buku itu lagi. Karena setiap kali itu dibuka, dadanya terasa nyeri dan hatinya berontak. Sebelumnya Ia sudah menuliskan banyak hal, semenjak masuk ke organisasi ini hanya buku pemberian terakhir kakaknya itulah yang dapat dipercaya untuk menuangkan gejolak dalam dirinya.
Namun sayang setiap kali lembar pertama terbuka atau saat angin berhembus, buku itu selalu mengingatkannya pada keluarga. Ya…keluarga, Ibu dan Ayah yang selalu sibuk tapi tetap bisa memberi mereka perhatian cukup, Kak Rabka, saudara sekaligus sahabat yang selalu bersama dengannya senang maupun susah, yang berada di sampingnya untuk sebagai sang penjaga. Begitupun dirinya, saat Kak Rabka bingung atau sedih, tak tanggung-tanggung Ia akan mendekap erat tubuh kakak yang terpaut tiga tahun darinya itu dan Kak Rabka akan langsung tersenyum. Senyum hangat yang selalu didambakannya dan memuaskan apabila terlukis.
Arna menggelengkan kepala kuat-kuat mencoba mengusir perasaannya yang makin tidak menentu.
“Lagipula itu hanya buku, tak ada apapun selain gambar dan tulisan disana.”
Masih dalam kegugupan, lembar pertama dibukanya. Ingatan menyeruak dari lembaran yang berisi foto tersebut.
“Lihatlah senyum ceria mereka.” Arna bicara sendiri sambil meraba foto bergambar dua orang anak yang sedang memakan ayam goreng crispy dengan background resto sederhana.
Lembar selanjutnya adalah gambar ayah, ibu, kakak dan di atas rumah pohon.
Itu adalah hari dimana ayah diberi cuti selama tiga hari dan ibu lima hari, jadi karena waktunya singkat mereka memutuskan singgah di tempat wisata yang dekat agar tidak menghabiskan banyak tenaga. Kebetulan taman hiburan yang jaraknya tidak jauh dari taman kota baru saja dibuka, dan itulah foto mereka. Ia masih ingat kejadian sebelum berfoto, kejadian yang menimpa dirinya sendiri.
Saat itu Arna terlalu bersemangat untuk menjelajahi tempat baru, andaikan saja Ia sudah tahu kalau ada mascot di sana maka sudah pasti tidak akan mau meninggalkan rombongan. Ketika orang berkostum badut mendekatinya, Arna bergidik ngeri dan segera memeluk orang disampingnya yang disangka adalah ibu, tapi sayangnya dia adalah seorang nenek tidak bergigi. Jujur, malah Ia lebih takut pada nenek itu dari pada orang berkostum yang menjadi ketakutannya sejak kelas satu.
Arna menghela napas untuk kesekian kalinya. Kenangan itu segalanya menyenangkan dan sempurna, lagi-lagi Ia larut dalam perasaannya sendiri. Kenyataannya dirinya merasa masih belum berani dan tidak ingin berpisah dengan keluarganya, Ia masih ingin merasakan belaian kedua orang tua dan bermain bersama seperti sedia kala.
Walaupun begitu, segala angan dan harapan yang menggiurkan itu terpaksa di kuburnya dalam-dalam, Ia tidak akan pernah bisa bercanda dengan Kak Rabka sepuas hati sambil merasakan belaian tangan lembut Ibu atau berlari mengejar ayah yang larinya sangat kencang. Ledakan itu sudah merenggut segalanya, tak ada yang tersisa lagi. Arna tersenyum dengan peasaaan tidak tentu, menutup wajah dengan telapak tangan dan matanya terasa berair. Tak ada tangisan lagi, walau hatinya menjerit pilu dan dadanya terasa retak, tubuhnya tak dapat lagi melampiaskan tangis.
Suara ketukan di pintu kamar mengundang kembali kesadarannya, dengan cepat Arna menutup buku dan melangkah menghampiri pintu.
__ADS_1
“Ya, sebentar!” Ujarnya sambil memutar gagang pintu.
Seorang anak lelaki lebih tua setahun darinya tersenyum penuh percaya diri.
“Mau latihan denganku hari ini?” tawarnya.
“Tentu!” jawab Arna.
Anak itu melirik kamar Arna dengan tatapan aneh. Ia menatap Arna lalu bertanya,
“Buku itu, kau dapat dari mana? Apa kau pernah ke kota?” Tanya Anak itu heran.
“Itu buku hadiah dari Kakakku, aku sudah lama mendapatkannya. Bahkan, sebelum aku tinggal di sini.” Jawab Arna dengan senyum agak dipaksakan.
Sebenarnya ia merasa agak tidak nyaman ketika harus membahas Kak Rabka di saat seperti ini.
“Oohh…!” Anak itu hanya ber-oh panjang sebagai jawaban.
“Kenapa?” Tanya Arna merasa agak curiga.
“Tidak mengapa, hanya saja anak baru sepertimu sudah berani pergi ke kota. Itu hal yang tidak mungkin.” Jawabnya enteng.
Arna tersenyum pahit mendengar jawaban yang tedengar meremehkan itu.
“Kenapa Kota?” tanya Arna kurang paham.
“Yeah…, buku bagus seperti itu dimana lagi selain di Kota?” ujarnya.
Arna hanya mengangguk-angguk kecil menyadari jarak kota dan tempat ini masih harus menyebrangi hutan lebat.
“Mau latihan denganku?” Tanya Anak itu menegasakan.
“Ayo!” ujar Arna sambil keluar mengunci pintu kamar, sebenarnya napsu Arna menggebu ingin membalas perkataan kawannya yang meremehkan itu.
__ADS_1
“Hah, aku pasti akan memberimu pelajaran nanti" Ujar Arna dalam hati karena merasa diremehkan perihal anak baru tadi.