
Setelah tembakan tadi Reeko merasa melayang-layang, Ia bahkan tidak mampu membuka mata, semua hampa dipenuhi ketakutan dan was-was akan segalanya.
“Apa ini rasanya mati?” pikirnya.
Hangat terasa di sekujur tubuhnya terlebih yang menyentuh tanah, memang tidak normal, bahkan deruh napas tanah dapat dirasakan olehnya. Seperti napas kehidupan,
“Reeko!”
“Ree..”
“Suara itu, suara siapa? apa karena ini dunia kematian aku mendengar suara aneh? Ah sudahlah! ”
“Reeko, gadis kesayangan guru, kau mau kita tewas?!”
“Hah, tewas? berarti aku belum..”
Reeko membuka matanya dengan sangat mudah, sederhana dan tanpa paksaan seperti saat dia berpikir telah memasuki alam kematian. Tapi setelah itu Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya bungkam tak bergerak.
Beberapa kali suara tembakan terdengar menghujani mereka, Rezon dan Reeko yang kini berbaring di tanah berdua. Ia hanya bisa menatap bingung semuanya, ketika itu juga Ia menyadari sesuatu, bahwa peluru itu tidak mengenainya. Tapi bagaimana?
Jawabannya sederhana. Saat gemuruh tembakan pistol lawan menggema di telinganya, Rezon telah siap dan menariknya sehingga kedua anak itu jatuh terlentang di tanah. Kini Viper Army yang hendak menembaknya tadi menggila dengan tembakan tak terarah karena Rezon memasuki petarungan mereka.
“Reeko cepatlah! Kau mau kita tewas karena tertembus peluru, atau aku yang mati kehabisan napas?” Kata benda di bawahnya dengan suara tercekat.
Masih dengan tatapan linglung Ia menunduk melihat benda bicara macam apa yang ditimpa olehnya.
“Eh, Rezon?” ujarnya penuh tanda tanya dan Rezon menatapnya seperti orang hampir mati.
“Apa yang kau tunggu, cepat turun!” Pekik Rezon putus asa.
“B-baik..” Reeko baru sadar telah mencekik kawannya dengan siku tangan.
Segeralah Reeko turun dari tubuh Rezon, mukanya bersemu merah seperti cabai matang, terlihat sekali jika Ia sangat malu. Kenyataannya Rezon lah yang hampir mati karena tenggorokannya tertindih siku, bukan dirinya. Padahal tadi Ia sudah berperan seperti dalam teater drama, jika Ia masih hidup lantas untuk apa drama barusan?
“Cepat bangun dan ikuti aku!” Perintah Rezon setelah meneguk ludah sebab tenggorokannya baru saja terbebas dari beban yang begitu berat.
“Jang…”
Reeko hendak mengingatkan, tapi Rezon terlanjur berdiri dan hampir terserempet peluru panas. Untunglah Ia segera berjongkok menundukkan kepala dalam-dalam.
“Jangan berdiri!” Kata Rezon dengan mata terdelalak tepat di depan wajahnya.
Padahal yang barusan berdiri adalah Rezon bukannya Reeko.
“Biar aku saja!” Ujarnya.
Reeko mencondongkan kepala untuk menengok keadaan, tapi Rezon memegang bahunya dan berkata,
“Percaya padaku!” Ujarnya dengan senyum penuh percaya diri, menyihir Reeko untuk tesenyum dan mengangguk mengiyakan keingninan kawannya.
__ADS_1
Dengan gerakan cekatan Rezon menyelinap diantara tembakan, merangsek maju menuju tempat demi tempat untuk berlindung. Reeko berlari mengekor dipunggungunya bersama tatapan mata yang menginyaratkan kekaguman. Ternyata dibalik sifat konyol dan cerobonya tersimpan jiwa seorang pemimpin, jiwa sang Axton.
“Kita berhenti sebentar disini.” Ujar Rezon di balik tembok pagar taman bunga mini di pinggir trotoar.
“Ada apa?” tanya Reeko sambil menatap sekeliling memastikan keamanan.
“Lihat itu!” Rezon menunjuk ke depan, dimana tak ada lagi tempat berlindung untuk mereka datangi.
“Jadi bagaimana ini?” tanyanya agak cemas.
“Hmm..” Keduanya sama berpikir keras.
KREK..
Suara itu menggugah kewaspadaan mereka sehingga spontan menggenggam senjata dan melihat ke belakang serenak. Namun yang terlihat adalah cipratan darah seorang Viper Army yang hampir mencelakai mereka dengan pedangnya, dia langsung ambruk begitu saja menimpa Reeko.
“Kak Axton?” gumam Rezon, saat sekilas melihat gagang pisau di punggung orang itu.
Tiba-tiba Kak Axton muncul dari asap menghampiri mereka, pisau terbangnya terlihat sangar karena goresan bekas pertarungan di seluruh sisi termasuk tangan Kak Axton sendiri. Namun ternyata masih kalah dengan kesan yang tercipta dari tatapan dingin dari matanya. Rezon menganga memandng tubuh Kakaknya telah dipenuhi luka berdarah-darah, tapi yang paling mengerikan adalah sebuah luka sayat di sebagian leher, bahu, hampir dadanya.
“Kakak!!” Teriak Rezon histerils.
Kak Axton langsung duduk di sisi mereka, menyandarkan tubuh pada tembok dan menghela napas panjang lalu terdiam.
“Kak, bagaimana kau bisa..” Mata Rezon berkaca-kaca, Ia merasa bersalah karena tidak mendengarkan kakaknya sejak awal sehingga Kak Axton harus terluka.
Kak Axton membisu, mentengadahkan wajah menatap langit dengan pandangan kosong.
“Ukh, akhirnya!” Reeko melemparkan tubuh orang yang menimpanya dengan kasar, lalu ikut-ikutan terdiam mengetahui keadaan Kak Axton.
“Kau tahu..” Kata Kak Axton kemudian menghela napas panjang.
“Ini melelahkan.” Ujarnya sambil membelai rambut Rezon dengan tangannya yang penuh darah.
Mata Rezon membulat karena gerakan itu membuat luka di leher Kak Axton terlihat jelas.
“Aku tidak percaya, kau akan kubawa pulang kak!” Pekik Rezon.
“Aku tidak salah, ini memang melelahkan.” Kata Kak Axton sambil tesenyum datar.
“Kak, aku mohon..”
“Sttt..” Kak Axton mencengkram tangan Rezon dan satunya siap dengan pisau terhunus.
Beberapa pasukan Viper Army muncul dari palik pekatnya asap.
“Kalian lindungi Nona Meyl, dia adalah sasaran utamanya!” Ujar Kak Axton sambil bergerak menampakkan diri pada musuh.
“Apa yang kau lakukan Kak Axton?” tanya Reeko.
__ADS_1
“Kupancing mereka.” Jawabnya datar.
“Tidak!!” Pekik Rezon.
Ia berlari mendekati Kak Axton mencoba mencegah kepergiannya, tapi dia tidak cukup kuat sehingga dengan mudahnya didorong kembali ke belakang tembok.
“Atau lari, kembali ke markas.” Kata Kak Axton meneruskan kata-katanya kemudian berlari menjauhi kedua anak itu diikuti gerombolan Viper Army.
“Kakak…!” Kak Axton tak terlihat lagi dan dirinya ditarik menjauh oleh Reeko.
“Kak Axton, maaf.” Pikir Reeko dengan air mata berlinang.
Sebenarnya Ia tidak tega meninggalkan Kak Axton sendirian, selain itu perasaan Rezon juga akan terluka karena peristiwa ini. Tapi sisi lain pemikirannya mengatakan bahwa ini tindakan yang benar.
Beberapa anak tengah berjalan bersama menuju gerbang sekolah sambil berbincang, sesekali terdengar tawa atau rapalan mantra (kata-kata kasar) begantian dari mulut ke mulut.
“Lima belas menit lagi kelas masuk.” Ujar Julyna dengan muka merah padam setelah diejek habis-habisan oleh Fega tadi.
“Benarkah? kalau begitu aku pamit dulu!” Kata Julyna terburu buru, mungkin karena apa piket hari ini.
“Hey, tunggu! Kita bersama saja..” Seru Egal, tapi Jilyna tidak mendengarkan lagi.
“Baiklah semuanya aku menitipkan Gio pada kalian, jangan biarkan ada yang macam-macam dengannya.” Ujar Arna sambil merangkul bahu Ozzae dan Gio di sisinya.
Otomatis pipi Gio memerah.
“Baiklah, serahkan pada kami Daka!” Jawab Ozzae pada Arna dengan mantap.
“Aku bisa percaya kalian?” tantang Arna.
“Percayalah, kami akan menjagany atas namamu!” Timpal Fega.
“Bagus, sekarang masuk sekolah sana!” Ujar Arna sambil mendorong mereka semua pergi.
“Hehehe, baiklah. Daaaa…!” Ujar sekelompok kawan lamanya yang berlalu pergi.
Tinggal Gio dan dirinya saling berhadapan, sejenak Gio tersenyum lalu berlari menyusul ke dalam sekolah.
“Aku pasti akan kembali.” Gumam Arna.
Ketika bel sekolah berbunyi, Ia berbalik badan menyebrangi jalan raya kemudian melambaikan tangan pada sebuah taksi.
“Ke pusat perbelanjaan tolong.” Ujarnya pada sang sopir.
“Kawan-kawan, aku datang!” Tekatnya dalam hati, sementara kendaraan itu membawanya dengan cepat menghampiri pusat perbelanjaan yang letaknya tak jauh dari Airmony Siiv.
**Hai semua.., maaf baru update🙏🙏
__ADS_1
Kali ini epsnya nggak terlalu panjang dulu ya..
Up berikutnya saya usahakan sudah normal**