Forgotten Sins

Forgotten Sins
About True Shadow


__ADS_3

Sinar mentari bersinar memasuki celah diantara rerimbunan daun hutan, lalu merambat lurus menembus kaca sebuah bangunan yang di atapnya beberapa burung kecil berlompatan riang ke cabang demi cabang kemudian memamerkan keindahan bulunya di angkasa.


Beberapa hari telah berlalu Arna sudah akrab dengan Kak Axton dan Rezon, bahkan mereka bagai kucing dan ekornya, tak pernah bisa lepas. Sesuai janji, hari ini Rezon mengajaknya untuk berkeliling markas. Sejak awal terbangun hingga kini Ia tidak mengerti, dimana tepatnya dia berada. Walau Rezon dan Kak Axton sudah berusaha mendeskripsikan dengan jelas, tak ada satupun yang tergambar di pikirannya. 


Kini Ia baru mengerti, ini adalah sebuah bangunan diantara hutan belantara, di dalamnya ada ratusan penghuni berlalu lalang membawa senjata berbahaya. Tak peduli anak, remaja, atau dewasa, masing-masing membawa senjata teselip di pinggang mereka. Semuanya adalah senjata asli, meski begitu mereka memperlakukannya dengan santai seakan itu adalah mainan saja. 


Arna menghentikan langkah, Ia memandang kaca di depannya sambil berpikir. Dari sana pemandangan hutan terlihat jelas, tunas-tunas muda yang tersiram cahaya berkilauan bagaikan permata zamrud, dan titik embun mengalir melalui pucuk daun talas. Terlepas dari hiruk pikuk kota, keadaan ini begitu tenang dan damai.


Bangunan ini berdiri sendiri tak ada satupun yang lain di sekitarnya, tapi dia berisi penghuni sebanyak itu. Lantas bagaimana cara penghuninya menghidupi diri? kalau dipikir lagi, sebenarnya mustahil gedung ini berada di tengah hutan dan tak seorang pun yang tahu keberadaannya.


“Ayo kita ke kanan!”  Rezon menarik Arna yang sedang melamun menuju ke lorong yang terlihat berbeda.


Disepanjang sisi lorong, terpampang bermacam-macam senjata tajam, letaknya rendah dapat dijangkau olehnya seakan memang disediakan untuk diambil, bukan untuk pajangan. Ada juga galon air minum yang disediakan tiap tiga meter sejak awal belokan tadi.


Langkah Rezon cepat dan lebar membuatnya tak dapat mengamati detail lorong ini lebih lama.


“Hey, santai saja…” Ujarnya.


Tapi Rezon tidak mendengarkan dan malah memepercepat langkah saat pintu raksasa terlihat di depan sana. Dia lalu membukakan pintu menuju sebuah ruangan luas yang didalamnya banyak sekali anak yang sedang berlatih bela diri. Arna melongo. Gerak mereka begitu lincah bagaikan kucing liar, atau bahkan mengalahkan sang kucing itu sendiri. Tanpa rasa takut mereka saling beradu kemampuan dalam memainkan senjata. Kalau saja Ia lebih dekat, mungkin dapat dilihatnya anak-anak itu masih sempat bersenda gurau diantara bau besi bergesekan. Bukan hanya itu yang mengesankan, arsitektur ruangan ini terlihat sangat kokoh. Sebenarnya, bukan hanya ruangan ini saja tetapi seluruh gedung, hanya saja aura ruangan ini membuatnya terlihat lebih. 


Sambil terus berrjalan perlahan memasuki aula, Rezon menjelaskan.


“Selamat datang di aula pelatihan, disini adalah tempat para pemula dan junior berlatih setiap harinya. Disini kami saling melatih, terkadang senior juga datang pada saat-saat tertentu untuk melihat hasil latihan. Tetapi justru  di tempat sepeti ini kau harus selalu waspada. Karena..,” perkataan Rezon terhenti.


Langkahnya pun ikut terhenti.


“Apa?” tanya Arna sambil menoleh, namun Rezon sudah lenyap.


Sedetik belum berlalu, tiba-tiba seorang anak lelaki melayang di atasnya. Spontan ia menunduk dan melindungi kepalanya dengan kedua tangan.


“Rasakan!!!” Sebuah teriakan membuatnya memberanikan diri untuk mendongakkan kepala.


Di depan, seorang anak perempuan berdiri dengan gagah masih dalam posisi menendang, dia tersenyum sinis dan matanya menatap garang. Dugaan pertama yang tersirat di pikirannya, anak inilah yang hampir membuatnya celaka. Namun, Gaya anak ini terlalu feminim untuk itu, rambut panjang sepaha diikat memakai pita kain berkilau dan kulitnya secerah memakai bedak. Aneh, gaya feminisnya itu sama-sekali tidak menutupi wibawanya, dia tetap saja terlihat kuat. Tetapi kalau dilihat lagi dia tidak se-feminis itu, bahkan rok celana dan baju yang dipakainya berwarna hitam, hanya ada sedikit bumbu warna cerah. Barangkali dia tampak feminis karena wajahnya manis dan matanya bulat besar tampak bercahaya.


Usai berpikir, Arna menoleh pada anak lelaki tadi. Dia pucat pasi seakan melihat hantu dan sedang berjalan pincang, meski begitu dia tetap tertawa.


“Menakutkan…!!” Batinnya.


Ketika Ia memalingkan muka ke depan, seorang anak berhadapan tepat dengan wajahnya, dia tersenyum manis sambil mengulurkan tangan. Arna hampir saja terjungkal karena kaget. Tapi dia hanya tersenyum dengan lembut dan tampak jinak, berbeda sekali dengan anak perempuan tadi.


“Hey, anak baru ya? jangan-jangan, kau anak yang diceritakan oleh Kak Axton! Tunggu, tunggu, tunggu…!! Kau pasti anak itu ! Ya kan? ya kan?iya kan..?kau pasti anak itu!” Anak itu terus mengoceh cepat dan Arna hanya bisa nyengir memandangnya.


“Aku tarik kata-kataku!” Pikirnya. “Tunggu dulu, bukankah di anak yang…”


Dia adalah anak yang hampir mencelakakannya tadi. Tapi dia terlihat sangat berbeda. Kecuali gaya bicaranya yang blak-blakan dia seratus persen terlihat jinak.


“Memangnya dia ini memiliki berapa kepribadian??” Kata Arna masih dalam pikiran.


“Karena ada MALAIKAT MAUT!!!!” Seru Rezon dari jauh.


Rupanya radar bahaya milik Rezon berfungsi dengan sangat baik. Barusan saja dia berada disisi Arna, sekarang dia sudah berada sekitar sepuluh meter dari tempatnya, itu pun belum fakta bahwa dia berada di kolong meja.


Arna dan si gadis menoleh, kemudian gadis itu melangkah lebar ke belakang Arna dan mengepalkan tangannya.


“Apa kau bilang??” Ujarnya.


Kesan jinak di wajahnya pudar seketika bertransformasi dari kucing impor jadi kucing hutan.


Rezon langsung keluar dari bawah meja dan berlari secepatnya. Rupanya si gadis tak mau melepas mangsanya begitu saja terlihat dari gerak tubuhnya yang beringas. Tak butuh waktu lama, dia telah berada di sisi Rezon, tanpa ampun meninju lengan Rezon lalu menarik telinganya. 


“Adu, du, du, duh… lepas! Nanti telingaku copot..!!!” Rezon memelas.


Tak mempedulikan permohonan Rezon, dia malah membalas dengan senyuman lembut berlawanan dengan tangannya yang masih menarik telinga Rezon sambil menghampiri Arna.

__ADS_1


“Aku  Reeko dan kau?” sapanya dengan senyum manis.


“Arna, Arnawa.” Jawab Arna sambil menjabat tangannya.


Senyum gadis itu bertambah lebar ketika Arna menjabatnya. Seorang anak yang telinganya merah sebelah, menyerobot di diantara mereka.


“Baiklah Nona Malaikat Maut, sekarang kami akan bersenang-senang lagi. Jadwal bermain kami masih padat.”Ujar si telinga merah yang tidak lain adalah Rezon.


Rezon segera menarik Arna menjauh sambil bergumam mengejek Reeko.


“Hey…aku juga mau mengajaknya!” Reeko menghalangi jalan.


“Curang…,kau merebut sahabatku!”Kata Rezon mendorong Ana ke belakangnya.


“Tapi, aku juga mau!”Ujar Reeko.


Rupa-rupanya kedua teman baru ini bagaikan anjing dan kucing, tak pernah bisa akur. Pertengkaran mereka bahkan melebihi dahsyatnya perang dunia ke dua. Parahnya lagi, mereka menarik Arna ke kanan dan ke kiri.


“Stop…!!!” Seru Arna yang mulai kewalahan.


 Namun mereka berdua sama sekali tak menghiraukannya.


“Hey kalian!” Suara itu menghentikan mereka.


“Kak Axton??” Seru mereka bersamaan.


“Apa yang kalian lakukan?” Tanya Kak Axton heran.


“Aku hanya ingin mengajak Arna berkeliling!” Jawab Rezon dan Reeko bersamaan. 


Seketika ekspresi mereka berubah, saling bertatapan dan langsung berdebat.


“Kenapa perlu ribut? Kita pergi bersama saja!” Usul Kak Axton.


Rasanya Ia telah diselamatkan dari kengerian tiada tara.


“Ayo!” Ajak Kak Axton sambil berjalan keluar melalui pintu di seberang melewati puluhan anak yang sedang berlatih.


 Mereka bertiga mengikut di belakang, anehnya semua yang berada di sekitar jalan Kak Axton langsung menyingkir atau tesenyum gugup. Tapi baik Rezon ataupun Reeko cuek saja pada hal itu, hanya dirinyalah yang terheran-heran.


Udara lembab malam menerpa wajahnya, sebagian wilayah hutan ditelan kegelapan dan sebagian lagi terlihat memerah. Mereka menjelajahi seisi gedung luas itu seharian, ketika Ia mengira telah menjelajahi seluruh ruangan, ternyata itu salah. Hal tidak terduga seperti itulah yang membuatnya semakin tertarik untuk bergabung. Tapi tetap saja ada seuatu yang mengganjal di hatinya.


Saat Ia sibuk-sibuknya berrpikir, Kak Axton mengajak mereka ke balkon untuk bersantai sebelum melanjutkan berkeliling ruangan.


“Jadi, bagaimana tawaran Guru?” Tanya Kak Axton membuka pembicaraan.


“Hmm…entahlah sebenarnya aku tertarik, tapi..” jawab Arna.


“Tapi apa?” Tanya Reeko.


“Kalau soal tempat tinggal kau tenang saja! Anggota organisasi ini dibagi menjadi beberapa tingkatan. Yaitu: senior, junior, pemula dan guru. Dari tingkatan itu, masing-masing diberi sebuah kamar untuk tempat pribadi, anggap sebagai rumah. Kemudian, kita akan dilatih untuk dibentuk menjadi satu tim. Anggap saja sedang bersekolah di asrama” Rezon menduga-duga.


“Bukan, bukan itu! Kalau soal tempat tinggal aku tidak khawatir, bagaimanapun meski aku kembali ke kota pasti aku akan dikirim ke panti asuhan.” Jawab Arna mengingat bahwa Ia sudah sebatang kara.


“Lalu?” Tanya Axton sambil bersandar ke pagar pembatas.


“Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa berada di dalam hutan malam itu, bagaimana mereka bisa percaya padaku? Selain itu…” Arna ragu.


“Apa?” Tanya Rezon.


“Tidak, bukan apa-apa!” sangkal Arna.


Semuanya terdiam sejenak.

__ADS_1


“Selain itu…,aku bukan anak yang kuat seperti kalian semua, aku hanya anak kota yang tak bisa apa-apa. Berbeda dengan kalian yang dari dulu sudah melatih diri untuk melakukan hal-hal diluar batas. Juga malam itu Ibu…” Pikiran  Arna melanjutkan kalimatnya yang terhenti.


“Kami tak butuh asal usulmu, yang kami butuhkan adalah kesadaran dan tekatmu untuk mencegah perbuatan kotor Viper Army. Asal usul bukanlah hal yang cukup besar untuk dipermasalahkan!” Reeko memecah keheningan.


“Ya, bagaimana kau bisa tetap hidup setelah tekena bom dan terjatuh dari lantai dua? Semua ini kehendak tuhan, kau harus membantu kami menghentikan Viper Army!” Tambah Rezon.


Arna berfikir sejenak.


“Asal usul bukanlah suatu masalah, yang penting hanyalah kesadaranmu. Apakah kau mau mundur karena ketakutan yang belum terjadi dan membiarkan banyak orang kehilangan kebahgian? atau maju mengambil kesempatan ini?” Ujar Kak Axton sambil menikmati angin semilir.


“Kalian benar.” Kata Arna walaupun masih ragu.


Mereka semua tersenyum senang. Pada saat itu pula, Kak Axton melihat ke lantai bawah dan segera melompati pagar pembatas dan meluncur ke bawah. Arna sempat tegang, Ia segera bangkit dari duduknya tapi tangan Rezon mencegahnya.


“Fantastis..!!” Teriak Reeko sambil bertepuk tangan.


Setelah mendarat dengan aman, Kak Axton langsung berjalan kearah pilar gedung.


“Ada apa guru?” Tanya Kak Axton pria yang menunggu di sana.


“Apakah kalian sudah selesai berkeling?” Tanya pria yang dipanggil guru oleh Kak Axton.


“Belum, hanya bagian asrama yang belum sempat kami datangi.” Jawab Kak Axton.


“Hmm, baiklah! Kalau sudah puas beristirahat, temani Arna ke ruanganku!” Ujar Guru sambil berlalu.


“Baik guru!”


“Oh iya,” guru menghentikan langkahnya begitu pula kak Axton.”Lewat tangga..” Ujarnya pada Kak Axton.


“Owh.” Sahut Kak Axton disambut dengan tawa kecil guru.


“Aku tahu kau tidak pernah lalai dalam tugasmu, juga kau selalu waspada. Tapi, sekali-kali lupakanlah itu, santai dan bersenang-senang. Jangan dibayangi masa lalu!” Lanjut Guru sambil membelai kepala Kak Axton.


Kak Axton hanya tertunduk, diam tanpa senyum hingga bayangan guru menghilang.


“Aku tidak,”Kak Axton menghela napas berat dengan mata tertutup.


Ia kembali pada ketiga anak yang sudah menunggunya di balkon.


 “Ada apa Kak?” Tanya Rezon.


“Arna, Guru memanggilmu ke ruangannya.” Kata Kak Axton.


Arna mengangguk, ia sudah mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Huh…, aku butuh waktu lagi.” Pikir Arna.


“Kapan itu?” Tanya Rezon.


Kak Axton tidak pula menjawab.


“Kak..!” Rezon memanggilnya dengan suara lebih keras.


“Tepat setelah beristirahat.” Akhirnya Kak Axton menjawab dan Rezon mengerutkan kening.


“Kenapa tidak sekarang saja?” Tanya Reeko.


“Akupun sudah puas istirahat. Ayo antar Arna bersama!” Ajak Rezon.


“Yeahhh…!!” Sahut Reeko penuh semangat.


“Okee..” Kata Arna agak gugup.

__ADS_1


__ADS_2