
“Hah? Apa yang kau katakan?” tanya Gio, mukanya berkerut menampakkan perasaan heran.
“Tidak, tidak masalah.” Elaknya karena tak ingin masalah ini berkepanjangan.
“Setdaknya dengan begini aku tidak perlu mengingatnya lagi.” Pikir Arna.
“Ayolah, aku tau ada sesuatu!” Gio menegaskan.
“Aku hanya mimpi saja, jangan dianggap serius lagi pula sudah biasa.” Jawabnya padahal mempi kali ini benar-benar mengguncangnya.
“Benarkah??” Gio mendekatkan wajah dan menatap matanya lekat, seakan mencari kebenaran di sana.
Akhirnya Gio hanya mendesah perlahan,
“Huuh.., baiklah Arna kejadian kali ini aku anggap biasa.” Ucapan Gio membuat Arna tertunduk dalam, ragu-ragu antara tidak pantas berbohong pada sahabatnya atau menyimpan hal ini dan tidak mengungkitnya pada siapapun lagi agar cepat terlupakan.
“Tapi jangan pernah ragu menceritakan apapun padaku.”
Arna menegakkan kepala menatap ekspresi wajah sahabatnya.
“Aku Gio akan selalu menjadi tempatmu meletakkan beban!” Senyumnya menampakkan kepercayaan diri yang tinggi.
Hatinya terenyuh mendengar perkataan sahabatnya. Selama ini tiga tahun berlalu, tanpa pertemuan, tanpa kabar, tanpa bicara, tapi Gio tetap setia bersamanya. Barangkali selama ini Gio selalu berziarah kemakamnya, Gedung besar itu dan mengenang sahabatnya. Siapa tahu?
Lagi-lagi Arna hanya memalingkan muka berharap Gio tidak melihat wajahnya, karena Ia sendiri tidak tahu bagaimana harus ber-ekspresi saat ini.
“Baik, kalau begitu cepatlah bersiap! Bukankah hari ini kau ada sekolah?” Arna mengalihkan laju pembicaraan.
Tapi rupanya Gio sama sekali tidak menyadari itu dia hanya mengangguk dengan senyum polosnya.
Sejenak ia melihat keadaan di luar jendela tak ada bedanya diwaktu malam, bertolak belakang dengan keadaan rumah Gio, sunyi senyap. Hanya terkadang terdengar suara aktivitas dari bawah ruangan yang tidak ada semalam.
“Pasti itu mereka.” Batin Arna, maksudnya adalah para pelayan yang datang membersihkan rumah setiap pagi.
“Kau sudah selesai mandi?” tanyanya ketika pintu kamar mandi mendecit kecil.
“Sudah.” Jawab Gio sambil menenteng sehelai handuk.
Arna bangkit berjalan melewati Gio sambil berkata,
“Periksa bukumu, aku tidak mau kau disetrap guru. Tunggu aku selesai mandi!” Gio tersenyum sumringah sementara kakinya berlari kecil menghampiri ranselnya.
Arna telah selesai dan kini dia bersiap memakai sepatunya, tapi kegiatannya itu terhenti karena kegelisahan Gio. Ia mondar-mandir di kamar sesekali menatap layar handphone-nya dengan nanar.
“Ada apa Gio?” Arna mendongakkan kepala.
“Ayah bilang supir yang biasa mengantarkanku ke sekolah sedang sakit.” Jawab Gio seadanya.
“Apa ayahmu tidak memberikan alternatif lain?” tanggap Arna enteng.
“Iya sih, dia bilang akan mengirimkan supir lain. Tapi bisa-bisa datangnya sejam lagi, lalu bagaimana nasibku??” Gio memelas karena terbayang wajah Ibu Guru yang galaknya tak kalah dari serigala.
Arna tersenyum sinis.
“Aku lagi susah kamu malah sinis kaya psikolog gitu.” Kata Gio dengan lucunya.
“Psi-ko-pat. Tapi lagi pula aku punya rencana yang lebih baik.” Kata Arna, memperbaiki kata-kata Gio dengan wajah yang lebih sinis lagi.
“Apa itu?” tanyanya.
__ADS_1
“Bilang pada ayahmu kau naik angkutan umum!” Jawab Arna seraya berdiri dan beberapa kali berlari kecil.
“Maksudmu?”
“Aku akan mengantarkanmu sampai ke sekolah.” Jawab Arna yang sudah melakukan senam pemanasan.
“Ide bagus, dengan begini ibu guru akan bungkam..! Hahahaha..” Gio tertawa puas.
“Kalau begitu, aku tunggu di depan!” Arna melompat dari jendela dan menghilang.
Sempat khawatir, Gio menghela napas berkali-kali.
“Patah kaki sudah biasa, patah tangan tak terasa, patah jari tak peduli… astaga!” Dia menggeleng dan menggerutu pada diri sendiri.
Dengan langkah lebar Gio meninggalkan kamar, menuruni anak tangga kemudian berlari ke ruang tamu takut kawannya menunggu terlalu lama.
“Yaampun Gio.., kenapa terburu-buru?” tanya salah seorang pelayan melihat sikapnya yang tidak biasa.
“Tidak masalah tante, Gio pamit!” Ujar Gio tanpa menghentikan langkahnya.
“T-tunggu!” Wanita muda itu memekik, tapi terlambat Gio sudah hilang dari pandangan.
“Bekalnya..” Lanjutnya.
••••
Arna besandar di pagar sambil mengutak-atik benda yang tadi dikalungkan di lehernya.
“Hahh.., maaf lama!” Ujar Gio dengan napas tersengal-sengal.
“Santai saja..” Jawab Arna tehenti dari kegiatannya.
“Ini!” Gio mengulurkan masker padanya.
Arna menerima barang dari kawannya dengan mata membulat tanda tak mengerti.
“Aku khawatir kawan-kawan kita masih mengenalimu. Bisa-bisa mereka pingsan nantinya!” Ujar Gio setengah bercanda.
“Hmh, lihat saja nanti!” Kata Arna yang sedang memakai masker darinya.
“Tapi aku rasa kau tidak akan dikenali lagi oleh mereka.” Gio membuka pembicaraan saat mereka berjalan menyusuri trotoar menuju halte bus terdekat.
“Kenapa begtu?” tanya Arna penasaran.
“Kau memang banyak berubah, kau bertambah tinggi, kuat, pintar, lihat saja pandangan matamu yang sudah seperti samurai.” Jawab Gio sambil cekikikan.
"Wah, kita sampai!" Ujar Gio, dinding halte telah terlihat di ujung jalan.
“Hey, kau ini!” Arna ikut tertawa, walau baru menyadari perbedaan tinggi mereka.
"Aku rasa tidak, kita masih sebelas dua belas.” Lanjutnya.
Bersamaan dengan itu, ada sebuah bus yang berhenti di halte, Arna melambaikan tangan agar bus itu mau menunggu.
“Bagaimana kabar kawan-kawan?” tanya Arna setelah duduk di kursi paling belakang.
Sebenarnya masih banyak tempat luang di sana, tetapi mereka memilih di belakang karena bisa bercakap-cakap sepuasnya.
“Hmmm, mereka terlalu baik. Sampai aku sering diejek karena kebiasaan ku berpantun tidak jelas. Padahal kebiasaan Midel lebih aneh, dia sering bicara pada kotak pensilnya. Atau Egal yang sukanya mendengarkan lagu rock metal setiap mau tidur.”
__ADS_1
Arna tertawa terbahak-bahak karena penuturan kawannya begitu lucu.
“Ah., kalian begitu aneh!” Ujarnya.
“Hey!”
Sang sopir bis menghentikan laju rodanya perlahan, dan tubuh penumpang condong kearah depan. Ini halte kelima dari tempat mereka naik dan yang terdekat dengan sekolah, disinilah mereka mengakhiri perjalanan.
“Ayo turun!” Arna mengulurkan tangannya dengan lembut.
“Tunggu, aku harus memanggilmu apa?” tanya Gio.
“Hah?” Ia terdiam sejenak. “Anggap saja aku sepupumu.”Jawab Arna dan Gio mengangguk penuh semangat.
Baru saja kaki mereka menginjak lantai keramik halte, beberapa anak datang menyambut dengan sampan kasar.
“Woy!” Seorang anak lelaki tegap maju ke hadapan Gio, di belakangnya ada dua anak lelaki dan dua anak perempuan.
Sontak Arna maju menggantikan Gio dengan kepalan tangan dan kuda-kuda kokoh. Tapi tiba-tiba kelima anak di depannya tertawa terbahak-bahak hingga Ia mengerutkan alis karena heran. Tapi sebelum Arna sempat angkat bicara, Gio menyentuh pundaknya santai. Dari sanalah Arna mulai mengerti itu hanya kejahilan anak-anak sekolah saja.
“Dasar jahil!” Umpat Gio pada mereka.
“Dasar Gio…, lihat raut mukanya saat kita panggil tadi. Juga anak ini, kau sangat waspada kawan!” Kata anak yang menghalangi jalan Gio tadi.
“Jangan ejek sepupuku, lagi pula trik kalian kuno sekali.” Gio membalas ejekan meeka dengan entengnya.
“Baik, baik..” Jawab anak itu.
Sementara Arna hanya terdiam mengamati wajah mereka yang tak tampak asing, tapi memorinya tak cukup kuat untuk memberikan gambaran jelas.
“Omong-omong, siapa namamu?” tanya anak itu padanya.
“Aku.. Daka.” Jawab Arna yang dengan cepat segera mereka sebuah nama.
“Hmm.., salam kenal. Aku Feirga, panggil saja Fega!” Ujarnya sambil mengulurkan tangan pada Arna.
“Salam kenal..” Jawabnya.
“Fega ya, tenyata dia jadi seperti ini?” Batinnya.
Ia mengingat-ingat Fega, teman SD sekaligus saingannya sebagai jagoan kelas. Tapi bukan saingan dalam pelajaran, jika soal pelajaran Fega hampir tidak pernah mengerjakan PR, bahkan selalu dapat nilai nol dan sering bolos, intinya dia adalah anak nakal sejati.
Arna melirik anak perempuan di belakang Ega, yang satu tampak malu-malu untuk ikut berkenalan dan yang satu menatap lekat matanya seakan ada yang salah. Tapi tak lama kemudian keduanya segera sadar sedang ditatap oleh Arna, lalu memalingkan muka dengan gaya masing-masing.
“Jilyna, dan Julyna.” Batinnya.
“A-aku Jilyna salam kenal!” Ujar salah satunya dengan suara pelan tapi masih dapat didengar olehnya.
“Salam kenal..” Jawab Arna.
“Aku Egal, salam kenal Daka!” Ujar Anak lelaki di samping Julyna.
“Aku Ozzae dan ini Julyna.” Kata anak lain sambil memperkenalkan Julyna.
Seperti tersadar dari lamunan, Julyna terlihat agak canggung lalu menimpali perkataan Ozzae.
“Iya, aku Julyna. Salam kenal!”
“Salam kenal semuanya..” Jawab Arna pada mereka, padahal sebenarnya semua anak di sana adalah teman lamanya.
__ADS_1