Forgotten Sins

Forgotten Sins
Dalam Gelap


__ADS_3

Berjam-jam ia telah mengejar sosok pasukanViper Army dan akhirnya hanyalah nasip sial karena kehilangan jejak mangsanya dan juga jejak ketiga kawannya. Arna membungkuk memegang lutut, nafasnya terengah-engah di pinggiran jalan sepi sementara langit biru sudah mulai menghitam.


“Pa..yah…!!” Umpatnya menatap tajam pada bayangan gedung yang hanya terdiam.


Ia terduduk di pinggiran jalan memikirkan wilayah kota bagian manakah ini? bahkan memorinya tidak memperlihatkan apapun soal tempat kumuh ini. Memang kumuh, letaknya diapit fondasi gedung-gedung dan tidak ada penerangan sama sekali.


“Mungkin inilah sarang penjahat di Kota Medianpolis.” Pikir Arna.


Langit biru tidak tampak lagi, gelap telah mendominasi suasana sementara napasnya telah tenang.


“Ah, sudahlah! Sekarang aku tidak boleh lama-lama di sini.” Ia bangkit dari duduknya, segera melangkahkan kaki walau tak tentu arah.


“Bagaimana nasip kawan-kawan ya?” gumamnya sambil bersiul kecil untuk menghilangkan sepi.


BRAKK!!


Ia tersentak suara itu berasal dari pojok gang yang paling gelap, tapi lagi-lagi Ia hanya menghela napas .


“Banyak kemungkinan bisa terjadi di tempat gelap seperti itu, aku sendiri bisa celaka kalau mendekat, tapi kalau aku tidak kesana bisa saja ada orang dalam bahaya? Atau..mungkin kucing, anjing dan semacamnya?”


“Argh!” Arna sebal sendiri layaknya orang gila.


“Huft, tetap saja harus kuperika!” Kata Arna pada akhirnya.


Sambil mengendap-endap Ia berjalan melewati lorong gelap dengan perasaan merinding tidak karuan. Lama kelamaan Ia memutuskan mencari alternatif lain yaitu melompat ke atas tangga darurat gedung di dekatnya lalu bergelantungan mencari sudut yang tepat untuk melihat.


“Setidaknya dengan begini merindingku lumayan hilang.” Pikirnya saat secercah cahaya dari lampu gedung menyinari matanya. 


Arna terdiam barusan saja Ia mendengan suara manusia di sana. 


“Mari lihat lebih dekat.” Arna bergelantungan dengan sebelah tangan dan berpindah ke tangga lain yang lebih dekat. 


Matanya terbelalak saat melihat beberapa orang berbaju hitam bertopeng sedang mengelilingi seorang anak remaja seusianya yang berlutut di tanah dengan tubuh gemetar ketakutan. Salah seorangnya mencengkeram kerah anak malang tersebut lalu mendorong tubuhnya ke tembok gedung, dan dengan pisau di tangan lainnya dia menyentuh leher sang korban. 


“Jangan lakukan! Aku telpon polisi!!” Ujar anak itu, tangan kanannya erat mencengkeram handphone.


Alih-alih dilepaskan, dia malah dicekik dan direndahkan.


“Sudah cukup!” Dengan mata berkilat-kilat marah, Ia meluncur di udara melancarkan tendangan ke bahu orang yang mencekik si anak malang.


“Huahhh..” Anak itu langsung roboh ke tanah di bawah kaki Arna.


“Kau,” ucapan Arna terpotong karena harus menghindari tongkat besi yang diayunkan pada kepalanya.


Arna menunduk, mundur ke belakang sambil menendang perut salah satu anggota bertopeng dan segera berlari untuk menerjang sasaran selanjutnya. Namun dua tangan sebesar milik pria dewasa menahan gerakan Arna, tanpa basa-basi lagi Ia mengangkat lutut dengan hentakan keras hingga menyakiti selangka lawannya.


“Hiattt!!” tongkat besi yang hampir menyakitinya tadi sekarang menjadi senjata makan tuan bagi lawannya. 


Putaran spiral itu menampar pipi kanan kiri dua orang bertopeng hingga retak kemudian menusuk ke dalam hati anak di sisinya alias kagum. Lumpuh satu sisa dua, keduanya menyerang bersamaan sehingga tongkat besi di tangannya terjatuh, untung saja Ia sempat melihat senjata lain di belakangnya sehingga dapat mundur mengambil kesempatan menghindar sekaligus menyerang. Ketika senjata telah berada di tangannya, namun orang kedua berhasil membuatnya terjatuh.

__ADS_1


“Uh..!” Punggung Arna membentur tanah dengan cukup keras sehingga senjata yang tadinya telah tergenggam kini terlempar jauh.


“Sial..” Ia menutup mata sesaat karena pandangannya memburam.


“Hey bangun kumohon, jangan mati!” Teriak anak yang dilindunginya.


“Payah, aku tidak akan mati karena jatuh.” Pikir Arna sambil menggelengkan kepala.


Tapi saat pemandangan sekitar telah terlihat jelas, Ia terbelalak secepat mungkin berguling menghindari serangan musuh yang berusaha menimpanya. Tapi saat Ia berdiri, tendangan lawan mengenai perutnya.


“Ugh!” Ia tersungkur ke sisi tembok.


Masih dengan rasa mual, Arna coba menegakkan tubuh lagi saat pria yang menendangnya tadi mengangkat tubuhnya ke atas.


“Hei bocah, sekarang kau tidak berdaya ya??” tatapan pria itu menawarkan sensasi kecut sekaligus muak di hati Arna.


“Berikan itu padaku!” Ujarnya pada salah seorang kawan yang kemudian memberikan pisau tajam padanya.


“Kau lihat kilatan pisau ini, inilah yang akan mengakhiri nyawamu!” Katanya sambil menunjukkan betapa tajamnya itu tapi mungkin masih kalah tajam dengan pandangan mata Arna pada mereka saat itu.


“Ternyata kau belum gentar ya bocah!” Bentak orang itu seraya mengguncangkan tubuh Arna sekerasnya untuk melunakkan keberanian anak ini.


Tapi melainkan ketakutan, Arna malah melihat sesuatu yang lain padanya yang mengakibatkan giginya gemeretakan dan tubuh Arna gemetaran hebat.


“Oi!” Panggil Arna, suaranya terdengar seperti diikuti ratusan suara lainnya sehingga semua orang disana melihatnya dengan tatapan heran.


Darah Arna melonjak ke kepala dan tumpah sebagai murka. Sedang di kepalanya tergambar wajah keluarga tercintanya.


••••


“***Arna.., ayolah! Tidak mengapa, kemari!” Kak Rabka tersenyum manis menggapai tangannya menuju ke sebuah gerbang besar nan megah.


“Kak, nanti semuanya tidak suka aku…” jawabnya sementara air mata mulai meleleh di pipinya.


“Tidak mengapa, sekolah tidak semengerikan itu!” Jawab Kak Rabka sambil melipat tangan di depan dada bertingkah seolah mengecilkan apapun yang ditakuti adiknya itu.


“Hmm..,” desah Arna masih tak percaya.


“Ayolah Arna… kalau kau tidak punya teman, aku masih punya banyak!” Ujar Kak Rabka mengulurkan tangannya untuk yang kesekian kali dan Ia pun mengangguk gugup menyambut uluran tangan kakaknya***.


••••


“Hiaaa…!!” Serunya sambil memukulkan berkali-kali tongkat di tangannya pada tubuh orang-orang yang telah dilumpuhkannya barusan.


“Kakak..” Batinnya mengadu semakin mendidihkan benci di aliran darah dan menggerakkan otot tangannya membenturkan senjata itu dengan brutal walau keringat telah membasahi seluruh bajunya. 


“HAAA!!” Teriakan dendam itu selalu disahuti oleh suara lain di belakangnya yang berperan seperti backing vocal.


“Hentikann…!!” Teriak anak yang dilindunginya tadi.

__ADS_1


Tapi napsu telah mengambil alih seluruh jiwa raganya, dan toingkat itu terayun kembali untuk yang kessekian kalinya.


“Tidak!!” Anak itu mendekapnya dari belakang mengentikan semua gerakannya.


Orang-orang itu kabur pontang-panting dari sana tanpa menoleh lagi. Sebenarnya mata Arna masih menguntiti mereka dari belkang tapi tubuhnya sama sekali tidak beranjak dari rangkulan anak itu dan… 


••••


“***Hai!” Sapa Kak Rabka pada beberapa orang di depan sebuah kelas.


Semua menoleh heran tapi kemudian tersenyum hangat sekaligus percaya diri.


“Rabka sang petarung tangguh datang juga ya..!” Oceh salah satunya dissambut dengan pelototan dari Kak Rabka sementara Ia hanya bisa melongo karena tidak paham.


“Kak Rabka petarung?” pikirnya menatap wajah teduh dari sang Rabka.


“Semua, perkenalkan ini adikku Arna.” Ujar Kak Rabka lalu mendorong tubuh adiknya ke depan untuk memperkenalkan diri sendiri.


“A-aku..”


“Haih.., Lucunya…!!” Ujar salah satu padanya.


“Nama lengkapmu siapa Arna?” tanya seorang kakak perempaun padanya.


“Arnawa,” jawabnya sambil bersembunyi di belakang kakaknya.


“Hei!” Protes Kak Rabka.


“Tenang saja Arna, kalau ada anak yang nakal padamu bilang saja pada kami. Kami akan segera meembereskannya!” Kata seorang kawan Kak Rabka dengan optimis.


“Iya, itu benar!” Sahut yang lain.


“Nah, sekarang pergi ke kelasmu. Bukankah kemarin sudah akau tunjukkan?” ujar Kak Rabka padanya yang masih terpaku di tempat.


“Apa mau aku antar?” tanya Kak Rabka menyadari kegugupan di hati Arna.


Ia menggeleng kuat-kuat.


“Kalau kau antar, kau juga akan terlambat!” Jawabnya sambil berlalu pergi walau sebenarnya perasaan was-was masih hinggap di hatinya.


“Arna.., aku…” Kak Rabka tersenyum menatap kepergian adiknya itu dan setelah itu bel tanda masuk berbunyi nyaring***.


••••


“Kau sudah bangun!” Teriak anak asing di dekatnya.


Wajahnya tertutup bayangan gedung sehingga tidak terlihat jelas. Sesaat Arna masih bingung berusaha memahami apa yang terjadi, tapi kemudian Ia segera tersadar.


“Dimana mereka?” tanya Arna pada anak itu menyadari bahwa Ia telah berada di tanah.

__ADS_1


__ADS_2