Forgotten Sins

Forgotten Sins
Mimpi dalam mimpi


__ADS_3

“Huak!” Rezon tersungkur di tanah.


Punggungnya terasa sakit, tapi lebih sakit lagi hatinya akibat didesak perasaan bersalah tidak mendengarkan sang kakak.


“Kalau saja aku menuruti kakak ini tidak akan terjadi. Sekarang apa jadinya Kak Axton?” pikirnya. 


Ia menarik napas sedalam-dalamnya untuk memuaskan paru-paru yang hampir kosong.


“Huuuuhhh..” Rezon menghela napas sambil bertekuk lutut.


Mencoba menjernihkan pikiran dari hal mengerikan tadi. Rasanya baru saja Ia dan Kak Axton berdebat, tapi kini apa yang terjadi? Reeko menghilang dan Kak Axton juga dalam bahaya. 


Meski begitu, pikirannya mengisyaratkan ada yang kurang.


“Oh iya Arna!” Teriaknya.


Seorang Viper Army keluar menyembul dari kepulan asap bagaikan sosok hantu bertopeng yang tergugah karena suara teriakannya.


“Astaga Monster..” Rezon berlari kencang dibayangi sosok mengerikan di cerita-cerita horor.


Padahal yang sedang dihadapinya adalah Viper Army bersenjatakan pedang, bukannya setan atau makluk halus.


“Huaaa!!” Teriakan Rezon menggema sampai di telinga Reeko.


“Rez..” Panggilnya bingung diantara kepulan asap.


“Uhuk, Uhuk, Rez.. Woy!” Panggilnya lagi beberapa kali mengibaskan tangan di depan mata yang mulai berair.


"Aku harus bertanya kenapa Kak Axton menutup hidung kami tadi." Pikirnya sadar tak ada yang terjadi pada dirinya setelah tidak sengaja menghirup asap tersebut.


Tapi tak lama kemudian Reeko merasakan mual di perut dan tenggorokan, bukan karena racun melainkan baunya sangat menyengat.


"Tidak, tidak benar. Kak Axton seratus persen benar, asap ini begitu pekat dan tidak nyaman kalau terhirup." Reeko mundur beberapa langkah pusing.


DUKK


Ia menabrak sesuatu yang dingin dan keras, saat berbalik badan yang terlihat adalah seekor singa besar menganga menampakkan gigi-gigi tajamnya.


“SINGA!!” Teriak Reeko, tubuhnya terhuyung ke belakang dan lagi-lagi Ia menabrak sesuatu.


"Cuma patung.., syukurlah aku tidak jatuh.” Pikirnya.


"Terimakasih patung!" Ia mengira bahwa yang menyangga tubuhnya kali ini juga sebuah patung hiasan.


Tapi kenyataannya inilah singa yang akan melahap daging empuk Reeko, yaitu Viper Army berteman sebilah pedang telanjang terhunus ke udara.


CRASS..


Kak Axton muncul di depan Reekko menghadang mata pedang dengan mengandalkan pisau terbangnya.


“Kak Axton!” Reeko sangat berrsyukur dapat lepas dari maut.


“Mundur.” Kata Kak Axton datar, diantara suara gesekan dua logam keras yang saling bertolakan di tanagn mereka.

__ADS_1


Selangkah demi selangkah Ia mundur perlahan mengikuti perintah kakak seniornya.


TRAKK


“Eh,” Reeko nyaris terpeleset karena sebuah benda menghalangi jalannya.


“Ini kan..,” Reeko memungut benda yang diinjaknya tadi.


Ia tetap melangkah mundur sambil memperhatikan gerak gerik Kak Axton yang semakin terdesak. Lawan makin banyak berdatangan, membuat Reeko takut sekaligus cemas memikirkan keselamatan mereka di aksi kali ini. 


Pertarungan dalam asap tebal seperti sangat berbahaya, apalagi jika dikeroyok habis-habisan seperti sekarang. Ingin rasanya Ia membantu bertarung seperti kesatria yang mementingkan solidaritas bersama Kak Axton. Tetapi kenyataannya walau hanya menyaksikan saja, Ia tidak bisa berhenti gemetaran. 


“Lari Ree!” Ujar Kak Axton padanya.


Kata-kata itu behasil memicu kakinya untuk berlari sejauh mungkin tanpa berpikir lagi, hingga tidak memperhatikan bahwa Kak Axton tak ada di belakangnya.


Sinar fajar mulai memasuki gumpalan asap dan menjadikannya lebih terang, pagi telah tiba. 


Samar-samar terdengar suara teriakan Rezon.


“Hosh, hosh, hosh..,” Ia terus berlari lurus kearah cahaya.


“Rezon!!” Pekiknya.


Udara pagi menyambut, melenakan kulitnya dengan kesegaran tiada tara,  tapi sinar matahari yang menyilaukan merusak segalanya.


“Ah!”


DUAK


“Aduuuhh..” Reeko bangkit, memutar kepala ke belakang dan terlonjak kaget karenanya.


“Jangan bergerak, kau akan mati!” Ancam Reeko sambil mengacungkan senapan kepada pria yang juga menodongkan senjata serupa.


Dia tersenyum miris kemudian mengulurkan tangan kiri menunjukkan gerakan menantang pada Reeko.


“Sialan kau!” Umpat Reeko dengan keringat dingin di sekujur tubuh.


“Payah.., harusnya aku tidak membiarkan pistolku kosong. Payah, payah, payah!!” Reeko memaki diri sendiri karena tidak mengisi ulang peluru sebelum mengejar Viper Army tadi, dan sekarang dia mengancam seseorang dengan pistol kosong.


Kembali pada keadaan diluar alam pikir, keduanya terdiam tanpa gerak-gerik yang mengisyaratkan akan melepas tembakan. 


“Satu..” Reeko membatin menghitung sisa hidupnya.


“Dua..”


Keduanya mengerjapkan mata, sementara jari tangan mereka sudah nongkrong di pelatuk dengan was-was. 


Reeko tahu lawannya tidak menyadari bahwa pistolnya sekarang tidak lebih dari mainan, tapi Ia terus berakting seakan dapat membunuh lawan dengan mata tertutup. Setidaknya itu akan memperpanjang hidupnya sampai pada hitungan ketiga.


“Tiga..”


“Hiaaa!!!” 

__ADS_1


DOORR!!


••••


 TIINN…


Klakson mobil jalan raya depan rumah membuat seorang anak lelaki terusik dari tidurnya. Ia menatap jam dinding dengan linglung, kemudian  merogoh tempat dimana Ia menyimpan sebilah pisau kecil. 


Kawannya yang tertidur nyenyak menggeliat dan mengembalikan ingatan soal tempat asing dimana dia berada sekarang.


“Huft..” Arna menghela napas.


Ia benar-benar lupa kalau sekarang berada di rumah sahabatnya. Sebenarnya itu semua terjadi karena pukul satu tadi Arna sempat terbangun ketika mimpi buruk kembali menerornya. 


Memang sepertinya malam Arna tidak akan pernah jauh dari kekejaman dan darah. Kali ini mimpinya adalah jatuh dari atas batu karang, dadanya tertusuk sebilah pedang berkarat kemudian tercebur kedalam lautan darah yang membakar kulit seperti bara api. 


Sekarang pukul dua pun, Ia harus kehilangan waktu istirahat lagi. Kali ini juga tidak kalah aneh, bahkan lebih jelas.


Ia bermimpi berjalan di atas batu putih raksasa dengan lambang Viper Army yang ternoda oleh literan darah. Kejanggalannya terletak pad dirinya sendiri. Pengelihatan matanya menampakkan bahwa Ia memegang pedang kotor di tangan kanan dan tangan putus di kiri, seakan yang menodai lambang itu adalah dia. Tetapi semua itu tidak masalah bagi sosoknya dalam mimpi yang terus bejalan tanpa rasa bersalah. Betolak belakang dengan keadaan dirinya di dunia nyata, saat terbangun perutnya sangat terkocok dan ingin muntah.


“Astaga.., mimpi apa ini..??!” Ujarnya masih memegangi rahang bawah.


“Kenapa aku yang menjadi penjahatnya di sana? Memang aku salah apa?” Ia merenungkan apa saja yang diperbuatnya selama ini.


“Aku…,” 


Tangan putus yang dipegangnya saat itu terbayang kembali, geraknya melambai terulur ke bawah selaras dengan warna noda darah di permukaan batu menambah kesan bahwa Ia adalah penyebab tragedi itu. Padahal apa yang diperbuatnya selama ini tidak mencerminkan kejahatan apalagi pembunuhan masal, malah status keluarganya adalah koban pembunuhan.


Sayup-sayup suara bisikan tedengar di telinganya.


“*Bunuh..”


“Darah..”


“Rintih mereka..”


“Menggiurkan*..”


Tanpa sadar Arna ikut berkomat-kamit merapal kata-kata tidak pantas itu. Untunglah Ia cepat sadarkan diri dan ganti bergumam memanggil nama tuhan.


“Tuhan.., maafkan aku.., tuhan..” Ia berbisik lirih dan derai air mata beberapa kali mengalir di pipinya seakan benar-benar telah merenggut nyawa seseorang.


Bau anyir darah merasuk membuatnya seperti dikuliti, tubuhnya menggigil dan sesak, sehingga Arna hanya bisa merengkuh dalam selimut. Ia mulai kehabisan napas, matanya membulat, jemarinya saling mengait gemetar merasakan suhu yang perlahan memaksa memasuki tubuhnya. 


BRUKK..


“Arna..!” Suara Gio memanggilnya.


“Arna.., bangun!” 


Kelopak matanya dibuka paksa, terlihat gemilau cahaya biru dari bintang plastik yang tergantung di jendela kamar, rupanya fajar telah lama menyingsing. Seluruh Kota Medianpolis bermandikan cahaya.


“Syukurlah..” Hembusan napas Gio di sisinya terdengar jelas.

__ADS_1


“Aku.., itu mimpi.” Tidak bisa disangkal semalam pasti Ia terjatuh dari kasur, jadi sebenarnya itu hanya mimpi dalam mimpi.


__ADS_2