Forgotten Sins

Forgotten Sins
Kakak Beradik yang Malang


__ADS_3

“Apa yang terrjadi padamu Axton?” tanya Olio panik.


Keadaan Kak Axton memang sangat menghawatirkan dengan belasan luka sayat dan darah segar di sekujur tubuhnya.


“Dimana Rezon?” tanyanya.


“Axton, aku menanykanmu bukannya Rezon!” Ujar Kak Olio tegas, tetapi Kak Axton hanya memandang datar padanya.


“Aku tidak akan menja..”


“Rezon dan Reeko ketemu Olio! Zelig, Siena dan Enan yang menemukan mereka..” Kata Kak Feiza tiba-tiba memotong ucapan Kak Olio.


“Sudah ketemu ya..” Kata Kak Axton lirih.


Seketika itu juga tubuhnya terlihat sedikit lebih rileks dan juga hampir ambuk.


“Hei, Hei, Hei! Axton!” Panggil Kak Olio sambil memegangi tangan Kak Axton errat-erat.


“Tinggal Arna sekarang.” Ujarnya datar.


Kak Gan meremat jari-jarinya sendiri dengan sangat erat, ketika Ia hampirr angkat bicara tiba-tiba,


“Kak Axton!!”


Sontak semuanya menoleh kearah suara.


“Arna?!” Ujar semua sontak menoleh pada Arna yang memandang mereka dengan ekspresi tidak percaya.


“Kak Axton..” Panggil Arna sekali lagi karena miris melihat luka Senior sekaligus kakak angkat ketiga kawan ini.


“Di-dia baik-baik saja kan?” tanyanya hanya untuk menenangkan diri, terkadang tangannya bergerak mengelus leher karena terbayang bagaimana luka itu didapatkan.


“Tidak, dia baik-baik saja.” Jawab Kak Olio seratus persen bertolak belakang dengan perilakunya tadi.


Ketika Kak Feiza menatapnya tajam, ia hanya bisa nyegir menampakkan senyuman memelas agar kebohongannya tidak dibongkar. Namun Kak Feiza tetap memaksanya memberitahukan kebenaran pada Arna.


“Apa kita perlu membawanya ke rumah sakit atau klinik?” tanya Arna yang sudah nampak pucat dan mual terringat pada korban yang dilihatnya saat peistiwa pengeboman pasar dan iblis yang meenghampirinya setiap malam.


Bahkan kini Ia berpegangan pada pagar untuk menyangga tubuh lesunya.


“Tidak perlu Arna.., dia baik-baik saja.” Kak Olio tetap bersikeras mempertahankan kebohongannya.


Seketika itu pula wajah Kak Feiza dan Gan menjelma menjadi pembunuh bayaran tingkat interrnasional membuat seluruh tubuh Kak Olio meendadak merinding.


“Ehem.., aku lebih setuju pada keputusan Arna!” Kata Kak Gan sok ketus, padahal wajahnya bersemu merah seperti peserta lari Marathon yang baru mencapai finish.


“Tidak,hampiri Rezon dan Reeko saja.” Jawab Kak Axton berusaha berdiri tegak.


“Axton!!” Bentak Olio karena Kak Axton terrus bejalan menghampiri Arna yang masih terpaku di depan pagar.


Sesampainya di hadapan junior sekaligus muridnya itu Ia berlutut mengikuti tinggi Arna dan membelai rambutnya dengan senyum datar.


“Kau baik kan Arna?” tanyanya dan Arna tersentak.


“Kak.. Rab..ka..” Gumamnya.


Secara tidak sadar Ia telah menyuruk dalam pelukan Kak Axton seperti seorang bayi yang menyambut kedatangan orangtuanya usai ditinggal belanja.


“Syukurlah..” Bisik Kak Axton di perlahan menggetarkan  pembuluh nadi, seketika darahnya langsung tersidap.


“Maaf Arna..” Sesal Kak Axton, nadanya memang datar tetapi di telinga Arna perkataan itu berbeda.


“Kak Axton!” Panggil Arna menggeleng kuat dengan senyum yang tidak bisa dimengerti.


“Tidak kau tidak perlu minta maaf.” Jawab Arna, sementara yang lain hanya bissa terpana dalam kebekuan.


 


 ••••


 


Sebuah motor menyimpang dari jalur kawan-kawannya dan mulai memelankan laju saat mendekati tepi jalan, itulah motor Kak Zelig.


“Ada apa?” motor lain ikut berhenti..


“Lanjutkan saja, aku hanya mendapat panggilan mendadak.” Jawabnya sambil melambai-lambaikan tangan seperi mengusir seekor ayam.


“Hhhh!” Dengus Kak Siena kesal. “Baiklah aku pergi!” Ujarnya, ditimpali Reeko yang dibonceng dengan menjulurkan lidah.


Kak Zelig hanya tersenyum sebal sambil berpikir,


“Andaikan gadis itu bukan anak guru, aku sudah…”


Ia tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila, tapi Ia tidak mau berlarut-larut dalam khayalan. Tangannya segera meraih ponsel yang terus berteriak-teriak di sakunya.


“Haallooo..!!” Sapanya dengan nada kesal.

__ADS_1


“Zelig jangan meneruskan perjalanan dulu, kami akan segera ke sana menyusulmu.” Kata orang dewasa di seberang.


Zelig terkesima tubuhnya berkeringat dingin dan gemetar, Ia membisu tak bisa menjawab sepatah katapun untuk membalas perintah itu.


“Zelig, kau masih disana?” tanya pria di seberang telephon.


“E.., iy.., baik guru!” Jawab Kak Zelig.


KRIK.., KRIK., KRIKK..


Bahkan jangkrik di seberang telepon saja tercengang mendengar jawaban ketakutan Kak Zelig.


“Baiklah, diam disana.” Kata orang di belakang telephon yang ternyata adalah Guru sendiri.


“I..ya..” Jawab Kak Zelig untuk terakhir kalinya sebelum jaringan telepon dimatikan.


“Huaaaaa..!” Teriak Kak Zelig sekeras mungkin seakan bisa mengejutkan raksasa tidur sekalipun.


Tetapi penduduk Kota Medianpolis tetapi cuek seperti tidak ada apa-apa, tetap berlalu-lalang seperti gerombolan semut pekerja.


“Sialan…!!” Umpatnya. “Kenapa takdir tega begini terhadapku?!”


“Jeng, jeng, jeng.., itulah ratapan yang begitu menyedihkan dari Kak Zelig..” Ujar Reeko yang mengamati dari jauh bersama yang lain.


“Bwahahaha, apaan tuh? mirip orang ****.” Timpal Rezon dengan tawa menggelegar.


“Memang si bloon itu lagi ngapain?” tanya Kak Siena yang sedang mengangkat dan meletakkan kedua kaki diatas setir sepeda motor dengan gaya santai sepeti anak pantai.


“Entah, ayo kesana saja!” Kak Enan segera memicu laju sepedanya tanpa menunggu Rezon membetulkan posisi duduknya, akibatnya dia hampir terjungkal ke belakang motor.


“Woy kak!” Umpat Rezon segera berpegangan ke pinggang Kak Enan seeratnya.


“Ayo!” Sahut Kak Siena.


  ••••


“Axton, kau duduk saja dulu!” Kata Kak Feiza sambil menuntun Kak Axton menuju bangku dekat situ, Kak Gan juga membantu meskipun sambil memalingkan mukanya.


“Aku baik-baik saja.” Kata Kak Axton saat menatap muka Kak Feiza yang memelas seperti anak kucing.


“Baiklah kalau begitu..” Jawab Kak Feiza sambil melepas gandengannya pada lengan senior dingin itu.


Tapi Kak Axton langsung limbung seperti hendak pingsan membuat panik semua orang.


“AXTON!” Ujar Kak Gan yang langsung menangkap tubuhnya.


“Ma.., ma-af..!” Kata Kak Feiza sambil menutup mulutnya dengan dua tangan karena merasa bersalah telah melepaskan Kak Axton.


“Kalian kira..” Kak Axton mulai angkat bicara.


Arna menahan napasnya tidak tahu harus berbuat apa, sebenarnya dia sangat khawatir tetapi tubuhnya sangat kaku melihat baju Kak Axton yang dipenuhi bercak darah.


“aku mau mati?” lanjut Kak Axton membuat keempat anak itu terkejut.


“Tidak bukan begitu, bukankah kau  mau pingsan tadi?” tanya Kak Olio dan Kak Axton terdiam.


“Kalau begitu jangan menyangkal lagi, cepat naik!” Ujarnya sambil merendahkan tubuh.


“Tidak.” Kata Kak Axton tuba-tiba.


“Hah? Apa maksudmu??” Kak Feiza terheran dengan jawaban kawan dinginnya itu.


“Kalau sudah tidak kuat cepat naik, jangan banyak bicara!” Perintah Kak Gan dengan suara kecil lebih mirip menggerutu.


“Bukankah kau mau pingsan Axton?” tanya Kak Olio, sementara Arna hanya menatap kesana kemari dengan linglung.


“Tidak.” Jawabnya singkat.


“Eh, lalu kenapa?” tanya Kak Olio lagi.


“Kesandung.” Jawab Kak Axton lagi tanpa rasa bersalah.


“Astaga..!” Teriak  Kak Feiza entah karena lega, sebal, atau lainnya.


Seketika mereka menepuk jidat masing-masing.


“Huh.., baiklah tapi lain kali jangan membuat kami khawatir ya Axton..” Ujar Kak Feiza sambil mencondongkan tubuh kearah Kak Axton yang datar-datar saja.


“Baiklah, ayo jalan lagi!” Ajak Kak Olio.


Tapi baru selangkah mereka tempuh..,


BRUKK!!


“Kak..”


“AXTON!” Panggil mereka bersamaan.

__ADS_1


 


 ••••


 


“Kak Zelig ada apa?” tanya Reeko seusai turun dari kursi belakang motor Kak Siena.


“Ahh.., tidak apa-apa Reeko. Ada kabar baik, ayahmu akan datang menyusul kita!” Jawab Kak Zelig dengan senyum palsu yang gagal total, malah lebih seperti senyum orang tertusuk duri.


“Owh, benarkah itu??” tanya gadis itu matanya bulat bersinar, sangat terlihat bahwa Ia sangat menantikan kedatangan sang ayah.


“Mataku terlalu tajam atau mata Reeko yang eror, bagaimana bisa dia tidak sadar pada senyuman semengerikan itu?!” Bisik Rezon pada Kak Enan di depannya.


“Hahahaha, katakan itu dengan keras bisa-bisa kau ditonjok Reeko nantinya.” Jawab Kak Enan juga berbisik.


“Hmh, aku pikir kalian berdua akan berakhir di ruang kesehatan karena pukulan pamungkas gadis kecil ini.” Balas Kak Siena yang dari tadi santai mendengar percakapan mereka.


“Bagaimana bisa si kakak jahat mendengar kita?” tanya Rezon pada Kak Enan  dengan gaya berbisik, padahal Kak Siena jelas dapat mendengarnya.


“Dasar payah! Kau kira aku tidak bisa mendengar?!” Seru Kak Siena marah-marah.


“Huaa, dia dengar lagi!” Teriak Rezon sampai ludahnya terbang ke muka Kak Enan.


“Hiiiiii…!!” Teriak Kak Siena mencibir jijik pada Kak Enan yang baru saja terludahi.


“Kurang ajar!” Seru Kak Enan pada Rezon sambil melompat salto turun dari sepeda lalu berguling-guling di tanah untuk membersihkan wajahnya sehingga semua orang menoleh padanya.


“Orang tersiram air keras!” Ujar salah satu orang yang melihat sehingga beberapa oang lainnya menjadi heboh.


Tiba-tiba saja..


BRAAKK!!


“Waduuhhh!” teriak seseorang karena tertimpa sepeda Enan.


“E,e,e..!” Kak Siena merekam tragedi itu dengan mata terbelalak.


“Hah?” Reeko dan Kak Zelig menoleh pada kawan-kawannya.


Pemandangan memukau segera menyambut mereka, Kak Enan sedang berguling-guling di tanah dikerumuni beberapa orang dan Rezon tertimpa sepeda motor.


“Eh, kecelakaan!” Teriak Reeko panik, merekapun segera menghampiri korban terdekat yaitu Rezon.


“Rezon, kau tidak apa-apa?” tanya Kak Zelig.


“Tidak apa-apa bagaimana, cepat angkat ban-nya!” Ujar Rezon yang terus merintih dari tadi.


“E.., iyaa..” Jawab Kak Zelig yang segera memegang ban dan menariknya ke atas.


“Stoppp..!” Teriak Rezon.


“Apa lagi?” tanya Kak Zelig  menghentikan pekerjaannya.


“Sakit..!” Jawab Rezon menunjuk badan motor yang semakin menekan tubuhnya saat Kak Zelig mencoba mengangkat ban-nya.


“Lho..”


“Jangan ban-nya Zeligoo.., motornya!” Ujar Kak Siena dari atas motornya sendiri.


“Iya, iya.., kamu sendiri ngapain nongkrong disitu? Bantuin!” Jawab Kak Zelig tidak terima disuruh-suruh juragan besar yang hanya duduk di atas sepedanya.


“What-Can-I-Do?!” Tanya Siena dengan penekanan di tiap katanya.


“Woyy.., senior! TOLONGIN DIKIT YA..” Panggil Rezon dari bawah motor.


“Iya, iya, iya..!” Jawab Kak Zelig.


“Terus aku ngapain?” tanya Kak Siena pada Kak Zelig.


“Tolong Enan sana!” Jawab Kak Zelig sebal.


“Oke!” Kak Siena pun berlalu pergi.


“Baik Rezon, aku hitung sampai tiga dan kamu langsung keluar dari sana!” Rezon hanya mengangguk.


“Satu..,”


“Dua..,”


“Zelig, Reeko mana Reeko?” tanya Kak Siena yang datang tiba-tiba.


“Hilangg!!"


Mari telusuri jejak hidup Axton⛄ di episode berikutnya..😝😝


🎬🎬

__ADS_1


__ADS_2