Forgotten Sins

Forgotten Sins
Mitos Rawa Timur


__ADS_3

“ARGH..” Seorang anak menggeliat di atas tempat tidur kecil dari seutas kain putih yang diselempangkan antara dua tiang.


Guncangan dasyat barusan sangat mengejutkan, apalagi tempat melayang seperti kain ini benar-benar tidak seimbang. Baru saja ia hendak membuka mata ketika guncangan kedua kembali datang dan membuat belakang lehernya terasa nyeri.


“Ssshh…,” dia meraba perban putih yang melingkar dari leher hingga ke bahu.  


“Dimana ini?” 


Ia mengedarkan pandangan ke sekitar sekaligus mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi. Dekorasi ruangan ini begitu aneh, koproh seperti sarang penjahat dan seluruh bangunan terasa bergerak-gerak.


Atau mungkin memang benar-benar bergerak, buktinya tadi dia hampir terjatuh karena guncangan. Ataukah itu hanya ada dalam pikirannya? tapi dari struktur bangunan yang terlihat pendek, bisa saja ia berada dalam sebuah kapal. Tapi kenapa dia berada di dalam kapal? 


 “Apa yang terjadi sebenarnya?” gumamnya pelan.


Ia bangun mencoba mendekati daun pintu, lehernya terasa berdenyut parah dan jika digerakkan sedikit saja nyeri menjalar disekujur tubuh. Bahkan ketika menarik napas serasa ada  serrpihan dingin yang ingin mengoyak dadanya.


BRUK!!


Pada langkah yang kelima, ia tidak dapat meneruskan lagi dan jatuh tengkurap di lantai.


“Ayah.., aku.. di..mana?” kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya bersama dengan kerlingan air mata.


Wajah tampan nan berwibawa yang terus memancarkan cahaya kehangatan pada semua, senyuman yang selalu menggetarkan segenap jiwanya bagai memandingi sinar sang kara sendiri.


“Ayah..”


Tapi bayangan hitam muncul, badai kuat mengusik segalanya bahkan cahaya itu pun sirna. Tinggal kenyataan pahit saat tatapan tidak peduli dari mata yang diidamkannya menemani tiap langkah dalam kisah hidupnya. Bahkan tak segan-segan badai itu menumbuhkan benih kekecewaan yang merusak jiwa beningnya semakin parah. Kini, hanya dingin yang tersisa.


“Tidak, beliau tidak ada disini. Aku harus berjuang sendiri.” Senyum pahit dan dingin terukir di wajahnya yang tertunduk dalam.


Sementara kedua matanya memandang kebawah tapi mengarah jauh entah kemana.


“Konyol!”


“Dia tidak disini, tidak akan pernah ada, tidak akan pernah menolong. Aku dan Rezon tidak akan mempercayakan padanya apapun lagi.”


Dikenangnya lagi saat para penjahat ******** itu memasuki pondok kecilnya dan memperlakukan Rezon seperti hewan dan dia tidak datang, walau hanya untuk menyelamatkan Rezon saja?


“Payahh!!” Hatinya mengumpat entah pada apa.


Kali ini baik rasa sakit atau nyeri tak mengubah apapun, bagai pasukan mayat hidup dia bangkit kembali berdiri tegak. Sementara sesuatu yang hangat mengalir di sekitar lukanya lalu jatuh di atas bahunya.


Ia berjalan maju, kilatan dingin yang mengintimidasi terpancar dari sekitarnya. Tanpa basa-basi lagi ia memutar gagang pintu didepan.


“Rezon!!!”

__ADS_1


•••••


BRAKK!!


Axton menyikut tembok disampingnya dengan sangat keras sehingga seisi ruangan bergetar. Dengan napas terengah-engah ia meraih sebotol air dan meminumnya tanpa kompromi.


“Huahh…” Ia membuang napas sekeras mungkin lalu menyeka air yang tumpah diwajahnya tadi.


“Lagi-lagi, mimpi?” batinnya.


Sesak dadanya timbul akibat mimpi tadi ditambah dengan perasaan medalam ditengah-tengah dadanya, namun lebih dalam. Rasa sakit, kecewa, sedih, marah, sesal, entah apa namanya seakan menyayat segalanya dengan agresif, kata lainnya bar-bar. Tak terbayang apa didalam tubuh sebenarnya sudah banyak sekali luka berdarah-darah akinat senjata dari rasa ini yang begitu menyesatkan. Mati tapi tidak mati, tak ada kenyamanan disana.


Ia membenamkan wajah kebalik bantal, ingin melukai diri sendiri separah mungkin atau beteriak  seperti orang gila. 


“SIALANN!!!” Umpatnya sambil menggigit bibir hingga terluka dan darahnya mengalir kebawah dagu.


Seketika itu pula aura dingin memancar dari tubuh Kak Axton, seakan-akan bisa membekukan darah seseorang jika mendekat. Sementara dadanya sendiri seakan ikut beku, naik turun dengan cepat tak teratur dan jemarinya yang mengepal gemetaran.


“Ahhh..” Lagi-lagi Kak Axton hanya bisa menghela napas untuk menghilangkan napsu gilanya untuk menikam dari dengan belati.


Memang konyol, itu bukanlah keinginan sehat melainkan sudah dipengaruhi keputus asaaan dan setan. Tapi hal semacam itu bekanlah jalan keluar bagi sang Axton yang merupakan pejuang gigih, berlawanan dengan napsu tadi. Bukannya meringankan, sakitnya pasti menjadi-jadi.


TRRKK.. TRAK..


Kak Axton terdiam, pandangannya hanya terrpaku pada semua gerakan burung kecil yang hanya berputar-putar di langit-langit. Karena tak kunjung menemukan jalan keluar, sang burung bertengger diatas pintu membuat Kak Axton merasa kasihan. Ia lalu bangkit dari kasur mengulurkan tangan kedepan, dan tak butuh waktu lama si burung langsung pindah bertengger dilengannya. 


“Burung yang malang.” Bisik Axton sambil membelai bulu lembut milik si burung dan duduk kembali di kasur.


Tiba-tiba saja burung kecil itu mengepakkan sayap tepat didepan wajahnya lalu terbang menuju jendela. Ia tersenyum datar seakan berisyarat burung itu telah menempun jalan yang benar, tapi bukannya terbang keluar si burung malah hinggap di kusen jendela memandang Kak Axton dengan mata sebesar kacang miliknya. 


Kak Axton mengerutkan alis heran, tapi entah apa hubungannya ketika melihat tingkah laku burung ini ia teringat akan mitos yang dibicarakan para juniornya.


“Rawa timur..” Gumamnya.


Pintu ruang kesehatan dibuka sedikit lembih lebar, lalu terdengar suara seorang lelaki menyapanya.


“Axton!”


Rupanya burung kecil itu kaget dan terbang tinggi meninggalkan Kak Axton yang terdiam mengikuti arah terbangnya. Sepeninggal sang burung kecil, Kak Axton menoleh memandang anak yang menyapanya tadi.


“Nega.” Kata Kak Axton dingin.


“Olio menyuruhku memeriksa keadaanmu, tapi ternyata kau tidak apa-apa. Jadi ya sudah..” Ujar kakak yang menyapa barusan dengan gaya sok.


Kak Axton tidak menampakkan reaksi apapun, ia hanya menggeser sedikit posisinya lalu memalingkan muka kearrah jendela.

__ADS_1


“Hei, kenapa kau diam saja!” Seru Kak Nega emosi.


“Mau apa?” tanya Kak Axton jujur karena dia tidak tahu Kak Nega mengharapkan apa.


“Seperti yang terrcantum dalam kalimatku yang pertama, aku bertanya ‘Bagaimana keadaanmu?’”  Jawab Kak Nega sebal karena temannya ini tidak peka sama sekali.


“Baik.” Jawab Kak Axton singkat. 


Seketika itu pula roh Kak Nega melayang jauh ke angkasa.


“Astaga Axton.., susahkah untuk berbicara lebih dari empat kata saja?” tanya Kak Nega sambil menepuk jidatnya..


“Beberapa bulan lalu, sifatmu ini sudah baikan. Tapi kenapa sekrang..,” 


“Owh.., apa kau memang baik saja, atau kau sedang depresi. Ax-ton?” tanya Kak Nega menduga-duga.


Kata-kata itu sukses mengukir senyum kecut di bibir lawan bicaranya.


“Benar kan? Lihatlah matamu yang sayu itu!” Ujar Kak Nega menyilangkan tangan di depan dada.


“Biar aku ceritakan sesuatu yang lucu padamu!” Kak Nega berjalan mendekat dan duduk tepat di sebelah Kak Axton.


“Kau tahu mitos konyol tentang rawa timur?” tanya Kak Nega lagi untuk mengawali ceritanya.


“Ya.” Jawab Kak Axton seperi orang cuek tapi sebenarnya dari tadi dia mendengarkan tiap perkataan kawannya dengan antusias.


Apalagi yang ini, barusan saja ia memikirkan soal mitos ini. Sekarang kak Nega sudah datang membawa informasi lebih lengkap lagi.


“Kemarin, seorang anak pulang kemarkas dengan tubuh gemetar ketakutan karena telah melihat sosok tinggi besar berpakaian seba hitam dan tato ular di punggung tangannya. Padahal hanya seperti itu, tetapi dia sudah seperti orang syok berat. Saking ketakutannya anak itu tidak mau makan dan tidak mau keluar kamar. Aneh kan?”  tutur Kak Nega singkat saja tahu bahwa kawannya yang satu ini tidak suka sesuatu yang bertele-tele kecuali dengan Rezon.


“Parah juga.” Tanggap Kak Axton sehingga seringai puas terukir di wajah Kak Nega.


“Iya.., awalnya memang hanya perrmainan tapi sekarrang perrmainan itu menjadi malapetaka.” Jawab Kak Nega mencoba mencari respons dari Kak Axton.


“Guru sudah menangani?” tanya Kak Axton mulai tertarik.


“Tidak, hal ini tidak dilaporkan pada Guru karena sekarang beliau sangatlah sibuk mengurusi hal penyerangan Nona Meyl.” Jawab Kak Nega.


“Hmm.., begitu.” Kata Kak Axton kurang puas.


“Sebenarnya aku sangat ingin mengobrol panjang denganmu. Tapi seperti kataku tadi guru sedang sibuk, jadi aku harus pergi membantunya. Yasudah ya.., da Axton!”  Kak Nega berlalu pergi sambil melambaikan tangan.


Kak Axton membalasnya dengan singkat, matanya bergerak mengikuti langkah Kak Nega sampai menghilang. 


“Ular?” gumam nya.

__ADS_1


__ADS_2