Forgotten Sins

Forgotten Sins
Siapa dia?


__ADS_3

Besoknya…


“Ayo!” seru Reeko di tengah lapangan.


Arna meninju samsak yang ada di tengah ruangan meskipun hanya sedikit bergoyang, tapi Arna tidak berputus asa. Karena dia tahu, putus asa tidak akan mengantarnya menuju pembalasan dendam seluruh keluarganya.


“Terus…Ayo!” batin Arna bergejolak meneriakkan kata-kata untuk menguatkan dirinya agar tidak menyerah.


Berkali-kali suara benturan terdengar menggema di seluruh aula latihan, berkali kali juga sorakan Kak Rabka menggema di batinnya.


                          ••••


Besoknya….


DOR…


“Tidak kena..” batin Arna.


Keringat telah membasahi diri mereka yang berada di tengah-tengah lapangan bidik.


DOR..DOR..


“Lagi?”Tanya Arna.


DOR…DOR…DORR..


“Lagi- lagi tidak kena??!” Tanya Arna membatin.


Ia memandang telapak tangannya yang mengkilap ketika terkena cahaya matahari siang.


“Ayo….!!” Wajah Ayah yang teduh dan tegas terbayang sekilas menyemangati dirinya.


Dua tekanan terakhir, dan peluru panas pun melesat.


DOR…DORR….


                            ••••


Besoknya…


TRAK…!!!


Arna melompat sekaligus menendang lalu berputar di udara menyasar Rezon, kemudian  mendarat di tanah. Beberapa jurus telah diajarkan padanya oleh Rezon sang raja pedang dan Kak Axton mentornya. Inilah hasilnya, sekarang dia bahkan dapat melakuakn hal yang tak pernah terpikir sebelumnya.


Di satu kesempatan, Arna menyerang dengan tunju terkepal, tetapi Rezon hanya mengelak sedikit.


“Mengagumkan!” Pikir Arna memandang Rezon dengan berbinar.


“Sekarang, giliranku...!” Ujar Rezon dengan wajah sadis. 


Dia menangkap tangan Arna lalu membalikkannya di udara seakan hanya mengangkat sebuah cangkul dan membantingnya ke lantai. Tanpa ampun, Rezon mengayunkan pedang kayu ke arahnya bahkan sebelum Ia menggerakkan saru jari. Dengan mata terbelalak dan usaha menyelamatkan  diri, Ia berguling sambil menjegal kaki Rezon, sehingga memberinya kesempatan yang hanya sesaat untuk bangun sebelum Rezon kembali menyerang. Benar saja, Rezon berlari kencang dengan pedang terhunus, wajahnya saat itu seperti iblis. Entah kenapa seluruh tubuhnya kaku.


“Tatapan itu, aku pernah lihat.” Pikir Arna dengan kecepatan kurang dari satu mikro detik.


“Oh iya, Kak Axton. Itu persis dengan tatapan Kak Axton.” Di keadaan seperti ini Arna malah dapat merasakan kemiripan kedua kaka beradik itu.


Ia kembali tersadar bahwa masih ada Rezon yang dalam perjalanan untuk menyerangnya. Untunglah dengan sedikir paksaan otot kakinya tidak lagi kaku, namun pedang kayu telah berada di depan mata. Hasilnya, Ana terhuyung ke belakang dan tebentur tembok. Belum cukup itu saja, seakan tidak melihat kalau Arna telah terpojok, Rezon menyerang dengan brutal, spontan Ia menundukkan kepala.


                          ••••


Sudah beberapa minggu mereka terus berlatih dan berlatih. Bagi Arna latihan ini belumlah maksimal, karena dia mengerti  bahwa kegagalannya lebih tinggi di banding anggota lain. Tapi kalau hati, raga, dan pikiran telah berbicara meski harus dibanting berkali-kali tidak ada kata menyerah.


“Ini bukan masalah, kau tidak berlatih seperti ini di kota, sedangkan yag lain telah lama bergelut dengan darah dan keringat. Jadi kau hanya perlu berlatih lebih giat, dan dalam waktu singkat hal ini akan menjadi ringan bagimu.” Ujar Kak Axton di sehabis latihan kemarin.

__ADS_1


“Hanya perlu berlatih lebih keras dari siapapun, dalam beberapa tahun kau sudah dapat menyamai mereka.” Pikir Arna menimpali masukan dai Kak Axton.


  Oleh karena itu, Ia selalu berlatih dengan atau tanpa Rezon dan Reeko. Setiap pagi,  bangun lebih awal dan pergi ke aula latihan untuk mengulangi hal yang diajarkan oleh kedua temannya di latihan sebelumnya. 


              ••••


Dua anak sedang berlatih di aula asrama yang memang sedang kosong, mereka tidak menyadari seorang gadis melangkah ke sisi mereka. Dengan sengaja, Ia berseru guna mendatangkan pehatian kedua anak itu.


“Hey, Kalian!” 


“Ada apa?” Tanya Rezon melihat Reeko, jelas sekali tatapannya mengisyaratkan suatu harapan.


Reeko tesenyum, perlahan menunjukkan kedua tangannya yang sedari tadi disembunyukan di belakang punggung, rupanya benda yang Ia bawa adalah dua buah pistol.


“Latihan tembak yuk..” Ajaknya memelas.


Rezon meringis lalu berbisik pada Arna.


“Biasa…  ratu tembak memang begitu, sukanya tembak…mulu!”


Arna tertawa kecil, hal itu membuat Reeko curiga dan seketika mukanya berubah masam.


“Iya, iya… ayo!” Jawaban itu membuat Reeko kembali berbinar.


Gadis itu sangat mudah menunjukkan ekspresinya, seakan tak ada sesuatupun yang pernah di semubunyikan olehnya. Diam-diam, Arna penasaran dengan kedua kawannya, benarkah mereka seceria kelihatannya? ataukah mereka menyimpan rahasia tesendiri? 


Di lapangan tembak kira-kira 20 meter dari sasaran, Reeko menyerahkan dua pistol pada dirinya dan Rezon kemudian mendahului mereka yang sibuk mengisi peluru. Bunyi yang menggelegar beberapa kali terdengar dari mulut pistol Reeko, asap juga mengepul menandakan butir peluru baru saja terlontar. Tak main-main, peluru melesat cepat menusuk titik merah di papan target dan gadis itu, Reeko tersenyum puas sedangkan mereka berdua terkagum-kagum. Sejak dulu, memang pistol adalaha senjata andalanya, entah mengapa Reeko dan Revolver seperti satu kesatuan.


“Siapa selanjutnya?” Tanya Reeko seakan menantang.


Rezon menyenggol bahunya memberi kesempatan pertama untuk mencoba menandingi ketepatan Reeko, dan Ia sendiri paham maksud kawannya ini. Tapi berbeda dengan Reeko yang berbakat dalam menembak, ini  adalah salah satu keterampilan yang sulit dikuasai olehnya. Tapi sudah tercantum dalam catatan Arna, tak ada kata tidak bisa. 


Tepat disisi Reeko, Ia mengacungkan pistol kearah papan target dan  mengambil ancang-ancang. 


“Yakinlah Arna…” Pikirnya momotifasi diri.


“Lagi.”


Ia menggeser posisi tangan dan menekan pelatuk, papan kedua tertembak.


“Makan ini...” Seru Arna masih dalam batin.


Mulut pistol terlihat berapi sesaat, dan..


"Aku percaya.” gumam Reeko.


target terakhir telah sukses. 


Reeko dan Rezon tesenyum lenbar menyaksikan hasil kerja keras dan Arna yang kini memuaskan. Mengingat bahwa temannya yang satu ini bahkan tidak mengenai satupun papan sasaran di latihan pertama mereka, sekarang malah mengimbangi Reeko sang revolver girl, kedua anak itu tertawa bangga lalu bertepuk tangan. Sedang  Arna sendiri tak percaya apa yang telah ia lakukan, pikirannya sibuk mengulangi kejadian tadi mencari kesalahan di pengelihatannya, ketika itu Rezon menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil berseru:


“Arna berhasil….!!”


Begitu pula Reeko ia meloncat-loncat senang bagaikan burung yang baru saja lepas dari sangkar. Walau begitu Ia tetap tidak yakin, hanya untuk memastikan dia berniat menembakkan beberapa peluru lagi. Arna memfokuskan pengelihatan, mengambil  ancang-ancang kemudian menekan pelatuk penuh perhitungan, persis dengan apa yang dilakuaknnya barusan. Tapi, Arna malah semakin tercengang dengan hasil akhirnya, tidak meleset sama sekali. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kenyataan di hari pertama. Baik Reeko maupun Rezon tetap bersorak kegirangan.


 “Hai, apa yang aku lewatkan?” Seorang remaja seusia Kak Axton menatap mereka sinis.


Ia tidak menangkap kejanggalan pada perkataan remaja itu sehingga ia santai saja menanggapinya, karena mungkin mereka terlalu heboh sehingga menarik perhatian orang banyak. Sebelum Arna buka mulut, Reeko membungkamnya tapi  ketika itu juga Rezon maju ke depan dan mengatakan sesuatu yang mencengangkan.


“Tidak ada! Memangnya kau tidak ada kerjaan lain? kenapa menggangu kami?!” Jawab Rezon ketus.


Arna kaget, tak biasanya Rezon bersikap kasar apalagi ketus, dan juga tidak paham apa yang terjadi. Tadi, Kakak itu hanya menanyakan apa yang mereka lakukan dan Rezon malah ketus terhadapnya. Ia menatap dalam-dalam wajah Kakak itu, mencoba mencari kekecewaan atau kekesalan di sana, tetapi entah mengapa dia amalah tesenum puas.


“Baiklah…, kalau begitu bagaimana kalau aku mengganggumu saja?” Katanya dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


Reeko maju ke samping Rezon dengan tampang serius, sedangkan Arna syah dinobatkan sebagai orang yang tidak memahami alur keejadian. Kakak itu tidak gentar bahkan malah berlagak menantang. Dia maju mengampiri Reeko dan menyingkirkannya, lalu tangan kirinya  mencengkram kerah baju Rezon. Arna tahu akan terjadi sesuatu yang tidak baik di sini, tapi pikirannya masih sibuk membedah potongan peristiwa dimana Reeko tidak melalukukan perlawanan saat disingkirkan oleh kakak itu, Ia yakin masalah ini tidaklah sederhana. Hal buruk benar-benarr terjadi, kakak itu mengangkat tubuh Rezon ke atas seakan hanya sedang mengangkat sebuah mainan dan tersenyum.


“Hey..” Arna mencoba melerai.


Tapi terlambat, dengan enteng kakak itu menghempaskan Rezon ketanah


“Rezz..!” Ujar Reeko sambil bergegas menolong Rezon yang terjatuh di tanah dua meter dari tempatnya tadi.


“Dasar!!” Umpat Reeko,  matanya berkilat melambangkan ketidaksukaan.


“Hah…, jadi hanya ini kemampuan Adikmu? Huh… dia memang tak pernah berubah!” Serunya dengan nada mengejek entah pada siapa.


“Kau, itu tadi bukan apa-apa. Kenapa kau sudah terjatuh?” Tanyanya padahal sudah jelas kalau dia  telah menghempaskan Rezon tadi.


Tapi Rezon tak tinggal diam, Ia berniat bangkit untuk membalas maikan kakak itu sebelum terrhenti karena jari telunjuk kakak itu yang diletakkan di depan matanya.


“Jangan bergerak atau kau ingin merasakan…”


“Tidak!!” Ujar Reeko sambil berdiri di depan Rezon.


“Hey, Minggir!” Perintah Kakak itu.


Tapi Reeko tidak berkutik dan Arna hanya dapat terpaku seperti patung menyaksikan peristiwa mencengangkan itu. Baru saja mereka bersorak kegirangan tadi, dan sekarang seglanya berubah. Arna tersentak ketika tangan Kakak itu bergerak hampir memukul Reeko, tangannya telihat sangat kuat. Sepertinya dia berniat memukul Reeko dengan serius.Walau tidak mengeti apapun, Arna tidak tinggal diam melihat hal itu, tidak dapat diam saja melihat kedua sahabatnya dipermainkan seseorang. Ia melompat ke depan Reeko, melindungi Reeko dengan tubuhnya, beruntung tangan Kakak itu dapat berhenti. Kalau tidak, paling-paling Ia akan menginap di ruang kesehatan, dengan jaak sejauh ini saja dia sudah merasakan tenaga kakak itu. Tapi bukan itu tidak masalah, yang penting  Kakak ini tidak boleh bersikap kasar pada sahabat-sahabatnya.


“Minggir!” Ujar Kakak itu dengan nada penuh penekanan.


“Kau tidak mengerti apapun bukan? jadi, biarkan aku memberi pelajaran pada kedua anak kurang ajar ini. Kalau kau tidak minggir, kau juga akan bernasip sama dengan mereka.” Ancam Kakak itu.


“Kurang ajar?” gumam Arna mengingat bahwa kakak inilah yang tiba-tiba menghampiri mereka dan membuat masalah.


    Namun dari gelagatnya dia menggertaknya, semua perkataannya tidak main-main seakan merekalah yang membuat masalah duluan dan dari sorot matanya itu, dia sangat membenci Rezon.


“Tapi, kenapa? Organisasi ini belum mencapai tujuannya. Kenapa malah menciptakan konflik sendiri?” pikirnya.  


walau tidak mengeti permasalahannya Arna berusaha untuk melerai.


“Tolong berhentilah!” Kata Arna.


“Aku memang tidak mengeti awal dari masalah ini, tapi aku rasa kekerasan bukanlah solusi yang bagus. Kenapa kita tidak mengambil jalan damai saja? kita diskusikan maslah ini bersama.” Lanjutnya mencoba menerka jalan tengah.


Tapi kakak itu malah bertambah geram.


“Aku salah?” pikir Arna lagi.


“Hmh.., kalian sama saja, hanya tiga ikan kecil yang hanya bisa merengek. Kalian tidak pantas berada di sini, terutama kau Rezon… kau dan Kakakmu hanyalah dua orang menyebalkan!” Kata Kakak itu yang bahkan tidak menjawab perkataan Arna barusan. 


Itu lebih terdengar tidak berhubungan.


“Kakak?” gumam Arna.


“apa hubungannya Kak Axton dengan kakak ini?” hati Arna bertanya-tanya.


Arna tidak menyadai perubahan ekspresi Rezon setelah kakak itu berbicara tadi.  


“Kalian…”


“Tutup Mulutmu!!” Ujar Rezon sambil melompat menerkam Kakak itu.


    Gerakannya yang tidak terduga hampir mustahil untuk dihentikan, Arna begitu kagum dengannya. Tetapi  kakak itu hanya bergeser lalu dengan satu tangan saja diamencengkram baju bagian belakang Rezon dan menghempaskannya lagi.


“Payah.” Umpat Kakak itu.


    Rezon teguling di rumput, dengan khawatir Reeko berlari mendekati Rezon. Tapi Kakak itu tidak mendiamkan mereka, dia melompat maju dengan posisi menyerang. Lagi-lagi Arna menangkap keseriusan di wajahnya dapat dipastikan bahwa dia akan menyerang tanpa kompromi.

__ADS_1


“Gawat…!” Arna berlari kearah kedua kawannya sementara kakak itu mengayunkan tendangan sekuat tenaga.


“Tatapan dan aura ini benar-benar kejam. Dia serius?!” Tanya Arna karena tidak sengaja beradu pandang dengan mata kakak itu yang didalamnya ada sebuah kilatan cahaya yang aneh.


__ADS_2