
“Disini rumah saya.” Ujar Arna dan taxi pun berhenti.
Arna keluar dari mobil setelah melempar senyuman pada ibu-ibu itu, meskipun suaranya sangat keras dan cerewet Ia juga baik hati. Bagaimana tidak? dengan cuma-cuma dia mau mengantarkan Arna sampai ke rumah palsunya. Dia bahkan sempat menawarkan minuman pada Arna, tetapi karena rasa sungkan dan bersalah telah membohongi ibu baik hati ini, Ia tidak menerimanya.
“Semoga saja ibu itu selalu mendapatkan kemudahan dari tuhan.” Pikirnya sambil menyusuri trotoar menuju rumah Nona Meyl Orana.
Sebenarnya dari sini sudah nampak jejeran mobil polisi dan tentara yang terparkir di halaman sebuah rumah di ujung gang. Tapi Arna memutuskan untuk sedikit lebih mendekat lagi.
“Kota ini banyak berubah, tapi tidak juga..”
Arna teringat jam-jam sepulang sekolah jika mobil jemputan ibu belum datang, Ia biasa berkeliling kompleks sekitar sana bersama Kak Rabka, Gio, Julyna atau teman-teman lainnya. Tujuan utama mereka adalah menghabiskan waktu agar tidak bosan, tapi banyak juga manfaat yang tidak sengaja didapatkan. Sesuatu tersirat di pikiran Arna sehingga langkahnya terhenti.
“Handphone-ku!” Ia meraba saku dan mendapati benda segi empat di sana.
Segera diraihnya benda itu lalu mengaktifkannya, ketika layar menyala notivikasi berisi log panggilan keluar nampak menyala disana.
“Reeko!” batinnya
Ia membelok ke kursi yang berada di celah antara dua rumah.
“Tolong jawab, Ree…”
Sekian lama Ia terdiam fokus pada layar handhone-nya yang sama sekali tidak menampakkan apapun lagi. Tiba-tiba angin kencang dari jalanan menerpa wajahnya bersama pasir berdebu, mendominasi udara sekitar dengan imbasnya.
“Dasar!” Umpatnya, walau tanpa melihat Ia tahu jelas bahwa tadi pasti ulah kendaraan ngebut.
••••
Motor Kak Gan berhenti tepat di depan gapura gang rumah Nona Meyl, kedua motor lainnya menyusul di belakang.
“Dimana mereka, kenapa aku tidak melihat apapun tadi?” Kak Feiza melepas helm-nya.
“Bisa jadi dugaanku salah.” Gumam Kak Olio meremat-remat wajah sendiri.
“Tidak ada pilihan selain memeriksanya ke dekat sana.” Kata Kak Gan yang baru saja turun dai motor.
“Aku setuju!” Ujar Kak Olio.
“Kalau begitu, ayo!” Ajak Kak Feiza.
“Dimana, Re-zon.” Suara itu membuat bulu kuduk mereka berdiri dan merinding menjalar di sekujur tubuh.
“Axton!!”
••••
“Argh…, dimana ini??” Seru Rezon entah pada siapa ketika jalanan yang mereka lalui semakin sempit dan sepi.
“Aku juga tidak tahu!” Timpal Reeko sama-sama bingungnya.
“Wahai angin jalanan.., wahai sampah di lorong sepi, wahai tembok kota yang penuh coretan. Dimanakah aku beradaa..??” teriak Rezon sekeras mungkin dengan ekspresi berlebihan seperti pemain film comedian.
__ADS_1
“Jangan seperti orang konyol!” Umpat Reeko sambil menendang punggung Rezon.
“Huhuhu.., Ja-hat..” Balasnya.
“Sudahlah, kita harus cari jalan.” Ujar Reeko, bejalan ke depan tanpa mempedulukan Rezon lagi.
Tapi baru beberapa langkah ditempuhnya, sesuatu
“Aku mendengar sesuatu!” Ujar Reeko.
Tetapi rupanya Rezon balas dendam dengan mengabaikan penuturan kawannya dengan terus menggerutu dan mengusap-usap bahunya.
“Rez!” Panggil Reeko.
“Apa? Jangan bilang kau belum puas memukuli bahuku!” Jawabnya G-R.
“Haa?” Reeko menganga.
“Hanya satu pukulan kecil?” pikirnya membandingkan kenyataan dan perkataan Rezon.
“Ahh.., sudahlah!” Ia memegangi kepala dan menggeleng memikirkan kelucuan kawannya.
“Kau mendengar suara barusan?” lanjut Reeko dengan suara lebih lembut.
“Dari tadi aku hanya mendengar suaramu!” Jawab Rezon ketus menandakan dia masih marah.
“Aku tidak menanyakan itu.., maksudku suara asing!!” Ia mulai sebal pada perilaku Rezon.
“Hah apa?” tanya yang diajak bicara.
“Suara Asing..” Jawab Reeko mencoba menyabarkan diri karena di situasi seperti ini tak ada baiknya terus bertengkar.
“A-sing.” Ejanya.
“Apa? Gasing?” goda Rezon sambil melebarkan telinganya.
“ASING!” Reeko kehilangan kesabaran.
“Wah, akhirnya kamu menyadari bahwa obrolanmu selalu basi.” Kata Rezon sok ******.
“Dasar konyol. Aku bilang Asing!” Sisi garang dalam diri Reeko mulai menampakkan diri.
Tapi rupanya hal itu tidak membuar Rezon gentar, melainkan menjadikan godaannya semakin menjadi.
“Semua di kota ini terasa asing bagiku, Langitnya yang kelabu dipenuhi asap dan debu, suhunya yang membakar paru-paru, dan gemiliang kaca gedung-gedung yang membutakan mata hati. Segalanya, membelengu diriku…” Ujarnya sengaja memancing kemarahan Reeko.
“Huuaaaa..! Dasar kau menyebalkan.., yang kutanya adalah,”
“Sssttt..” Rezon membungkam mata dan hidungnya.
“Kau dengar itu Ree?” tanya Rezon tanpa memeriksa keadaan Reeko.
Saat ia menoleh, matanya langsung melotot dan jantungnya serasa telah copot dan berlarian di jalanan.
“Eee.., salah..” Rezon segera menyngkirkan tangannya yang salah sasaran.
__ADS_1
Sekarang suara geraman Reeko terdengar jelas, bahkan merambat ke seluruh tubuh bagaikan eraman hewan buas.
“Grrr.., Re..zzoonnn…!”
“Hehehe-hehe..” Rezon tersenyum nyengir dan segera berlari menjaga jarak dari harimau garang ini.
“Ampun tuanku.., Nona Reeko yang baik, cantik, pintar, dan perhatian.., ampuni hambamu yang telah khilaf!” Ujarnya sambil bejongkok seperi seorang abdi meminta maaf pada tuannya.
TAK, TAK.. TAK, TAK, TAK..
Suara itu membuat keduanya terdiam lalu melihat ke bayangan gedung dimana suara itu terdengar. Sesosok manusia nampak berlari kencang dengan pedang pendek di tangannya yang menggapai-gapai kearah mereka.
Dengan cepat Reeko mengambil pistol kemudian mengacungkannya bersaman dengan langkah kaki Rezon menghampiri sosok bayangan itu.
DOR.. DOR... SRATT!!!
Pedang Rezon menggila menebas segalanya ketika beradu senjata dengan sosok itu, diiringi butir-butir peluru panas dari Reeko. Kegilaan Rezon belum sampai situ saja, Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi melambung bersama hembusan angin yang turut melagukan amarah dalam hatinya.
“Hiaaaaa!”
KLANGG!!
Kedua pedang saling beradu dan terpental jauh kebelakang tuannya.
“Maju Rezon!” Kata Reeko mengisyatkan dirinya masih setia melindungi dari belakang.
“Kau disini, lalu dimana KAKAKKU??!” Teriak Rezon melepaskan emosi bersama tinjunya menyasar tubuh sosok itu.
“Hentikan!”
Rezon didekap dari belakang oleh seseorang.
“Lepas!” Ia meronta-ronta mencoba melepaskan diri.
DORR!
Peluru Reeko melesat cepat untuk menyelamatkn Rezon.
KLANG!!
Sebuah perisai berbentuk kembang berhasil menahan lajunya, bahkan peluru itu tepental seperti pedang milik Rezon.
“Dasar!” Umpat Reeko dengan garang.
“Tenanglah, Ree!” Kata sosok yang beradu pedang dengan Rezon tadi.
“Kami teman atau kakak kalian?” Ia beralih ke tempat terang.
Kedua anak itu sama-sama menganga, karena seorang remaja beambut hitam pekat menyungging senyum pada mereka.
“Kak Enan!”
“Dan aku..” Seorang gadis menutup perisai kembangnya dan berkacak pinggang.
“Aku juga..” Kata orang yang mendekap Rezon.
__ADS_1
“Kak Syena, Kak Zelig, kalian datang!” Seru Reeko penuh semangat.
“Jadi Axton tidak bersama kalian?” tanya Kak Syena karena mendengar penuturan Rezon tadi.