Forgotten Sins

Forgotten Sins
Lenyap 1


__ADS_3

Di suatu pangkalan militer, sebuah helikopter tengah bersiap untuk mengudara.


“sudah siap?” Tanya seorang pria kepada pilot yang berada di belakang kemudi.


Sang pilot hanya menjawab dangan anggukan.


Setelah melapor pada Operator robot yang mengawasi dari menara, desing mesin heli mulai terdengar riuh. Berselang beberapa detik, mesin telah stabil dan bilah baling-baling mulai tidak terlihat lagi. Helikopter pun mengudara meninggalkan tanah di bawah nya.


Setengah perjalanan telah mereka lalui untuk menuju ke tujuan utama mereka yaitu, pulau Halamika yang berada di sebelah selatan lautan yang terkenal dengan ganasnya gelombang dan airnya, yaitu lautan Medhi. Tinggi gelombang lautan Medhi bisa mencapai 35 m atau serendah-rendahnya 12m. Di awal perjalanan, cuaca masih terkendali. Bahkan gelombang lautan Medhi tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 13 sampai 16 meter saja.


Tetapi tak lama kemudian, gumpalan awan hitam berpetir menutupi jalur mereka. Sangat dekat, terlalu dekat. entah bagaimana bisa awan tebal itu datang tiba-tiba dengan ketinggian tak wajar. Sang pilot terus berupaya untuk menyeimbangkan badan helikopter agar tidak terhempas angin badai yang semakin kencang. Ia terus berusaha membelokkan arah kemudi namun, suara benturan baling-baling dan butiran es terdengar semakin keras. Di tengah kebingungan, seorang pria melepas sabuknya dan menghampiri sang pilot yang tampak kewalahan.


“apa yang harus kita lakukan? Sepertinya jalur terbang kita sudah tidak aman lagi.” Tanya pria itu setengah beteriak.


Karena suara mereka hampir hilang ditelan bisingnya gemuruh petir, angin dan baling-baling heli itu sendiri.


“satu-satunya cara hanyalah terbang di bawah awan badai. Itu bisa memperkecil resiko. Tapi dengan begitu, kita mendekati lautan . Tapi aku yakin tidak masalah!!” Jawab si pilot juga berteriak.


"Apa kita tidak bisa berbalik arah?" Tanya pria itu sedikit cemas.


"Kalaupun kita kembali jarak uang harus kita tempuh di kawasan laut Medhi akan semakin panjang!" Jawab pilot.


Si pria nampak berfikir lalu berkata dengan tegas.


“baiklah, laksanakan!” kata si pria tegas.


Helikopter terbang menukik menuju titik tengah antara awan badai dan Lautan Medhi yang tampaknya semakin ganas saja. Sekarang, ketinggian mereka dari laut tidak bisa dikatakan aman, hanya sekitar 50 meter keatas. Pada mulanya helikopter terbang stabil kembali tekadang juga sedikit terhempas ke kanan dan kiri saat angin kencang dari laut menerpa mereka. Seluruh penumpang menghela nafas lega.


"Berhasil!" Seru pria yang melepas sabuk tadi dari kursinya dan langsung disambut sorak-sorai kawan-kawannya.


Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Ajaib, gelombang yang semula tenang, bergolak cepat dan berganti menjadi ombak maut. Gelombang setinggi 39 meter lebih, melambung dari Lautan Medhi mendekati badan helikopter. Hal itu sempat membuat mereka menahan nafas sebentar walau, Mereka tahu gelombang itu tidak akan mengenai mereka. Pastinya, itu gelombang tertinggi di sejarah. Pria itu memandang gelombang dengan mata terbelalak, belum saja gelombang menyusut. Tiba-tiba, menyembul kepla Ular raksasa yang langsung menerjang ekor helikopter.


"Makhluk apa itu?!?" Para penumpang berteriak histeris karena penampakan itu.


Ekor helikopter berapi-api dan mengeluarkan asap hitam, sesekali terlihat letupan api yang meledak ledak. Gerakan helikopter sudah tidak terkendali. Tetapi, ular itu datang kembali memamerkan giginya yang tajam dan dipenuhi cairan, mungkin ludah atau darah mangsanya.


Ia menggigit badan heli menyentak-nyentakkan kepalanya di udara lalu membanting helikopter hingga melayang dan menukik tak terarah menuju permukaan Lautan Medhi.


Orang-orang berupaya menyelamatkan diri dengan terjun menghampiri gelombang Lautan Medhi yang ganas. Sedangkan badan helikopter sebelum jatuh menghantam air laut, gelombang datang menghampiri terlebih dahulu, menghancurkannya menjadi bagian-bagian kecil yang terapung di air laut. Namun, tak sampai itu saja, gelombang laut terus datang, mengombang-ambingkan kerangka helikopter yang dipenuhi api mengepul-ngepul dan mungkin, juga manusia-manusia yang terjun kedalam laut. Sebuah helikopter militer itu, lenyap begitu saja ditelan ganasnya alam dan makhluk aneh yang tidak masuk akal. Ular raksasa itu turun kembali ke dalam laut dan menghilang.


Di antara sisa-sisa kerangka dan barang barang yang timbul-tenggelam di lautan medhi, ada sebuah kertas foto tanpa bingkai berisi foto empat orang anggota keluarga.Satu orang lelaki dan permpuan, juga dua orang anak lelaki dengan wajah menggemaskan. Foto itu timbul tenggelam dihantam gelombang yang tidak memberi kesempatan manusia di dalamnya unuk mengambil nafas. Mungkin orang-orang yang berada di pesawat bisa berharap hidup untuk menceritakan pengalaman mengnaskan dan monster yang mereka temui pada orang dan keluarga mereka. Namun itu tidak akan terjadi.


Sedangkan...


Sepulang sekolah, Arna mengayuh sepedanya di jalur dengan ngebut, rasanya ia ingin tiba secepat-cepatnya. Ia melaju di tikungan tajam, kecepatannya terus bertambah. Jalan di balik tikungan tak terlihat sama sekali. Ternyata, di tengah jalur tikungan, ada seekor anak kucing buta yang mencari ibunya.


"Kucing!" Serunya dalam hati.

__ADS_1


Arna membanting setir kearah kiri.


"E, e, e, e, e... berhenti, berhenti, berhenti..!!" Ujarnya.


Namun, roda sepedanya tersangkut di selokan hasilnya, dengan kecepatannya tadi, ia terpelanting ke taman pinggiran jalan.


"Sialan..!" Umpatnya setengah berbisik pada rerumputan di bawahnya.


Bajunya kotor dan ia juga lecet-lecet. Namun, ia tidak menunggu lebih lama lagi untuk berdiam dan mengeluh, ia langsung bangkit menghampiri sepeda dan mengamankannya. Sambil menjagang sepeda itu, ia melirik kucing yang membuat ia terjatuh tadi. Tapi ternyata kucing itu terus saja mengeong, tanpa memperhatikan peristiwa yang baru saja terjadi tepat di depan matanya.


“huh…,bagaimana kucing itu mau lihat? Dia kan masih buta.” Gumamnya meralat pikirannya yang tadi.


Ia duduk di pinggir jalan mengurut tangan dan wajahnya yang agak memar. Tak berselang lama, ada mobil hitam yang berhenti di tepi jalan. Ia cuek saja dengan hal itu, sementara hasratnya untuk pulang masih menjadi-jadi meski setelah kejadian barusan.


Wajar, Arna tidak heran karena... memang mobil dan kendaraan lainnya biasa berhenti di tepi jalan, (bukan di tengah).😂


Tepat saat ia bangkit untuk meneruskan perjalanan, ada suara yang menegurnya, ia segera menoleh.


“eh, Gio!”


“Arna kau sedang apa? Habis jatuh ya…?” tanya orang yang menyapanya tadi.


“tidak.” Elak Arna.


“huh…,dasar Arna! Siapa yang bakal percaya? Kamu sudah kotor seperti kucing main lumpur!” sahut Gio ngawur.


“mana mungkin Gio….” Tanggap Arna sambil menahan tawa.


“eh, tidak perlu. Luka seperti ini sih…” tolak Arna.


Kelingking ia acungkan di depan muka dengan jempol diletakkan di ujung jari kelingkingnya sebagai bahasa isyarat.


“Ayo….” Paksa Gio sambil menarik Arna menuju mobilnya.


Ia terpaksa mengikut saja. Gio menuntun sepeda Arna dan memasukkannya ke dalam bagasi.


“lanjut…!!!” seru Gio semangat.


Mobil kembali melaju di jalur dengan teratur. Wajar saja, karena mobil itu dikendarai oleh Paman Gilang, supir pribadi keluarga Gio yang sangat handal.


“memangnya kenapa Arna bisa jatuh?” Tanya paman gilang membuka percakapan.


“hmm, itu tadi ada kucing” jawab Arna yang langsung disambut dengan gelak tawa dari Gio


“woy, apa sih!?”seru Arna walau itu tidak menghentikan tawa Gio yang semakin menjadi.


“Kucing kan bisa lari, kamu kenapa sampai banting setir?” tanggap Gio masih tertawa.

__ADS_1


“kucingnya masih buta…,mau lari ke mana?” jawab Arna ganas.


“Oh…,bilang dong!!!” sahut Gio sambil menyenggol bahu Arna.


Arna membalas, terjadilah peperangan di dalam mobil antara dua sahabat karib itu. Paman Gilang hanya bisa tertawa geli.


Saat mobil telah memasuki pekarangan rumah Arna, klakson dibunyikan. Kebetulan, saat itu Rabka telah berada di rumah, Ia tengah berjalan santai menuju ruang makan dimana ibunya sedang menjahit baju milik ayah.


“coba kau periksa, barangkali itu salah satu teman ayah.” Perintah ibu padanya.


Ia hanya mengangguk dan membuka pintu.


“lho??” seru Rabka kaget mendapati Arna dan Gio di depan pintu.


“kau kenapa?” tanyanya lagi melihat baju Arna yang kotor.


“itu, di tikungan Arna jatuh!” jawab Gio enteng.


“Eh…,tumben ceroboh.” Tanggap Rabka sambil melirik Arna.


“Cuma pingin merasakan jatuh dari sepeda.” Jawab Arna sambil menyenggol Gio hingga kehilangan keseimbangan sehingga kakinya tersandung pot di belakang dan terjatuh.


“dasar kau Arna…” seru Gio pada Arna yang tertawa terbahak-bahak.


Ia berupaya mendorong balik arna, namun Arna sangat sigap, ia bergeser sedikit dan menginjak kaki Gio, Gio pun berteriak kesakitan dan melompat kekanan kiri. Arna tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kawannya.


“Hey…, ini kaki bukan kayu !!" Seru Gio penuh emosi.


“Oh... aku kira batu...,” jawab Arna yang tawanya makin kencang.


“sudah, sudah! Terimakasih ya, Gio!” potong kak Rabka menyudahi gurawan sahabat yang semakin menjadi itu.


“siap Bosss…” jawab Gio sambil bergaya menghormat.


Kak Rabka tertawa geli melihat tingkah lucu sahabat adiknya itu.


“Daa… Arna….Kak Rabka!!!” seru Gio yang sudah berada di dalam mobilnya kembali.


“hati-hati Gio…, Jangan jatuh juga!!!” canda Arna sekaligus memperingatkan.


Gio menjulurkan lidahnya membalas Arna, mereka semua tertawa.


“nah, sekarang bersih-bersih badan lalu cepat makan. Aku punya sesuatu untukmu” ujar rabka.


“apa itu?”Tanya arna penasaran.


“ada deh…” pancing rabka.

__ADS_1


Ia sengaja tidak menjawab pertanyaan adiknya agar semakain penasaran.


"Ah.., terserahlah..!" Ujar Arna sambil beranjak masuk ke rumah untuk melakukan hal yang dikatakan oleh Rabka.


__ADS_2