
Arna hanya terdiam dalam pelukan erat Gio, menyerap perkataannya perlahan tapi pasti, dengan pelahan pula Gio melepas rangkulannya masih dengan senyuman.
“Terimakasih.” Hanya itu yang dapat dikemukakannya diantara berjuta perasaan lain.
“Sudahlah.., sekarang ayo makan. Kau pasti lapar!” Gio menuntunnya menuju parkiran.
Semangkuk sup daging hangat tersaji di depan mereka, makanan berkuah memang selalu manjur apabila dimakan saat malam. Apalagi, mereka baru saja terbebas dai cengkraman kegelapan gang yang menguras tenaga.
“Nah, kalau sudah begini sih…” Gio menatap asap yang mengewpul dari dalam mangkuk.
“Tinggal makan!!” Ujarnya mulai menyendok kuah berminyak sup tanpa mempedulikan Arna dan sang pedagang yang senyum-senyum menatapnya.
“Dasar Gio!” Arna menyenggol bahunya dan Gio pun tersedak.
“Apa?” Jawab Gio dengan muka merah kepanasan dan Arna hanya tertawa sepeti sediakala.
“Aku selesai.” Kata Gio beberapa menit kemudian.
“Hah?” Arna melongo, kecepatan makan sahaabatnya ini bertambah sejak terakhir kali mereka bertemu.
“Hmm, lezat..
“Kau ikut lomba makan Gio?” Arna menyeruput kuah di sendoknya.
“Tidak, tapi aku adalah koki yang memenagkan Liga Koki Cilik se-SMP!” Ujarnya penuh semangat.
Ekspresi Arna berubah drastis.
“Kau jadi koki?” tanyanya.
“Iya, aku sudah mengikuti tiga puluh lomba dan dua puluh diantaranya adalah medali emas bagiku!” Gio menyombong.
“Waw.., tapi kenapa kau memilih koki?” kini ganti Arnalah yang mewawancarainya.
“Kalau mau hidup di sini setidaknya harus memiliki keahlian, itu kata Ayahku. Jadi ini adalah jalanku untuk bertahan hidup.” Jawabnya.
“Begitu?” Arna menjadi teringat keahliannya yang mungkin apabila dia masih tinggal di kota saat ini, keahlian itulah yang akan menjadi penentu hidupnya.
Saat kecil Arna sangat senang bermain-main dengan kecepatan, lomba lari, trik sulap dan lainnya cukup menjadi makanan ringan baginya, terlerbih lari maraton. Sebenarnya hal membuatnya menyukai maraton adalah sensasinya, apalagi fisik Arna sangat mendukung untuk berlari cepat dalam jarak jauh, barangkali Ia memiliki kaki dan paru-paru lebih kauat dari anak lainnya.
“Oh iya, sekarang kau tinggal dimana?” tanya Gio membuyarkan ingatannya.
“Aku..” Arna berpikir sejenak.
“Apa kau tinggal di sebuah desa di luar sana?” tanya Gio lagi.
“Tidak, lebih tepatnya di tengah hutan.” Jawab Arna kemudian terdiam lagi karena tidak tau harus menjelaskan apa.
“Kau.., sendirian?” Gio menerka tapi wajahnya menampakkan ekspresi tidak percaya.
“Tidak… sebenarnya ada banyak orang, kami tinggal di sebuah bangunan besar yang layak. Seperti ceritaku tadi, orang-orang itulah yang menolongku.” Jawab Arna pada akhirnya.
“Owh…, aku kira kau menjelma menjadi kelelawar, alias tinggal di gua-gua hutan.” Canda Gio.
“Hey!”
“Tapi yang pasti aku harus berterimakasih pada mereka semua karena telah menyelamatkan sahabatku.” Kata Gio lagi.
“Yeah, aku juga.” Gumam Arna.
Keadaan senyap sementara, beberapa kali tedengar suara klakson atau derap ban mobil yang bersahutan mewarnai suasana malam di Kota Medianpolis. Perbedaannya sangat drastic dibanding hutan yang selalu diam namun ramai dengan orkestra suara jangkrik, tonggerek dan hewan malam lainnya bermain bersama desau angina dari gunung.
“Kota tidak pernah berubah ya?” ujarnya memecah suasaana.
“Hmh, Kota ini memang tidak pernah berubah. Menurutku ini semua karena jarangnya orang luar memasuki kawasan kita sehingga tak ada pertukaran infomasi, ide dan semacamnya. Jika mau berkembang kita tidak boleh menutup diri, kalau tidak se-modern apapun Kota ini orang-orangnya tetaplah kolot.” Jawab Gio.
Arna tersentak, perubahan Gio sangatlah cepat bahkan kini Ia sendiri ragu apakah ini benar-benar sahabatnya yang dulu.
“Kau benar.”
“Yuhuu!!” Gio berseru tiba-tiba.
“Hey, ada apa??” Arna hampir saja tersedak cabai.
“Kau tidak bisa pulang…!”
“Eh, benar juga ya?”
“Jalanan hutan di malam hari itu gelap, jangan membahayakan diri Arna. Lebih baik, kau kerumahku saja…” Gio bersorak penuh kemenangan.
“Hahaha.., kau mengambil kesempatan dalam kesempitan.” Komentarnya, tapi sebenanya Ia juga sudah rindu bermalam di Kota Ini.
Tapi sekali lagi dia teringat akan sesuatu.
“Tidak, tidak bisa! Aku harus mencari teman-temanku.” Ujar Arna padalah harinya sangat kecewa.
__ADS_1
Gio terdiam, sama seperti Arna dia juga kecewa.
“Kemana mereka??” tanya Gio berusaha menyembunyikan kekecewaanya.
“Kami terpisah saat terjadi serangan. Akua akn coba telpon.” Kata Arna
“Bagaimana?” tanya Gio beberapa saat kemudian, sement\=tara Arna hanya berputa-putar di tempatnya dengan cemas.
“Tidak diangkat!” Ujarnya.
“Hmm.., meskipun kau cari itu juga percuma karena kalian sama-sama tidak tau posisi masing-masing. Yang ada malah seperti permainan tikus dan kucing.” Ujar Gio.
“Iya..” Arna meremat kepala sendiri.
“Oh iyaa, kalung pealacak!” Ia meraih kalung di lehenya.
“Bagus!” Ujar Gio.
“Tapi.., kenapa tidak bisa?” Arna semakin kebingungan.
“Hey, hey..! tenang. Coba jelaskan padaku apa maksudnya!” Kata Gio beerusaha menenangkan Arna yang berputar-putar seperi pesawat ulang alik di depannya.
“Begini, kalung pelacak ini berfungsi untuk memudahkan kerja sama dalam sebuah tim, jadi kami bisa melihat posisi rekan kami selama tidak lebih dari seratus kilo. Tapi sekarang aku bahkan tidak bisa melihat posisi salah satu dari mereka.” Jelas Arna panjang lebar.
“Baik, mari kita periksa.” Ujar Gio.
Beberapa kali kedua anak itu mengutak-atik kalung milik Arna,tapi tidak ada hasilnya. Pada akhirnya Arna menyerah.
“Huh.., sudahlah..”
“Jangan menyerah dulu Arna, kau bilang mereka mengejar gerombolan penjahat. Jadi mereka tidak telepas dari kemungkinan bahaya.” Kata Gio yang malah bersikeras.
“Aku mengerti..” Gumamnya.
“Baiklah, aku akan berkeliling kota mencari mereka!” Ujar Arna.
“Hah? Keliling kota?” Gio melongo.
“Iya, mereka pasti tidak jauh dari persekitaran Gedung Airmony Sivv tempat awal kami., jadi aku akan mulai dari sana.” Kata Arna yang langsung melangkah tapi kemudian terhenti karena sesuatu.
“Jika aku pergi sekarang, tak ada jaminan bisa bertemu lagi dengan Gio, apa yang haus kulakukan?” Pikirnya, semntara Gio menatap punggung sahabatnya dengan hampa.
“Gio..” Panggilnya dengan nada sendu.
“Aku ikut!” Ujar Gio tegas.
“Jangan larang aku Arna, aku ikut!” Ujarnya sambil berkcak pinggang.
“Baiklah.., Ayo!” Arna mengepalkan tangan ke langit.
Mata Gio membulat saking senangnya dizinkan ikut dalam aksi kawannya.
•••••
Beberapa mobil polisi dan ambulance terparkir di depan gedung aena pertaungan mereka tadi, terlihat juga beberapa tentara yang siaga dengan senjata lengkapnya. Mereka berdua, Arna dan Gio mengintip dari seberang jalan yang kosong karena sebuah pagar pembatas telah dipasang untuk menghalangi jalan kendaraan di depan gedung, tetapi manusia masih bisa menerobos lewat celah-celahnya.
“Arna..” Panggil Gio menatap sahabatnya.
“Kita teruskan melewati jalan itu.” Arna menujuk sebuah gang kecil di karena gedung.
“Baik!”
Keduanya menyebrangi jalan kemudian mengendap-endap diantara para petugas dan memasuki kawasan gang kecil tersebut. Arna berjalan di depan mendahului Gio dengan langkah kucing terus merangsek maju. Sedangkan Gio sendiri beberapa kali terhenti karena ragu, lagi pula mungkin kawasan ini sudah masuk dalam garis telarang polisi atau termasuk dalam kawasan penyelidikan.
TAK
Gio terhenti, suara langkah itu tedengar dari belakangnya, tapi saat dilihat tak ada apa pun di sana.
“Hmm..” Gumamnya heran.
Saat Ia berbalik badan Arna telaah lenyap, seketika paniknya terpacu.
“Arna..” Panggilnya pelan.
“Arna…” Ia mempercepat langkah kakinya, dan lagi-lagi suara langkah terdengar di belakangnya.
“Arna..” Gio menoleh ke belakang tapi bahunya menabrak sesuatu yang keras dan dia meloneh lagi ke depan taanpa menghentikan langkaah.
Lagi-lagi Ia tidak menemukan benda atau sosok yang ditabraknya. Karena takut, Gio mempercepat langkahnya dan lama-kelamaan dia berlari menyusuri lorong sampai suara langkahnaya terdengar menggema.
“Arna..!!” Panggilnya, saat itu juga dia ditarik ke belakang tong sampah.
“Huaaammmm…” Mulutnya dibungkam oleh tangan manusia.
“Pssst.., Gio!” Suara Arna membuatnya terdiam.
__ADS_1
“Arnaaa..” Serunya saat melihat sosok yang membungkamnya.
“Sshhtt!”
“Ups.., ada apa?” tanyanya.
Jari telunjuk Arna menujuk jalanan gang.
“Owh..” Walaupun tidak sepenuhnya paham Ia mengintip melalui pinggiran tong.
Disana ada beberapa tentara sedang berjaga.
“Ahhh…” Ujarnya dengan nada layaknya jin botol.
“Dareah sekitar sini dipenuhi oleh mereka.” Bisik Arna.
“Begitu ya?” Gio manggut-manggut. “Lalu bagaimana?”
Arna menyapukan panadangan ke segala penjuru lalu berkata,
“Lewat sana!” Gio melihat ke arah yang ditunjukkan sahabatnya.
“Sana?!” Matanya membulat menatap tangga darurat yang ditunjukkan Arna.
“Hmh.., kita tidak perlu lewat sana terlalu berbahaya. Lagi pula tadi aku melihat jalan lain di belakang!” Kata Gio padahal tadi dia teralaku panik untuk mengamati sekitar.
“Benarkah?” tanya Arna.
“Oyaaa..” Jawabnya.
Disaat yang sama tedengar suara orang dewasa datang dari jalanan tadi.
“Sialan.” Umpatnya.
“Hanya ada satu jalan keluar masuk gang ini, dan hanya ada satu jalan untuk kita.” Kata Arna.
“Apa itu?” tanya Gio.
“Lompat!” Ujarnya sambil menggandeng Gio menangkap salah satu anak tangga dua meter di atas mereka.
“Ernee…” Gio bermaksud untuk berteriak tapi karena banyak ancaman yang mengharuskannya tetap bungkam, Ia pun memutuskan untuk mengganti huruf vocal dari nama kawannya menjadi vocal ‘e’.
“Tenang dan naiklah lebih dahulu.” Ujar Arna.
“Ba-baik-lah..” Kata Gio meskipun tangannya masih belum melepaskan cengkraman pada baju Arna.
“Cepat!” Arna memberi jalan untuk Gio dengan berpegangan pada pinggiran tangga memakai satu tangan.
Dengan tubuh gemetaran Gio terus mengerahkan tangan dan kakinya mendaki tangga itu.
“Tak ada tali pengaman cek, tak ada helm cek, tak ada trampolin cek, tak ada keberanian cek.” Gumamnya saat setengah jalan pendakian (tangga).
“Lantai berapa kita sekarang?” tanya Gio.
“Baru saja memasuki lantai dua.” Jawab Arna.
“Baik, baru segitu ya? Lantai dasar terlihat seperti kematian mengenaskan.” Kata-kata Gio membuat Arna cekikikan karena kenyataan bahwa dia sudah terjatuh dari balkon lantai dua.
“Sampai mana kita harus naik?” tanya Gio lagi.
“Lantai tiga sudah cukup.” Jawab Arna. “Yang penting kita tidak terlihat.” Lanjutnya.
Beberapa saat kemudian, Arna melompat ke gondola di samping mereka sementara Gio terkagum-kagum menatap kelincahan Arna. Diam-diam Gio mengemati fisik Arna yang sama sekali tidak terlihat sakit meski usai bertarung menyelamatkannya tadi, tapi entah kenyataannya bagaimana.
“Kemari!” Ujarnya dengan tangan terulur pada Gio.
“Pasti kau belajar hal keren seperti ini dari sana bukan?” Gio bergerak menaiki gondola dengan bantuan Arna.
“Huahh..akhirnya sampai!” Gio mendesah dan langsung merebahkan kepalanya menatap langit malam bertabur bintang.
“Ya, kau benar.” Jawab Arna.
“Maaf kau harus terlibat hal seperti ini Gio.” Perasaannya bercampur aduk karena melibatkan Gio dalam hal berbahaya dan tidak berhasil menemukan Kak Axton, Rezon, dan Reeko.
“Tidak benar!” Kata Gio seraya menghampiri Arna. “Yang benar adalah maafkan aku karena kita tidak behasil menemukan kawan-kawanmu.”
“Mereka akan baik saja, tidak perlu kita teruskan.”
“Kau yakin? Jangan jadikan aku beban.”
“Tidak, aku yakin mereka tidak apa-apa.” Jawab Arna dengan senyum kecut pada rembulan di atas kepala mereka.
“Ayo pulang.., Arna.” Bisik Gio di telinganya.
Sepeti robot diperintah oleh remotenya, Arna hanya mengangguk.
__ADS_1
Hai semua..,✋ maaf telat update ya...🙏
aku masih ada sedikit tugas sekolah membuat video😣. Jadi maaf ya..😸