
Saat Arna telah sampai di depan kamar, Reeko dan Rezon melambai ke arahnya sementara dirinya sedang mengamati kondisi kamar dengan pikiran yang melayang pada tujuh hari yang lalu. Dimana Ia terus berdiam di ruang kesehatan untuk memulihkan kondisi tubuh. Ruang kesehatan jelas besar dan cukup cahaya, bagaimana dengan asrama ini?
Ia membuka pintu kamar dan suara derik pintu kayu menyambutnya. Suara itu berbeda dengan di kota, ini jauh lebih nyaring, mungkin karena gugup atau tidak terbiasa suaranya juga membuat merinding. Kamar itu gelap dan lembab terlihat seperti kamar di film horor, saat tangannya meraba saklar lampu yang terpasang di kanan pintu, suara jentikan terdengar dan kamar bermandi cahaya redup, beberapa kali berkedip tapi tak lama kemudian normal kembali.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, rupanya tempat ini tidaklah sederhana, bahkan kamar mandinya ada di dalam kamar. Kasur, meja belajar, lemari, gantungan, semua tersedia dengan ukuran khusus untuk seorang saja, letaknya pun sudah ditata sedemikian rupa. Sebenarnya hanya ada beberapa hal yang membuat kamar ini terlihat seperti di film horor, yaitu tirai jendela tipis yang tertiup angin dan lampunya yang redup.
Sambil terus mengamati keseluruhan ruangan, Arna mengayun langkah menuju ke dalam. Pandangannya tertuju begitu saja pada lemari, lalu tanpa tujuan Ia menggeser pintunya, ternyata di dalamnya telah berada beberapa pasang baju, senjata dan peralatan pribadi lain.
“Rupanya, Rezon benar.” Pikir Arna.
Ia membuka tirai tipis itu untuk menutup jendela, langit malam tampak suram tanpa kehadiran bintang dan bulan, tetapi hewan malam acuh saja, mereka tetap beterbangan mencari makan di sekitar cabang-cabang pohon. Angin dingin berhembus makin kencang merasuk ke seluruh tubuh, memaksanya untuk segera melakukan hal yang barusan tertunda. Sambil mendekap tubuh sendiri Arna berbalik badan menatap meja, jaket dan dua buku kecil tergeletak di sana.
Sudah tidak asing lagi, itulah benda terpenting baginya saat ini. Tubuhnya bergerak dari kasur melompat turun, benda itu dibelainya penuh perasaan. Hati Arna bergolak menulis kisahnya sendiri, seakan semua masa-masa menyenangkan bersama keluarganya belum berlalu. Ibu berada di ruang depan membaca buku bersama Kak Rabka, Ayah di kebun merawat tanaman mereka, dan dia sendiri memandang terkagum pada ketelatenan tangan Ayah.
Buku itu, benda yang ia dapat dari Kak Rabka, hadiah ulang tahunnya yang ke sebelas. Tapi entah kenapa Ia merasa hadiah ulang tahun yang utama adalah ledakan yang memusnahkan Kak Rabka. Dengan membuang nafas, Ia mencoba melepaskan kenangan buruk yang terus mendesak untuk bermunculan. Buku itu didekapnya di dada lalu menjatuhkan diri ke kasur di belakang.
“Tujuh hari ya Kak?” gumamnya mengingat-ingat hari ini adalah seminggu ia berada jauh dari kota.
Dengan melihat sampul buku itu, Ia dapat mengingat dengan jelas masa lalunya, dimana setiap hari hanyalah bermain dan bergembira bersama Kak Rabka ataupun Gio, tapi justru itulah yang dapat diingatnya sekarang. Matanya menampakkan jendela yang tirainya masih terbuka,lagi-lagi pemandangan malam mengingatkannya pada sebuah kata penuh makna yang pernah dibincangkan bersama dengan sang kakak disuatu malam.
“Impian.” gumamnya.
Kata itu terukir dalam pikirannya pada hari itu, manakala mereka bermain di sungai bukit kota hingga senja. Ia tertawa kecil mengingat ekspresi Rabka ketika tak menyangka akan di dorong ke sungai atau ketika sepatunya hanyut terbawa arus, juga tawa riang Kakaknya itu saat dirinya tersandung batu dan ikan mendarat di kepalanya setelah Ia mengejek Kak Rabka. Pada malam yang persis dengan malam ini, mereka mengobrol hingga larut tentang impian. Arna menenggelamkan diri ke dalam memori, seakan kejadian itu terulang lagi. Suara obrolan malam mereka terdengar jelas di telinganya.
__ADS_1
“Kak…” Ia memanggil kakaknya karena takut ditinggal tidur.
“Hmm…” Jawab Kak Rabka masih dengan mata tertutup.
“Kalau sudah besar kau ingin jadi apa?” Lanjutnya mengikuti apa yang ada di pikirannya.
“Entahlah, mungkin…aku akan menjadi ahli di semua jenis bela diri. Kemudian, aku akan memenangkan turnamen dan kejuaraan di kota, lalu…ke seluruh dunia.” Jawab Kak Rabka yang langsung menanggap serius pertanyaannya dengan mengkhayalkan impian itu hingga matanya terbuka kembali.
Ia tertawa kecil mendengar angan kakaknya yang kelewatan batas dan juga karena keberhasilannya mengganggu tidur Kak Rabka.
“Hey..,kau ini!!! Jangan tertawa, ini kan hanya cita-cita.” Seru Kak Rabka dengan muka masam.
Rupanya dia serius dengan impiannya.
“Iya,Iya…!!” Jawabnya tak ingin rajukan kakaknya berlangsung lama.
“Hmm…,Bagaimana denganmu?” Tanya Kak Rabka sambil menatap matanya.
Seketika itu pula kenangannya buyar, pikirannya langsung tertuju pada pertanyaan Kak Rabka yang belum dijawab olehnya.
“Apa cita-citaku?”
Dan pikirannya melayang kearah lain. Ia mengingat kejadian pengeboman pasar yang mengharuskan dirinya menyaksikan pemakaman kakak sendiri yang bahkan belum sempat meraih cita-cita yang sempat membuat dirinya iri.
__ADS_1
“Kak…apa kau tidak kecewa?” Tanya Arna pelan meski ia tahu tidak ada yang akan menjawabnya.
Lagi pula, perkataan itu hanya pelampiasan sakit hatinya yang makin menjadi.
“Aku akan menjadi ahli di semua jenis bela diri. Kemudian, aku akan memenangkan turnamen dan kejuaraan di kota, lalu…ke seluruh dunia!!!” Kata-kata Kak Rabka terngiang di telinganya.
“Aku berada di tempat dimana seharusnya kau yang tidur di kasur ini sambil bersiap untuk melangkah meraih cita-citamu yang tinggi. Di sini kau akan belajar melakukan apa yang kau kagumi, bela diri. Inilah pusatnya, organisasi yang memang melatih kekuatan untuk menjalankan tujuannya. Dengan begini, kau pasti menang di segala turnamen dunia karena kau telah berjuang melebihi orang lainnya. Dengan semangat itu kau pasti bisa mencegah Viper Army melakukan terornya. Kau bisa mencegah orang lain merasakan kepedihan yang sama dengan yang aku rasakan Kak….” Gumam Arna seakan mengungkapkan perasaan pada Kakaknya.
“Kenapa tidak kau saja yang hidup??? Kenapa harus aku??” Hati Arna meraung-raung seperti singa buas.
“Kenapa impianmu harus sia-sia??? kenapa harus menjadi ingatan saja??! Kenapa..?” Ribuan kata tanya timbul di benaknya seakan kalau dilepaskan bisa-bisa menembus langit.
Beberapa detik setelah itu Arna menyadari sesuatu.
“Bukan, bukan Kau! Kau tak ada di sini, kau memang sudah tak ada lagi!” Arna duduk mendekap erat kedua lutut di dada. “Tapi aku!” Lanjutnya lalu tanpa mengubah posisi, Ia menekan kepalanya dengan sampul buku.
Ia mengulangi kata-katanya, kali ini sengaja Ia ungkapkan pada bayang-bayang Kak Rabka .
“Aku berada di tempat yang seharusnya, bersiap untuk melangkah meraih cita-cita yang tinggi. Di sini aku akan belajar melakukan apa yang kau kagumi, bela diri. Inilah pusatnya, organisasi yang memang melatih kekuatan untuk menjalankan tujuannya. Dengan begini, aku pasti bisa mencegah Viper Army melakukan terornya karena aku akan berjuang melebihi orang lain. Dengan itu, Aku bisa mencegah orang lain merasakan kepedihan yang sama dengan yang aku rasakan Kak….” Arna berbicara dengan keyakinan penuh dari dalam diri.
Segala yang ada di dalam dirinya seperti di bangkitkan, semakin kuat dan perasaan penuh bergelora memenuhi rongga-rongga di hati dan jiwanya yang kosong dan diisi oleh keguncangan. Inilah keyakinan.
“Aku bukanlah sekedar Anak kota yang tak bisa apa-apa. Akulah orang yang akan mewakili korban yang telah mati karena perbuatan kalian. Aku, Arnawa!” Pikiran, batin dan raganya serentak menyerukan kalimat itu dengan seringai tajam menghias wajahnya.
__ADS_1
Tepat saat keyakinannya timbul, mendung hitam yang menutupi keindahan langit bergeser, sehingga bulan penuh nampak terang benderang dan bintang kembali berkedip. Ketika sinarnya menyentuh tanah jajaran bukit di barat, angin bertiup seketika, menggoyangkan cabang-cabang pohon hutan, juga gonggongan anjing dan seruan burung malam terdengar menggema, memanngil seisi alam untuk turut bersuara. Semua sudut menggelora menyambut kebangkitan jiwa seorang anak kecil yang hanya hidup sebatang kara dan tak memiliki kelebihan apapun.