Forgotten Sins

Forgotten Sins
Dimana??!


__ADS_3

Secercah cahaya yang sangat menyilaukan masuk melalui matanya. Arna memincingkan mata, dua buah bayangan terlihat bergerak di matanya. Mereka sepertinya sedang berbicara sambil terus mengarahkan cahaya itu padanya. Karena penasaran, Ia mencoba menajamkan pengengaran. Tapi bukan suara manusia yang di dengarnya, melainkan suara lengkingan yang sangat tinggi memekakkan telinga. Arna kenal betul dengan suara ini. Sehingga Ia hanya perlu waktu sedikit untuk beradaptasi dan dengan mudah berpikir positif.


"Aku masih di rumah sakit sekarang. Seperti biasa, mereka sedang memeriksa kondisi tubuhku." Pikir Arna.


Tapi rasanya ada yang janggal dari kesimpulan tadi. Ia coba mengingat lagi.


"Tidak, bukankah aku sudah keluar dari rumah sakit? aku sudah ke sekolah, ujian tengah semester genap pun sudah kulalui." Katanya pada diri sendiri. "Lalu…, tadi malam…" Arna merangkai kembali ingatannya.


"Ibu!" Serunya dalam hati. "Aku jatuh dari lantai dua karena ledakan bom semalam. Mungkinkah aku mati?" Arna mengira-ngira. "Belum, aku harus bangun…!"


Arna menggeliat, tapi tak ada respon di tubuhnya.


"Apakah aku benar-benar mati?" Pikirnya mulai pesimis. "Tapi tak ada ruginya mencoba!" Lanjutnya.


Tangan kanannya bergerak meraba tubuh.


"Berhasil!" Batin Arna. "Aku belum mati."


Kemudian Ia menggerakkan tangan kiri. Namun kali ini hasilnya nol, seakan sebagian tubuhnya lumpuh. Arna mencoba menggelengkan kepala. 


Pandangannya  menjelas. Sekarang Ia berada di sebuah kamar dengan kasur yang terletak di sisi jendela. Pintu letaknya sejajar dengan kasur, dan bermacam-macam hiasan khas zaman kesatria terpampang di sepanjang ruangan. Saat sedang asyik mengamati detail ruangan, tangan kirinya terasa ditusuk dengan ribuan jarum.


"Ssshh…" Ia mendesis.


Saat  dipegang dengan tangan kanan, ia bahkan tidak merasakan kulitnya. Ternyata tangan kirinya sudah dibaluti dengan perban. Ia mencoba duduk. Tapi kakinya tidak menurut, malah rasa nyeri menyerang dari betis kanan. Arna panik. Ia menahan nafas dan melepaskannya.


Ia ingat kemarin malam, Ibu mengajaknya ke tempat kerja untuk rapat. Saat Ibu pergi, Ia menunggu di tempat Ibu sambil menatap jendela. Kemudian, terjadilah serentetan kejadian yang tidak dapat dipercaya. Lagi-lagi ia ragu dengan dirinya. 


“Kalau itu memang benar, kenapa aku berada di sini? Dan bagaimana dengan Ibu?” 


Ia menghela nafas lebih panjang untuk yang kedua kali. Sesaat, Arna merasa ada yang mengawasinya dari pojok ruangan. Itu benar. Ada seorang remaja memandangnya dengan tatapan mata datar. Pada mulanya ia kaget, tapi remaja itu mengisyaratkan untuk tenang. Tapi bagaimana bisa tenang? Ia bahkan tidak mengenal anak itu. Arna sadar, keadaan tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk melakukan pembelaan diri. Lagi pula Ia rasa Kakak itu bukan orang jahat. Ia cukup ramah walau hanya dicerminkan dengan sebuah senyum dingin penuh teka-teki. Akhirnya Ia hanya pasrah. Lagi pula ada kemungkinan bahwa dialah yang menolongnya.


“hmh, sadar juga akhirnya.” Kata anak itu pada dirinya.


Anak itu membantunya duduk. Parahnya meski sedang membantu orang, sikap dinginnya tidak menghilang sama sekali sehingga membuat Arna tambah merinding.


“Axton,” lanjutnya sambil menyodorkan segelas air.


“Terimakasih." Arna menerima air dari tangan kakak itu."Aku Arna!” jawabnya kemudian.


Arna berusaha menutupi ketakutannya sebaik mungkin. Tapi sikap Axton tidak berubah sama sekali. Dia hanya memandang dengan tatapan datar. Kemudian tersenyum dingin. Arna menghela napas lega. Setidaknya senyuman itu terlihat tulus.

__ADS_1


“Baiklah Arna, minumlah! Sekedar untuk penyegar tubuh.” Ujar Axton dengan senyum lebih hangat untuk melunakkan suasana yang kaku.


Sepertinya dia tahu bahwa Arna sedikit terintimidasi oleh sikapnya.


"Owh, ya…" ujar Arna.


Ia merasa tersipu karena lupa meminum air yang sudah berada di tangannya.  Memang benar sekali kata Axton, air itu memang segar. 


"Barangkali karena berlari semalaman di gedung itu." Pikir Arna.


Karena pikiran itu, Ia kembali memikirkan soal kejadian semalam setelah sempat terlaihkan karena kemunculan Axton yang dingin dan tiba-tiba.


“Sebenarnya…, kau itu dari mana?” Tanya Axton tiba-tiba. 


“Hmm…, aku dari kota.” jawab Arna walau heran dengan pertanyaan Axton.


“Kota?” seru Axton seakan tidak percaya.


“Memangnya kenapa?” Tanya Arna agak bingung


Axton hanya menggeleng pelan kemudian menjawab,


“Kota masih jauh di balik hutan dan jarang ada orang yang berani masuk kedalam hutan.” Ujar Axton serius.


“Kau ditemukan tidak sadarkan diri di dalam hutan, perkampungan sangat jauh dari sana. Jarak kota, dengan tempat kau ditemukan bahkan lebih jauh. Lalu, bagaimana kau bisa dari kota? apa ada orang yang menculikmu hingga tidak sadarkan diri? ” tanya Axton. sambil merebahkan diri ke kursi di samping kasur.


“memang sangat mustahil kau percaya padaku. Tapi... seharusnya sekarang aku telah mati. sebelum aku disini …ada sekumpulan orang jahat yang memakai topeng dan baju hitam berlambang ular di bajunya. Mereka menangkap Ibu dan berberapa orang lainnya, mereka di masukkan kedalam mobil box hitam lalu dibawa pergi entah kemana. Aku mereka tinggalkan begitu saja dan salah seorang dari mereka berniat melenyapkanku sehingga ia mengejarku hingga ke lantai dua,  pada saat itu juga gedung meledak. Aku…aku terlempar dari gedung, dan setelahnya…Aku tidak tahu lagi.” Arna menceritakan kisahnya dengan serinci mungkin.


Sikap Axton berubah dan seketika. Melihat itu Arna ikut salah tingkah. Ia tidak seharusnya selugu itu menceritakan kejadian seperti itu dengan panjang lebar pada orang asing. Tapi karena sudah terlanjur jadi Ia teruskan saja.


"Memang tidak mungkin berpindah dari Kota menuju ke tengah hutan. Tapi hanya itu yang ku ketahui, setelah itu teserah, apa Kak Axton percaya atau tidak!" Ujar Arna. "Jadi, aku mohon. Bisakah aku menelpon polisi?" Lanjutnya.


Axton terlihat berubah ekspresi ketika Arna menceitakan kejadian malam itu. Mungkin, Ia tidak percaya pada cerita anak kecil yang tampak mengada-ngada. Ketakutan Arna dibuyakan dengan gumaman Kak Axton.


“Ular ya?”


 Cukup  lama mereka berdiam diri, kemudian Axton bangun dan berlalu ke luar.


“Tunggu sebentar aku akan segera kembali.” Katanya tanpa menengok ke belakang lagi.


Arna hanya menganguk kecil. Ia berfikir berada di situasi yang sangat membingungkan. Ia adalah seorang anak kecil tanpa orang tua dan saudara di sini juga di kota. Ia bahkan tak mengenal keluarganya selain keluarga inti. Atau bisa dibilang, Ia tidak punya keluarga lagi. Lalu siapa lagi yang bisa ia  percaya, mungkin Gio? Suara pintu dibuka membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


“Perkenalkan ini Rezon adikku. Barangkali kalian bisa akrap, usia kalian kan sama?” Kata Axton sambil memandang pada seorang anak yang mirip padanya.


“Hey, siapa namamu?” Tanya Rezon akrap.


“Arnawa, panggil Arna.” jawab Arna.


“Nama yang keren! Jaman sekarang tak banyak orang yang memakai nama seperti itu kan?” kata Rezon kagum.


Arna menyunggingkan senyum membalas perkataan Rezon. Rupanya sifat anak ini jauh sekali dari kakaknya.


"Ular yang kau lihat di lambang orang berbaju hitam itu seperti apa? ” tanya Axton langsung pada inti.


Ia bahkan tidak menghiraukan percakapan Rezon dan dirinya yang belum berakhir. Tapi ada yang lebih aneh lagi, bukannya kembali pada topic awal yaitu alasan kehadirannya di tengah hutan. Ia malah ditanya soal ular di lambang baju para penjahat semalam. Arna terheran, apakah ini berarti ceritanya dapat dipercaya? Ataukah sebaliknya? keadaan menjadi sunyi sementara.


“Itu…, sepertinya itu adalah ular Viper. Tapi anehnya, ular itu memiliki mahkota di kepalanya.”  jawab Arna.


Setidaknya Ia tidak dibiarkan membeku sendirian di hutan. Basa-basi sedikit dan menjawab pertanyaan bukanlah hal yang merugikan.


Axton mengangguk, dahinya berkerut seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Kau bilang Ibumu di tangkap di sebuah gedung, benarkah itu?" tanya Axton lagi.


"Iya," Jawab Arna.


"Gedung apa?" Tanya Axton.


"Gedung Vinhana, sebelah barat kota." Jawab Arna.


Kak Axton terdiam lalu berkata.


"Tunggu di sini Rez." Ujarnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Rezon.


"Memanggil Guru."Jawabnya tanpa menoleh persis seperti tadi.


Kali ini Rezon terdiam lalu mengangguk mantap.


"Guru? Guru apa?" Pikir Arna sambil membayangkan dimana Ia sekarang.


"Ini adalah tempat asing teraneh. Kini aku dibingungkan oleh sesuatu hal lain. Sekolah macam apa yang berada di tengah hutan?" Batin Arna.

__ADS_1


Ia merasa diputar oleh angin tornado hingga terbang ke langit kemudian langsung dilemparkan ke atas roller coaster. Pusing… sekali…


__ADS_2