Gadis Antik Penjual Bubur

Gadis Antik Penjual Bubur
Rindu


__ADS_3

Apa begini rasanya Rindu?


Rissa duduk termenung sendiri di taman kampus. Sudah hampir 2 minggu gadis itu tidak melihat pemuda yang beberapa hari terakhir selalu menemaninya, menggodanya dan selalu ada di setiap dia membutuhkan bantuan. Setiap hari Rissa berangkat ke kampus sendiri, dan gadis itu merasa hidupnya kini terasa ada yang kurang.


Rissa sempat kerumah sakit, tapi suster disana mengatakan jika Ibu Wina sudah tidak di rawat disana. Ibu Wina dan Awan seperti menghilang tanpa jejak dan tanpa kabar. Bagaimana mau memberi kabar, jika Rissa tidak memiliki ponsel ataupun menyimpan nomer telfon Dermawan.


Setiap hari Rissa mendatangi kelas Dermawan, tapi tidak sehari pun dia menjumpai pemuda itu, bahkan teman temannya tidak ada yang tau dimana Dermawan.


Hari harinya yang baru mulai berwarna, mendadak kembali suram, tidak ada lagi guyonan garing yang sering di lontarkan Dermawan, dan tidak ada lagi nasihat nasihat yang dia dengar dari Ibu Wina. Meski baru beberapa kali bertemu, tapi Rissa merasa nyaman bersama mereka.


Rissa baru saja sampai di rumah, lelah belajar dan berjualan, gadis itu segera membersihkan diri dan berniat untuk beristirahat.


"Ya ampun mas,, kamu itu kemana sih? apa kamu pindah ke kota lain?" Rissa sedang berbaring sambil mengingat ingat moment bersama Dermawan.


"Apa begini namanya Rindu?" ucap Rissa dengan memeluk guling nya, lama memikirkan Dermawan, sampai Rissa akhirnya tertidur.


Waktu menjelang malam,


Rissa sedang berada di ruang tamu, setelah makan malam, Rissa memutuskan untuk belajar saja, meski pada akhirnya dia juga kurang fokus tapi setidaknya pikirannya sedikit teralihkan kepada hal lain, selain memikirkan Dermawan.


Ketika sedang mengerjakan soal matematika, Rissa mendengar suara pintu rumah di ketuk.


"Siapa yang bertamu malam malam begini?" Kemudian Rissa bangkit dari duduk dan berjalan menuju pintu, dengan waspada, Rissa mengambil sapu dan setelah itu membuka pintu rumahnya.


Ceklek


Rissa membulat saat melihat Dermawan berdiri di depan pintu rumah dengan wajah kuyu


Deg!


"Mas Awan?!" ucap Rissa lalu menjatuhkan sapu yang ada di tangannya


"Assalamualaikum Ris" ucap Dermawan


"Wa'alaikumsalam mas,, silahkan masuk" ucap Rissa


Dermawan masuk kedalam rumah lalu duduk di sofa bersama Rissa. Gadis itu melihat wajah Dermawan tidak seperti biasanya. Pemuda itu juga lebih banyak diam,padahal dia buka orang yang pendiam

__ADS_1


"Mas mau minum apa?" tanya Rissa


"Terserah kamu" jawab Dermawan


Rissa mengangguk, lalu pergi ke belakang dan hanya mengambilkan air dingin dari dalam kulkas. Sampai di ruang tamu, Rissa melihat Dermawan menyenderkan kepalanya sambil memejamkan matanya, terlihat sangat lelah sekali.


"Diminum mas" ucap Rissa setelah menuangkan segelas air dingin ke dalam gelas. Hati gadis itu di liputi rasa penasaran yang luar biasa dengan perubahan sikap Dermawan


"Mass,," ucap Rissa memberanikan diri untuk menyentuh tangan Dermawan. Dan Rissa kaget saat tangannya balik di genggam pemuda itu.


"Mas Awan ada masalah apa mas?" tanya Rissa dengan takut takut


Dermawan yang awalnya memejamkan mata, kini pemuda itu membuka mata dan beralih menatap Rissa.


"Ibu,, sudah meninggal" ucap Dermawan dengan mata berkaca kaca


Deg!


Rissa langsung mematung saat mendengar berita duka itu, dan bukan hanya itu, kini tubuhnya terasa berat karena Dermawan langsung memeluknya. Tidak terdengar isak tangis, tapi pelukan itu terasa begitu erat.


"Rissa turut berduka ya mas,," ucap Rissa jadi merasa sedih.


"Ibu orang yang baik,, pasti Allah kasih tempat yang baik untuk ibu. Mas yang sabar ya,," ucap Rissa


Cukup lama Rissa dan Dermawan saling berpelukan, kemudian Dermawan menarik Diri dan menatap Rissa dengan mata yang sembab.


"Maaf,, aku sudah lancang memelukmu" ucap Dermawan


"Tidak papa,,, mas selalu ada di saat aku sedang terpuruk, aku pun akan selalu ada saat mas dalam kondisi yang sama. Aku tau rasanya kehilangan, jadi aku pun tau apa yang mas rasakan saat ini" ucap Rissa.


"Terima kasih" ucap Dermawan dan Rissa mengangguk. Siapa sangka jika Dermawan kembali memeluknya.


Dermawan merasa hancur, disaat makam ibunya yang masih basah, bahkan belum ada 1 bulan. Papanya sudah ingin menikah lagi, dan parahnya wanita yang dia akan nikahi adalah sahabat papanya sendiri tante Rita.


Rita datang menemui Dermawan di kediaman orang tuanya. Setelah beberapa hari ibu Wina di makamkan, pak Adi pulang lebih dulu, dan hal itu di manfaatkan Ibu Rita untuk menemui Dermawan.


"Dengar, Tante dan papamu akan segera menikah" ucap Rita kepada Dermawan

__ADS_1


Rasanya tidak ingin percaya tapi, Dermawan kembali mengingat foto yang pernah dia temukan di kamar orang tuanya, ada papanya, tante Rita dan Utomo.


Sebuah teka teki yang masih belum terpecahkan, tapi Dermawan yakin, kematian ibunya pasti ada kaitannya dengan mereka berdua. Dermawan yang baru saja tiba di kota itu ingin sekali bertemu Rissa, karena sejak kematian ibunya, pemuda itu juga merindukan gadis itu .


"Mas masih betah peluk aku? emm,, aku sesek mas" ucap Rissa dengan pelan.


Dermawan melepaskan pelukannya, ternyata di peluk Rissa nyatanya nyaman juga


"Maaf, karena terlalu nyaman" ucap Dermawan dan Rissa mengangguk.


"Jadi selama hampir 2 minggu ini mas dimana?" tanya Rissa


"Mas ke kota kelahiran Ibu di Jogja, Setelah pemakaman Mas tinggal beberapa hari disana. Kenapa? kamu rindu?" tanya Dermawan


Rissa membuang wajah ke samping, wajahnya yang tiba tiba berubah merah itu tidak ingin dia tampakkan di depan pemuda itu.


"Tidak,,! hanya bertanya saja" jawab Rissa


"Kalau rindu, bilang rindu Ris! Mas juga rindu sama kamu!" ucap Dermawan dan Rissa langsung menoleh kaget


Kedua nya diam saling menatap dan keduanya saling mencari cahaya kerinduan dari sorot mata masing masing.


Apakah benar mereka berdua sama sama saling merindu?


.


.


.


.


.


.


Kalau hatiku sedang rindu, pada siapa ku mengadu,,😌

__ADS_1


__ADS_2