Gadis Antik Penjual Bubur

Gadis Antik Penjual Bubur
Tidak Berguna


__ADS_3

Setelah pertemuan pak Adi dan pak Frans selesai, Pak Frans pamit karena merasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Pak Frans sudah memiliki janji lain bertemu dengan Dermawan dan akan menunjukkan lokasi tanah dan bangunan milik ibunya.


Seperginya pak Frans, Ibu Rita keluar dari tempat persembunyiannya dan melihat pak Adi yang tampak Frustasi.


"Mas" ucap Rita lalu duduk di sebelah Pak Adi


"Aku tidak tau jika selama ini Wina menyimpan banyak Asset tanpa sepengetahuanku!" ucap Adi dengan menjambak rambutnya sendiri , sementara Rita terlihat sedang menahan kesal


"Kamu memang tidak berguna mas!" Rita membatin


"Bagaimanapun caranya, aku akan mempertahankan rumah sakit ini dan rumah itu! aku akan cari dimana Dermawan menyembunyikan sertifikat rumah!" ucap pak Adi


"Kita cari sama sama ya mas" ucap Rita dan Adi mengangguk


Kemudian kedua orang tua itu keluar dari ruangan pak Adi dan pulang ke rumah untuk mencari sertifikat rumah dan juga tanah yang selama ini mereka tinggali.


Sementara itu, di rumah Ibu Wina, sepertinya masih betah berpelukan setelah tadi berbaikan. Kemudian Dermawan melepas pelukannya dan mengingat sesuatu


"Rissa,,"


"Ada apa mas?" tanya Rissa


"Mas harus pergi bertemu dengan pak Frans. Kamu gak papa kan mas tinggal sendiri?" tanya Dermawan


"Gak papa mas, pergilah, Rissa akan siap siap untuk besok " jawab Rissa


"Rissa,, dengarkan mas bicara. Mas ingin katakan, kalau dalam surat wasiat Ibu, hal yang mas harus penuhi jika ingin mendapatkan warisan, salah satunya adalah mas harus menikah, tapi kamu jangan salah paham dulu, mas mengajakmu menikah itu bukan serta merta karena itu, tapi benar benar cinta padamu dan ingin hidup bersamamu" ucap Dermawan


Rissa tergugu,,,


"Rissa,,"


"Iya mas Rissa percaya pada mas Awan, Rissa juga berfikir, kenapa mas mengajak Rissa menikah secepat ini, dan ini jawabannya ya?" tanya Rissa


"Selain mas ingin hidup bersama kamu, mas juga ingin mewujudkan keinginan Ibu untuk membangun rumah sakit. Harta peninggalan ibu nanti semua akan mas alihkan untuk itu, jadi sebelum Papa mengambil langkah jauh, mas harus yang melangkah lebih dulu" ucap Dermawan


"Rissa ngerti mas, Rissa akan dukung apapun niat mas Awan, asal itu baik" ucap Rissa


"Terima kasih, kalau begitu mas pergi yah, besok pagi jam 7 mas jemput kamu,," ucap Dermawan dan Rissa mengangguk


Cup!

__ADS_1


Rissa terkejut saat tiba tiba mendapat kecupan singkat dari Dermawan


"Manis" Ucapnya setelah itu Awan pamit pergi untuk menemui pak Frans.


..........


Disaat Awan pergi bersama pak Frans untuk melihat lokasi tanah peninggalan ibunya, Ibu Rita dan pak Adi sudah sampai di rumah besar. Begitu sampai disana Ibu Rita dan pak Adi menuju ke kamar Dermawan, berhubung kamar itu di kunci, Pak Adi mengambil kunci cadangan dan berhasil membuka kamar Dermawan. Mumpung Dermawan belum pulang, mereka menggeledah kamar itu.


"Aku tidak menemukan apapun mas!" ucap Rita saat membuka lemari pakaian Demawan


"Aku juga begitu" sahut pak Adi saat membongkar lemari buku dan juga meja belajar Dermawan.


Saat sedang menggeledah kamar, Utomo datang dengan mengejutkan keduanya, mereka kira Dermawan yang masuk


"Kau buat kami hampir jantungan!" sungut ibu Rita


"Maaf ma, tapi apa yang kalian lakukan disini?" tanya Utomo


"Jangan banyak bicara! ayo cepat bantu kami mencari sertifikat rumah di kamar ini!" ucap Ibu Rita


Utomo masuk dan ikut menggeledah kamar Dermawan.


"Apa kamu akan menjual tanah ini nanti?" tanya Pak Frans


"Tidak pak, saya akan membangun rumah sakit yang baru disini, mungkin yang akan saja juga Asset yang lain" jawab Dermawan


"Iya,, ini lokasinya sangat bagus, kalau pun di jual, pasti akan sangat mahal" ucap pak Frans


"Tapi saya tidak berniat untuk menjual tanah ini. Oh iya pak, ini saya bawa sertifikat rumah, dan tanah tolong anda urus untuk membalik atas nama saya. Saya yakin papa saya sedang mencari ini setelah tau surat wasiat dari ibu saya" ucap Dermawan


"Baik, saya akan urus segera. Tapi,, kamu masih lama lulus kuliah,,"


"Tapi saya akan segera menikah, Jadi tolong persiapkan segala sesuatunya karena saya sendiri yang akan mengelola Asset ibu saya" jawab Dermawan


"Baiklah kalau begitu, kalau ada apa apa hubungi saya, saya akan siap membantu" ucap pak Frans


"Baik"


Setelah meninjau lokasi, Dermawan pulang kerumah. Saat di perjalanan, Dermawan mendapat laporan dari pelayan setianya di rumah jika Pak Adi, Ibu Rita dan Utomo menggeledah kamarnya. Tebakan Dermawan benar benar tidak meleset, dan sekarang tinggal dia bersiap untuk menghadapi amukan papanya.


"Awan"

__ADS_1


Baru saja menginjakkan kaki di rumah, sepertinya Dermawan sudah di tunggu tunggu oleh Pak Adi, Rita dan Utomo.


Tanpa merasa takut sedikitpun Dermawan melangkah masuk dan menghampiri mereka.


"Ada apa pa?" tanya Dermawan datar saja


"Dimana kamu simpan sertifikat rumah ini?" tanya pak Adi


"Untuk apa tanyakan itu? kan dulu ibu yang simpan" jawab Dermawan


"Lagian, ini rumah ibu, bukan rumah papa" jawab Dermawan


"Rumah ini di beli dengan uang papa dan Ibu mu, kamu tidak bisa menggunakan sendiri. kembalikan sertifikat rumah, papa yang akan menyimpannya" jawab Pak Adi sedikit melunak


"Berapa uang papa? Awan akan menggantinya" jawab Dermawan


"Jangan lancang bicaramu Awan! dia itu papamu!" sungut Ibu Rita


"Tante jangan ikut campur masalah keluarga kami, tante itu hanya orang luar!" ucap Dermawan


"Kamu mau mengusir papa kamu sendiri?!" tanya pak Adi


"Kalau papa masih ingin tinggal disini silahkan, tapi jangan tanyakan sertifikat rumah ini karena rumah ini sudah menjadi milik Awan, karena ibu ku yang memberikan" Jawab Dermawan


"Dan satu lagi, aku tidak mau ada orang lain yang tanpa seizin ku tinggal di rumah ini,," ucap Dermawan sambil menatap Ibu Rita dan Utomo bergantian


"Apa maksud mu mas? kita ini akan jadi saudara, mas gak bisa gitu aja mengusir kami" sahut Utomo dengan nada tinggi


"Aku tidak mau bersaudara dengan mu!" sahut Dermawan


.


.


.


.


.


usir aja tuhhh 3 benalu 😒

__ADS_1


__ADS_2