Gadis Antik Penjual Bubur

Gadis Antik Penjual Bubur
Anak Tiri


__ADS_3

Setelah membersihkan diri, Dermawan dan Rissa bergegas ke rumah sakit. Meski bagaimana pun kelakuan pak Adi, tapi dia tetap papanya. Dermawan masih memiliki hati meski secuil untuk melihat kondisi papanya. Sampai di rumah sakit, Dermawan dan Rissa menuju ke IGD


"Kamu gak papa kan sayang?" tanya Dermawan saat melihat Rissa berjalan seperti tidak nyaman


Rissa tersenyum kecil, mau bagaimanapun menyembunyikan saya ngilunya, ternyata masih terasa juga, mending lebih baik jujur saja


"Masih,, sedikit ngilu mas" jawab nya lirih


"Mau di gendong?" tanya Dermawan, melihat istrinya seperti itu, kasihan juga , tapi Rissa Menggeleng


"Tidak mas, Rissa masih bisa jalan" jawab Rissa


"Ya sudah kita pelan pelan saja ya" ucap Dermawan dan Rissa mengangguk


Kemudian mereka berjalan bersama dengan pelan sambil bergandengan tangan menuju ke ruang IGD, begitu sampai disana, Ibu Rita dan Utomo tidak ada.


Bersamaan mereka yang baru sampai sampai, Dokter keluar dari ruang IGD


"Bagaimana kondisi papa saya dok?" tanya Dermawan


"Tuan Adi mengalami serangan jantung dadakan, saat ini kondisinya sangat kritis, belum sadarkan diri sejak tadi" jawab Dokter


"Siapa yang membawa papa saya kemari?!" tanya Dermawan


"Ambulance di telfon oleh seseorang dengan ponsel Tuan Adi, dan saat sampai di rumah sakit, Papa Anda sudah dalam kondisi mengkhawatirkan dan kami sudah memberikan penanganan." jawab Dokter


Dermawan mengeratkan genggaman tangannya, dia ingin meluapkan emosinya tapi pada siapa?


"Awan, ada hal yang mengkhawatirkan Wan!"

__ADS_1


"Pak Rafi, ada apa pak?" tanya Dermawan kepada salah satu kepala HRD rumah sakit yang habis berlarian menghampiri Dermawan


"Gawat Wan, Ibu Rita mengambil alih kepemimpinan rumah sakit ini sekarang!" ucap pak Rafi dengan nafas ngos ngosan


"Apa?! kok bisa?" tanya Dermawan


"Kamu lihat saja sendiri di ruang kerja papa mu" jawab pak Rafi


Kemudian Dermawan menitipkan pak Adi yang belum siuman kepada Dokter, setelah itu Dermawan dan Rissa ikut pak Rafi ke ruang kerja papanya.


Ceklek


Pintu ruangan di buka, Dermawan dan Rissa bisa melihat Ibu Rita sedang duduk di kursi yang biasa di duduki pak Adi saat memimpin rumah sakit


"Apa kalian tidak tau sopan santun hah?! masuk ke ruangan orang tanpa permisi lebih dulu!" sarkas Ibu Rita


"Anda yang tidak tau malu! kenapa anda duduk di sana?!" jawab Dermawan


"Ini rumah sakit sudah menjadi milikku, anak tiriku,, papamu sudah menyerahkannya padaku!" jawab Ibu Rita


"Tidak mungkin!" jawab Dermawan


"Tidak mungkin? butuh bukti? baik,, akan ibu tunjukkan kepadamu,," lalu Ibu Rita mengambil salinan dokumen pengalihan itu kepada Dermawan


"Buka mata mu lebar lebar ya!" ucap Ibu Rita


"Dasar perampok! kalian semua sama saja! suka merampas hal orang lain!" sarkas Dermawan


Ibu Rit terkekeh, dia tidak peduli Dermawan mau berkata apa sekarang. Yang jelas dia sudah mendapatkan rumah sakit itu.

__ADS_1


"Terserah apa katamu, yang jelas rumah sakit ini sudah menjadi milikku sekarang. Lebih baik kalian keluar sekarang!" ucap ibu Rita


"Dasar nenek lampir!" Rissa yang merasa sangat kesal kepada ibu Rita


"Apa kata mu?!" sarkas Ibu Rita


"Iya! ibu itu sudah seperti nenek lampir yang haus akan harta! harusnya ibu itu banyak banyak bertaubat, bukan malah menambah dosa!!" ucap Rissa


"Tidak usah ceramah! aku tidak butuh!" sarkas ibu Rita sudah seperti orang gila meladeni Rissa


"Ayo mas kita pergi, kita doakan saja mudah mudahan rumah sakit ini bangkrut karena orang tamak yang memimpin! Aamiin,,,,,,!" ucap Rissa kepada Dermawan


"Iya,," jawab Dermawan


Kemudian mereka berdua berbalik dan akan keluar dari ruangan itu


"Sana pergi! dan bawa tua bangka itu pergi sekalian! aku tidak butuh dia lagi!" ucap Ibu Rita


Deg!


Dermawan mematung, ternyata selama ini pak Adi hanya di peralat oleh Ibu Rita untuk mendapatkan rumah sakit itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bagi Vote dongggggg 😑


__ADS_2