Gadis Antik Penjual Bubur

Gadis Antik Penjual Bubur
Tidak Ada Pilihan


__ADS_3

Pak Adi terlihat bimbang, ingin tetap tinggal di rumah besar itu bersama putranya atau pergi ikut Ibu Rita dan Utomo. Ibu Rita merasa harga dirinya di injak injak, wanita paruh baya itu memutuskan untuk pergi dan mengajak putranya keluar dari rumah itu. Setelah membereskan barang barang mereka, keduanya akan segera meninggalkan rumah itu.


"Jika mas tetap disini, semua rahasia mu akan aku bongkar! Dan jika Awan tau, kamu pun akan hancur!" ucap Ibu Rita saat berbisik kepada pak Adi


Pak Adi mematung dan melihat kepergian Ibu Rita dan Utomo yang tanpa pamit.


Setelah memastikan Ibu Rita dan Utomo keluar, Dermawan hendak ke kamar


"Awan,," ucap pak Adi


"Ada apa pa?" tanya Dermawan


"Kenapa kamu jadi bersikap kasar seperti itu? kamu kan tau papa akan menikahi tante Rita" ucap pak Adi


Dermawan tersenyum sinis,


"Kalau papa mau menyusul mereka, silahkan pa. Itu mumpung mereka belum jauh" jawab Dermawan lalu pergi meninggalkan papanya.


Tidak ada pilihan lain, dan akhirnya pak Adi menyusul ibu Rita untuk pergi dari rumah besar itu, dia tidak akan membiarkan Rita membocorkan rahasia mereka kepada Awan, sementara rumah sakit masih dalam proses pengalihan atas namanya, bisa bisa semua gagal berantakan dan dia benar benar tidak mendapatkan apapun.


Dermawan hanya tersenyum getir saat melihat mobil papanya meninggalkan rumah, ternyata setidak peduli itu papanya pada dirinya dan juga Ibu nya. Jadi selama ini hanya tameng saja yang papanya tampilkan di depan semua orang hingga kini akhirnya terlihat jelas belangnya.


Hari berikutnya,,,


Karena hari libur, Dermawan tidak berangkat ke kampus. Pagi pagi sekali Dermawan sudah pergi dari rumah untuk menjemput pak Frans dan akan di ajak untuk menemui keluarga Rissa. Setelah menjemput pak Frans, Dermawan langsung menuju ke rumah ibunya.


Tinn Tinnn


Mendengar klakson mobil, Rissa keluar dengan membawa tas ransel nya. Tidak banyak barang yang dia bawa, karena memang dia hanya sebentar pulang untuk menikah dan setelah itu kembali lagi ke kota.


"Rissa,, kenalkan ini pak Frans, kuasa hukum keluarga kami" ucap Dermawan memperkenalkan pak Frans kepada Rissa.


Setelah berkenalan, mereka langsung menuju ke makam Ibu Wina. Tidak lama mereka berada disana, kemudian mereka menuju ke kampung halaman Rissa di Semarang. Saat di perjalanan, Rissa duduk di belakang bersama Dermawan sedang pak Frans dan supir Keluarga Dermawan duduk di depan. Saat Dermawan pergi, pak Adi datang kerumah untuk mengambil barang barangnya dan dia menanyakan keberadaan Dermawan kepada pelayan di rumah


"Dimana Awan?" tanya pak Adi

__ADS_1


"Den Awan pergi sejak tadi dengan pak Samsul"


"Kemana? tidak biasanya dia pergi dengan supir" ucap pak Adi


"Kami kurang tau tuan, karena Den Awan tidak mengatakan apa apa"


"Ya sudah" lalu pak Adi masuk kedalam kamarnya untuk berkemas.


..........


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya rombongan Dermawan sampai di kampung halaman Rissa. Kemudian Rissa menunjukkan sebuah rumah yang terlihat sederhana diantara rumah rumah yang lain, tapi mereka berhenti di rumah berbeda.


"Itu Rumah Rissa mas, dan ini rumah kakak Ku" ucap Rissa


Dermawan melihat rumah keluarga Rissa yang hanya berdinding papan, berbanding terbalik dengan rumah kakak Rissa yang bangunannya terlihat lebih besar dan kokoh.


"Kita parkir disana saja pak" ucap Dermawan


"Disini saja mas, kalau disana sempit halamannya. Ayo turun" ucap Rissa


"Rissa?" panggil kakak Rissa


"Assalamualaikum kak Riv, Mba Yuni,," ucap Rissa sambil menyalami kakak dan kakak iparnya


"Wa'alaikumsalam, kamu sama siapa? kok banyak orang?" tanya kak Rivai kakak Rissa


"Emm,, kita ngobrol di dalam saja boleh gak?" ucap Rissa


"Iya boleh,," jawab Rivai


Kemudian Dermawan, dan pak Frans menyalami kakak Rissa lalu mereka di persilahkan masuk ke dalam rumah.


"Kak, Rissa kesini menemui kakak bersama Mas Awan, Pak Frans memiliki tujuan,," ucap Rissa langsung pada intinya


"Tujuan apa?" tanya Rivai

__ADS_1


Rissa menghela nafas lebih dulu sebelum berbicara, dia harus bicara pelan agar kakaknya tidak terkejut


"Begini kak, Sebelumnya saya akan memperkenalkan diri, nama saya Dermawan, saya kesini bersama kerabat kami, sengaja datang untuk meminta restu kak Rivai karena kami berdua akan menikah" Ucap Dermawan


"Apa?!" Rivai terkejut dan langsung memegangi dadanya. Bukan hanya Rivai tapi juga Rissa karena Dermawan sudah lebih dulu bicara padahal Rissa sudah menyusun kata kata agar kakaknya bisa mengerti dan tidak terlalu terkejut


"Kakak!" ucap Rissa lalu menghampiri Rivai dan mengambilkan air minum yang di atas meja.


"Mas?!" Yuni yang baru sampai di depan dengan membawa makanan pun langsung meletakkan nampannya dan menghampiri suaminya.


"Tarik nafas kak,, hembuskan pelan,," ucap Rissa memberi instruksi kepada kakaknya


"Kamu apakan kakak mu hah?!" ucap Yuni terdengar ketus, Rissa terdiam, saat tatapan Yuni sudah seperti akan membunuhhnya


"Kakak mau bicara denganmu!" ucap Rivai saat sesak didalam dadaa nya sudah perlahan mereka.


Rissa kaget ketika lengannya di cengkram dengan kuat oleh Rivai, bahkan tatapan kakaknya juga sudah berubah menajam. Rissa tersentak saat lengannya di tarik dengan kasar dan dia langsung beranjak saat Rivai menariknya dan membawanya ke belakang.


Dermawan yang melihat Rivai kasar saat menarik Rissa pun beranjak dari tempat duduknya namun Yuni sudah berkata lebih dulu


"Jangan ikut campur! ini urusan keluarga kami!" sarkas Yuni


"Tapi jangan kasar begitu" jawab Dermawan


Pak Frans menyuruh Dermawan untuk kembali duduk dan berbisik kepadanya


"Kita lihat dulu, jika mereka menyakiti Rissa, maka kita bisa membawa mereka ke jalur hukum" ucap pak Frans


.


.


.


.

__ADS_1


Jadi kawin gak yah? 😁


__ADS_2