Gadis Antik Penjual Bubur

Gadis Antik Penjual Bubur
Rasa Sakit


__ADS_3

Dermawan baru saja sampai di rumah keluarga setelah tadi pulang menemui Rissa. Meski hanya sebentar, tapi setidaknya, sedikit rindunya sudah terobati . Apalagi tadi sempat mendapat pelukan gadis itu, membuat hatinya sedikit tenang.


Baru masuk kedalam rumah, Dermawan sudah bertemu dengan papanya.


"Dari mana kamu?" tanya pak Adi


"Rumah teman" jawab Dermawan


"Baru sampai bukannya pulang ke rumah, tapi kamu malah keluyuran!" ucap pak Adi


"Bukan urusan papa" jawab Dermawan kemudian akan berlalu pergi


"Awan! papa ingin bicara!" ucap pak Adi


"Bicara apa lagi? aku capek " jawab Dermawan


"Begitu caramu bicara dengan orang tua?!" sarkas pak Adi


Dermawan berbalik badan dan menatap papanya dengan rasa kesal


"Apa begini hasil didikan ibu mu ha?" ucap pak Adi


Dermawan langsung naik pitam, dia tidak terima jika ibunya di bawa bawa dalam pembicaraan mereka berdua


"Ibu tidak pernah mengajariku untuk berbicara kasar dengan orang lain! terlebih pada orang tua sendiri! tapi, aku rasa ibu akan mengizinkan ku berkata seperti ini kepada papa, karena apa? karena papa sendiri tidak pernah menghargai ibu ku!" jawab Dermawan


"Jangan kurng ajr kamu!" sarkas pak Adi, dengan sudah mengangkat tangannya dan akan menampar Dermawan


"Mau tampar? ayo tampar awan pa?! Awan tidak pernah takut!" ucap Dermawan tanpa rasa takut


Plakkkkkkk


Tamparan keras itu langsung mengenai wajah Dermawan hingga memerah. Tangan pak Adi gemetar, ada rasa bersalah, tapi juga ada emosi dalam dirinya yang sudah membuncah.


"Rasa sakit ini tidak akan pernah sebanding dengan rasa sakit dalam hati ini!" Dermawan menunjuk dadaanya sendiri


"Mau berkali kali papa tampar awan, itu tidak akan sebanding dengan apa yang sudah papa lakukan kepada Ibu ku! Belum kering makam ibu ku, tapi papa sudah mau menikah lagi! Dimana hati nurani papa? apa setidak cinta itukah papa pada ibu ku?! Aku tidak pernah menyesal lahir dari rahim ibu ku, tapi aku menyesal karena memiliki seorang papa yang tidak pernah memiliki hati untuk istri dan anaknya!" ucap Dermawan seperti pedang yang menusuk hingga ke ulu hati papanya


Deg!


"Siapa yang mengatakan itu?!" tanya pak Adi


"Bodoh atau pura pura bodoh?! jelas siapa lagi yang berani bicara seperti itu, sudah tentu itu wanita yang akan papa nikahi! tante Rita!" jawab Dermawan


"Bagus,, jika semua sudah tau, tinggal kita persiapkan acara pernikahannya segera" Rita dan utomo sudah berdiri di depan pintu dengan membawa koper milik mereka, sedang Dermawan dan pak Adi terlihat sangat terkejut


"Kalian bertiga sama saja! tidak punya hati!" ucap Dermawan


"Jaga bicaramu! harusnya kamu bisa lebih sopan terhadap kami! kita akan jadi keluarga" ucap Utomo

__ADS_1


"Siapa yang mau 1 keluarga dengan mu?! aku tidak akan pernah mau!" ucap Dermawan muda


"Sudah diam! kalian berdua kenapa kemari?" tanya pak Adi kepada Rita dan utomo


"Mulai malam ini, kami akan tinggal disini" jawab Rita


"Dasar tidak tau malu!" ucap Dermawan


"Tutup mulut mu! Aku ada hak untuk tinggal di rumah papaku!" ucap Utomo


Deg!


Dermawan terdiam saat utomo mengatakan 'Papaku'


"Dia papamu?" tanya Dermawan pada Utomo


"Ya! papa Adi adalah papa ku juga!" jawab Utomo


Dermawan benar benar kaget, ternyata ada rahasia besar diantara papanya dan tante Rita selama ini.


"Apa benar begitu pa?" tanya Dermawan dengan tatapan penuh kekecewaan pada papanya


Sementara itu pak Adi hanya diam, lebih tepatnya bingung akan menjelaskan bagaimana pada putranya.


"Diamnya papa, berarti mengiyakan! jadi papa sudah menghianati ibuku sejak lama?! jadi papa memiliki anak dari wanita lain?! apa mungkin semua ini adalah sebab dari sakitnya ibu ku?! papa benar benar jahat! papa gak punya hati!" Ucap Dermawan dengan perasaan kecewa meluap luap


"Bukan papa mu yang berkhianat! tapi ibu mu yang memaksakan diri untuk menikah dengan mas Adi!" ucap ibu Rita


"Tidak! itu tidak mungkin! Ibu ku bukan orang seperti itu! aku akan buktikan, ibu ku bukan orang seperti itu!" ucap Dermawan


"Buktikan saja!" sahut Ibu Rita


Dermawan tidak tahan lagi, pemuda itu langsung pergi dari rumah dan meninggalkan semua orang yang ada disana.


"Awan! tunggu!" ucap pak Adi


Namun Awan tetap pergi meninggalkan mereka. Saat pak Adi ingin mengejar putranya, Ibu Rita segera menahan kepergiannya.


"Jangan pergi mas!" ucap Ibu Rita


"Lepaskan!" ucap pak Adi


"Tidak! aku tidak akan membiarkan kamu pergi mengejar awan! dia butuh waktu sendiri untuk menerima semuanya!" ucap ibu Rita


"Benar pa, mas Awan butuh waktu sendiri, percuma papa kejar dia, saat ini dia sedang emosi" ucap Utomo


Pak Adi mengurungkan niatnya mengejar Dermawan, ada benarnya kata mereka, Dermawan butuh waktu sendiri untuk berfikir, dan pak Adi juga memperbolehkan Rita dan Utomo untuk tinggal bersamanya di rumah itu. Tanpa Pak Adi tau, ada sebuah rahasia besar yang di sembunyikan Ibu Rita selama ini.


Sementara itu, Dermawan pergi menemui Rissa. Disaat hatinya remuk, Dermawan sangat butuh sandaran. Dermawan tidak peduli cuaca di luar sedang hujan deras, petir menyambar, bahkan tetesan air matanya sudah bercampur dengan air hujan. Pemuda itu terus mengayuh sepeda ontelnya menuju ke rumah ibunya yang di tempat Rissa.

__ADS_1


Rissa yang baru saja mematikan lampu ruang tamu kaget saat mendengar ketukan pintu. Gadis itu sangat waspada, di jam malam seperti ini, belum lagi di luar hujan deras, ada orang yang mengetuk pintu.


"Rissa,,"


Samar samar Rissa mendengar namanya di panggil, dari suaranya seperti tidak asing. Rissa mengingat ingat, suara siapa. Rissa langsung teringat pada Dermawan dan gadis itu langsung membuka pintu rumah.


"Mas Awan?!"


Rissa kaget saat melihat Dermawan berdiri di depan rumah dengan pakaian basah kuyup dan terlihat kedinginan.


"Riss,, boleh gak mas nginep disini?" tanya Dermawan dengan suara bergetar


"Ta,,pi mas,,,"


Belum sampai menjawab boleh atau tidak, Dermawan sudah ambruk dan untungnya Rissa langsung menahannya.


"Mas Awan?!"


Kemudian Rissa membawa Dermawan masuk ke dalam dengan susah payah, pemuda itu di seret dan di rebahkan di sofa ruang tamu. Setelah itu Rissa memeriksa kondisinya


"Ya ampun mas,, kamu demam" ucap Rissa setelah memeriksa kondisi tubuh Dermawan.


Lalu Rissa ke dalam kamar untuk mengambilkan obat. Gadis itu juga mengambil pakaian ganti, karena bingung tidak memiliki baju laki laki, Rissa hanya mengambil kaosnya yang dia rasa muat untuk Dermawan dan juga sarung.


Sampainya di depan, Rissa menggantikan pakaian Dermawan yang basah dengan pakaian yang kering.


"Anggap saja aku sudah menjadi seorang dokter, dan kewajibanku menolong pasien. Mas,, aku izin gantiin pakaianmu yang basah ya" ucap Rissa


Setelah selesai mengganti pakaian, Rissa mengompres Dermawan agar panas tubuhnya segera turun.


Rissa tidak akan mungkin membiarkan dia dan Dermawan tinggal hanya berdua di rumah itu. Apa kata tetangga mereka, sedang mereka belum menikah. Lalu Rissa pergi ke rumah ibu Nani untuk mengajak putri bungsunya Jihan menginap di kontrakannya. Rissa juga menceritakan kepada Ibu Nani jika dia bertemu dengan Dermawan dalam kondisi pemuda itu panas dan pingsan. Ibu Nani mengizinkan Rissa mengajak Jihan dan setelah itu mereka segera pulang.


"Dek, kamu tidur di kamar mba aja ya, mba disini dulu sampai kondisi panas kak Awan turun" ucap Rissa kepada Jihan


"Iya mba," Jawab Jihan


Jihan masuk kedalam kamar Rissa, sementara Rissa masih di ruang tamu, menggantikan kompress di kening Dermawan.


"Sebenarnya apa yang terjadi mas?" ucap Rissa


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bagi Vote nya donggg gaesss 😁


__ADS_2