
Rissa di bawah Rivai ke dapur dan pria itu menyentak kuat tangan Rissa karena merasa sangat marah.
"Apa apaan kamu hah?! tiba tiba kamu mau nikah sedang kamu masih kuliah, Hamil kamu?!" Sarkas Rivai dengan menunjuk wajah adiknya
"Astagfirullah,,! siapa yang hamil kak? Rissa gak hamil!"
"Terus kenapa kamu tiba tiba mau nikah hah?! jadi ini hasil kamu merantau selama ini?! kuliah gak beres tapi sibuk cari laki laki! Bukan cuma kakak yang kecewa sama kamu Riss tapi Ayah dan ibu juga kecewa sama kamu!" sarkas Rivai
"Rissa akan tetap kuliah kak, tapi,,,"
Rivai mengumpat kemudian tangannya melayang dan mendarat keras dan cepat mengenai wajah Rissa
Plaakkk
Rissa tergugu dengan wajah merah panas dan ujung bibirnya pun robek mengeluarkan darah segar.
"Kak,, Rissa cuma mau izin nikah,, tapi" ucap Rissa dengan sudah menangis, dia tidak menyangka jika Rivai sekarang berubah kasar
"Kakak gak izinin kamu nikah sekarang!" jawab Rivai
"Kak,,, Rissa janji, Rissa akan tetap kuliah sampai lulus dan jadi dokter" ucap Rissa dengan terus menangis dan memohon kepada Rivai
"Enggak! jika Ibu dan ayah masih hidup, mereka juga tidak akan mengizinkan kamu menikah sekarang!" jawab Rivai
"Apa kamu pikir menikah itu gampang hah?! Iya sekarang kamu pikir yang enak enak, tapi nanti kamu akan pusing sendiri mengurus rumah, keperluan anak, ngurus suami suami, mikir kuliah! Kamu pikir itu semua gampang hah?!" sentak Rivai
"Kak,,,Aku,,"
"Pokoknya kakak gak akan setuju kamu nikah sekarang! sana suruh pulang pacarmu!" sarkas Rivai
Rissa menangis, hatinya merasa sakit. Dulu kakaknya tidak begitu ketika kedua orang tua mereka masih hidup. Tapi semenjak Rissa lulus SMA dan merantau, Mereka memang jarang bertemu hingga Rissa tidak tau kenapa kakaknya berubah seperti itu.
Rissa berlari keluar dengan menangis, gadis itu menyambar tas ranselnya, Dermawan, Pak Frans dan Yuni di buat kaget saat Rissa langsung pergi
"Rissa" ucap Dermawan saat melihat calon istrinya menangis dan parahnya lagi Dermawan melihat Rissa terluka
"Saya akan kejar Rissa, bapak selesaikan masalah disini" ucap Dermawan dan Pak Frans mengangguk. Kemudian Dermawan berlari keluar dan melihat Rissa berlari menuju ke rumah orang tuanya. Dermawan mengambil kotak P3K didalam mobil, Lalu pemuda itu menyusul Rissa ke rumahnya.
Rivai keluar dari dapur dengan wajah memerah, lalu Yuni menghampiri Rivai dan menanyakan apa yang terjadi
__ADS_1
"Kenapa anda kasar sekali?!" tanya pak Frans
"Bukan urusan anda! ini urusan keluarga kami!" jawab Rivai
"Kenapa anda masih ada disini?" tanya Rivai
Pak Frans mengambil dompet lalu mengeluarkan kartu namanya dan meletakkan di atas meja.
"Yang anda lakukan adalah tindakan kekerasan! saya adalah pengacara dan saya bisa melaporkan tindakan kasar anda dan membawa ke jalur hukum!" ucap pak frans
Deg!
Rivai dan Yuni mematung,
"Anda sebagai kakak harusnya tidak bersikap seperti itu. Adik anda datang dengan baik baik meminta restu, bagaimana jika mereka nekad dan malah melakukan hal buruk sebelum menikah?!" tanya pak Frans
"Tapi Rissa masih kuliah, kenapa tidak setelah kuliah, bekerja baru menikah? mau di kasih makan apa nanti?" jawab Rivai
"Perkara rejeki itu sudah ada yang ngatur, anda tidak perlu risau memikirkan rejeki orang lain. Kalau dua manusia sudah berniat menikah dan meminta restu dengan baik baik, lebih baik restui saja, doakan mereka yang baik baik.." ucap pak Frans
"Bukan ingin sombong, jika hanya untuk menghidupi Rissa, harta klien saya sampai 7 turunan tidak akan habis habis! Jadi anda tidak perlu risau besok Rissa akan makan apa!" ucap pak Frans
Sementara itu, Rissa menangis di dalam kamar nya, dia tidak habis pikir kenapa kakaknya berubah kasar seperti itu. Dia juga bingung bagaimana jika Rivai tetap tidak memberikan restu, apa dia adan Awan tetap menikah atau tidak.
Dermawan masuk kedalam rumah papan itu dan mencari keberadaan Rissa. Samar, Dermawan mendengar suara isak tangis Rissa di balik pintu kamar yang tertutup, Lalu Dermawan membuka pintu itu dan melihat Rissa yang sedang duduk menangis
"Rissa"
"Mas Awan!"
Rissa langsung bangkit dan memeluk Dermawan dengan begitu erat. Tangisnya semakin tumpah hingga gadis itu terisak isak.
"Kenapa kak Rivai jadi kasar begitu mas?" ucap Rissa namun tidak terlalu jelas terdengar karena bercampur tangisan
Dermawan mengusap punggung Rissa dan mencoba menenangkan gadis nya itu.
"Kamu yang sabar yah,, kita coba bicarakan ini sekali lagi dengan kak Rivai" ucap Dermawan
Rissa mengangkat wajahnya, matanya sembab, basah dan luka di ujung bibirnya juga masih basah
__ADS_1
"Kita obati lukamu ya" ucap Dermawan dengan lembut , Rissa mengangguk lalu mereka duduk di tepian ranjang di kamar Rissa. Kamar sangat sederhana yang pernah Dermawan lihat selama ini
"Rumahku jelek ya mas" ucap Rissa, Dermawan yang sedang membersihkan luka Rissa berhenti sebentar lalu menatap gadis itu
"Tidak masalah, yang penting tidak kepanasan dan gak kehujanan" jawab Dermawan
"Rissa malu sama mas Awan,," ucap Rissa
Dermawan menatap Rissa dengan dalam
"Aku mencintai mu,,,,"
Rissa bungkam saat Dermawan sudah menyatukan bibir mereka, Dermawan mendorong Rissa hingga gadis itu terbaring diatas tempat tidur. Keduanya sama sama hanyut meresapi rasa cinta yang semakin dalam masuk kedalam jiwa.
Rissa mengigit bibir bawahnya menahan suaranya saat Dermawan mengusak di ceruk lehernya, dan tangannya sudah bergerilya kemana mana.
"Ma,,ss Cukup,,,!"
Dermawan tersadar, pemuda itu mengangkat wajahnya dan menatap Rissa dengan wajah memerah hangat. Sungguh dia merasa di luar kendali.
"Maaf Rissa" ucap Dermawan lalu bangkit dan membenarkan pakaian Rissa yang berantakan.
"Maaf mas Khilaf" ucap Dermawan dengan menunduk, pemuda itu merasa bersalah
"Tunggulah sebentar lagi mas,, semua akan menjadi milikmu" ucap Rissa dengan menyentuh wajah Dermawan
.
.
.
.
.
.
Wehh Opa mau nyicil ya 😅
__ADS_1