Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 1


__ADS_3

Bab satuku dimulai dari sini.


Dari sebuah desa kecil dan terpencil.


Kemanapun kau pergi matamu akan melihat hutan, padi dan padang rumput yang luas.


Burung-burung yang berkicau, kupu-kupu yang berhamburan di langit adalah hal yang biasa.


Kehidupan yang sederhana dan orang-orang yang ramah. Senyum jadi sebuah kewajiban di sini.


Kalian tahu, aku merasa sangat beruntung hidup di tempat ini. Merasakan hangat cahaya matahari dan bau embun pagi yang khas.


Di tempat ini aku lahir dan bertemu orang yang spesial.


*****


Nayla (15 tahun)


Hari ini pak dokter yang dibicarakan orang sejak lama akan datang jadi semua orang sibuk, suasana desa ramai sekali.


Mereka menyiapakan upacara penyambutan yang meriah. Tari-tarian, nyanyian dan makanan-makanan khas desa jerami.


Kehadiran pak dokter itu memang sudah ditunggu-tunggu karena selama ini penduduk desa kesulitan mendapat obat jika sedang sakit.


Semua orang memenuhi jalan sepanjang perbatasan desa, anak-anak kecil berlarian dengan makanan di mulut mereka.


Tapi aku justru berada di sini.


Berbaring di tengah ladang ilalang dengan baju jerami kebesaran yang konyol.


Aku sedikit menyesal, kalau aku tidak kesal dan menumpahkan air itu ke baju lily dia tidak akan marah dan aku tidak akan kabur.


Tapi siapa yang tidak kesal kalau aku sudah menuruti permintaannya memakai baju jerami, lalu dia mengingkari janjinya dan membuat lantai ruang tamu kotor lagi.


Kasihan ibu, dia pasti lelah harus membersihkan lantai itu lagi dan aku malah lari ke sini, bukan membantunya.


Aku memejamkan mataku, menikmati angin yang bertiup dan bunyi gesekan ilalang di telingaku.


Musik dari alam.


"Haloo...."


Aku terbangun, membuka mataku dengan cepat dan terduduk memandangi seorang anak lelaki di depanku.


  "Siapa kamu?" tanyaku panik, memandangi sekeliling. Dia datang dari mana?


  "Gue Admiral, anak dokter Rangga" dia mengulurkan tangannya yang putih padaku dengan senyum yang masih mengembang dengan manis.


Aku menyambutnya ragu-ragu.

__ADS_1


  "Aku nayla, panggil aja nay"


Kami saling tersenyum selama beberapa saat, anak lelaki itu punya mata yang indah dan wajah yang manis, dia pasti jadi anak lelaki paling tampan di desa ini. Apa aku beruntung bisa bersalaman dengannya.


Tiba-tiba dia tertawa keras sampai kedua matanya tertutup.


  "Ada apa?" tanyaku heran. Apa yang ditertawakannya?


  "Loe lucu"


  "Lucu?"


  "Itu bajumu" dia menunjuk baju jeramiku, membuatku malu padanya.


  "Oh, ini namanya baju jerami, biasanya dipakai waktu upacara panen" aku menjelaskannya untuk menutupi rasa maluku.


  "Tapi ini bukan musim panen, kenapa loe pake?" dia berhenti tertawa dan duduk bersila, tampak antusias dengan ceritaku.


  "Itu, aku disuruh lily"


  "Siapa lily?"


  "Anak pemimpin desa, majikanku"


Anak lelaki itu mengangguk-angguk lucu.


  "Kenapa dia nyuruh loe pakai baju jerami?"


  "Itu berarti dia anak yang nggak baik"


Aku tertawa mendengarnya.


  "Bagaimana kau bisa sampai ke tempat ini?" aku bertanya penasaran. Tempat ini agak jauh dari desa, apa dia tersesat atau memang sedang jalan-jalan. Lalu bagaimana dengan upacara penyambutannya?


  "Gue lagi kabur"


  "Ha?"


  "Sebenernya gue nggak mau ikut pindah kesini, di sini gue nggak bisa main PS kayak di kota, nggak bisa ke kafe, nggak bisa ke mall, atau main gitar dan drum. ini tempat asing yang jauh berbeda dari tempat gue sebelumnya."


  "Kamu pasti akan kena marah ibumu"


  "Gue bilang mau pergi sebentar, dia udah dikerumuni para penduduk jadi gue kabur dengan mudah."


Tampak senyum bangga di wajahnya.


  "Tempat ini tidak seburuk pemikiranmu kok" aku berkata dengan bangga pula.


  "Kau akan kagum dan betah berada di sini dalam seminggu...." tambahku, menunjukan 7 jariku padanya

__ADS_1


  "Caranya?"


  "Aku akan membuatmu suka pada tempat ini, ada banyak tempat ajaib di sini"


  "Apa seperti harry potter?"


Apa itu, helikopter?


  "Benda yang terbang itu?" aku balik bertanya...


Dia tertawa kencang sekali.


  "Itu helikopter, apa loe nggak tahu film terkenal harry potter" dia menekankan kata harry potter dengan jelas."


Aku menggeleng, mana aku tahu, tidak ada TV di sini.


  "Harry potter itu film yang luar biasa keren, tentang seorang anak yang bersekolah di sekolah sihir."


Dia menggerakan tangannya, berputar-putar lalu


  "Winggardium leviosa.." aku mengerjap karena dia meniup wajahku.


Dia konyol sekali.


  "Loe sekolah?"


  "Tentu saja" jawabku keras, rasanya dia agak menghinaku.


  "Okay, loe kayaknya nggak menyukai pertanyaan itu. Jadi di sini ada sekolah?"


  "Tentu saja, anak-anak di sini belajar dengan rajin. Belajar di desa seperti ini mengajarimu mencintai alam, kau pasti tidak mengerti"


  "Kayaknya loe salah paham"


Apa aku membuatnya tersinggung? Tapi dia tadi bilang tempat ini jauh berbeda dengan tempatnya seakan tempat ini sangat buruk.


  "Maaf..." kataku menyesal


  "Gue suka tempat ini, karena udaranya bersih dan orang-orang sangat ramah. Tapi pergi ke tempat yang sama sekali berbeda dari rumahmu secara tiba-tiba itu pasti memberi dampak yang besar dan gue nggak yakin bisa langsung melupakan kehidupan gue di kota sana. Loe tahu maksudnya kan..."


Ya, dia benar. Dia pasti masih lebih suka tempat tinggalnya dulu. Kalau aku berada di posisinya aku pasti juga merasa begitu. Dan lagi, dia pasti takut kulitnya yang bersih itu jadi coklat sepertiku, dekil, jelek, bau.


Aku mengeryit mengingat penampilanku sendiri.


  "Ya ampun, aku harus pulang sekarang" terlalu asyik mengobrol dengan anak lelaki itu membuatku mengabaikan cahaya matahari yang mulai meredup. Aku berjalan tergesa menerobos ilalang.


  "Tunggu, gur ikut"


Kami berlari tergesa menerobos tingginya ilalang.

__ADS_1


  "Aku pergi dulu ya, kamu ikuti saja jalan itu supaya lebih cepat sampai ke rumahmu, nanti kalau kamu bingung kamu bisa tanya orang-orang. Aku tidak bisa mengantarmu...." kataku setibanya di tepi ladang ilalang lalu berlari secepat mungkin menuju rumah.


__ADS_2