
Hari ini semua tidak berjalan lancar. Aku berniat mengajak Nayla pergi makan malam supaya kami bisa berduaan dan lebih banyak ngobrol. Tapi di luar dugaan aku jadi gugup dadakan. Seumur hidup aku tidak pernah merasa seperti ini. Aku jadi bertindak menyebalkan dengan terus diam. Ditambah tiba-tiba Tasya datang. Aku lupa kalau dia sering pergi ke kafe ini. Dia terus mengoceh dan membuatku tidak bisa bicara dengan Nayla. Aku tadi hanya sempat mengatakan padanya untuk makan yang banyak.
Aku merasa bersalah sekali karena dia terabaikan, begitu pun saat aku harus mengantar Tasya pulang. Nayla harus duduk di kursi belakang karena Tasya sudah duduk lebih dulu di depan.
Tapi bagaimanapun juga aku memang mencemaskan Tasya. Beberapa hari ini kami tidak bertemu karena aku memang sengaja menghindarinya.
Aku mengantarkan Tasya sampai ke depan pintu apartmennya, bukan berlebihan, ini hanya karena kebiasaan.
"Langsung tidur, besok loe kuliah kan"
Tasya mengangguk "thanks" dia tersenyum, tiba-tiba mengecup pipiku sebelum masuk ke dalam apartmennya.
Selama beberapa detik aku termenung di sana. Lalu berjalan kembali dengan perasaan tidak karuan. Bukan, aku bukan senang. Aku merasa semakin bersalah pada Nayla.
Sesampainya di tempat parkir, kulihat Nayla sudah jatuh tertidur di kursi belakang. Aku membuka pintu belakang dan masuk membetulkan posisinya dan memakaikan sabuk pengaman. Tenyata dari tadi dia tidak memakai sabuk pengamannya. Seperti sebelumnya, Nayla sama sekali tidak terbangun. Aku merapikan rambutnya yang berantakan.
"Maafin gue ya Nay"
Seandainya gue bisa minta maaf secara langsung.
Aku mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya sekilas. Tiba-tiba...
Mata Nayla terbuka.
******
Hal pertama yang kulihat saat membuka mata adalah wajah Miral yang begitu dekat, aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya. Apa ini mimpi? Ini pasti mimpi. Wajah miral makin mendekat dan seperti bertahun-tahun lalu, jantungku berdebar begitu bibir kami bersentuhan. Aku hanya terdiam, memejamkan mataku dan menikmati perasaan ini. Walaupun hanya mimpi aku ingin merasakannya. Tanpa kusadari aku membalas ciuman itu. Tanganku tanpa sadar menyentuh wajahnya. Entah berapa lama, Miral melepas ciumannya. Nafasnya tidak teratur sama sepertiku. Dia memandangku dan mengatakan "gue minta maaf, gue cinta sama loe Nay"
Bukankah mimpi ini terlalu indah.
Aku tersenyum, "saya juga" jawabku. Kami berciuman lagi.
Kuharap aku tidak segera bangun. Biarkan aku menikmati mimpi ini.
Miral mencium keningku. Lalu keluar dari mobil dan pindah ke kursi depan.
"Kita pulang sekarang. Mama bisa marah kalau loe pulang malem-malem"
Eh, pulang? Bukannya ini mimpi?
"Miral?" aku memanggilnya. Ingin bertanya apakah ini bukan mimpi. Tapi sebelum dia menjawab, pikiranku telah sadar sepenuhnya.
Apa yang baru saja kulakukan? Rasanya aku ingin sembunyi di mana saja asal tidak berdekatan dengan Miral.
"Nay, loe nggak papa?"
"Nggak, kita pulang sekarang" kataku gugup.
Sesampainya di rumah, aku langsung naik ke kamarku setelah menyapa Bu Nia dan Pak Rangga. Aku terlalu malu untuk bicara panjang lebar, bagaimana kalau mereka tahu aku berciuman dengan anaknya.
Aku masuk ke dalam kamar, menguncinya dan segera menutup tubuhku dengan selimut. Suara ketukan di pintu membuatku terkejut.
__ADS_1
"Nayla? Loe tidur?"
Miral, aku tidak menjawab, tidak mau juga membuka pintu.
Mungkin dia mengira aku benar-benar tidur karena suara langkah kakinya menjauh.
Aku berharap pagi segera tiba.
Pagi harinya, setelah sarapan aku buru-buru keluar untuk menemui pak Raden. Sengaja untuk menghindari Miral. Tapi sebelum aku sampai pintu. Miral sudah memanggilku.
"Nay, loe bareng sama gue aja"
Aku tidak bisa menolak karena kami memang satu kampus kan.
"Loe nggak papa, semalem loe langsung tidur waktu sampai rumah" tanya Miral sambil menyetir.
"Nggak papa, saya cuma capek aja"
"Mau gue beliin vitamin?"
"Nggak usah, abis tidur udah sehat lagi kok"
Miral mengangguk. Aku begitu malu untuk menatap wajahnya. Apa yang dia pikirkan tentangku saat aku membalas ciumannya, apa aku terlihat murahan? Bagaimana ini. Aku tidak sanggup menghadapi kenyataan ini.
"Nay, loe kenapa sih?"
"Eh apa?"
"Nggak, ini. Gatel aja"
Miral berdecak, tangannya tiba-tiba terulur. Merapikan rambutku yang berantakan.
Sesampainya di kampus, aku turun lebih dulu. Miral menyusul...
"Al..." entah dari mana datangnya, Tasya sudah berlari dan merangkul Miral dengan akrab.
"Sarapan yuk" ucap Tasya, menggelayut dengan manja. Miral menatapku, dia terlihat risih. Apa dia berharap aku pergi. Aku pun menjauh, sadar diri kalau hanya jadi penganggu. Entah kenapa rasanya aku sangat sedih.
Aku berjalan cepat-cepat menuju kelas, menarik nafas berulang kali. Sesak....
"Eh...eh.. Nay. Loe kenapa? Nyari dompet ilang?"
"Hah..." tiba-tiba mas Adrian berdiri di depanku, membuatku berhenti.
"Apa mas?"
"Dari tadi loe jalan sambil ngeliatin bawah. Emangnya dompet loe ilang"
Aku tertawa. Malu. "Enggak mas, itu, lagi..."
"Sarapan yuk"
__ADS_1
"Saya udah sarapan mas"
"Ya udah temenin gue sarapan, si Miral kayaknya lagi sibuk sama Tasya. Sebel banget gue kalau ada tu cewek."
Eh, sebel? Mas Adrian nggak suka sama cewek secantik Tasya?
"Kenapa mas?"
"Nempel mulu sama Miral, padahal dia udah punya pacar. Dan yang paling nyebelin dia selalu ngelarang Miral traktir gue"
Oh, jadi Tasya sudah punya pacar.
Akhirnya di sinilah aku. Menemani mas Adrian sarapan di kantin. Satu hal yang kutahu dari mas Adrian, dia itu bisa makan apa saja. Nggak nolak kalau dikasih makanan apapun. Katanya, ini rejeki nggak boleh ditolak, belum tentu orang lain bisa menikmatinya.
Pikirannya sederhana tapi dalam.
"Loe serius nggak mau makan lagi. Jangan sampai ngiler liatin gue"
"Nggak lah mas, udah kenyang"
"Oke, awas ya kalau loe minta"
tak jauh dari kami. Miral dan Tasya sedang makan bersama, walaupun bisa dibilang Miral hanya memainkan sendoknya dan sesekali melihat ke arah kami tanpa ekspresi. Apa dia kesal ya? Nggak mungkin lah.
"Nay, cobain.. Sumpah loe bakal ketagihan"
"Hah" aku terkejut, tiba-tiba mas Adrian menyodorkan sesendok penuh nasi ke depan mukutku. Aku menolak.
"Enggak ah mas, saya udah kenyang"
"Ayo donk...udah gue bikin suapan spesial nih" karena tidak mau berlama-lama dan takut ada yang melihat akhirnya aku membuka mulutku dan memakannya.
"Nah, gitu donk. Enak kan, mau nambah?"
Aku menggeleng, "nggak mas, cukup"
"Eh, sorry..."
Aku tidak sempat menghindar ketika mas Adrian mengusap tepi bibirku.
Brak....
"Gue mau ngomong sama loe" entah sejak kapan tiba-tiba Miral sudah berdiri di dekat kami.
"Ngomong apa, di sini aja. Gue masih sarapan" Mas adrian menanggapi dengan santai sambil melanjutkan acara makannya. Sama sekali tak terpengaruh dengan wajah Miral yang jelas-jelas sedang serius.
"Nggak bisa, gue tunggu di tempat biasa" setelah itu Miral berbalik dan pergi. Ia kembali ke tempat Tasya. Kelihatannya mereka berbicara sejenak lalu Miral pergi entah kemana.
"Kebiasaan tu anak..." mas Adrian menggelengkan kepala singkat.
"Gue pergi dulu ya Nay, bisa gaswat kalau dia ngamuk ke gue"
__ADS_1