Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 12 : 7 tahun kemudian


__ADS_3

Aku menelungkupkan kepalaku di meja, mengetuk-ngetukan jariku pelan. Di ruangan ini suara sepelan apapun menggema cukup keras. Ruangan yang jadi rumah keduaku selama 3 tahun terakhir. Aku lebih sering menghabiskan waktu di sini dari pada di rumah.


Ruangan ini dipenuhi kertas, kanvas, dan aroma cat yang bercampur. Di tepi jendela ada sebuah sofa dan rak buku, aku biasanya tertidur di sana sampai pagi.


  "Miral? Loe di dalam kan?" aku mengangkat kepala malas, mengamati pintu yang diketuk tanpa niat untuk berdiri dan membukanya.


  "Buka dong, gue bawa ayam goreng faforit loe"


Dengan langkah gontai aku akhirnya berjalan membuka pintu. Di depan, Tasya tersenyum lebar sambil mengangkat 2 kantong kresek berisi air mineral dan ayam goreng. Aku membuka pintu lebih lebar, mempersilahkannya masuk.


  "Ya ampun, ini ruangan udah kayak kapal pecah" Tasya mengomel sambil menaruh bawaanya di atas meja tempatku tidur tadi, lalu membuka tirai lebar-lebar supaya cahaya matahari bisa masuk.


  "Gue ragu, loe itu sebenernya masih hidup apa nggak sih, nggak ada kabar sama sekali, hp juga nggak bisa dihubungi" dia pergi ke dapur, membawa piring dan menyiapkan ayam goreng di atas piring. Aku hanya duduk di kursi mengamatinya bergerak.


  "Miral? Loe sehat kan?" tanyanya setelah duduk di hadapanku.


  "Hem" aku hanya mengangguk, mengambil ayam goreng itu, menggigitnya. Sejujurnya aku memang kelaparan.


  "Trus kenapa nggak ada kabar? Dosen nanyain terus tuh. Udah seminggu loe nggak masuk kuliah tanpa kabar apapun" dia menekan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


  "Loe juga nggak jawab telepon dari orangtua loe, padahal hari ini mereka pulang kan. Udah 7 tahun lho mereka di sana" kali ini Tasya bicara lebih hati-hati.


"Mau gue temenin jemput mereka?"


  "Nggak"


  "Okay, lagian gue nggak mau kena marah" aku meliriknya sekilas, maksudnya? Ah, bodo amat...


Hari ini mama dan papa memang akan pulang. Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mereka. Kami biasanya hanya berbicara melaui telepon, itupun tidak setiap hari karena di sana sinyal tidak selalu lancar.


  "O iya, ada lomba lagi nih di kampus. Mau ikutan? hadiahnya lumayan lho"


  "Nggak, gue lagi males" kutinggalkan ayam gorengku yang tinggal separuh. Pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.


  "Loe mau ke mana?"


  "Ada urusan penting"


  "Habisin dulu dong ayamnya"


  "Udah kenyang" kusambar jaket dan dompet lalu pergi keluar lebih dulu. Tasya sudah sering datang ke apartmenku jadi dia bisa keluar sendiri. Sampai sekarang pun aku masih sangat mencintainya. Padahal sudah jelas dia menolakku. Dia itu sudah bertunangan dan akan segera menikah. Memang, aku orang bodoh.

__ADS_1


Masih 2 jam lagi sebelum kapalnya tiba. Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi menuju rumah. Rumah yang sangat jarang kutinggali. Sejak 3 tahun lalu aku lebih memilih tinggal di apartemen karena merasa lebih nyaman di sana. Masalahnya selama itu pula aku  lupa mengecek kondisi rumah, mungkin sekarang rumah itu sudah seperti rumah hantu. Aku bisa diamuk kalau mama tahu rumah yang selalu dirawatnya itu penuh sarang laba-laba dan debu.


Tapi saat aku tiba di depan gerbang, seorang lelaki tiba-tiba berlari lalu membuka gerbangnya.


Bukannya itu pak raden. Kupikir aku sudah memecatnya.


  "Lho, pak raden kok ada di sini?"


Pak raden malah tersenyum lebar, "he..he.. Itu mas, saya dipanggil buat kerja di sini lagi"


  "Siapa yang manggil"


  "Nyonya"


  "Mama kan belum pulang"


  "Udah kok mas, kemarin"


Kurasa aku melewatkan sesuatu,


  "Ini tanggal berapa pak?"


  "Tanggal 26 mas"


Aku menaruh mobilku di depan rumah, menarik nafas sejenak dan berjalan menuju pintu. Apa sebaiknya aku menekan bel? Pintunya tidak dikunci jadi aku langsung mendorongnya. Ruang tamu tampak kosong, tapi bersih dan rapi.


"Ma?" aku berteriak. Tidak ada tanda-tanda keberadaan mama. Di kamarnya pun juga tidak ada. Apa mereka benar-benar sudah pulang. Aku tidak salah masuk rumah kan....


Aku mengusap wajah, mengusir kantuk yang tidak mau hilang. Sudah seminggu ini aku begadang terus karena berusaha menyelesaikan lukisan yang dipesan klienku.


Entah apa reaksi mama kalau melihat penampilanku yang berantakan ini, ditambah lingkaran hitam di bawah mataku. Mungkin aku bisa lolos casting film horor....


Apa sebaiknya aku tidur sambil menunggu mama pulang? Aku sudah melangkah ke kamarku saat kulihat sekelabat bayangan di balik jendela samping rumah. Karena penasaran aku pun berniat mengeceknya. Kelihatannya seorang wanita.


Aku berjalan membuka pintu menuju samping rumah. Hanya berdiri di sana sambil memandang seseorang yang sedang sibuk menyiram tanaman itu. Apa mama punya pembantu baru? Bagaimana dengan bik narmi? Awalnya aku tidak begitu peduli karena aku tidak melihat wajahnya, tapi gadis itu kemudian berbalik, mungkin ia terlalu sibuk dengan kegiatannya sampai tak menyadari kehadiranku. Wajahnya yang polos tampak senang, ia beberapa kali tersenyum sendiri sambil memainkan air yang dipegangnya.


Kenapa wajah itu terlihat tidak asing.


"Miral?"


Aku belum menjawab, mama sudah menabrakku dan menghujaniku dan ciuman dan pelukan hangat.

__ADS_1


"Ya ampun,mama sampai nggak kenal. Kamu udah gede banget, papa sampai kalah tinggi" ucap mama sampail mencermati wajahku. Sebuah senyum bahagia terukir diwajahnya bersamaan dengan airmata. Aku tahu mama sangat merindukanku.


"Mama apa kabar?" tanyaku sambil mencium pipinya.


"Mama sehat, kamu gimana? Kata Tasya kamu bolos kuliah seminggu ini dan lagi kamu lupa nggak jemput mama sama papa"


"Maaf ya ma, miral sibuk banget minggu jni, miral kira ini masih tanggal 25"


"Kebiasaaan, sana temui papa kamu, dia ada di ruang tamu"


Aku mengangguk, sekali lagi mencium pipi mama.


"Oh, iya ma, itu di luar siapa?"


"Lho, kamu lupa?"


Lupa? Apa aku memang mengenal gadis itu?


"Siapa nih ma?"


Tiba-tiba papa datang, dan apa yang ditanyakannnya tadi?


"Pa, jangan mulai. Masa lupa sama anak sendiri"


Papa memandangku dari atas sampai bawah, seolah sedang mengingat siapa aku sebenarnya. Aku tahu dia hanya bercanda.


Lalu sambil tersenyum lebar dia merentangkan tangannya, aku tersenyum dan menghampiri papa, memeluknya.


"Papa, apa kabar?"


"Sehat, mau minum kopi bareng?"


"Hem.. Nanti aja ya pa, miral ngantuk"


"Kamu begadang?"


"Iya, urusan kerja"


"Ya udah kamu tidur aja, nanti mama bangunin pas makan malam" kata mama.


"Oke ma" aku mengacungkan jempolku.

__ADS_1


Waktunya tidur siang.


__ADS_2