Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 34


__ADS_3

Adrian pov


Aku berjalan ke belakang kampus dengan santai, sesekali menyapa para adik kelas sambil tersenyum ramah. Padahal aku belum selesai sarapan tapi si semir itu seenaknya menggebrak meja dan menyuruhku menemuinya segera.


Sudah berapa tahun kami berteman? Cukup lama kurasa. Pertama aku bertemu dengan Miral dia mewarnai rambutnya dengan warna merah. Aku tertawa begitu melihatnya karena hal itu dilarang saat ospek. Tapi meski sudah dihukum dia tetap datang ke kampus dengan penampilan yang sama. Itulah yang membuatku tertarik untuk berteman dengannya. Tapi ternyata Miral bukan sosok anak bandel seperti yang kupikir, dia lebih pendiam dan misterius. Saat aku menyapanya di hari terakhir ospek dia hanya melirikku tanpa menjawab. Benar-benar sombong.... Tapi kemudian kami dekat karena sekelas dan dia tidak punya teman yang mau berada di sampingnya terus selain aku. Padahal seluruh kampus mengenalnya. Dia tampan, dia kaya, pintar. Dan yang tidak kuduga dia jago berkelahi.


Belakang kampus jadi tempat biasa kami bertemu. Karena Miral tidak suka keramaian ia akan membahas hal serius di sini. Jadi hal serius apa yang mau dia katakan sampai mengganggu sarapanku.


"Yaelah, padahal gue belom kelar makan" aku ikut duduk menyadarkan punggungku ke kursi kayu.


"Jangan bilang, loe mau nyemir rambut lagi"


Masih tidak ada jawaban. Kadang aku kesal kalau dia tidak segera menjawab. Tapi karena sudah terbiasa, aku hanya menunggunya sambil diam.


"Sorry"


"Ntar loe wajib traktir gue pas makan siang"


"Oke"


"Loe mau ngomong apa?"


Miral diam lagi.


"Gue sama Nayla udah jadian"


Aku terdiam sejenak. Sudah kuduga.


"Gue tahu"


Kali ini Miral menoleh padaku.


"Jangan tanya gue tahu dari mana, yang pasti bukan dari Nayla"


Aku menghembuskan nafas panjang.


"Nggak usah khawatir gue nggak marah. Aku menepuk bahunya, " tapi kalau loe sampai nyakitin Nayla siap-siap karena gue bakal rebut dia" aku tertawa lalu bangkit dan berjalan pergi "gue pergi dulu ada urusan sama adik kelas"


Sudah kuduga. Aku mengepalkan tangan sekuat tenaga. Meski sudah menebak apa yang akan dikatakan Miral, tapi sejujurnya aku berharap tebakanku salah.


"Sial, gue kudu ngalah lagi" aku tersenyum getir. Aku tidak membenci Miral karena masalah ini, hanya saja aku kadang muak harus terus mengalah darinya. Dulu juga sering seperti ini.


"Aw..aw.. Iya pak, saya nggak bakal ngulangin lagi"

__ADS_1


Aku menoleh, pak Bob, salah satu dosen paling horor di kampus ini sedang menjewer anak cewek. Kayaknya gue kenal tuh muka...


Aku menghampiri mereka berdua.


"Awas ya kamu, kali ini saya maafin. Tapi kalau kamu ketahuan tidur lagi. saya hukum kamu ngepel seluruh kampus"


"Kejam banget pak, saya kan di sini kuliah bukan kerja"


"Ya justru itu. Kamu kuliah kok malah tidur"


"Permisi pak" aku tersenyum ramah. Bisa dibilang hubunganku dengan pak Bob cukup baik karena aku beberapa kali membantunya.


"Eh Adrian, kamu ngapain keluyuran di sini? Harusnya jam segini kamu ada di kelas. Kamu mau nyontohin yang buruk sama adik kelas" mungkin dia lupa soal hubungan baik kami.


"Eh, ada urusan bentar pak"


"Kalian berdua cepat masuk kelas, atau mau saya hukum ngepel seluruh kampus"


Lalu pak Bob masuk ke ruangannya. Meninggalkan kami dengan nafas lega.


"Loe temennya Nayla yang suka molor kan"


Tuh cewek menyipitkan mata menatapku "nggak kenal" lalu melengos pergi begitu saja.


Nayla pov


"Permisi pak" Riana berdiri di pintu kelas. Tadi pagi dia pamit padaku karena dipanggil ke ruangan pak Bob.


"Masuk" untung dosen hari ini sabar. Riana berjalan ke bangkunya, di sebelahku sambil menutup mulutnya yang menguap. Dasar, anak ini nggak ada kapoknya.


"Gimana?" aku bertanya cemas. Masalahnya sudah 3 kali ini Riana dipanggil ke ruangan pak Bob.


"Biasa" dia membuat senyum lebar dibuat-buat.


"Yang bener?"


"Gue cuma dijewer, tapi kalau gue sampai tidur lagi katanya gua bakal disuruh ngepel seluruh kampus, gila tu dosen" Riana menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tindakanya tidak salah dan pak BoB lah yang berlebihan.


"Jangan tidur lagi!" aku memperingatkanya yang sudah bersiap meletakan kepala di meja. Aku heran kenapa Riana suka sekali tidur. Tidak hanya di kelas tapi saat aku mengajaknya ke perpustakaan atau ke manapun, dia lebih suka tidur. Apa dia tidak tidur semalaman.


"Gue ngantuk Nay. Lagian mumpung yang nunggu baik hati dan tidak sombong" menghiraukan ucapanku, Riana sudah memejamkan matanya. Aku hanya menghela nafas pasrah. Untungnya meski suka tidur di kelas, nilainya tidak menurun.


****

__ADS_1


Aku dan Riana memilih duduk di meja paling pojok supaya bisa makan lebih tenang. Karena setelah menghabiskan makananya, Riana pun akan tidur lagi dan aku akan belajar.


Ketika kami sedang menikmati makanan kami tiba-tiba Mas adrian duduk di samping Riana, di depanku dan seseorang duduk di sampingku. Yang ternyata adalah Miral.


"Hay Nay" Miral berkata pelan.


Aku tersenyum menanggapinya.


"Khem...khem..... Nggak usah kedeketan juga duduknya" mas Adrian melirik kami, membuat aku jadi salah tingkah.


"Nanti pulang bareng gue aja"katanya nggak peduli dengan perkataan mas Adrian.


"Eh, iya mas"


"Mas?"


"Kenapa?"


"Kok loe manggil gue mas lagi?"


Oh, ya, kemarin aku memanggilnya tanpa embel-embel mas"


"Iya, Miral" ulangku dengan kikuk.


"Eh, loe cewek yang tadi pagi dijewer pak Bob kan" tiba-tiba mas Adrian berkata sambil mengamati wajah Riana yang sedang makan. Sementara Riana hanya meliriknya sekilas.


"Iya, emang kenapa?" jawab Riana.


"Ini temen loe Nay?"


"Iya Mas, namanya Riana"


Riana baru saja menyelesaikan makannya.


"Nay, gue duluan ya" katanya lalu berlalu pergi.


"Tuh cewek ada masalah apa sih?" gumam mas Adrian.


"Habis ini mau ke mana?" miral bertanya.


"Ke toilet"


"Bukan loe. Tapi Nayla"

__ADS_1


Mas Adrian tertawa.


__ADS_2