Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 18 : Apa kita saling kenal?


__ADS_3

Ketika usiaku 10 tahun aku terkejut sampai tidak bisa berkata-kata saat mendapati ibu tertidur di sampingku, dengan posisi duduk dan kepalanya bersandar di ranjang. Waktu itu aku sedang sakit parah.


Dan pagi ini aku seperti mengulang kejadian itu. Untuk sesaat aku mengira itu benar-benar ibu namun saat pandanganku makin jelas, aku sadar itu bukan ibu tapi Miral.


Aku hampir saja menjerit. Bagaimana dia bisa ada di situ? Bukannya kemarin dia pulang ke apartmennnya....


Dan kenapa dia malah tidur di situ? Kenapa dia tidak menendangku kalau dia tahu aku tidur di kamarnya?


Duh... Bagaimana ini, aku harus cepat-cepat kabur.


Tapi tunggu...


Aku memperhatikan Miral lebih dekat, kenapa dia berkeringat? Ragu-ragu aku menyentuh dahinya. Ya ampun.. Dia demam.


Mengetahui kondisi Miral yang sebenarnya, aku bergegas turun dari ranjang dan mencari pak Rangga, tapi rumah tampak sangat sepi. Aku pergi keluar dan melihat Pak Raden sedang asyik bernyanyi sambil menggosok sepatunya.


"Pak Raden, pak Rangga ke mana ya?"


Pak Raden yang mendengar panggilanku langsung menoleh.


"Eh, neng Nayla, ada apa nyariin pak Rangga? Tuan sama nyonya udah berangkat ke rumah sakit dari tadi pagi. Katanya ada jadwal operasi"


"Itu pak, Miral.. Demam"


"Hah, mas Miral? Demam, aduh.. Coba cariin bik Narmi, apa kita bawa ke rumah sakit aja" pak Raden malah tampak lebih bingung dari aku, dia bahkan mondar mandir hanya dengan satu sepatu sambil berteriak mencari bik Narmi.


"Ada apa sih, pagi-pagi rame banget" Bik Narmi kelaur dari kamar mandi.


"Itu bik, Miral badannya panas banget, kayaknya dia demam"


"Waduh, bentar, bibik cariin obat demam dulu, kayaknya ada di kotak" Bik Narmi menghilang ke dapur.


"Pak, tolong pindahin Miral ke ranjang, soalnya dia tadi tidur di lantai."


"Iya--iya neng, tapi itu, mas Miral kan nggak suka ada orang lain masuk kamarnya"


"Nggak papa pak, nanti biar saya yang bilang"


Padahal aku sendiri takut, tapi sekarang kondisinya darurat. Aku pergi ke dapur juga, mengambil baskom dan air dingin dari kulkas.

__ADS_1


"Udah ketemu obatnya bik?"


"Udah neng"


Setelah memindahkan Miral ke atas ranjang, aku menyuruh bik Narmi dan Pak Raden keluar. Aku tahu nereka takut masuk kamar ini. Sejak tadi mereka menjaga jarak dari Miral. Aku jadi penasaran, memangnya seperti apa kalau Miral sedang benar-benar marah, sampai tidak ada yang berani melanggar aturannya soal kamar ini. Apakah lebih mengerikan dari pukulan gayung itu?


"Jagain mas Miral ya neng, kalau butuh apa-apa bilang aja sama bibik"


"Iya bik" aku kembali ke samping Miral, mengompresnya dengan air dingin. Wajahnya tampak pucat sekali. Untungnya obat yang diberikan bibik berbentuk sirup, jadi tidak susah memberikannya pada Miral saat ia tidak sadar.


Kelihatannya demamnya sudah mulai turun, aku mengganti kompresnya setiap 15 menit sekali. Sambil menunggunya bangun aku duduk di samping ranjang seperti yang dilakukannya pagi tadi.


"Kamu beneran lupa?" ucapku lirih, tanganku bergerak menyentuh jemarinya.


"Padahal kamu kasih kenang-kenangan yang nggak mungkin bisa dilupakan, tapi kamu sendiri lupa, nggak adil"


Walaupun dia tidak mendengar, setidaknya aku sudah mengucapkan sesuatu padanya.


"Cepat sembuh"


****


Aku mengambil baskom untuk mengganti airnya. Jam di dinding sudah menunjukan pukul 11 pagi. Sebentar lagi waktunya makan siang, Miral harus makan kan. Tapi bagaimana caraku membangunkannya?


Apa dia tidak akan melukaiku? Sejujurnya pukulan gayung itu masih membuatku trauma, sampai sekarang dahiku masih lebam, aku hanya menutupinya dengan poni supaya tidak ada yang tahu.


Setelah mengganti air aku pergi lagi ke kamar Miral. Dan betapa terkejutnya aku saat melihatnya sudah bangun. Aku tidak berani melangkah ke dalam, hanya berdiri di ambang pintu sambil menelan ludah, takut.


"Jam berapa?" tanyanya dambil memijit kening.


"Jam 11" jawabku cepat. Apa sebaiknya aku mundur saja, toh dia sudah bangun. Aku bergerak secara perlahan, mundur mundur dan berniat turun ke bawah. Tapi saat aku berbalik,


"Makasih"


Apa aku tidak salah dengar? Aku menoleh ke dalam kamarnya.


"Makasih" katanya lagi.


"Eh, sama-sama, saya akan masak bubur untuk makan sinag" kataku terbata-bata.

__ADS_1


Rasanya aku masih tidak percaya mendengar ucapan trimakasihnya. Beberapa detik yang terasa normal. Maksudku, aku seperti bertemu Miral yang dulu. Entah mengapa aku jadi senyum-senyum sendiri....


Aku melangkah ke dapur dengan semangat, bahkan membuat bubur sambil bersenandung ringan.


"Neng? Mas Miral gimana?" bik Narmi tiba-tiba mengagetkanku dengan muncul secara mendadak tepat di samping wajahku.


"Bik Narmi bikin kaget" aku mengusap dadaku" Miral nggak papa kok bik, udah sadar. Ini aku lagi bikin bubur buat makan siangnya"


"Syukur deh, tapi... Apa perlu telpon nyonya ya?"


"Lho, jadi dari tadi belum kasih kabar Bu nia?"


"Belom neng, soalnya dari dulu mas Miral nggak suka bikin khawatir nyonya sama Tuan, kalau dia demam dadakan kayak sekarang pasti minta tolong supaya merahasiakannya"


Aku sedikit terkejut dengan informasi itu. Apa Miral sering sakit sejak dulu?


"Gitu ya bik, Ya udah jangan bilang dulu deh, nanti Miralnya ngamuk. Lagipula dia udah sadar"


Dulu Miral pernah bilang kalau dia hobi olahraga, dia juga selalu lari pagi setiap hari, bahkan pernah mau terjun dari air terjun jadi aku melihatnya sebagai sosok yang kuat dan sehat. Tapi kalau mendengar ceritanya bik Narmi, Miral lumayan sering sakit.


Aku menarik nafas sebelum memasuki kamar Miral, pintunya masih terbuka jadi aku hanya mengetuknya sekali dan melongokkan kepalaku ke dalam.


"Mau makan sekarang?" aku tidak berani mendekatinya. Jarak 5 meter kupikir masih aman.


Miral melirikku dan bubur panas yang kubawa lalu kepalanya mengangguk ringan.


Aku menyodorkan nampan itu kepadanya. Kuamati wajahnya yang masih pucat, tangannya bergetar saat mengambil nampan dariku dan meletakannya di pangkuannya.


"Mau dibantu?" aku berkata.


Lagi-lagi dia malah metapku dengan tajam.


"Emm... maksud saya, kayaknya kamu masih sakit, saya bisa bantu menyuapai" karena takut padanya, aku bahkan bicara padanya dengan bahasa yang cukup formal.


Di luar dugaanku dia ternyata mengangguk. Aku buru-buru mengambil mangkok buburnya, meniupnya juga sebelum menyodorkan sendok ke depan mulutnya. Tidak ada percakapan apapun di antara kami. Miral hanya diam dan sesekali menatapku tajam. Kenapa dengan matanya itu, aku takut melihat tatapannya yang seperti itu. Seakan-akan dia mau aku lenyap dari pandangannnya.


"Apa kita... Saling kenal?"


Pertayaan itu membuatku berhenti meniupi bubur. Aku tidak tahu harus menjawab ala, tapi aku lebih tidak tahu kenapa dia menayakan hal itu. Apa yang sebenarnya terjadi selama 7 tahun ini? Rasanya tidak masuk akal kalau dia lupa padaku seperti ini.

__ADS_1


"Mungkin..." jawabku lirih.


__ADS_2