Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 35


__ADS_3

35


Miral pov


Di sana, aku sedang berjalan bersama Nayla. Menikmati matahari terbenam sambil bergandengan tangan di tengah ladang ilalang. Kami bertatapan dan saling tersenyum.


Tiba-tiba sebuah suara berbisik di telingaku.


Miral....


Aku menoleh ke belakang. Tasya sedang berdiri membawa pisau, sekujur tubuhnya merah dengan darah. Aku terpaku di tempatku. Gerimis berjatuhan dan petir bersahutan. Nayla berada di sampingku, menangis.


"Miral?"


Aku membuka mata.


"Kamu nggak papa?"


"Gue ketiduran?"


"Maaf saya bangunin kamu. Kamu kelihatan nggak tenang dalam tidur"


Aku menatap sekelilingku. Ruang perpustakaan. Kepalaku terasa berdenyut.


"Kamu sakit?"


"Nggak, cuma mimpi buruk"


Kami pergi ke perpustakaan kota setelah pulang dari kampus. Dan aku tertidur karena semalam tidak bisa tidur.


"Jam berapa sekarang?"


"Jam 5 sore, mau pulang sekarang? Biar saya beresin buku dulu" Nayla bergegas mengumpulkan buku-bukunya. Selang beberapa menit dia kembali duduk di sampingku.


"Ayo" katanya.


"Ke mana?"


"Kita nggak pulang?"


"Siapa yang bilang mau pulang" aku berkata sambil menahan tawa.


"Terus kita ngapain di sini, udah sore, sepi, bentar lagi perpustakaanya bakalan tutup" dia menjelaskan dengan ekspresi yang menurutku sangat menggemaskan.


"Duduk dulu" aku menepuk kursi di sampingku.


Nayla menghela nafas dan menurut.


Aku menatapnya dan tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa?" dia bertanya, menghindari tatapanku.


"Gue cuma mau lihat loe aja. Nggak boleh?"


"Nggak sopan" katanya ketus.


"Nay, gue pernah bilang ke loe nggak, kalau gue pernah jadi anak nakal?"


Nayla diam sejenak lalu mengangguk.


"Tapi kamu nggak jelasin, nakal yang kayak gimana"


"Mau gue jelasin sekarang nggak?"


"Kalau kamu nggak keberatan"


Aku menarik nafas pelan, "gue dulu punya kakak, cowok, namanya Marcel. Pas ulang tahun kaka gue yang ke 18 kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke gunung. Padahal, waktu itu musim hujan. Tapi kami nggak peduli. Waktu itu umur gue masih 14 tahun. Kami pergi mendaki diam-diam tanpa pamit pada siapapun. Terus, tiba-tiba... Hujan turun..." aku berhenti bercerita. Tenyata memang masih tidak bisa. Aku menarik nafas dalam.


"Setelah kejadian itu gue merasa bersalah dan kesal sama diri sendiri. Gue depresi dan mulai ikut temen main ke klub. Masa bodoh sama sekolah, gue minum-minum, main cewek, ngerokok, dan.. Hampir pakai narkoba." aku berhenti bercerita, mencari tahu apa Nayla akan terkejut dengan penjelasanku, tapi ternyata dia masih memasang ekspresi yang sama. "Papa marah besar, dan mama nangis terus. Itu sebabnya mereka memilih bertugas di kampung dan ngajak gue walaupun gue nolak. Sampai sekarang pun, gue masih anak yang nakal" aku berhenti bicara lagi.


"Loe nggak kaget?"


Nayla menggeleng, "trus kakak kamu?"


Aku tidak langsung menjawab, tanganku bergerak menyentuh wajah Nayla lalau merapikan rambutnya.


"Dia meninggal"


"Sejak hari itu gue jadi sering sakit pas musim hujan, aneh kan"


Tak ada kata apapun. Nayla memelukku dan menepuk-nepuk punggungku. Rasanya menenangkan sekali.


***


Kami sampai di rumah pukul setengah 7 malam. Seperti biasa mama sama papa belum pulang. Aku berhenti sebentar di depan pintu kamar Nayla setelah mengantarnya ke kamar.


Bagaimana jika nanti aku lupa padanya?


Aku tidak mau kehilangan ingatan lagi, baru beberapa hari yang lalu aku mengingat semua kenangan buruk itu. Hari paling menyedihkan dalam hidupku, saat aku kehilangan kakakku. Tapi setelah itu bukankah aku mengalami hari yang hampir sama bersama Tasya.


Aku mengusap kepalaku, pening yang semakin terasa. Sudah 3 hari aku melupakan obatku.


Apa aku harus pergi ke dokter dan menceritakan masalah ingatanku yang kembali?


"Lho, mas Miral belum tidur?" tiba-tiba pintu kamar Nayla terbuka.


"Nggak usah pakai mas" aku mengabaikan pertanyaanya. Nayla hanya nyengir.


Ting... Hapeku berbunyi, sebuah pesan dari Tasya.

__ADS_1


Al, tolongin gue


Satu kata itu, sudah membuatku kalut seketika. Aku menelfon balik Tasya. Beberapa detik kemudian baru telfon diangkat.


"Sya, loe di mana?" tanyaku panik


Suara isakan Tasya terdengar jelas.


"Loe di apartmen? Gue ke sana sekarang"


"Ada apa mas?"


"Gue uda urusan" dengan langkah tergesa aku pergi, menuruni tangga sambil berlari. Terakhir kali Tasya menelfonku sambil menangis, dia dalam keadaan babak belur. Aku takut ada hal buruk terjadi padanya. Aku takut kehilangan dia.


20 menit kemudian aku tiba di apartmen Tasya. Dia kutemukan meringkuk di kamar mandi dalam kondisi menyedihkan. Aku menghampirinya, memeluknya sambil mengusap rambutnya yang basah.


"Tenang, ada gue di sini"


Nyatanya, aku memang tidak bisa melupakan atau menghindari Tasya. Aku terlalu takut kehilangan dia.


Tasya menangis di pelukanku.


Setelah ia sedikit tenang, aku membawanya ke sofa dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Kubuatkan teh hangat.


"Loe habis berantem sama Devan lagi?"


Tasya hanya mengangguk. Pipi kananya tampak lebam, tepi bibirnya terluka.


Aku menghela nafas berat melihat kondisinya sekarang.


"Minum dulu, nanti baru cerita kalau loe mau"


Tasya menatapku lamat-lamat, "makasih"


Butuh setengah jam bagu Tasya untuk menenangkan diri dan mulai bicara.


"Gue sayang sama dia, tapi loe tahu Devan kasar dan cemburuan banget"


Aku hanya mendengarkan ceritanya. Meskipun aku bisa memberi saran, tapi hal itu tidak akan berpengaruh pada keputusan Tasya.


"Gue cuma berharap, suatu hari nanti dia bakal sadar betapa sayangnya gue sama dia"


Aku mengusap lembut rambutnya. Mungkin cinta memang buta. Aku berharap Tasya bisa menemukan kebahagiaanya, begitupun aku.


"Jangan tidur malem-malem. Gue harus pulang sekarang"


"Sekarang?"


Aku mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Jaga diri"


"Makasih" Tasya mengecup pipiku singkat. Dulu aku akan sangat senang saat dia melakukannya, tapi sekarang?


__ADS_2