Gadis Jerami

Gadis Jerami
episode 3 : Tour


__ADS_3

Nayla (15 tahun)


Sepertinya aku agak menyesal sudah membuat janji pada anak lelaki yang baru aku temui. Terlebih lagi, dia ternyata sangat tidak sopan. Aku masih sangat malu mengingat kejadian di sungai kemarin. Bisa-bisanya dia melakukan itu, apa pergaulan di kota memang sebebas yang sering kudengar.


Tapi dia kemarin meminta maaf padaku dengan tulus, aku bisa melihat itu di matanya.


Mata yang indah.


Aku menggelengkan kepalaku, menyadarkan diriku tentang apa yang kupikirkan.


Akhir-akhir ini aku sering memikirkan anak bernama gue Admiral itu. Kurasa ini hal yang wajar, semua gadis pasti akan mengalami hal yang sama jika sudah bertemu dengannya.


Aku mengamati jam di dinding ruang tamu Lily, selama liburan kerjaku adalah membantu ibu di sini. Dan aku sudah izin padanya bahwa aku akan pergi jam 3 sore, ibu selalu mengizinkan aku. Tapi masalahnya.. 


  "Ha, jam setengah 4" aku terkejut sekali. Segera menyelesaikan tugasku dan mencari ibu untuk berpamitan.


  "Kamu mau kemana nduk, kenapa tergesa-gesa sekali"


  "Aku ada urusan penting bu, aku pergi dulu ya" kucium tangan ibu secepat kilat dan berlari keluar rumah sama cepatnya. Di depan rumah aku bertemu Lily yang sedang mengecat kukunya.


  


  "Mau kemana, tugasmu sudah selesai?" aku tak menghiraukan pertanyaanya juga teriakannya karena aku menghiraukannya. Dia itu hanya akan mencegahku, percayalah, wajah cantiknya itu hanya topeng.


Aku berlari sangat cepat sampai jantungku rasanya mau copot. Belum sampai di tempat kami janji bertemu, tapi aku sudah kehabisan nafas. Aku akhirnya menyerah dan memutuskan untuk duduk sejenak, biarlah dia menunggu, aku sudah tidak kuat lagi.


Cahaya matahari terasa hangat, pertanda hari memang sudah sore. Kemana aku akan membawanya jalan-jalan? Aku sebenarnya tidak tahu dan tidak punya rencana apapun.


Apa mau ke ladang ilalang lagi?


Hutan bambu?


Tapi itu terlalu jauh

__ADS_1


Oh, kurasa aku tahu...


Aku masih mengatur nafasku susah payah saat tiba-tiba sebuah botol air muncul di depan wajahku. Kuamati botol itu, tangan yang bersih.


Aku langsung mendongak dan bertatapan dengan Gue Admiral.


  "Rupanya loe di sini, gue udah nunggu selama 45 menit 37detik" katanya sambil bergaya melihat jam tangannya.


  "Maaf, aku terlambat dan tidak kuat berlari"


  "Sampai segitunya loe mau ketemu gue" Admiral tertawa.


  "Ayo ambil, loe kehausan kan" dia masih menyodorkan botol air itu padaku, karena tidak segera mengambilnya dia memukul dahiku dengan botolnya.


  "Auw" aku mengusap dahiku.


  "Ambil!"


  "Ck... Sini"


Dia merebut kembali botol itu dariku dan meneguk air di dalamnya


  "Tidak ada racunnya..."


Mendengar itu aku jadi malu, sudah berpikir yang tidak-tidak soal dia. Aku ini sangat tidak sopan. Dengan malu juga aku menghabiskan air dalam botol itu, lega rasanya.


  "Jadi, kita mau tour kemana?"


  "Melihat sunset"


  "Wow, lor bisa bahasa inggris juga, gue kira..."


  "Aku juga bersekolah" kataku agak kesal

__ADS_1


Melihat matahari terbenam, aku memilihnya karena hari juga sudah sore, tapi tentu saja aku memilih tempat yang spesial.


Setelah 20 menit berlalu melewati tanjakan berbatu akhirnya kami sampai di tempat yang kumaksud.


Aku menghembuskan nafas panjang, sudah lama tidak pergi ke tempat ini.


Tempat yang sangat indah, tidak pernah berubah walau musim terus berganti, walau tahun-tahun yang panjang sudah berlalu. 2 pohon besar itu pun masih tumbuh rindang di sana, menciptakan teduh yang menenangkan. Akarnya yang besar menjalar ke permukaan tanah.


 


  "Wow..." gue admiral berseru kagum di sebelahku. Kelihatannya dia tidak mampu berkata-kata. Matanya menelusuri setiap inchi tempat itu.


  "Kemari" aku melangkah, mengambil tempat duduk di atas sebuah akar besar. Memperhatikan matahari yang bersinar makin redup di barat.


Gue admiral menyusul duduk di sampingku, senyumnya tak hilang, membuatku ingin tertawa.


  "Orang-orang bilang tempat ini sakral" aku mulai bercerita.


  "Sakral?"


  "Hem, kamu lihat 2 pohon besar ini, ada sebuah dongeng di desa ini. Dahulu kala, ada sepasang kekasih yang saling mencintai tapi..."


  "Nggak direstui" gue admiral menyela ceritaku, membuatku berdecak kesal.


  "Tapi rupanya si prempuan terkena kutukan. Umurnya berkurang setiap kali dekat dengan seorang pria. Tapi cintanya terlalu besar, jika memang ia akan mati ia ingin mati di pelukan pria yang dicintainya. Jadi ia terus melewati hari-hari yang indah bersama kekasihnya tanpa memberi tahu soal kutukan itu pada kekasihnya. Suatu hari, ia menyadari bahwa hari itu adalah hari terakhirnya. Prempuan itu berniat mengatakan yang sebenarnya, tapi sebelum ia bicara, tubuhnya perlahan jatuh ke tanah. Saat sebelum matahari terbenam, prempuan itu untuk terakhir kalinya mencium kekasihnya. Si pria yang sangat sedih mengucapkan sumpah di hadapan matahari terbenam, bahwa ia tak ingin menjadi manusia, ia hanya ingin bisa hidup berdampingan selamanya dengan kekasihnya. Pria itu menangis selama berhari-hari sambil memeluk kekasihnya, sampai ia pun akhirnya meninggal. Dan...


mereka menjadi 2 pohon ini."


Aku menoleh, bertemu pandang dengan gue admiral yang terdiam menatapku.


Cahaya matahari sore menyorot sebelah wajahnya, membentuk siluet yang indah. Matanya...


Aku sungguh menyukai itu.

__ADS_1


__ADS_2