
Nggak terasa, ternyata sudah sore. Aku sedang duduk di belakang admiral. Lebih tepatnya, aku sedang dibonceng naik sepeda.
Dia mengayuh sepeda yang katanya pemberian warga desa itu dengan perlahan dan santai. Kuamati punggungnya dari belakang, punggung yang lebar. Tidak kusangka juga, aku sudah memeluk punggung itu bahkan pingsan di atasnya. Rasanya malu dan ingin menutup muka kalau membayangkannya. Dan lagi, miral pasti sangat lelah menggendongku turun gunung.
"Miral, maaf ya"
"Maaf?"
"Iya, kamu pasti capek karena gendong aku dari atas gunung"
"Oh..."
"Dimaafin?"
"Emmm... gue pikir-pikir dulu deh"
"Eh, kok gitu?"
Tiba-tiba miral tertawa. Kebiasaannya tertawa sangat keras.
"Harusnya kan gue yang minta maaf nay, gue yang bikin kaki loe sakit. Jadi wajar kalau gue tanggung jawab bawa loe pulang dengan selamat"
"Tetep aja, aku merasa bersalah"
"Iya, udah, gue maafin"
Aku tersenyum, sebenarnya aku sama sekali tidak marah pada miral karena dia menipuku di air terjun tadi. Kejadian hari ini entah bagaimana membuatku merasa senang.
Padahal kakiku terluka begini, tapi hatiku berbunga....
Apa ada yang salah denganku?
"Eh, minggu depan udah mulai masuk sekolah kan" ucapan miral membuyarkan semua lamunanku.
"Iya"
"Wah, gue jadi anak baru lagi" dia tertawa ringan. Aku tersenyum lagi di belakangnya. Kenapa aku jadi senyum-senyum begini?
"Udah banyak anak yang tahu kamu kok" aku menjelaskan padanya. Mengingat kejadian kemarin, ketika lili dan kawanannya itu mencegatku cuma untuk menanyakan hubunganku dengan miral. Mereka konyol sekali kan...
"Jadi ceritanya gue terkenal nih"
"Mungkin"
Lagipula siapa yang tidak kenal keluarga dokter Rangga. Orang terhormat di kampung ini. Walaupun baru beberapa hari, tapi kehadirannya jadi seperti cahaya di kampung ini. Orang-orang menyukainya.
"Udara di sini emang paling seger ya, salah satu hal yang bikin gue bertahan di sini adalah udaranya. Walaupun di kota semua serba ada, tapi gue nggak pernah sebebas dan sebahagia ini"
"Namanya juga desa, semuanya masih alami" aku menimpali.
__ADS_1
"Eh nay, loe kok nggak pegangan, nggak takut jatoh?"
"Em... Enggak" mendadak pipiku terasa panas.
"Yaudah, jangan sampai jatoh ya"
"Iya, kamu udah biasa sepedahan?"
"Olahraga faforit gue"
"Nggak nyangka aku"
"Gini-gini gue suka olahraga, sepak bola, basket, renang, badminton, sampai maen kelereng pun gue juga bisa, apalagi cuma sepedahan, kecil, mau gue bonceng turun gunung kemarin gue juga bisa"
"Iya-iya, nggak usah songong gitu" aku tertawa melihat tingkahnya yang selalu percaya diri. Sekali lagi, melihat miral di bawah cahaya matahari sore. Dia terlihat bercahaya bukan, atau hanya pandanganku yang salah.
"Nay, siniin tangan loe" tiba-tiba miral mengulurkan tangan kirinya ke belakang.
"Mau apa?"
"Di depan jalannya berbatu, kalau nggak pegangan loe bisa jatoh"
Aku hanya memandangi tangan miral yang terulur, ragu mau menyambutnya.
"Nay, buruan, ntar kalau jatoh gue nggak mau gendong lagi"
"I..iya" kurasa nggak masalah, dari pada nanti aku jatuh lagi. Aku memegang tangan miral yang terasa hangat.
Miral mengantarkan aku sampai ke rumah, bahkan menuntunku masuk ke dalam.
"Ibu kamu mana?"
"Mungkin belum pulang"
"Loe nggak papa di rumah sendirian, apa mau gue temenin?"
"Eh, nggak usah, nggak apa-apa. Bentar lagi juga ibu pulang" bisa gawat kalau miral benar-benar menemaniku sampai ibu pulang. Karena ibu biasanya pulang malam. Dan orang-orang pasti akan bicara sembarangan.
"Seriusan?"
Aku mengangguk meyakinkannya.
Setelah memeriksa kakiku sebentar miral pun pamit pulang. Sementara aku duduk di dalam rumah mengamati kakiku yang membiru. Sakit, tapi ketika miral menyentuhnya kenapa rasa sakitnya mereda?
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mengusir pikiran tidak masuk akal tersebut. Kenapa perasaan jadi seperti ini???
Setelah kejadian kakiku yang kesleo itu, aku jadi tidak bisa membantu ibu bekerja selama beberapa hari. Dan juga... Miral jadi sering datang ke rumahku tiap hari. Mengaggetkan ibu yang waktu itu akan berangkat ke rumah lili.
"Nak, itu di depan ada anak ganteng nyariin kamu, siapa ya, dia tinggi, kulitnya putih juga"
__ADS_1
Aku langsung paham siapa yang dimaksud ibu.
"Oh, itu miral buk, anaknya dokter rangga"
"Ibu nggak pernah lihat, makanya nggak tahu. Ya udah, ibuk suruh masuk, kamu temuin ya. Ibu harus berangkat kerja sekarang.
Di luar dugaanku, miral ternyata jadi sangat sopan di depan ibu. Padahal kalau sedang bersamaku dia tidak bisa diam.
"Ngapain ke sini?" tanyaku setelah ibu keluar rumah. Miral hanya nyengir lebar lalu duduk dengan santainya di kursi.
"Ya, mau apa lagi, nemenin loe lah"
"Nggak perlu, nanti aku malah susah"
"Maksudnya?"
Apa dia masih belum sadar, kalau di desa hal semacam ini bisa menimbulkan banyak gosip.
"Kamu pulang aja" kataku
"Kita maen aja yuk" dia malah tak menggubris omonganku.
"Udah lama nggak pergi ke ladang ilalang itu, gue bawa sepeda. Kita bisa boncengan"
"Tunggu sebentar" sebenarnya aku ingin menolak, tapi kalau dipikir lagi, aku pasti akan sangat bosan di rumah sendiri seharian penuh.
Aku berjalan ke dalam kamar sebentar. Menyisir rambut dan Mengamati wajahku di dalam cermin mungil yang kutaruh di meja.
"Ya ampun, aku ini sedang apa?" aku jadi malu karena memikirkan penampilanku di depan miral. Bukankah tidak akan ada yang berubah walaupun aku berdandan.
Aku lantas keluar.
"Ayo" kataku, berjalan duluan, jangan sampai dia melihat wajahku yang sedang malu.
Setelah memastikan pintu terkunci kami pun berangkat ke ladang ilalang, tempat pertama kali aku bertemu miral. Udara pagi masih terasa agak dingin walaupun cahaya matahari sudah muncul. Miral bersenandung pelan sambil beberapa kali menyapa warga desa yang kami lewati. Dia terlihat sangat menikmati tempat ini.
Sesampainya di ladang, miral tiba-tiba berjongkok di depanku.
"Mau ngapain?" tanyaku tidak paham.
"Gue gendong, kaki loe masih sakit kan"
"Nggak perlu, udah mendingan, aku bisa jalan sendiri kok" aku meninggalkan miral yang masih berjongkok. Walaupun masih sakit tapi aku sudah bisa berjalan, memarnya juga sudah hilang.
"Mau gue tuntun?"
"Enggak" aku menggeleng
"Kalau capek bilang aja, punggung gue selalu siap" dia tersenyum, membuatku jadi malu tiba-tiba.
__ADS_1
Kami menikmati hari dengan berbaring di tepi ladang yang cukup kering. Berbagi cerita sambil ditemani sepoi angin yang sejuk. Aku hanya mendengarkan miral bercerita tentang film-film faforitnya dan penyesalannya karena lupa tidak membawa earphone padahal itu benda yang sangat penting. Lambat laut suaranya makin pelan, pelan dan hilang.