Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 19 : Masalah rasa


__ADS_3

Hal pertama yang kusadari saat aku membuka mata adalah keberadaan seseorang di sampingku. Aku benci seseorang yang masuk ke kamarku secara sembarangan tapi melihatnya tidur dengan posisi seperti itu membuatku tidak bisa membangunkannya. Apalagi saat aku sadar ternyata dia sedang menungguku yang demam. Ah ya... Semalam aku jatuh pingsan kan... Kepalaku masih berdenyut sekarang.


Aku memperhatikan gadis yang katanya bernama nayla itu.


Nayla?


Kenapa aku terus menanyakan arti nama itu di kepalaku?


Pandanganku tertuju pada dahinya yang terbuka, aku mengeryit, memperhatikan warna merah kebiruan yang tampak samar. Lebam? Apa karena aku memukulnya waktu itu? Kupikir sudah sembuh. Aku tidak tahu kalau sampai separah ini karena ia menutupnya dengan rambut poninya. Lagi-lagi aku merasa bersalah padanya. Padahal aku bukan tipe orang yang gampang merasa seperti ini.


Aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh dahinya. Tapi tiba-tiba dia bergerak. Gelagapan, aku kembali memejamkan mataku dan pura-pura tidur.


Hampir saja....


Setelah yakin dia sudah keluar aku pun bangun.


Aku harus minta maaf kan


Hah... Kenapa aku memikirkan itu? sekali lagi itu bukan salahku, dia yang cari masalah denganku. Kalau saja dia tidak masuk ke kamarku sembarangan. Mungkin sekarang dahinya masih mulus.


Tak lama kemudian dia muncul sambil membawa baskom berisi air dingin. Tapi langkahnya terhenti di depan pintu saat melihatku sudah sadar. Anehnya, aku selalu ingin tertawa melihat ekspresi kagetnya. Lucu...


Dia mundur secara perlahan dan berbalik.


"Makasih"


Tidak jadi pergi, dia menoleh padaku lagi.


"Makasih" aku mengulangnya. Setidaknya aku harus bilang trimakasih atas bantuannya.


"Eh sama-sama saya akan masak bubur untuk makan siang"

__ADS_1


Tanpa kusadari aku tertawa saat dia pergi.


Dia benar-benar membuat bubur dan mengantarkannya ke kamarku. Tapi apa yang dilakukannya? Dia hanya berdiri tak jauh dari pintu dan terkesan menjaga jarak dariku.


"Mau makan sekarang?"


Aku mengangguk pelan, supaya ia mendekat.


Sejujurnya Tubuhku terlalu lemas sampai gemetar, tapi tidak mungkin aku menunjukan itu padanya. Aku terlalu gengsi.


"Mau dibantu? eh... maksud saya kayaknya kamu masih sakit, saya bisa bantu menyuapai"


Aku mengangguk lagi, kalau dipaksakan makan sendiri, aku akan lebih malu karena mungkin akan menumpahkan makananku.


Aku tidak tahu kenapa, tapi ada hal yang membuatku ingin diam-diam memperhatikannya.


Nayla?


Mau diucap berapa kali pun aku tidak ingat pernah bertemu dengannya. Rasa ingin tahuku ini pasti muncul karena aku tidak pernah merasa seperti ini pada orang yang benar-benar tidak pernah kutemui sebelumnya. Perasaan, semacam kami pernah bicara bersama.


"Mungkin"


*****


Aku memutuskan kembali ke apartemen setelah meminta Nayla untuk merahasiakan tentang kondisiku dari mama dan papa. Aku masih kesal padanya karena jawaban ambigunya.


"Mungkin?" jawaban macam apa itu? Aku mengoceh sambil membuka pintu dan menyalakan lampu.


Mungkin dan terserah dua kata yang paling tidak kusukai. Tidak seharusnya sebuah pertanyaan dijawab dengan kata itu.


Aku melepas jaketku dan melemparkannya ke sembarang arah.

__ADS_1


"Jorok banget sih"


Sekedar melirik ke sofa. Siapa lagi kalau bukan Tasya. Dia sedang tiduran santai di sana sambil memainkan ponsel. Aku tidak terkejut dengan kehadirannya yang tanpa izin karena sudah terbiasa.


"Dari rumah ya?"


"Loe ngapain malam-malam ke sini?" mengabaikan pertanyaanya, aku pergi ke dapur dan membuat kopi


"Lagi lengen aja, tumben banget tadi ngoceh sendirian" Tasya tertawa singkat, membuat perhatianku pada kopi yang kutuang terhenti. Tawa seperti itu hanya kudengar dari Tasya saat dia ada masalah. Aku melanjutkan membuat kopi dan menyerahkan secangkir kopi padanya.


"Loe ada masalah?"


Tasya hanya tersenyum sinis, menghindari tatapanku. Dia selalu membuat ekspresi itu di situasi seperti ini. Kalau mau aku tidak tahu masalahnya, harusnya dia tidak datang ke sini dengan ekspresi seperti itu. Sejujurnya, kadang aku kesal dengan sifatnya itu.


"Dipukul Devan lagi?" meski aku marah sekali saat ada yang menyakiti Tasya, tapi aku tidak bisa menunjukannya karena Tasya tidak ingin. Tidak hanya sekali, Devan sering main tangan saat marah tapi Tasnya mencintainya dan selalu mengalah. Hanya saja kadang mereka bertengkar dan Tasya akan kabur kemari.


"Coba lihat"


Tasya memandangku lalu menunjukan pergelangan tangannya yang lebam.


"Dia nggak mukul, cuma terlalu semangat pegang tanggan gue"


Aku menatapnya tajam mendengar ucapan konyolnya itu.


"Kita tadi lagi jalan trus tiba-tiba dia nanya soal... Intinya dia marah, gue mau pulang aja dan dia malah narik gue paksa. Pokoknya gue nggak boleh pulang, tapi yah tetep aja gue kabur"


Secinta itulah Tasya pada Devan. Nggak masalah buat dia dipukuli atau disakiti berapa kali pun.


Mereka bertemu 5 tahun yang lalu di gunung bromo saat acara liburan sekolah. Waktu itu Tasya mengalami kecelakaan yang membuatnya hampir mati dan Devanlah yang menolongnya. Hanya itu yang Tasnya ceritakan padaku.


Aku pernah memukul devan dan marah pada Tasya karena dia mempertahankan pria seperti itu, tapi Tasya malah membela Devan dan marah padaku. Dia bilang, "ini masalah rasa, nggak bisa seenaknya gue atur" selama berminggu-minggu setelah kejadian itu Tasya terus mengindar dariku.

__ADS_1


Masalah rasa? Mungkin dia benar, aku juga tidak bisa mengendalikan perasanku padanya. Walaupun dia tidak mempuyai rasa cinta padaku, walaupun aku kesal melihatnya dengan Devan, aku ingin membencinyanya tapi perasaanku mencintainya.


Itulah masalahnya.


__ADS_2