Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 4 : perasaan apa ini?


__ADS_3

Seperti biasa aku menikmati pagi dengan lari mengelilingi desa. Sesekali aku berhenti untuk meregangkan badan dan  minum.


  "Udara desa memang luar biasa" kataku sambil merebahkan badan di rumput, menatap langit pagi yang cerah. Pemandangan seindah ini tidak akan bisa aku temui di kota.


Tiba-tiba aku teringat dengan nayla. Apa pagi ini ia sedang mencuci di sungai lagi? Aku bergegas bangkit, dan berlari menuju sungai. Seperti dugaanku nayla sedang berada di sana. Tapi aku tidak segera menyapanya, aku berjalan diam-diam dan duduk di atas batu, mengamati nayla dari belakang. Tanpa sadar senyumku mengembang. Aku mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya ke air di dekat kaki nayla.


Nayla yang terkejut menghentikan kegiatannya sejenak. Namun kembali mencuci saat dilihatnya tak ada apa-apa. Aku menahan tawaku. Aku melempar batu lagi, kali ini yang ukurannya lebih besar. Nayla terkejut lagi.


Dan aku tidak bisa menahan tawa, aku tertawa terpingkal pingkal sampai perutku terasa sakit. Sementara nayla hanya memasang wajah cemberut dan kembali melanjutkan pekerjaanya.


  "Sendirian aja mbak?" candaku. Aku melepas sepatuku dan duduk di atas batu di samping nayla.


  "Butuh bantuan?"


Nayla yang masih kesal, tidak berniat menjawab.


Aku tidak terima,  kuambil air dan mencipratkanya di dekat wajah nayla. Tapi masih tidak ada reaksi.


  "Maaf deh, jangan marah lah"


Masih hening.


  "Nanti kalau marah, manisnya ilang lho" kataku sambil menyenggol bahu nayla.


  Nayla menoleh dengan tatapan sinis dan tanpa aba-aba melemparkan baju basah ke wajahku.


  "Udah kumaafin" ucap nayla.


  "Senyum dulu dong"


Nayla tersenyum singkat sebagai tanggapannya.


  "Loe tiap pagi nyuci di sini?"


  "Iya, aku bantuin ibuk"


  "Oh, baik banget sih loe, emangnya nggak capek?"


  "Kamu nanyanya aneh banget"


  "Aneh gimana?"


  "Ya, ini udah tugasku, mau capek ataupun enggak harus tetap dilaksanakan. Lagian aku nggak ada kegiatan kalau cuma diam di rumah"


Aku menganguk-anggukkan kepalaku. Kuamati nayla yang sibuk mengucek pakaian di atas batu besar, berbeda dengan gadis-gadis di kota, nayla terlihat menarik dengan kesederhanaanya.


  "Sini gue bantuin" aku mengambil sebuah baju dari dalam bak.


  "Gue? Nama kamu itu beneran gue? Kok aneh ya"


Seketika aku langsung tertawa lagi. Jadi selama ini dia salah paham. Ya ampun lucu banget sih ini cewek.


  "Kok kamu malah ketawa?" dengan polosnya dia malah bertanya lagi.

__ADS_1


  "Gini, gue jelasin. Nama gue itu admiral, panggil aja miral. Dan gue, itu artinya aku. Anak-anak di kota sana kalau bicara menggunakan kata loe gue yang artinya kamu dan aku"


Nayla diam beberapa detik, mungkin dia malu karena hanya ber oh ria dan melanjutkan pekerjaanya.


  "Kamu bisa nyuci?" katanya kemudian


  "Kecil ini mah, gini-gini gue cukup mandiri lho" jawabku dengan bangganya.


   "Apa nanti kamu nggak dimarahin mama kamu?


Eh, pertanyaan macam apa tuh, emangnya  aku anak bayi yang nggak boleh cuci baju sendiri.


  " ya kenapa dimarahin?" aku balik bertanya.


  "Ya kan, nanti bisa aja tangan kamu jadi kasar"


Lagi-lagi aku tertawa. Baru kali ini ada cewek yang bilang begitu, biasanya kaum adam yang bakal ngomong gitu. sumpah lucu banget.


  "Loe tuh lucu banget, ya kali gini aja tangan gue jadi kasar. Lagian kalau kasar juga nggak papa, nggak peduli gue. Emangnya anak cewek, takut tangannya kasar"


  "Aku enggak, tangan aku kasar semua" dia protes dan menunjukan kedua telapak tangannya padaku. Aku menatapnya sejenak dan mengamati wajahnya.


  "Ya bagus dong" kuraih tangannya.


  "Itu artinya loe cewek baik, calon istri idaman para cowok"


Nayla terdiam, pipinya mendadak bersemu merah dan dia langsung menarik tangannya. Aku tersenyum melihat itu.


  "Nay, kok pipi loe merah sih?" aku malah menggodanya.


  "Ah, enggak kok"


Mungkin saking gugupnya dia nggak membersihkan busa itu dan melanjutkan ngucek-ngucek baju.


  "Nay, ngadep sini deh" kataku.


  "Ada apa?" nayla menoleh.


Aku mengulurkan kedua tanganku dan membersihkan busa di kedua pipinya. Sehingga kami berhadapan selama beberapa detik dalam moment yang entah bagaimana membuat dadaku dag dig dug.


  "Makasih" nayla menghentikan moment itu dengan menurunkan tanganku dan membasuh wajahnya dengan air sungai.


Untuk menghilangkan suasana yang mendadak jadi nggak wajar, aku mengalihkan topik pembicaraan.


  "Jadi, ntar sore mau ke mana?" tanyaku sambil mengucek baju.


  "Ke mana ya?"


  "Malah balik tanya, kan loe yang udah janji mau bikin gue terpesona sama tempat ini dalam 7 hari" kataku dengan penekanan pada kata 7 hari.


  "Emm.. Pokoknya ikut aja nanti"


  "Oke deh..."

__ADS_1


***


Kira-kira jam setengah 4 ketika nayla baru muncul di depanku dengan nafas ngos-ngosan kayak kemarin. Aku pun mnyerahkan botol yang sengaja kubawa karena sudah menduga dia bakalan lari sampai kayak gini.


  "Santai dulu, kalau loe kehabisan nafas trus pingsan, gue bisa dikroyok warga ntar"


  "Maaf, tadi aku ada tugas tambahan"


  "Udah kayak sekolah aja, tugas apaan?' tanyaku penasaran.


  " ya, itu, si lili suka jahil kalau aku ada urusan penting" katanya terputus-putus. Aku membiarkannya beristirahat sejenak.


  "Jadi, mau ke mana nih?" tanyaku setelah nafasnya sudah kembali normal.


  "Di sini aja"


  "Hah, gimana maksudnya?"


  "Iya, maaf banget, tapi aku harus pulang cepet hari ini. Kita bisa duduk di sini aja sambil ngobrol. Lagian tempat ini juga indah kok"


Aku hanya diam menanggapinya, sebenarnya aku bukan marah, hanya sedang menggodanya.


  "Miral, nggak papa ya? Besok aku janji bakal ajak kamu jalan-jalan, kita berangkat pagi. Aku sudah ngomong sama ibuk."


Aku sekuat tenaga menahan ekspresi marahku. Ya lagian dia mau main-main sama Admiral, seenaknya ingkar janji. Kerjain dikit nggak apa-apa lah.


  "Miral, jangan diem. Kamu marah?"


  "...."


  "Aku minta maaf banget" dia mengoyang-goyangkan bahuku.


  "Miral?"


  "..."


  "Nanti kalau marah... Gantengnya ilang lho" wah, kejutan, ternyata nayla bisa juga ngerayu gitu. Mungkin dia belajar dari kata-kataku tempo hari. Makin seru nih.


  "Emangnya gue ganteng?" kataku tanpa menoleh padanya.


  "Ya.. Ganteng lah, kamu kan anak lelaki"


Jawaban apaan tuh?


  "Tolong, jangan marah ya, janji besok aku akan ajak kamu keliling desa seharian penuh"


Nggak tega juga. Pada akhirnya aku mengangguk dan tersenyum padanya. Kami bercerita panjang lebar tentang kehidupanku di kota, nayla jadi pendengar yang baik dan lucu apalagi ketika aku menceritakan soal teknologi di kota yang modern sekali. Dia terlihat kagum dan mengatakan ingin pergi ke sana suatu hari nanti.


  "Besok, kalau gue udah kerja, gue janji bakal ajak loe kelililing kota kayak loe ajak gue keliling desa ini" entah setan mana yang merasukiku...


Sampai berani mengatakan hal semacam itu pada nayla. Dia malah menanggapinya dengan senyum tulus yang menunjukan kalau dia nggak sabar menanti saat itu.


Dan lagi, jantungku berdebar secara nggak wajar.

__ADS_1


"Perasaan apa nih?"


__ADS_2