
Ada dongeng tentang putri tidur. Yang katanya hanya akan terbangun kalau ada pangeran yang menciumnya dengan cinta.
Entah bagaimana aku jadi teringat cerita itu karena melihat nayla yang sekarang sedang tidur di sampingku. Lebih tepatnya ia ketiduran.
Aku sedang menceritakan soal film faforitku dengan menggebu-gebu sambil mnggerakan tanganku seperti orang tidak waras dan saat aku menoleh padanya dia malah tertidur. Menyebalkan, tapi Lucu...
Tapi lebih lucunya, aku tidak bisa mengabaikannya. Tidak bisa menghentikan diriku memandangi wajahnya yang sedang tidur.
Wajah polos tanpa polesan make up, tapi kenapa dia manis, cantik.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, mengusir pikiran-pikiran aneh.
"Loe pasti capek ya" gumamku padanya. Tanpa sadar tanganku merapikan rambutnya, nayla bergerak pelan, aku buru-buru menarik tanganku. Untungnya dia tidak terbangun. Aku tersenyum lega lalu ikut berbaring di sampingnya. Jadi teringat hari pertama aku bertemu nayla. Sebenarnya waktu itu aku sedang marah karena harus ikut papa dan mama tinggal di kampung. Padahal aku sudah terlalu nyaman tinggal dan sekolah di kota. Walaupun nyaman yang kumaksud sama sekali tidak nyaman bagi orangtuaku. Karena hal itu juga aku harus putus hubungan dengan teman-temanku, terutama tasya.
Aku menyukai gadis itu sejak smp, tapi tidak pernah berani mengatakannya dan malah menyembunyikan perasaanku di balik kata pertemanan. Aneh banget.
Walaupun aku sering gonta-ganti pacar, tapi hanya pada tasya aku tidak berani mengungkapkan perasaanku. Jadi selama itu aku juga harus rela patah hati kalau dia dekat dengan cowok lain.
Aku terkejut ketika nayla mengubah posisi tidurnya menghadapku. Bibirnya bergerak singkat seperti anak kecil yang sedang tidur. Kok bisa ya dia ketiduran? Ya, memang tempat ini nyaman untuk beristirahat, tapi tetap saja aku tidak menyangka dia bisa tidur di sini....
Aku pun ikut mengubah posisiku yang sebelumnya telentang jadi menghadap nayla.
Mumpung dia lagi tidur...
Eh, emangnya kalau dia lagi tidur gue mau apa?
Aku memejamkan mata sekilas. Udah kacau nih pikiran gue...
Waktu kubuka mata, saat itu juga nayla juga membuka matanya. Sedetik. Dia hanya diam, mungkin sedang mengumpulkan kesadaran, dan kemudian.
"Aaa...." dia teriak sambil mundur sejauh mungkin. Reaksi yang sudah kuduga sebelumnya, tapi tetap saja aku ikut terkejut.
"Apa sih nay?" aku berlagak jadi korban sambil mengorek kupingku yang pengang karena suara teriakan nayla yang keras.
"I..itu, kamu ngapain?" ucapnya gagap
"Nggak ngapa-ngapain" kupasang wajah tak tahuku. Beberapa hari bareng sama nayla aku jadi paham satu hal. Dia gampang banget dikibulin
Ha..ha..
__ADS_1
"Tapi, tadi, kok.."
Sengaja kubiarkan dia terus mengoceh tidak jelas. Jadi semacam hiburan tersendiri untukku.
"Tadi loe ketiduran, trus gue ikut tidur deh, truss.. Kita bangunnya barengan" sebuah alibi yang sempurna.
"Oh, gitu..." dia menggaruk tengkuknya, salah tingkah.
"ini udah jam berapa?" nayla merapikan rambut sebahunya yang berantakan, mengikatnya jadi satu.
Aku melihat jam tanganku.
"Eh, udah jam 2 aja" kataku sedikit terkejut. Ternyata sudah selama itu kami di sini. Padahal rasanya baru sebentar.
Kayaknya akhir-akhir gue jadi sering lupa waktu....
"Aku ketiduran dari jam berapa ya?"
Aku mengendikkan bahuku, walau tahu dia sudah tidur sejak jam 11 tadi.
"Padahal aku ini susah tidur lho, apa besok aku ke sini lagi ya" dia tampak berpikir serius.
"Apa?"
"Susah tidur itu namanya insomnia" aku menjelaskan.
"Iya mungkin. Aku jadi susah tidur sejak kematian bapak."
Kalau diingat lagi, bukannya nayla sudah 2 kali ketiduran saat bersamaku. Yang pertama saat insiden di air terjun waktu itu. Walaupun mama bilang dia pingsan, aku yakin sebelumnya nayla ketiduran karena dia mengigau memanggil ayahnya.
"Kalau gitu besok kita bisa kemari lagi" usulku.
Nayla mengangguk.
"Apa kamu nggak dimarahi tiap hari keluar main terus?"
"Ah..., itu sih, udah biasa"
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Ya, dulu gue juga suka keluar rumah. Kalau gue ceritain mungkin loe bakal benci sama gue" jadi teringat masa lalu.
"Cerita aja, dulu dan sekarang itu kan beda. Aku bukan tipe orang yang menilai orang lain dari masa lalunya"
Gue percaya sih nay, loe orang baik, tapi takutnya setelah dengar cerita gue loe malah kabur lagi.
"Intinya gue dulu bandel banget" aku tertawa, merebahkan badan lagi ke belakang.
"Kelihatan sih" nayla tampak berpikir.
"Serius? Padahal gue udah berusaha keras biar kayak anak baik-baik" tertawa lagi.
"Jadi sekarang gimana?"
"Emm.. Mungkin karena tinggal di sini, gue jadi ketularan baik kayak loe"
"Aku jadi penasaran sama masa lalu kamu"
"Ha..ha.. Nggak usah, lupain aja yang tadi. Pokoknya loe harus hati-hati sama gue" kataku, lagi-lagi tertawa dengan keras.
"Kaku kenapa suka sekali ketawa, padahal nggak lucu" aku tahu nayla tidak bermaksud lain selain penasaran.
"Emang lucu kok, selera humor kita itu beda"
"Aneh" gumamnya.
Kami memutuskan pulang setelah menyaksikan matahari terbenam. Menghabiskan hari itu dengan cerita-cerita konyol dariku. Entah kenapa aku merasa ingin membuat nayla terus tertawa. Sebuah keinginan yang konyol bukan...
Sebelum beranjak dari tempat tersebut nayla tiba-tiba menyentuh rambutku.
"Ada rumput" katanya sambil tertawa. Aku bisa melihat gigi kelincinya yang lucu dari dekat.
"Kelinci" tanpa sadar aku berucap.
"Apa?"
"Nggak ada" aku balik tertawa keras.
Kayaknya ada yang salah lagi sama jantung gue....
__ADS_1