
Adrian pov
Hari mingguku yang seharusnya kuhabiskan dengan meringkuk di kamar seharian atau pergi jalan-jalan malah berakhir mengenaskan dengan memegang pel-pel'an di lorong kampus. Di sampingku Riana sedang mengepel sambil bernyanyi. Aku sudah berjanji padanya untuk membantu menyelesaikan hukuman ini sebagai tanda trimakasihku.
"Suara loe bagus juga" aku memuji dengan jujur. Entah karena efek berada di lorong atau bukan, tapi suaranya memang merdu.
"Thanks, gue tahu kok"
berbeda dengan Nayla yang kalem, image yang kulihat dari Riana adalah tipe gadis tomboy.
"Kenapa loe nggak ngambil jurusan musik aja"
"udah bosen, gue pengen belajar hal baru. dan melukis adalah pilihan yang tepat. Bokap gue dulunya juga seorang pelukis, tapi nggak terkenal"
"Oh gitu... Loe udah punya pacar?"
iseng aku bertanya. Apa kemarin saat pergi ke kafe dia sedang bertemu pacarnya, aku hanya penasaran.
"kenapa, loe naksir gue?"
"wah, pede banget loe"
"lah, habis nanyanya gitu. Pertanyaan para **** boy"
"maksud loe gue **** boy? Parah loe, gue ini cowok baik-baik" tentu saja aku tidak terima dengan tuduhan tidak berdasar itu.
"Sorry, gue cuma bercanda. Gue nggak ada waktu buat mikirin pacar. jadwal gue tuh padat banget"
"Situ artis?"
"Ha..ha... aminin aja deh.
jam 1 siang lebih 5 menit. Aku dan Riana sudah duduk selonjoran di lantai karena lelah dan lega sudah menyelesaikan hukuman ini.
"Kok bisa loe tidur di kelas pas pelajarannya pak Bob, padahal dia salah satu guru paling horor di kampus ini?"
"kan udah gue bilang, jadwal gue tuh padat. makanya gue suka ngantuk dan ketiduran di kelas. Dari pada gue ketiduran pas nyetir kan bahaya"
__ADS_1
"bener juga, harusnya loe bilang gitu ke pak Bob"
"udah, tapi ya gue malah dijewer"
"eh, iya, gue mau nanya. loe pernah ke rumah Nayla?"
"belom, kenapa? mau nyamperin Nayla ke rumahnya?"
"nggak gitu, cuma nanya aja"
"aelah, ngaku aja. gue tahu kok loe suka Nayla"
"ha..ha...tapi cinta kan nggak harus memiliki"
"Itu bodoh namanya. Kalau cinta harusnya bikin bahagia, sedangkan nggak memiliki bikin patah hati"
"kalau dia udah ada yang punya, masak gue mau nguber terus. yang ada gue jadi pelakor"
"situ kan cowok mana mungkin jadi perebut laki orang. apa jangan-jangan loe nggak normal"
"Sembarangan kalau ngomong...."
"gue juga, traktir ya..."
kami lantas pergi ke kafe terdekat, sekalian makan siang.
"loh, mbk Riana, lama nggak ketemu mbk" saat kami akan memesan makanan tiba-tiba pelayan itu malah menyapa Riana lebih dulu.
"Eh, mbak siska ya?"
"Iya mbk, saya dulu kerja di kafe trendy. Mbak Riana apa kabarnya?"
perutku sudah keroncongan, tapi mereka malah asyik bicara. Dan aku sebagai pria tampan tentu saja merasa diabaikan.
"Baik kok mbk"
"Mbak Riana masih nyanyi di sana?"
__ADS_1
"Ya gitu deh mbak" Riana melirikku sekilas.
"Suaranya mbak Riana bagus banget sih, makanya banyak yang suka"
mereka masih berbincang selama 5 menit kemudian.
"Jadi loe penyanyi?" aku mengajukan pertanyaan itu setelah mbak-mbak pelayan tadi pergi.
"iya, jangan bilang siapa-siapa?"
"lah, kenapa? keren dong, loe bisa ikutan tampil di kampus pas ada acara"
"Ogah. Pokoknya loe kudu janji nggak akan ngomong siapa-siapa kalau gue nyanyi di kafe"
"kalau gue nggak mau janji"
"Siap-siap aja gue tonjok"
"Bar-bar banget. Jadi loe ke kafe waktu itu karena mau nyanyi? Gue kira mau ngedate" entah kenapa aku jadi merasa lega.
"Gue nggak bisa ngerepotin nyokap sama bokap karena adek gue ada 3 dan mereka juga sekolah. Jadi diam-diam gue daftar buat nyanyi di kafe"
"kenapa diam-diam?"
"Gue kan udah bilang, bokap gue dulunya juga pelukis tapi dia nggak terkenal. mungkin karena merasa gagal, dia nyerahin cita-cita itu ke gue, anak tertuanya. Kalau sampai mereka tahu gue malah nyanyi dan bukan jualan gambar yang ada gue bikin mereka kecewa"
"Di luar dugaan" Aku bertepuk tangan.
"kenapa?"
"ternyata Loe tuh anak berbakti juga ya"
"Ck... jangan salah paham. Ini namanya bukan berbakti. Berbakti itu kalau gue nurutin kata mereka. Lah, ini? gue malah diam-diam ngejalanin apa yang gue suka"
"gue rasa kalau loe bilang yang sebenarnya sama mereka, nggak masalah kok"
Riana mengaduk-aduk jus jeruknya yang baru tiba.
__ADS_1
"gue tahu, tapi untuk sekarang gini aja dulu. udah ah, gue mau makan, keburu basi kayak omongan loe"
"loe..." aku melempar sedotan ke arahnya, Riana menghindar dan kami malah tertawa bersama karena hal konyol itu.