
Ini baru namanya liburan. Nggak ada tempat sebagus ini di kota. Maka dari itu nggak boleh disia-siakan.
Aku berjalan menyusuri bebatuan di samping air terjun setinggi 7 meter mungkin?
Nayla hanya duduk di tepi sambil berteriak padaku untuk hati-hati. Sementara aku tak menggubrisnya dan sibuk terkagum-kagum dengan pemandangan di depanku.
Aku melihat jam tanganku yang sudah menunjuk pukul 10.15 pagi. Air terjun ini mengarah tepat ke timur, pada matahari yang bersinar hangat. Membuat warna airnya jadi keemasan, ditambah beningnya air memperlihatkan bebatuan yang ada di dasar sungai. Pasti akan menyenangkan kalau terjun dari atas sana.
"Nayla, gue mau terjun" teriakku pada nayla.
"Hah, terjun? Jangan, bahaya!" wajahnya tampak lebih panik dari sebelumnya.
"Tenang aja, gue udah biasa"
"Jangan!" nayla berteriak dengan wajah marah. Bukannya takut, aku malah ingin tertawa melihatnya. Dia berjalan tergesa-gesa ke arahku. Pasti repot karena dia memakai rok.
"Jangan terjun, bahaya miral" katanya sesampainya di depanku."
"Bahaya kenapa sih, orang terjun doang"
"Pokoknya jangan"
Karena dia ngotot dan kelihatan serius, akhirnya aku mengalah dan memutuskan untuk berenang di bawah air terjun saja.
"Mau ikutan nggak?" kataku sambil melepas sepatu dan kaos.
"Nggak" jawabnya sambil menunduk, memainkan sebuah batu di tangannya.
"Masak gue renang sendirian" aku berjalan menghampirinya. Nayla malah terkejut dan menutup wajahnya.
"Renang aja sendiri, aku nggak mau ikut"
"Loe nggak bisa renang?"
"Bisa lah, tapi lagi nggak pengen renang, udah sana pergi" dia malah duduk membelakangiku sambil masih menutup wajahnya. Aku berdiri di sampingnya selama beberapa saat, sampai menyadari kalau sebenarnya dia sedang malu melihatku.
"Oke, gue renang sendiri, loe jangan kabur ya" aku pun pergi sambil tersenyum mengingat tingkah nayla. Mungkin budaya di desa ini membuat dia tumbuh jadi cewek yang polos seperti itu. Bagus sih, jarang-jarang ada cewek kayak dia. Dan lagi dia pandai dalam segala hal yang berurusan dengan rumah. Sikapnya kadang dewasa, kadang pula jadi kekanakan
Tiba-tiba sebuah ide iseng muncul di kepalaku.
"Nay, ke sini bentar dong. Tolongin gue" teriakku.
Nayla menoleh dengan cepat.
"Kenapa?"
"Kayaknya kaki gue kram, nggak bisa berenang lagi, bantuin gue ke pinggir"
Nggak perlu menunggu lama, nayla sudah berlari ke sungai bahkan sebelum ucapanku selesai. Aku menahan tawa sambil berpura-pura hampir tenggelam.
__ADS_1
Asyik juga ngerjain nayla, dia gampang banget dikibulin.
Tapi sebelum dia sampai ke tepi sungai. Naas, Nayla jatuh terjerembab.
****
Karena kejadian nayla yang kepleset batu di sungai. Akhirnya dia nggak bisa jalan karena kakinya yang kesleo. Jadi begini ceritanya :
Aku yang awalnya hanya berniat bercanda langsung lari menghampirinya,
"Eh, loe nggak papa?"
Nayla bukannya menjawab pertanyaanku malah diam sejenak dan langsung memukul lenganku dengan kesal.
"Katanya kram"
yah, aktingku pun gagal.
"Cuma bercanda" kataku sambil nyengir. Tapi nayla masih marah dan menolak bicara apapun. Bahkan saat aku memaksanya naik ke punggungku. Mana mungkin aku tega melihatnya berjalan jauh sementara kakinya sudah membiru. Aku jadi merasa sangat bersalah padanya.
"Nay? Masak loe mau marah terus, nggak capek itu hati, nggak panas emang?"
Masih hening, nayla kelihatannya tidak akan bicara sampai ada keajaiban.
"Gue minta maaf ya, gue nggak maksud mau bikin loe celaka. Niatnya tadi cuma mau bercanda, maafin ya?"
"Nay, kok loe nangis. Apa kaki loe makin sakit. Gue cepet-cepet deh. Tahan bentar ya"
Nayla justru melingkarkan lengannya di leherku, padahal sedari tadi, dia mencoba menjaga jarak. Tangisnya makin kenceng begitu juga pelukannya.
Untung kuping gue nggak sampe budek....
"Bapak..." gumamnya di tengan tangisnya. Jadi, dia kangen bapaknya. Aku dengar dari orang-orang nayla hanya tinggal berdua dengan ibunya. Ayahnya meninggal saat usianya masih 8 tahun.
"Nangis aja nggak papa, biar lega"
Aku mendengarkan tangis nayla sepanjang perjalanan pulang. Rasanya nggak tega mendengar tangisannya. Selama ini dia selalu kelihatan tenang. Suara tangisan nayla menghilang saat kusadari ia tertidur, mungkin ia kelelahan. Aku terus melangkah menuju rumah. Nggak mungkin mau dibawa ke puskesmas, yang ada nanti papa bisa marah karena menyangka aku mencelakakan anak orang. Jadi pilihannya ya ke rumah. Ibu pasti bisa membantuku.
Untung keadaan jalan sepi ketika aku pulang. Dengan sembunyi-sembunyi aku membawa nayla ke rumah. Susah payah membuka pintu karena pundakku sudah mau patah rasanya.
"Ma?" teriakku begitu pintu terbuka.
"Miral? Itu siapa?" mama tahu-tahu sudah berdiri di depan pintu dapur. Tentu saja dengan wajah terkejut. Sebuah pisau tergenggam di tangannya, entah kenapa jadi tampak menyeramkan.
"Ummm... Ini temenku ma, tadi dia jatoh trus kakinya kesleo" jelasku.
"Kok bisa, kalian maen ke mana sih?" mama menghampiriku, membantuku menurunkan nayla ke kursi.
"Kayaknya dia pingsan"
__ADS_1
"Eh, kirain ketiduran ma" mama memukul kepalaku.
****
Setelah berbaring di kursi selama satu jam'an akhirnya nayla bangun juga. Ia mengerjap pelan.
"Di mana ya?"
"Di rumah gue"
"Hah" seperti yang kalian duga, nayla langsung duduk tegak mengamati sekelilingnya.
"Kok bisa?"
"Tadi kan loe pingsan" nayla terdiam sesaat, mungkin mencoba mengingat kejadian sebenarnya.
"Kamu yang bawa aku ke sini?"
"Ya iyalah, siapa lagi. Nih. Minum dulu" aku menyodorkan segelas air pada nayla.
"Caranya?"
"Di lempar, ya digendong dong nay"
Raut wajah nayla langsung berubah penuh penyesalan.
"Maaf ya miral, kamu pasti capek banget"
"Ya iyalah, ini pundak gue rasanya udah mau copot"
"Maaf banget" nayla berkata penuh penyesalan, bahkan sampai menyatukan kedua telapak tangannya ke depan. Padahal seharusnya kan aku yang minta maaf karena membuat kakinya sakit.
"Sorry, harusnya gue yang minta maaf. Gara-gara gue kaki loe sakit"
Nayla memandangi kaki kananya yang bengkak.
"Kapan ya sembuhnya?"
"Mungkin semingguan, gitu sih kata mama"
"Oh iya mama kamu di mana, aku belum bilang terima kasih"
"Mama lagi keluar nganterin makanan papa, loe mau pulang sekarang? Biar gue anter"
"Gimana caranya, aku nggak mau digendong"
Entah mengapa ekspresi wajah nayla jadi sangat lucu. Jadi pengen nyubit...
"Nggak lah, gue udah capek juga. Kita pakai sepeda"
__ADS_1