Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 28 : Bodoh


__ADS_3

"Bilang aja sama mama loe tidur di rumah temen. Jangan samapi mama tahu loe mabuk"


"Hem..."


"Mama sama papa nggak suka sama bau alkohol, jadi jangan banyak bicara sebelum loe gosok gigi atau loe bakal dapet masalah"


"Hem"


Aku melirik Nayla, tari tadi dia menjawab semua perkataanku dengan gumaman.


"Dan jangan sekali lagi loe minum alkohol, kalau sampai loe berani. Awas aja loe"


"Hem"


"Hoe, loe denger nggak sih"


"Denger kok"


Aku menyalakan musik dan mengemudi dalam diam.


"Besok udah mulai masuk kuliah, loe harus siap"


Tidak ada jawaban apapun termasuk "hemmm" nya. Aku menoleh dan mendapati ia sudah pulas sambil bersender di jendela.


Lagi-lagi aku tersenyum melihat tingkahnya.


Dia pasti bakal marah kalau tahu aku menciumnya saat dia mabuk.


Apa aku tidak sopan? Tapi dia yang menciumku duluan.


Itu hanya semacam tindakan balas dendam.


"Kamu nggak ikut masuk?"


"Nggak, gue mau ke kampus. Lagian gue nggak mau ditanyain macem-macem sama mama. Inget jangan banyak omong sebelum gosok gigi. Bilang aja loe mau ke toilet bentar"


"Hem.. Makasih banyak"


Aku memperhatikan Nayla sampai ia masuk dan menghilang ke dalam rumah.

__ADS_1


Tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Seandainya aku bisa ingat semuanya. Kenapa waktu itu aku pergi meninggalkan desa? Sejujurnya aku belum mengingat semua tentang Nayla. Tapi satu ingatan tentangnya itu menimbulkan perasaan yang membuat hatiku hangat.


Hangat? Sejak kapan aku bertingkah seperti remaja yang baru kenal cinta.


Aku tertawa dan menjalankan mobil. Waktunya ke kampus.


"Rian" aku melambaikan tanganku pada Rian yang sedang berjalan dari Arah berlawanan.


Rian balik melambaikan tangannya.


"Tumben manggil gue Rian lagi, ada hal serius yang mau diomongin lagi?"


"Gue putusin buat manggil loe Rian mulai dari sekarang"


"Eh, semir waras?"


Aku meliriknya tajam.


"He..he.. Kalau loe nyuruh gue manggil loe Miral... Agak susah. Soalnya semir lebih cute"


Ceritanya saat pertama kali bertemu Adrian aku mewarnai rambutku dengan warna merah, seminggu kemudian aku menggantinya dengan coklat, seminggu kemudian dan seminggu kemudiannya aku terus mengganti warna rambutku. Setelah 2 tahun kuliah aku putuskan untuk berhenti mengganti warna rambutku.


"Ikut dong" Adrian langsung melompat merangkul bahuku. Niat terselubungnya adalah minta gratisan.


"Loe nggak marah sama gue?" hari itu ketika aku bilang untuk saingan. Adrian hanya diam saja selama beberapa detik lalu dia mengulurkan tangannya dan setuju.


Dia tidak marah, tapi Adrian yang seharusnya pasti akan tertawa bukan diam dan setuju seperti itu.


"Marah kenapa? Kalau gue marah. Ntar nggak ada yang bayarin bakso gue lagi"


Aku berdecak, menendang kakinya.


Adrian mengaduh secara berlebihan


"Oh ya, kemarin loe bawa alkohol ke acara kita?"


"Hah, gila kali gue... Bisa disiram air got sama dosen"


Jadi yang kasih Alkohol ke Nayla siapa?

__ADS_1


Makanan baru datang dan aku baru menyatap beberapa sendok sarapanku saat Tasya tiba-tiba datang dan merangkul lenganku.


"Loe ke mana aja, ngilang terus dari kemarin"


"Gue kan sibuk ngurusin ospek sya"


"Sejak kapan, loe kan paling anti sama kegiatan kayak gitu"


"Sejak ada gue. Udah loe minggir sana, gangguin gue sarapan aja" Adrian menyela. Sejak dulu ia dan Tasya tidak pernah bicara secara akur. Itu sebabnya aku tidak mau berkumpul bersama dengan mereka.


"Ye, pede, gue mau nemenin Miral bukan loe"


"Masalahnya gue di sini" Adrian tak mau mengalah.


"Ya udah pergi sono, lagian tu makanan pasti miral yang bayarin"


"Stop, gue mau sarapan" aku menggebrak meja "Jangan berisik"


Mereka berdua diam. Tasya mendengus kesal begitu juga Adrian.


"Ntar pulang kampus ikut gue yuk Al"


"Nggak bisa, anak jurusan seni lagi sibuk" Adrian yang menjawab lagi.


"Nggak nanya sama situ, Gimana Al?"


Aku meneguk es jerukku.


"Sorry ya, hari ini gue emang sibuk. Loe minta temenin Devan aja ya, lagian kan dia pacar loe" lebih baik menjaga jarak dari Tasya mulai sekarang.


"Devan malah lebih sibuk lagi" memasang wajah cemberutnya. Biasanya aku akan luluh dengan tatapan itu, tapi kali ini aku tidak mau menatapnya.


"Sono, pergi loe! Sebelum gue ngamuk" Adrian berdiri sambil mengangkat gelas es tehnya.


"Gila" Tasya berdiri dan pergi setelah mencium pipiku.


"Tu cewek, nyebelin banget. Kenapa loe nggak bilang aja kalau punya gebetan. Dengan sikap loe yang diam gini, suatu hari nanti loe bakalan nyesel"


Ucapan Adrian benar. Selama ini aku membiarkan diriku menjadi tempat pelampiasan Tasya saat ia dan Devan tidak akur. Aku tidak menolaknya karena masih berharap ada kesempatan untukku masuk ke hatinya. Bodoh... Tapi itulah aku.

__ADS_1


__ADS_2