
36
Nayla pov
"Hoe.. Nayla? Tumben loe ngelamun"
Aku menoleh pada Riana yang sedang berdiri di depan mejaku.
"Tumben kamu nggak tidur?"
"Ditanya, malah balik tanya"
"Saya nggak ngelamun kok, cuma lagi mikirin tugas aja"
Riana menaikkan sebelah alisnya, tanda kalau dia tidak percaya.
"Loe lagi mikirin siapa?"
"Siapa?"
"Nggak usah pura-pura nggak paham, gue tahu semua kok" dia merendahkan kepalanya dan berbisik padaku "loe ada hubungan sama Miral kan"
Dari mana Riana tahu? Aku tidak menceritakan hal itu pada siapapun.
"Kok kamu tahu?"
"Gue gitu"
"Siapa yang bilang?"
"Nggak ada"
"Terus?"
"Gimana ceritanya kalian bisa jadian?"
"Sst.. Jangan kenceng-kenceng, nanti ada yang dengar" aku menoleh ke sana- ke mari, untung kelas sedang sepi.
"Emangnya masalah?"
"Nggak gitu..., saya cuma, nggak mau ada yang tahu" sejujurnya aku akan merasa sangat minder kalau ketahuan aku adalah pacarnya Miral. Kami punya banyak perbedaan yang sangat jauh.
"Oke... Seenggaknya kasih tahu gue ada cerita apa dibalik hubungan kalian"
Aku menghela nafas berat. Mungkin tidak ada salahnya aku menceritakan hal ini pada Riana, lagi pula kami sudah cukup lama kenal dan hanya dia yang selalu ada di sampingku sebagai teman.
"Ceritanya panjang"
"Apa perlu sambil minum kopi?"
"Besok aja, setelah kita pulang gimana?"
"Kok nunggu besok?"
"Hari ini saya udah janji pulang sama mas Miral"
"Tuh kan gue makin curiga, kenapa kalian bisa pulang bareng terus."
"Udah, besok aja ceritanya"
"Awas loe kalau boong"
__ADS_1
Aku menggeleng sambil tertawa ringan.
"Ya udah, gue pergi dulu. Doain gue nggak disuruh ngepel satu kampus"
Aku mengangguk, Riana benar-benar bandel. Kemarin dia mengulangi kesalahan yang sama dengan tertidur ketika pak Bob mengajar. Alhasil hari ini dia dipanggil lagi, semoga dia baik-baik saja.
Setelah Riana pergi, aku kembali bertanya-tanya, kenapa Miral kemarin pergi? Apa dia menemui Tasya? Aku yakin dia menyebut kata "Sya"
Dia kemarin terlihat sangat cemas, dan langsung pergi begitu telepon dimatikan. Semalam ia juga tidak pulang ke rumah, pagi tadi kami juga tidak berangkat bersama, tidak ada pesan atau kabar darinya. Selain, sms singkat bahwa nanti dia akan menunggu di tempat parkir setelah jam terakhir.
Aku menatap ke luar kelas, hari ini cuaca sedikit mendung. Setidaknya hujan tidak turun. Kukemasi buku-bukuku dan memasukannya ke dalam tas. Apa Miral masih menungguku di parkiran? Ini sudah lewat lima belas menit sejak bel berbunyi. Entah apa alasannya aku memang dengan sengaja ingin membuatnya menunggu. Apa aku cemburu dan ingin balas dendam.
Ya ampun, kenapa aku jadi kekanak-kanakan begini.
Sesampainya di parkiran, aku tak menemukan mobil Miral, biasanya aku langsung mengenalinya mobilnya. Apa dia benar-benar sudah pulang? Pasti dia tidak sabar menungguku.
"Nayla"
Kedatangan mas Adrian membuat perhatianku teralih.
"Iya mas, ada apa?"
Bukannya menjawab pertanyaanku, mas Adrian malah sibuk tertawa.
"Temen loe ada masalah apa sih?" katanya masih menahan tawa.
"Riana?"
"Iya, yang di kantin waktu itu"
"Emangnya kenapa mas?"
"Kayaknya dia hobi banget dijewer sama pak Bob, sumpah, gue kasiahan liatnya"
"Dia tidur di kelas"
"Serius?"
Aku mengangguk.
"Gila.... " mas Adrian tertawa lagi, "loe ngapain di sini? Mau jadi kang parkir?"
"Eh, itu... Lagi cari mas Miral"
"Miral? Dia pulang awal tadi pagi"
"Hah, kenapa mas?"
"Biasa, Miral emang suka gitu kalau cuaca nggak cerah"
Aku langsung teringat dengan cerita Miral di perpustakaan waktu itu. Apa dia sakit?
"Ya udah mas, saya pulang duluan ya" aku bergegas meninggalkan tempat parkir dan memesan ojek online.
"Nay..."
"Iya mas?" aku menoleh.
"Mau gue anterin? Loe mau ke apartmen Miral kan...."
Berbeda dengan Miral, mas Adrian memang hidup dengan cara sederhana, dia memboncengku dengan sepeda beat hitamnya. Sepanjang perjalanan mas Adrian terus bercerita tentang perjuangannya mendapatkan sepeda itu dengan bekerja paruh waktu setelah selesai kuliah. Dia bercerita dengan semangat sambil tertawa beberapa kali. Mendengarkanya membuatku sedikit merasa tenang dan mengurangi rasa cemasku terhadap Miral.
__ADS_1
Sesampainya di tempat tujuan, aku mengucapkan trimakasih, mas Adrian tidak mau ikut karena katanya ada kegiatan lagi di kampus. Dia hanya titip salam.
Rasanya aku ingin segera bertemu Miral dan menanyakan keadaanya. Kutekan bel, menunggu beberapa menit dengan tidak sabar, begitu pintu dibuka aku ingin langsung memeluknya. Tidak... tidak itu memalukan, aku hanya akan bertanya keadaannya.
Kutekan bel lagi.
Pintu bergerak perlahan. Seseorang keluar dari dalam, tapi bukan Miral.
Aku tidak tahu apa itu patah hati karena cinta, tapi apakah rasa sakit saat melihat ada gadis lain yang menemani Miral saat dia sakit, juga patah hati?
"Siapa ya?"
Aku tergagap, mendadak tidak menemukan kata untuk bicara.
"E.. Maaf, saya salah kamar" aku sudah berbalik dan hendak beranjak dari tempat itu saat suara Miral memanggilku.
"Nayla?"
Ya ampun, aku tidak sanggup harus berbalik lagi.
"Loe kenal dia Al? Kayaknya gue pernah lihat, dimana ya....?"
Aku masih belum berbalik, aku pasti akan sangat malu dan sakit hati kalau harus masuk ke apartmenya saat ada Tasya di sana.
Mengabaikan panggilan Miral yang kedua kalinya, aku meninggalkan tempat itu. Tanpa sadar mataku sudah berair.
Betapa payahnya aku yang sedih hanya karena hal sepele seperti itu.
Tapi tetap saja, aku merasa sangat sedih. Aku yang berstatus sebagai pacarnya selalu menjadi nomer 2. Tidak bisa berada di sampingnya saat dia butuh. Bahkan kami sangat jarang bicara. Apa yang sebenarnya Miral pikirkan tentangku? Apa dia sungguh ingat siapa aku? Atau dia hanya mempermainkan aku?
Aku tidak bisa pulang dalam kondisi begini. Jadi kuputuskan untuk mampir membeli minuman dingin. Setelah merasa lebih tenang aku memesan ojek online.
Aku sedikit terkejut saat melihat Bu Nia berada di rumah. Biasanya dia pulang larut malam.
"Halo sayang" Bu Nia tersenyum hangat padaku. Dia selalu tampak menawan di mataku.
"Bu Nia kok di rumah" aku menghampirinya lalu mencium tangannya dengan hormat.
"Kamu nggak seneng?"
"Seneng kok buk, rasanya udah lama nggak lihat bu Nia kayak gini. Biasanya kan pulang malam" aku menjelaskan, takut bu Nia salah paham. Dia sangat baik padaku, aku berjanji tidak akan membuatnya sedih atau merepotkannya.
"Saya khawatir sama Miral, hari ini dia nggak masuk kan"
Aku mengangguk.
"Kamu tahu kondisi Miral?"
"Mas Miral bilang, dia sering sakit saat musim hujan"
"Oh, anak itu sudah berani bercerita pada orang lain" ada nada senang dan sedih dalam suara bu Nia.
"Tapi saya yakin dia baik-baik aja. Dia tadi nelfon, tanya kamu udah sampai rumah atau belom. Katanya kamu nggak bisa dihubungi. Jadi kabari dia segera ya... saya mau lihat taman belakang mumpung ada di rumah" bu Nia menepuk bahuku sebelum pergi.
Apa dia tahu soal hubunganku dengan Miral ya? Aduh.. Bagaimana kalau iya. Aku mengambil ponselku di tas, ternyata lowbat.
Masuk ke kamar, aku langsung men charge ponselku. Ada 7 panggilan tak terjawab dari Miral. Sebenarnya, aku tahu dia juga menelfon ketika aku baru keluar dari gedung apartmennya tadi, dan aku membiarkannya.
Kuketik pesan singkat, aku sedang tidak ingin bicara dengannya.
Saya udah sampai.
__ADS_1
Pesan terkirim. Aku pergi mandi dan turun ke bawah untuk makan malam, tidak berniat melihat balasan dari Miral. Aku juga tak mau mencemasakannya karena sudah ada yang menjaganya di sana.