
Tidak terasa, hari ini adalah hari pertama aku pergi ke kampus sebagai seorang mahasiswi. Hari ospek pertama. Aku menarik nafas dan menghembuskannya berkali-kali sambil memandangi tampilanku di cermin. penampilan aneh yang membuatku ingin tertawa melihat diri sendiri. Aku jadi teringat masa kecilku dengan rambut dikuncir 2 seperti ini.
Jadi rindu ibuk, aku akan jadi orang hebat dan segera pulang.
Hari ini aku diantar oleh pak Raden, tentunya setelah menerima banyak candaan dari bik Narmi dan Bu Nia. Pak Rangga hanya memberiku kata-kata semangat. Aku lega dia tidak ikut mengomentari penampilanku ini.
"Maaf neng, pak Raden nahan ketawa mulu dari tadi" sejak melihatku pak Raden terus menutup mulutnya, menahan tawa.
"Iya, ketawa aja pak. Saya juga mau ketawa lihat diri sendiri" kataku jujur.
"Tapi neng Nayla tetap cantik kok, semangat ya neng" pak Raden memberikan jempolnya.
Selama ini aku tidak pernah pergi keluar meski bu Nia beberapa kali menyuruhku pergi bersama bik Narmi untuk sekedar jalan-jalan. jadi ketika menyadari jalanan besar yang dipenuhi kendaraan mewah, aku membuka jendela dan terkagum-kagum. Bagaimana bisa ada banyak orang membeli mobil, apa mereka semua orang kaya? Apalagi gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit. Aku tidak bisa berhenti tersenyum dan membuka mulutku melihat sekeliling. Semuanya baru untukku. Aku yakin, bahkan Lili pun akan terkagum-kagum melihat semua ini.
"Bagus ya neng, saya dulu waktu pertama kali ke sini juga kayak neng Nayla gitu"
"He...he... Iya pak, saya baru pertama kali lihat gedung setinggi itu. Di sini semuanya serba mewah dan canggih. Beda jauh sama desa saya, yang telepon aja masih susah sinyalnya. Tapi tetep aja pak, kalau disuruh milih mau tinggal di mana? Saya bakal milih di desa. Lebih segar udaranya"
Aku dan pak Raden berbincang tentang desa kami selama perjalanan ke kampus. Aku baru tahu pak Raden sudah bekerja pada keluarga Miral selama 10 tahun. Hanya saja ia sempat libur selama seminggu karena dipecat Miral saat Bu Nia dan Pak Rangga bertugas di kampungku. Dan ta pa sepengetahuan Miral Bu Nia mempekerjakannya lagi.
"Udah sampai neng, semangat ya. Nanti kalau pulang tepelon aja. Atau suruh anter mas Miral"
Kemarin Bu Nia pulang membawakan sebuah ponsel untukku, sebuah hape layar sentuh yang cantik dengan warna pink. Aku belajar cara menggunakan hape itu seharian penuh bersama bik Narmi, ternyata diam-diam bik Narmi tahu banyak soal ponsel pintar itu.
"Iya, pak, makasih ya. Nanti saya telepon" mana mungkin aku minta Miral mengantarku, aku alergi pada tatapan matanya. Yang setiap kali menatapku selalu tidak pernah berkedip, apalagi kalau alisnya bertaut.
Mobil hitam itu melaju, meninggalkan aku di depan gerbang bangunan kampus yang sangat besar. Aku menatap berkeliling. Melihat para mahasiswa yang berkeliaran sambil bercengkrama denagan temannya. Beberapa diantara mereka ada yang memakai atribut aneh sepertiku. Aku sudah ke mari beberapa hari yang lalu, jadi sudah tahu beberapa tempat.
Menurut info yang diberikan, aku harus pergi ke lapangan.
Di lapangan sudah banyak orang berkumpul. Aku sudah tahu kalau rata-rata mereka baru lulus SMA dan berusia belasan tahun. Tapi rasanya aneh juga saat aku berkumpul bersama mereka sementara usiaku sudah 22 tahun, apa aku tidak ketuaan?
Sebuah teriakan yang keras membuat kami para calon mahasiswa baru berkumpul dan membuat barisan. Aku memperhatikan orang-orang dengan pakaian biru tersebut, mereka pasti senior di sini. Setelah perkenalan singkat dan basa-basi dari mereka, giliran kami diberikan kesempatan untuk maju dan memperkenalkan diri.
Baru saja seorang gadis akan menyebutkan namanya tiba-tiba panitia ospek yang kuingat bernama Adrian itu menyelanya.
__ADS_1
Dari arah belakang muncul seseorang yang tidak asing bagiku.
"Tunggu-tunggu, kita ketinggalan satu orang, ini dia cowok songong paling keren di kampus dari jurusan seni"
Semua orang bersorak dan berteriak. Sementara Miral hanya memasang senyum yang menurutku tidak tulus.
"Perkenalan dulu dong bro"
Miral melangkah ke depan, mengangkat sebelah tangannya, "kenalin gue Miral dari jurusam Seni" perkenalan paling singkat dari yang lainnya tapi anehnya menuai reaksi paling ramai. Setelah itu dia malah duduk di belakang sambil memperhatikan teman-temannya. Ckckck....
Tiba-tiba dia melihat ke arahku. Aku buru-buru membuang pandanganku ke arah lain.
Apa dia mengenaliku?
Giliranku pun tiba, aku maju ke depan dengan perasaan tidak karuan. Jujur, aku gugup berada di tengah-tengah mereka.
Setelah menarik nafas diam-diam, aku mulai bicara
"Halo, perkenalan nama saya Nayla anggreini..."
"Nayla?" tiba-tiba panitia ospek itu berteriak menyelaku.
"Lanjutin" katanya dengan senyum lebar. Orang itu sedikit aneh.
"Semoga kita bisa jadi teman ke depannya, trimakasih" aku sungguh tidak tahu cara memperkenalkan diri. Beberapa orang bertepuk tangan selagi aku kembali ke tempat dudukku. Miral masih duduk di belakang dan ketika aku menatapnya, dia juga sedang melihatku.
Lagi, aku segera mengalihkan mataku.
Cuaca semakin panas, tapi kami masih dalam sesi perkenalan. Kupikir setelah itu kami akan istirahat. Nyatanya kami hanya diberi waktu sebentar untuk minum dan harus melanjutkan kegiatan dengan lari memutari lapangan sebanyak 10 kali. Katanya ini adalah olahraga pembukaan di hari pertama.
Ya ampun, aku paling tidak bisa lari.
Baru beberapa putaran saja rasanya nafasku sudah mau habis. Aku tidak kuat lagi. Tapi mereka mengawasi dari pinggir lapangan.
Setengah putaran kemudian.
__ADS_1
Cukup, aku mau istirahat. Tidak kuat lagi....
Aku berhenti dan berjongkok di tepi lapangan, bernafas dengan susah payah. Rasanya dadaku sesak sekali.
"Loe nggak papa?" aku melihat ke atas. Panitia ospek.
"Nggak papa, saya cuma nggak biasa lari" jawabku terbata dengan nafas masih setengah-setengah.
"Ya udah, istirahat aja, mau gue anterin ke klinik?"
"Nggak usah mas, bentar lagi pasti baikan"
"Bentar, gue ambilin minum" aku tidak memperharikan si panitia ospek dan sibuk mengatur nafas. Tapi tidak lama dia kembali sambil menyerahkan botol minuman padaku.
"Minum dulu"
Aku menerima botol itu dan langsung meminumnya.
"Loe nayla kan"
Aku mengangguk.
"Gue Adrian, dari jurusan seni juga" dia mengulurkan tangannya.
"Makasih minumnya mas" aku menjabat tangannya.
"Loe masuk jurusan seni kan?"
"Iya"
"Kalau butuh bantuan bilang aja sama gue"
"Iya, makasih"
"Kalau masih capek istirahat aja"
__ADS_1
"Nggak apa-apa mas, masak yang lain lari saya istirahat. Sekali lagi makasih minumannya ya" aku menyerahkan botol minuman itu dan kembali melanjutkan lari. Sejujurnya aku merasa tidak nyaman dekat dengan orang asing. Di kejauhan Miral sedang berbicara dengan gadis cantik berambut panjang. Entah mengapa aku merasa sedikit kesal. Dia sama sekali tidak menyapaku, padahal kami pernah bertemu, akau bahkan pernah menyuapinya makan bubur. Benar kata panitia osis saat memperkenalkannya tadi.
Dasar songong.