Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 10 : kenang-kenangan


__ADS_3

Jam 3 sore miral benar-benar datang ke rumahku. Padahal aku berharap dia lupa saja. Aku sengaja menyibukkan diriku ketika dia sudah tiba. Siapa tahu dia akan bosan menunggu dan pulang. Tapi setelah setengah jam berlalu miral malah ikut membantuku menyapu halaman. Aku jadi merasa bersalah karena punya niat buruk padanya. Kekanakan sekali sikapku.


  "Minum dulu, setelah itu kita bisa pergi ke ladang" aku menyodorkan segelas air pada miral.


Sepertinya dia sangat kehausan sampai mengabiskannya dalam sekali teguk.


  "Trimakasih sudah membantuku"


  "Sama-sama" kalau dia tersenyum seperti itu, aku jadi merasa makin bersalah. Harusnya aku tetap bersikap biasa padanya walaupun lili mengancamku. Toh, ini bukan salahnya.


Suasana sore hari di ladang adalah suasana yang paling kusukai. Kami pergi ke tepi ladang seperti kemarin, menikmati matahari terbenam sambil berbaring dalam diam. Aku sedikit bertanya-tanya kenapa miral juga diam saja. Sejak berangkat sampai tiba di sini dia tidak mengoceh sama sekali. Sekarang pun dia sedang memejamkan matanya. Aku tahu dia tidak tidur. Apa dia ada masalah?


  "Nay?" tiba-tiba dia bicara, masih dalam posisinya, memejamkan mata.


  "Iya?"


  "Loe masih punya janji sama gue kan"


  "Janji yang mana?"


  "7 hari"


Oh iya, aku juga baru ingat itu sekarang. Aku lupa karena kakiku kesleo sehingga waktu itu aku hanya berhasil sampai hari ke tiga.


  "Maaf ya, karena waktu itu kakiku sakit jadinya lupa, tapi kalau kamu mau lanjutin bisa kok"

__ADS_1


Hening sesaat, apa miral marah? Kayak nggak ada tanda-tanda dia mau menjawab.


  "Nggak perlu, sebenarnya loe udah berhasil bikin gue betah di sini bahkan sebelum 7 hari"


   "Beneran?"


   "Iya, gue jadi betah banget sampai nggak pengen balik ke kota. Kalau gue jujur, boleh nggak sih?"


Tiba-tiba aku merasa suasana jadi aneh. Kenapa miral jadi bicara seserius ini, mana ketawanya yang keras? Apa dia mengigau?


  "Miral, buka mata kamu, kamu nggak ngigo kan" aku menepuk bahunya.


Miral membuka matanya perlahan, jadi dia tadi tidur beneran?


  "Loe mau denger cerita gue nggak?"


  "Iya" aku mengangguk.


Miral duduk, menarik nafas berat. Aku ikut duduk juga di sampingya. Kira-kira apa yang mau diceritakan? Apa dia bercanda seperti waktu itu. Sudah pasang wajah serius, tapi ternyata yang diceritakan malah lelucon.


  "Gue pernah cerita kan kalau gue itu dulu bandel. Gue sering bikin mama sama papa marah, gue bolos sekolah, bikin masalah, main ke klub, pulang pagi, bahkan minum alkohol. Gue tahu gue salah, tapi gue marah."


Aku tidak tahu harus bereaksi apa. Ternyata dia membicarakan hal yang serius kali ini. Dan matanya terlihat sedih.


  "Gue juga nggak bisa berhenti karena udah terlanjur masuk ke dunia gelap itu. Makin hari, kelakuan gue makin buruk. Terakhir gue di skors selama satu minggu. Mama yang khawatir nyuruh gue pergi ke psikolog. Bukannya membaik, gue malah makin parah. Karena gue merasa gue ini baik-baik aja, cuma lagi marah. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah rumah. Kebetulan, papa dipidah tugaskan ke sini"

__ADS_1


Miral menghembuskan nafas panjang, sebuah senyum terukir dibibirnya. Sama sekali tidak bisa kuartikan maksud senyumnya. Yang pasti itu bukan senyum kebahagiaan.


  "Apa sekarang loe jadi ilfeel sama gue?"


  "Itu kan dulu, aku nggak kenal kamu yang dulu. Aku kenalnya sama miral yang suka ketawa keras dan baik" aku tersenyum,tanpa sadar menyentuh lengannya.


  "Makasih ya" miral balas tersenyum, meletakan tangannya di atas tanganku.


  "Nay loe tau nggak?"


  "Apa?"


  "Loe tu manis lho" seketika aku langsung salah tinggah dan menjauh dari miral. Sementara miral malah tertawa seenaknya. Hilang sudah suasana yang tadi. Tapi aku senang melihatnya tertawa seperti itu. Tidak peduli bagaimana kehidupannya dulu, yang pasti dia sekarang sudah berubah.


  "Gue mau kasih sesuatu"


  "Hah....?"


  "Tapi loe merem dulu"


Entah perasaanku atau apa, rasanya ada yang nggak beres sama senyum miral. Apa dia masih sedih? Ada apa dengan tatapannya itu?


Menuruti kata-katanya aku memejamkan mata, menunggu perintahnya lagi untuk membuka mata. Sekian detik berlalu dalam suasana hening yang mengganggu. Sampai kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aku terkesiap, refleks membuka mataku.


  "Kenang-kenangan" bisiknya. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain diam.

__ADS_1


 


__ADS_2