Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 31 : Bentar aja


__ADS_3

Bab 31 :


Dipaksa berapa kali pun Miral tetap tidak mau pergi ke rumah sakit.


Ia berbelok ke apotik dan membeli obat. Masuk ke mobil sambil memegangi punggungnya.


"Masih sakit?"


"Ya masih lah, loe nggal lihat batunya segede apa?" dia meringis, tidak berani menyenderkan punggungnya ke kursi. Sepertinya dia sangat kesakitan. Tapi kenapa menolak pergi ke rumah sakit?


"Biar saya obatin"


Miral melirikku sekilas lalu merogoh kantong plastik dari apotik dan menyerahkan sebuah salep padaku.


"Eh, kamu mau apa?"


Tanyaku sambil menutup mata saat melihatnya menarik kaosnya ke atas.


"Katanya loe mau obatin gue? Lukanya kan dipunggung"


Seketika aku langsung merasa malu.


"Nggak usah dibuka semua, biar saya yang buka dari belakang"


"Serah loe" miral duduk membelakangiku. Ragu-ragu aku menaikkan kaosnya. Tapi begitu melihat luka di punggungnya, mulutku terbuka karena kaget. Harusnya dia tidak menolak pergi ke dokter. Lukanya cukup parah.


"Kamu beneran nggak mau pergi ke dokter?"


"Nggak"


Aku mengoleskan salep itu dengan hati-hati, meskipun begitu Miral tetap mengaduh. Aku meniup luka itu dan menurunkan kaosnya dengan hati-hati.


"Maafin saya ya" aku merasa sangat bersalah. Kalau saja aku tadi tidak membuatnya kesal, dia tidak akan jatuh dan terluka seperti itu.


"Udah, gue nggak papa kok" Miral mengusap kepalaku yang menunduk. Tapi tetap saja aku tidak bisa membendung airmataku. Dasar cengeng.


"Yaelah jangan nangis dong, gue jadi bingung kalau loe nangis"


Tangisku malah makin menjadi. Padahal siapa yang sakit siapa yang menangis. Tapi aku tidak peduli, aku hanya mau menagis.


"Nay, udahan nangisnya ya. Gue anterin pulang" aku masih sesenggukan. Tidak berani mengangkat kepalaku karena rasa bersalah.


Tiba-tiba Miral mengusap pipiku, membuatku menoleh padanya.


"Gue cium, kalau nggak berhenti nangis"


Hah, aku refleks menutup mulutku, mengusap air mata yang masih basah di pipiku dan mengalihkan pandanganku darinya.


Miral terkekeh pelan dan melajukan mobilnya menuju rumah.

__ADS_1


Meski begitu aku tetap tidak bisa berhenti memikirkan keadaanya. Luka seperti itu pasti tidak akan sembuh dalam beberapa hari. Bagaimana dia akan beraktivitas?


"Sampai ketemu besok" ucapnya setelah aku turun dari mobil. Tanpa senyum. Padahal dia bilang kami sedang pacaran tapi sikapnya masih saja begitu, tidak ada perubahan besar.


Aku masuk ke dalam rumah dengan langkah letih. Bukan karena lelah, tapi tentu saja karena mencemaskan keadaan Miral. Seperti biasanya keadaan rumah besar itu sepi. Hanya ada bik Narmi yang sedang menyapu ruang tamu saat aku masuk.


"Eh, neng Nayla udah pulang. Gimana neng kuliahnya?"


"Lancar kok bik, saya punya temen-temen yang baik banget"


"Bagus deh neng, eh, itu neng Nayla bawa apaan?"


"Hah..." aku menoleh ke bawah, dan terkejut menyadari bahwa aku masih menggenggam salep milik Miral.


"Gawat bik"


****


Auw


Aku langsung berjengit saat tidak sengaja bersender di sofa. Aku pasti bohong kalau aku bilang tidak apa-apa. Punggungku rasanya mau patah. Tapi aku benci pergi ke rumah sakit, aku akan menelfon dokter untuk datang ke mari nanti. Jangan sampai mama dan papa tahu.


Padahal ini hari pertama aku dan Nayla berpacaran. Harusnya kami bisa berduaan.


Yah, walaupun aku tidak yakin karena Nayla sepertinya bukan tipe orang seperti itu. Lagipula sejujurnya aku masih tidak yakin dengan perasaanku.


Apa aku benar-benar mencintainya, bukankah terlalu tergesa-gesa. Atau aku hanya terpengaruh suasana?


"Huft, aku akan kesusahan mandi dan harus tidur tengkurap" keluhku sambil berjalan ke kamar mandi.


Baru saja keluar dari kamar mandi. Bel pintu sudah berbunyi berkali-kali.


Siapa yang datang? Yang pasti itu bukan Tasya. Aku memakai kaosku dan membuka pintu.


"Nayla?"


"Saya mau nganterin ini" dia menyodorkan salep miliku. Oh, rupanya dia tidak sengaja membawa salep itu. Padahal aku akan memamnggil dokter, jadi tidak masalah kalau dia membawanya.


"Masuk" aku menariknya ke dalam dan menutup pintu.


"Saya tadi nggak sengaja bawa salep kamu, saya balikin sekarang"


"Hem...." aku menerima salep itu dan meletakannya di meja.


"Mau kopi?" hanya itu yang ada di apartmenku.


"Nggak usah, saya mau pulang aja"


"Nanti aja, entar gue anterin"

__ADS_1


"Tapi..."


"Lagian loe mau ngapain di rumah, mama papa kan pulang malam"


Aku pergi ke dapur dan membuat 2 cangkir kopi, entah dia mau atau tidak.


Nayla tampak tidak tenang duduk di sofa. Padahal kemarin-kemarin dia biasa saja.


"Loe sehat?"


"Hah?"


Aku meletakan kopi di hadapannya. Apa jangan-janagn Nayla gugup karena ada di dekatku ya. Karena sejak tadi siang dia masih berusaha menghindari tatapanku. Tepatnya sejak kami resmi berpacaran .


"Nay, loe pernah punya pacar nggak sebelumnya?"


Mungkin aku bisa sedikit iseng padanya.


"Hah?" ekspresinya terlihat kaget dengan pertanyaanku. Aku tersenyum dalam hati, sepertinya ini akan seru.


"Ya kan gue cuma penasaran" aku menggeser duduk lebih dekat dengannya.


"Enggak" jawaban singkat yang membuatku makin gemas padanya.


"Kenapa? Emang di desa nggak ada cowoknya?"


"Ada kok, tapi saya emang nggak pengen dan lagipula saya terlalu sibuk untuk mikirin hal kayak gitu"


"Oh..." aku mengangguk-angguk.


"Jadi gue yang pertama dong" aku menyeruput kopi sambil meliriknya, "mau gue kasih sesuatu nggak?" aku meletakan kopi di meja dan tersenyum ala badboy padanya. Nayla terlihat gusar.


"Apa?"


"Gue kasih...." aku mendekatkan diri padanya. Semakin aku mendekat kepala nayla semakin mundur. Ketika sudah benar-benar dekat Nayla memajamkan mata dengan ekspresi yang jelas terlihat takut. Aku berhenti dan tidak sangggup lagi menahan tawa.


"Ha..ha.. Loe mikir apaaan sih" kataku sambil tertawa. Nayla melemparku dengan bantal di sofa. Wajahnya merah dan cemberut bersamaan.


"Mikir mesum pasti"


"Enggak" jawabnya cepat, aku tertawa makin keras.


"Saya mau pulang sekarang" dia berdiri dan berjalan menuju pintu dengan langkah tergesa. Aku menyusulnya sambil masih menahan tawa. Tepat sebelum pintu terbuka. Aku mendorong pintu itu tertutup lagi dengan kakiku dan memeluknya dari belakang. Nayla hanya terdiam. Begitupun aku.


Ada beberapa hal yang membuatku merasa nyaman dan selalu ingin memejamkan mata, seperti suara piano dan keheningan.


Dan aku baru tahu aroma Nayla membuatku merasa sangat nyaman. Seperti aroma dari masa lalu, kenangan yang tidak bisa kuingat tapi melekat.


"Miral?"

__ADS_1


"Bentar aja"


Aku memeluknya lebih erat.


__ADS_2