Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 26 : Mabuk


__ADS_3

Setelah beberapa hari harus terkurung di kamar dan tidak bisa kemana-mana akhirnya hari ini aku bisa pergi ke acara malam keakraban. Aku bersemangat sekali. Bu Nia membantuku memilih baju yang akan kupakai, ia bahkan membelikan sebuah gaun cantik yang pas untukku. Aku jadi merasa cantik.


Aku berdiri di depan cermin sambil menarik nafas, Bu Nia juga yang mendadaniku karena aku tidak bisa berdandan sama sekali. Aku sampai terkejut melihat bayanganku sendiri di cermin.


"Nayla, buruan berangkat, nanti kamu telat" Bu Nia melongok dari balik pintu. Aku tersenyum kikuk. Mengambil tas dan berjalan keluar.


"Nayla gugup bu"


"Tenang aja, kamu cantik kok. Oh ya hati-hati ya, kaki kamu belum sembuh bener" Bu Nia mengecup keningku.


"Makasih ya Bu"


"Sama-sama sayang, selamat menikmati acaranya"


Aku mencium tangan Bu Nia dan pak Rangga. Di rumah ini aku diperlakukan seperti anak mereka sendiri. Baruntungnya aku... Karena itu aku juga berjanji tidak akan mengecewakan mereka


"Duh, neng Nayla cantik banget, banyak yang nasksir pasti" canda pak Raden saat aku masuk mobil.


"He..he.. Makasih pak"


Mobil melaju melewati jalanan kota yang tetap ramai walau sudah malam. Aku masih menarik nafas panjang beberapa kali karena merasa gugup. Aku kan hanya ikut ospek di hari pertama sehingga aku tidak punya teman. Apa yang harus kulakukan di sana ya?


Miral juga tidak datang lagi setelah hari itu. Dan entah mengapa aku merasa kecewa. Apa yang sebenarnya dia lakukan padaku? Datang dan pergi seenaknya.


Ah, ya, dia kan punya pacar. Wanita cantik yang ambruk di apartmennya waktu itu. Dia pasti sibuk menghabiskan waktu dengannya. Kenapa juga harus memikirkan aku....


"Neng, neng Nayla udah sampai"


"Eh, iya pak Raden, maaf" memikirkan Miral, aku sampai lupa waktu.


"Selamat bersenang-senang ya neng"


"Siap pak, mau dibawain oleh-oleh nggak?"


"Eh, emangnya bisa neng?"


"He..he.. Nggak tahu juga"


"Ya tapi kalau bisa nggak apa-apa neng"


Aku turun dari mobil. Suasana kampus di malam hari tidak se sepi bayanganku. Mungkin karena ada acara tempat ini jadi ramai, tidak beda jauh dengan siang hari. Hanya saja suasananya memang agak gelap.


Aku menarik nafas sekali lagi dan masuk.


Jurusan seni ada di lantai dua, sehingga aku harus naik tangga.


Kemarin mas Adrian menelfonku, selain menayakan keadaanku dia juga memberi informasi tentang acara ini. Ternyata dia pria yang baik terlepas dari kepribadiannya yang terkesan bebas.


"Nayla"


Aku belum sampai ke ruangan seni saat seseorang memanggilku dari belakang.

__ADS_1


"Wah, ini seriusan Nayla" mas Adrian memandangiku dari atas sampai bawah, membuatku jadi salah tingkah.


"Iya mas"


"Sorry, loe cantik banget sih"


"Makasih"


"Oh, ya, gimana keadaan loe? Kaki loe udah nggak sakit?"


"Udah bisa jalan kok mas"


"Syukur deh, kalau capek bilang aja ke gue. Mau di pikul, mau di gendong, gue selalu siap" katanya sambul tertawa.


Aku ikut tertawa menanggapi perkataannya. Sifatnya mas Adrian ini sedikit mengingatkanku pada Miral dulu.


"Ayo masuk"


Saat pintu terbuka, aku langsung menutup mulutku saking kagumnya. Ruangan ini sangat luas dan penuh cahaya gemerlapan. Aku tidak menyangka acaranya semeriah ini. Beberapa orang tampak duduk di kursi sambil tertawa bersama, beberapa lagi menyanyi dengan suara tidak karuan, kurasa mereka mengganti lirik lagunya. Aku bersemangat sekali.


"Silahkan dinikmati, ini acara untuk para calon mahasiswa jurusan seni"


"Makasih mas, tempatnya bagus banget"


"Mau minum sesuatu?"


"Nanti aja mas, saya mau istirahat bentar" jujur kakiku agak terasa sakit setelah naik tangga tadi. Aku melangkah menuju sofa di pojokan.


"Loe nggak papa kan?"


"Sebenernya gue mau nemenin loe, tapi karena gue panitianya jadi gue sibuk banget. Loe gue tinggal bentar ya" mas Adrian menjelaskan dengan nada bersalah.


"Nggak papa mas, saya baik-baik aja kok"


"Oke, selamat menikmati ya, anggap rumah sendiri" setelah itu Mas Adrian pergi. Tapi tidak lama kemudian dia kembali, meletakan banyak sekali makanan dan minuman kaleng di meja.


"He... he..., biar loe nggak perlu ke mana-mana, makan yang banyak biar cepet gede juga" dan menghilang lagi setelahnya padahal aku belum bilang trimaksih. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Ternyata Mas Adrian punya sisi yang lucu.


Makin malam suasana makin ramai. Aku hanya duduk di sofa sambil memandangi anak-anak lain yang bersenang-senang. Bukannya aku tidak mau ikut bergabung, tapi entah kenapa kakiku masih berdenyut nyeri. Jadi daripada aku nanti jatuh, lebih baik aku diam saja di sini. Aku masih bisa menikmati suasana ini.


Meski begitu aku beberapa kali berbincang dan menyapa orang yang istirahat di sampingku


"Hay" seorang gadis dengan pakaian tomboy menyapaku duluan saat ia baru menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Hay juga" aku membalasnya sambil tersenyum.


"Loe Nayla kan"


Eh, kok dia bisa tahu namaku.


"Iya, kok kamu bisa tahu?"

__ADS_1


"He..he... Karena gosip, kenalin gue Riana, kita bakal jadi temen satu jurusan"


Kelihatannya dia tipe anak muda yang penuh semangat. Tapi apa yang dimaksud dengan gosip tadi?


"Nayla, apa ada gosip jelek tentang saya?"


Riana tertawa keras, "oh, nggak kok, tapi selama loe nggak ada anak-anak lain jadi pada kenal sama loe, mereka diam-diam lihatin loe di sini" matanya melirik anak-anak lain.


"Kenapa?"


"Riana" seseorang berteriak memanggil Riana.


"Kapan-kapan gue ceritain, gue mau joget dulu, bye" aku termenung di tempatku. Memperhatikan Riana yang berjalan menjauh sambil menggerakkkan tubuhnya. Kira-kira berapa usianya ya?


Kira-kira gosip apa yang dimaksud? Aku jadi penasaran dan merasa aneh. Apa aku akan mengalami masa kuliah yang sulit seperti sekolahku di desa dulu. Sampai aku lulus tak ada teman yang dekat denganku berkat kelakuan lili.


Aku menggelengkan kepalaku dan mengambil gelas minuman di meja. Ah, rasanya agak aneh. Apa ini minumanku?


Oh, sepetinya ini minumannya Riana tadi. Seleranya sangat buruk.


Tiba-tiba mataku menangkap seseorang yang baru saja masuk, disambut meriah oleh beberapa anak. Dia pasti populer sekali. Aku menyipit karena ruangan yang agak gelap.


Miral? Sontak aku memalingkan wajahku. Aku malu melihatnya, rasanya ingin sembunyi saja. Tapi kenapa aku harus malu?


Dia terlihat mencari seseorang. Pasti bukan aku kan, tapi nyatanya dia datang ke arahku.


"Hay" miral mengambil minuman kaleng yang ada di meja, membuat kepalanya mendekati wajahku.


"Sendirian aja, loe nggak ikut mereka" ia lantas duduk di sampingku. Dia sendiri kenapa tidak bergabung dan malah duduk di sampingku?


"Nggak, saya lebih suka di sini" aku meneguk minuman di gelas lagi, aneh, tapi mengapa membuatku sedikit santai.


"Gue juga nggak terlalu suka acara kayak gini. Terlalu bising"


Benarkah? Aku pikir Miral tidak beda jauh dengan mereka. Dia populer di mana-mana. lagi pula dari ceritanya dulu dia anak yang bandel. Tapi itu dulu kan.


"Iya, di sini rame banget" aku meneguk minuman itu lagi.


"Loe didandanin mama?"


"Eh, Iya" aku tersenyum, malu. Berusaha sebisa mungkin menghindari kontak mata.


"Hemmm... Cantik"


Hah, apa katanya? Cantik? Aku? Kenapa pipiku jadi panas begini.


Glek... Aku menghabiskan minuman di gelas.


"Makasih, tapi masih cantikan dia kan" kepalaku jadi agak pusing


"Dia?"

__ADS_1


"Pacar kamu" kenapa aku jadi bicara ngelantur seperti ini? "itu wanita cantik yang tidur di apartmen kamu, dia cantikkkk bangett.. " aku menyenderkan kepala ke belakang, perutku jadi mual."


"Nay, loe... Mabuk?"


__ADS_2