
Aku tertidur di sofa lagi sambil memegang kuas. Semalam aku begadang untuk menyelesaikan lukisan pesanan klien.
Sambil menguap aku memperhatikan Jam dinding yang sudah menunjukan pukul 8 pagi. Hari ini aku ada kelas pukul 9.
Setelah mandi dan memasukan beberapa buku ke dalan tas aku bergegas turun ke parkiran.
Ting..
Sebuah pesan, dari Adrian
Gila, calon siswa baru cantik-cantik semua
Dia mulai membahas masalah cewek lagi. Aku mengabaikan pesan itu dan fokus mengemudi.
Ting
Pesan baru lagi, dari Adrian lagi
Ada satu yang spesial nih, manis banget kayak gula aren😍
Tak lama kemudian Adrian mengirimkan foto seorang gadis yang ia foto.
Bukannya ini, nayla?
Ha... ha... Manis kan, tipe-tipe cewek polos, tipe gue nih
Entah kenapa aku jadi kepikrian. Aku membalas pesan tersebut.
Nggak usah main-main
__ADS_1
Pesan terkirim
Ting
Adrian membalas : tumben, jangan-jangan loe juga suka. Jangan nambahin saingan dong.
Aku sudah mengetik pesan balasan, tapi membatalkannya dan melempar hapeku ka samping begitu saja. Untuk apa aku memikirkannya? Tidak penting.
Setelah selesai kelas pertama aku bertemu Adrian di kantin. Dia sedang menikmati bakso dan mi ayam kesukaannya sambil bermain ponsel. Satu hal yang membuatku heran padanya adalah, dia punya porsi makan yang besar tapi memiliki tubuh yang kekar.
"Ospeknya minggu depan kan?" tanyaku, duduk di hadapannya.
"Yoi, loe dari mana aja, nggak keliatan seminggu ini. Gue kira loe bertapa" diikuti dengan tawa kerasnya.
"Yang masuk jurusan kita ada berapa?"
"Nggak banyak" Adrian meletakan hapenya dan kembali menikmati bakso yang tinggal sedikit, "20 orang kalau nggak salah"
"Dikit tapi kalau cantik ya nggak papa, eh, foto cewek yang gue kirim tadi pagi juga masuk jurusan seni. Pokoknya ntar bakal gue cari pas ospek. Gue udah bikin rencana biar calon doi gue klepek-klepek"
Adrian sudah senyum-senyum sendiri, sementara aku hanya berdecak mendengarnya. Anehnya, kenapa harus nayla? Kenapa ini semua seakan sudah direncanakan supaya aku tidak bisa jauh darinya.
"Eh, ntar malem ke klub yuk" Adrian sudah menghabiskan semua makanannya
"Gue sibuk" jawabku.
"Yaelah, sibuk mulu, pantesan aja jomblo, padahal muka ganteng. Sini, tukeran muka aja sama gue"
Aku melempar sedotan ke arahnya.
__ADS_1
"Kabarin gue lagi soal ospeknya, gue mau ada kelas" aku pergi setelah menoyor dahinya, membuatnya mengumpat selagi aku berjalan.
Aku memutuskan untuk tidak langsung ke apartmen melainkan ke rumah. Meskipun aku mencoba mengatakan bahwa aku pulang hanya karena ingin, sebenarnya alasanku adalah karena ingin melihat Nayla.
Mungkin aku bisa tahu sesuatu jika sering melihatnya.
Aku tidak paham kenapa aku bertindak seperti ini, hanya saja ini semua harus kuselesaikan. Dia terus mengusik pikiranku, aku bertanya-tanya kenapa cara bicara dan tingkahnya tampak tidak asing. Kalau saja dia tidak memberi jawaban yang ambigu mungkin aku tidak sepenasaran ini.
Seperti biasa, rumah sepi saat siang. Mama dan papa akan pulang paling cepat nanti jam 6 sore, masih satu jam'an. Aku masuk ke dapur dan mengambil air dingin, kudengar suara bik Narmi bernyanyi dari dalam kamarnya.
Nayla tidak kelihatan dimana-mana. Aku berjalan ke samping rumah, ke taman bunga, tempat pertama aku melihatnya. Tapi di sana juga tidak ada siapapun. Setelah dipikir-dipikir lagi bukankah aku terlaku berlebihan. Aku duduk di dekat taman dan bersender pada tiang.
Rumah ini cukup luas dan tidak terlalu ramai. Karena mama dan papa menyukai alam maka mereka membuat taman dan halaman yang penuh rumput di sekeliling rumah. Iseng, aku bwerjalan-jalan. Sudah lama tidak menikmat sore hari di rumah ini. Dulu aku suka bermain di sini kan.
Aku sampai di halaman belakang saat pandanganku jatuh pada seseorang yang berbaring tak jauh dariku. Tidak salah lagi, itu Nayla.
Apa yang dilakukannya di sana?
Sore ini cuacanya bagus sekali. Angin bertiup perlahan ditemani cahaya hangat dari matahari. Aku berjalan pelan menghampiri Nayla. Situasi ini mengungatkanku pada sesuatu.
Dia tertidur?
Itulah yang kulihat saat sudah berada 1 meter di sampingnya.
Wush.. Angin bertiup lagi. Selama beberapa detik aku menatap nayla.
"Kenang-kenangan"
Rasa pening menyerang kepalaku, hanya sesaat, bersamaan dengan satu gambaran yang muncul. Rasanya aku mengenali suasana ini, tapi ingatan itu terlalu samar untuk kuingat. Sore hari, matahari, angin, rumput...
__ADS_1
Ilalang?