
Aku membuka pintu kamar, merasa ada yang aneh. Kenapa tirainya tertutup? Seingatku aku tadi membukanya. Mengabaikan tirai, aku membuka almari untuk mengambil baju ganti, tapi anehnya...
Aku menoleh ke ranjang. Kenapa berantakan? Bukankah tadi rapi?
Perasaanku mulai tidak enak. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, bagaimana kalau ada pencuri...
Kecurigaanku makin besar ketika aku mendengar bunyi air manyala di kamar mandi. Tunggu.. Jangan berlebihan, bisa saja ini bukan pencuri. Lalu apa?
Bunyi air mengalir masih terdengar, aku berjalan dengan pelan sambil mengendap, kurasa aku yang lebih mirip pencuri.
Ceklek... Tidak dikunci?
Aku mengintip sedikit, tidak ada siapapun. Kubuka pintu lebih lebar tiba-tiba
Duak
Auw... Kepalaku langsung pening seketika. Aku melangkah mundur, mengerjap, menatap seorang pria yang berdiri di depanku sambil membawa gayung. Dia baru saja memukulku dengan benda itu? Aku harus teriak, tapi pandanganku semakin mengabur dan aku jatuh ke belakang dalam gelap.
"Kenang-kenanganan..."
Seperti bangun dari mimpi buruk, aku langsung tersadar dan duduk. Kenapa mimpi itu muncul lagi?
"Loe siapa?"
Ingatanku langsung kembali ke kejadian sebelum aku pingsan. Ada seorang pria yang memukulku dengan gayung dan lebih parahnya dia tidak menutupi tubuhnya dengan handuk putih.
Aku refleks bergerak maju, karena suaranya terdengar dari belakangku maka aku berbalik. Untungnya dia sudah berpakaian.
"Kamu yang siapa?"
__ADS_1
Orang itu tak langsung menjawab, matanya metapku tajam, kedua alisnya bertaut seolah aku baru saja mengucapkan pertanyaan yang tidak masuk akal.
"Keluar" katanya.
"Nggak bisa, kamu harus bilang dulu. Kamu siapa?" aku tidak bisa begitu saja menuruti perkataannya sebelum tahu kenapa dia bisa ada di kamarku.
"Ni orang..." dia menyelesaikan kalimatnya dengan sebuah umpatan. Aku tetap berdiri di tempatku, walaupun sebenarnya aku mulai takut melihat orang tersebut. Kenapa dia mengumpat padaku, apa salahku? Dia kan bisa menjelaskan secara baik, kenapa membuatku jadi sedih.
"Dengerin ya, pasang kuping loe baik-baik..." dia malah makin melotot padaku.
"Gue..."
Mataku terasa makin panas, tanpa sadar kepalaku makin menunduk, takut jika dia melihat airmataku sampai jatuh. Ya ampun, Secengeng inikah aku? Padahal untuk hidup di kota aku harus jadi orang yang kuat.
Tiba-tiba pintu terbuka, bu Nia berdiri di ambang pintu memandang aku dan orang itu bergantian. Apa dia kenal pria ini?
Miral? Admiral?
Aku langsung menatap lelaki di depanku dengan pandangan tak percaya. Benarkah dia miral? Kenapa aku tidak mengenalinya.
"Ma, kenapa ada orang asing masuk kamarku. Mama kan tahu aku nggak suka kamarku dimasuki orang lain"
Ingatanku kembali ke masa tuju tahun lalu. Apa benar dia miral yang itu? Yang selalu baik dan bercanda padaku, yang sering menawarkan punggungnya untuk menggedongku?
Tanpa berpikir lagi, aku segera melangkah ke pintu,
"Maaf, saya salah kamar" kataku sebelum keluar. Aku berjalan entah menuju ke mana dan masuk sembarangan ke salah satu ruangan yang ternyata adalah perpustakaan. Selama beberapa menit aku hanya diam di balik pintu, berdiri dengan pakaian masih setengah basah. Aku hanya tidak siap, aku hanya tidak menyangka, dia berubah seperti itu.
Aku terduduk dan menangis sepuasnya tanpa suara. Aku bahkan tidak begitu paham kenapa aku menangis.
__ADS_1
Ditengah tangisanku, pintu mendadak diketuk. Terkejut, aku buru-buru menghapus airmataku.
"Hoe, buka pintunya!" ya ampun, Ternyata miral. Haruskah aku buka?
"Gue tahu loe di dalam, nggak usah ngedrama, buruan buka pintunya!" pintu diketuk makin kasar. Aku menarik nafas beberapa kali sebelum akhirnya membuka pintu perlahan, sebisa mungkin mencoba menghindari matanya. Apa bu Nia sudah bilang siapa aku ya?
"Gue minta maaf" ucapnya begitu pintu kubuka lebar "lagipula ini bukan sepenuhnya salah gue. Loe yang salah masuk kamar. Mama bilang kamar loe di samping kamar gue" tangannya terulur. Karena aku tidak segera menerimanya dia seenaknya menarik tanganku.
"Sorry" katanya lagi, lalu dia pergi.
Sepertinya dia belum tahu siapa aku. Mungkin lebih baik dia nggak pernah tahu ya.
Bagaimanapun juga rasanya tetap sakit, karena sikapnya yang tidak lagi sama. Rasanya aku tidak mau percaya bahwa itu miral. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, mencoba mengenyahkan segala pikiran negatif. Setelah menarik nafas beberapa kali aku pun pergi ke kamarku yang asli. Eh, tapi bukankah semua pakaianku ada di dalan sana.
Ya ampun, apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin aku masuk ke sana lagi, bagaimana kalau dia ada di dalam.
"Nayla"
Bu nia menghampiriku yang masih berdiri di depan pintu, aku merasa tidak enak padanya atas sikapku tadi.
"Kamu nggak papa? Maafin Miral ya, kayaknya dia lupa sama kamu. Maafin ibuk juga, kemarin ibuk nggak nganterin kamu ke kamar dan malah nyuruh kamu naik sendiri"
"Nggak papa kok buk, saya nggak apa-apa. Harusnya kemarin saya tanya lagi" aku berpikir sejenak untuk menanyakan hal selanjutnya, "emmm, bu Nia, boleh nggak saya pinjem baju bentar. Semua pakaian saya ada di dalam kamarnya miral"
"Boleh dong, saya punya baju waktu saya masih muda dulu dan udah nggak kepake sekarang. Kayaknya kalau kamu pakai cocok. Kamu tunggu di dalam bentar ya, ibu ambil di kamar dulu"
"Makasih bu"
Aku benar-benar harus bersyukur bisa tinggal di rumah ini. Terlebih bersama keluarga bu Nia yang baik. Terlepas dari hubuganku dengan Miral, aku mendapatkan banyak keberuntungan di sini.
__ADS_1