
Adrian pov
"Nay, mau gue mau anterin? Loe mau ke apartemen Miral kan"
Nayla sedikit terlihat ragu, tapi kemudian mengangguk.
Sepanjang perjalanan aku sengaja mengoceh panjang lebar tentang diriku. Agar ia tidak terlalu memikirkan Miral. Aku bukan mau membuatnya tenang. Aku ingin dia memikirkan diriku saja.
Lucu bukan, aku juga tidak tahu kenapa aku berpikir seperti itu.
"Makasih mas" katanya setelah kami sampai.
"Sama-sama"
"Mas Adrian nggak mau ikut?"
Aku menggeleng, "nggak, gue masih ada kegiatan di kampus, orang sibuk" kataku sambil tertawa, "titip salam aja buat Miral.
Yang lebih aneh lagi, aku tidak kunjung pergi setelah dia masuk. Aku juga bohong soal ada kegiatan di kampus. Dan aku sejujurnya tahu, Miral pasti tidak sendirian di sana.
Aku sering datang ke apartmennya saat Miral sakit dan libur panjang untuk menyerahkan tugas kampus. Dimana, selalu ada Tasya di sana. Awalnya kupikir hubungan mereka sangat aneh. Mereka bukan sepasang kekasih, tapi ikatan di atara mereka lebih kuat dari itu. Entah apa sebabnya, apa karena mereka sudah sangat lama berteman, atau salah satu di atara mereka punya perasaan. Kudengar Tasya sudah punya pacar.
Lalu, kenapa aku membiarkan Nayla pergi ke sana? Secara sengaja aku membiarkannya sakit hati.
Sial.... Aku melakukan hal yang salah.
Lima belas menit berlalu, Nayla keluar dari gedung itu. Dugaanku pasti benar, ada Tasya di sana.
"Maafin gue Nay" gumamku.
Nayla masuk ke salah satu toko di dekat gedung dan keluar sambil membawa minuman dingin dalam botol. Aku ingin sekali menghampirinya, tapi dia pasti akan terkejut kalau aku tiba-tiba datang padahal aku tadi bilang ada kegiatan di kampus.
Aku hanya mengamatinya dari jauh.
Tak berselang lama, Nayla pergi naik ojek online. Aku seperti mata-mata yang mengikuti kemanapun dia pergi. Apa Nayla akan marah kalau tahu hal ini ya. Kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah melihat Nayla marah.
Semakin jauh mengikuti Nayla, aku jadi semakin bertanya-tanya kemana dia akan pergi? Karena aku kenal jalan ini. Apa ini hanya firasatku saja?
Tapi Nayla benar-benar berhenti di depan rumah besar itu. Rumah yang dulu sering kukunjungi juga saat Miral belum membeli apartmennya yang sekarang. Apa maksudnya ini? Mereka tinggal serumah?
Bunyi ponsel membuatku terkejut sampai hampir jantungan. Nama ujang tertera di layar.
"Apa?" kataku setengah marah.
"Pake nanya, loe taruh kunci motor gue di mana?" Ujang alias steve nama aslinya bertanya dengan kesal.
Oh, benar juga aku tadi bercanda dengan ujang dan menyembunyikan kunci motornya. Masalahnya aku juga lupa di mana kunci itu kusembunyikan.
"Kunci motor?"
__ADS_1
"Iya, cepetan, gue mau jalan sama cewek gue"
"Oke, tungguin bentar, loe masih di kampus kan"
"Iya, buruan, keburu ngambek cewek gue"
Aku menutup telepon, gawat... Dimana aku meletakan kunci motornya?
*****
"Wah.. Gila loe" ujang sudah nyerocos sambil menyumpahiku dengan macam-macam kata kotornya. Salahku juga. Aku lupa dimana aku meletakan kunci motor itu.
"Pakai motor gue aja, sono. Sebelum pacar loe jadi nenek sihir" aku menyerahkan kunci motorku.
Aku mengacak rambutku dengan kesal. Seingatku aku meletakan kunci motor itu di dalam laci meja dosen di depan kelas. Tapi sekarang tidak ada. Ya kali ada tuyul berkeliaran di kampus ini.
Jam di dinding sudah menunjukan pukul setengah 5 sore. Aku harus pulang sekarang. Akan kuurus masalah ini besok.
Gara-gara memikirkan tentang tuyul, aku jadi merinding sendiri. Sambil bergidik ngeri aku berjalan keluar kelas. Dulu juga pernah ada cerita kalau di kampus ini ada mahasiswa yang bunuh diri karena putus cinta. Bagaimana kalau arwahnya marah padaku karena aku menertawakan kisah itu saat mendengarnya.
Ting...
Sebuah pesan masuk, membuatku mengumpat saking kagetnya aku.
Dari ujang.
Udah ketemu?
Belom, besok gue....
Belum selesai aku mengetik pesan, seseorang menepuk bahuku. Orang atau bukan? Aku masih diam, tidak berani berbalik. Tapi bahuku ditepuk lagi, bahkan lebih keras.
"Mas...."
Hantu cewek. Emang dimana-mana cowok ganteng kayak gue ada aja yang suka ya, tapi masak hantu juga.
"Woe, mas lagi cari apa, mau maling?"
Eh, kayak kenal suaranya. Aku berbalik.
"Loe... Ngapain sore sore disini?"
"Ngepel" aku mengamati teman Nayla yang bernama Riana ini. Dia sedang membawa ember berisi air dan pel-pel'an. Syukurlah bukan hantu.
"Ngapain ngepel?"
"Masnya ngapain di sini?" ditanya malah balik tanya.
"Oh, gue tahu. Loe dihukum pak Bob ya. Tadi kan loe dijewer lagi" aku malah menertawakannya. Mungkin kesal, Riana malah meninggalkanku. Aku mengejarnya.
__ADS_1
"Kenalin, gue Adrian, temennya Nayla. Loe Riana kan" kataku sambi berjalan di sampingnya.
Riana mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.
"Cari ini kan" disodorkannya sebuah kunci motor padaku. Aku menerima kunci motor itu dengan perasaan sedikit terharu. Syukurlah, aku tidak perlu keluar uang untuk mengganti kunci baru.
"Dapet dari mana?"
"Jatoh"
"Thanks... Gimana kalau gue traktir sebagai tanda trimakasih"
"Nggak perlu"
"Jangan gitu lah, gue bantu ngepel gimana?"
Riana berhenti berjalan, menoleh padaku, ada firasat tidak enak melihat senyum mencurigakannya. Apa seharusnya aku tidak menawarkan diri.
****
Hidup ini memang penuh penyesalan. Seperti aku yang menyesal karena menawarkan diri membantu dan ternyata si Riana itu disuruh mengepel seluruh kampus. Gila nggak...
Tapi sebagai tanda trimakasih, aku tetap melakukannya.
"Gue inget, loe itu yang suka tidur di kelas kan" aku bertanya sambil mendorong pel-pelan.
"Emangnya kenapa?"
"Nggak papa, apa jangan-jangan loe dihukum juga gara-gara tidur di kelas?"
Hening, tidak ada jawaban.
Sekitar jam 6 Riana berhenti dan tampak terkejut sampai meletakan alat pel-pelan di pojokan kelas begitu saja.
"Gue cabut dulu" katanya lalu berlari seperti orang dikejar setan. Setan... Memikirkan kata itu, aku pun lari menyusulnya. Tapi dia sudah menghilang entah kemana. Bodo amat lah.. Aku lari ke parkiran mencari motor si ujang.
Ternyata Riana masih berada di depan kampus.
"Lho, loe nggak jadi pulang?" aku berhenti di sampingnya.
Tanpa bicara apa-apa dia langsung nongkrong di belakangku.
"Anterin gue ke kafe trendy"
"Hah?"
"Udah buruan, gue telat"
Lebih baik kuturuti daripada kami berdebat. Lagipula aku masih menganggap ini sebagai ucapan trimakasih.
__ADS_1
Sesampainya di tempat tujuan, Riana mengucapakan trimaksih dan langsung lari ke dalam kafe secepat kilat. Aneh, apa dia mau ngedate sama pacarnya? Ckckck....
Mending gue pulang trus makan.