Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 9: sekolah


__ADS_3

Setelah libur panjang, hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah lagi. Merindukan jam-jam pelajaran yang sudah lama ditinggalkan. Aku mengambil tasku setelah selesai sarapan. Mencium tangan ibu untuk berpamitan dan bergegas ke sekolah.


Di luar orang-orang sudah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Beberapa warga bersiap ke sawah atau sungai. Aku berjalan pelan mengingat kakiku masih sedikit sakit.


  "Nayla"


Ah, aku tahu itu siapa.


Admiral berlari dengan langkah lebar ke arahku. Pertama kalinya aku melihat dia memakai seragam.


  "Udah baikan?" dia mengamati kakiku.


  "Udah" aku tersenyum.


  "Gue grogi nih" kalimat yang tidak sesuai dengan ekspresi.


  "Kenapa?"


  "Ya kan, gue anak baru"


  "Kan, udah banyak yang tahu kamu"


  "Kan cuma tahu, bukan kenal. Gara-gara loe nih, gue jadi nggak punya temen lain"


  "Lho kok aku" merasa sedikit tidak terima dengan pernyataan admiral.


  "Tiap hari kan sama loe"


  "Ya, aku kan nggak nyuruh" aku memalingkan wajah kesal. Padahal tiap hari dia yang ngajak main. Ke ladang ilalang lah, lihat matahari terbit lah...


"Auw..."


Aku menjerit karena tiba-tiba pipiku dicubit.


  "Bercanda" katanya dengan tawa keras.


Aku mengusap pipiku, makin kesal. Tapi anehnya merasa salah tingkah juga.


Seperti dugaaanku kehadiran miral di sekolah membuat heboh banyak anak prempuan. Walaupun kebanyakan mereka pemalu. Tapi aku bisa tahu hanya dengan melihat tatapannya pada miral, tatapan yang sama denganku saat pertama melihatnya.


Aku yang berdiri di sampingnya merasa sangat malu dan ingin menjauh saja, tapi miral terus mengoceh padaku dan terlihat tidak peduli dengan kehadiran orang lain.


Wajar saja kalau banyak yang menyukainya. Miral terlalu mencolok di desa ini. Warna kulit, tinggi badan, cara bicara dan auranya sangat jauh dari kami. Kalau kami pergi ke kota mungkin orang akan mengira aku adalah pembantunya.


  "Nay" miral mendorong dahiku dengan telunjuknya, membuatku gelagapan.

__ADS_1


  "Apa...apa?"


  "Loe dari tadi ngelamun?"


  "Enggak, siapa yang ngelamun? ayo aku tunjukan ruang gurunya" aku mempercepat langkahku, berjalan mendahului miral. Menunjukan ruangan guru padanya.


Sebelum ikut pelajaran dia harus melapor dulu pada kepala sekolah.


  "Sampai ketemu nanti" katanya sambil mengedipkan sebelah mata. Apa coba maksudnya...?


Ini juga kenapa jadi deg-deg an.


Aku baru saja duduk di bangkuku, si lili dan kawananya itu langsung mengangguku. Wajah mereka sudah persis seperti nenek sihir.


  "Kok kamu bisa bareng sama admiral?" tanyanya sambil bersedekap.


  "Nggak sengaja" aku malas meladeninya. Kukeluarkan bukuku.


  "Alah, boong. Kamu sengaja kan deketin anak dokter rangga" kawanan nomer 1, namanya desi ikut bicara.


  "Enggak"


  "Pasti boong nih li, mana mungkin admiral mau temenan sama ni bocah, jelek begini" kawanan no 2, mirna.


Untungnya guru segera masuk sehingga mereka kembali ke tempat duduknya setelah menggebrak mejaku.


  "Pagi semuanya, hari ini kita kedatangan murid baru" miral berdiri di depan kelas dengan senyum lebar. Semua anak tampak antusias dengan kehadirannya.


  "Halo, perkenalkan nama saya admiral..."


Bla-bla-bla... sampai ia selesai menceritakan dirinya dan guru menyuruhnya duduk. Aku menoleh saat menyadari seseorang menggeser kursi di sampingku.


  "Hay" karena aku dimusuhi lili, maka semua anak tidak berani duduk sebangku denganku dan aku selalu sendirian. Beginilah nasibku selama ini.


Kadang arman duduk di sampingku, tapi hari ini dia tidak masuk. Dan ke depannya teman sebangkuku adalah miral. Entah apa yang akan dilakukan lili padaku. Aku menutup wajah kesal. Kehidupanku akan lebih sulit ke depannya.


Hari pertama di sekolah akhirnya selesai juga. Aku berjalan pulang dengan langkah gontai, berulangkali menghembuskan nafas lelah.   Bagaimana aku tidak lelah, seharian ini lili terus melotot padaku sampai aku bisa merasakan aura kebenciannya walau tidak melihatnya. Dan alasannya tentu saja karena miral terus berada di sampingku. Padahal anak laki-laki lain mengajaknya main sepak bola bersama tapi si miral itu menolaknya dan malah mengikuti aku kemana pun aku pergi. Termasuk saat ini.


  "Loe kok dari tadi murung terus sih nay?" kalau kujawab jujur, dia pasti sakit hati.


  "Lagi capek" jawabku singkat.


  "Padahal baru hari pertama"


Aku hanya menjawabnya dengan gumaman.

__ADS_1


  "Mau gue gendong?"


Hah, pertanyaan macam apa itu.


  "Nggak"


Miral masih tidak putus asa, dia terus bicara dan bertanya hal-hal tidak jelas padaku. Tangannya berkali-kali mencubit pipiku, menarik rambutku, menarik bajuku.


  "Nay, loe lagi ada masalah?"


Kira-kira lili bakal ngelakuin apa ya? Jangan sampai dia bikin ibu susah. Ya ampun, kepalaku jadi pusing memikirkannya.


Aku mengacak rambut frustasi.


  "Hoe nayla?"


Apa aku harus menjauhi miral? Bagaimana caranya? Dia terus menempel padaku seperti anak ayam. Lagi pula aku sudah terlanjur nyaman berada di dekatnya.


Apa? Apa yang barusan kupikirkan?


Bruk...


Aku berhenti berjalan. Bukan karena jatuh, tapi karena ada yang menghalangi jalanku. Dari aromanya, aku tahu ini..


  "Loe lagi ngapain sih?"


Aku mendongakkan kepalaku perlahan.


  "Kamu yang lagi ngapain?" aku berusaha menghindar dengan melangkah ke kanan, tapi miral malah mengikutiku.


  "Dari tadi dipanggil nggak nyaut, loe nggak sakit kan"


Tubuhku serasa membeku karena miral meletakkan tangannya di dahiku.


  "Enggak, trus loe kenapa?" ia menurunkan tangannya, aku langsung bernafas lega.


  "Lapar" jawabku asal.


  "Serius? Bilang dong dari tadi, jangan diem aja. Kan gue kira kesambet apa gitu"


Aku tidak bisa ikut tertawa, masih kepikiran soal lili.


  "Ntar sore gue jemput ya, kita pergi ke ladang ilalang, jangan lupa makan dulu yang banyak" katanya sebelum kami berpisah di jalan. Aku tidak bilang iya atau tidak. Karena kalau kularang pun dia pasti akan tetap datang.


 

__ADS_1


__ADS_2