Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 11 : Hilang


__ADS_3

Aku merasa sangat malu sekali. Seumur hidupku aku tidak pernah berpikir akan mengalami kejadian seperti ini. Sama sekali tidak pernah terbayang. L


  "Nay, kamu kok belum berangkat sekolah?"


Saking fokusnya aku pada perasaan maluku, aku sampai terkejut hanya karena mendengar suara ibu.


"Ah, iya bu. Ini nayla juga mau berangkat" aku menyambar tasku dengan cepat dan berlari ke luar rumah. Tak berselang lama aku kembali lagi ke dalam.


"Lupa cium tangan buk" kataku di depan ibu. Ibu hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuanku.


Di sepanjang perjalanan aku terus merasa cemas, berdoa semoga tidak bertemu miral di jalan. Tak terhitung lagi sudah berapa kali aku mengacak rambutku karena bingung. Aku bahkan terus celingukan karena takut dia tiba-tiba muncul.


Pikiranku juga terus mencoba memikirkan hal lain, tapi tetap saja adegan kemarin terus berputar di kepalaku. Atas dasar apa ia menciumku? Dan apa katanya kemarin... Kenang-kenangan?


Si miral itu, dia sudah gila. Aku tidak bisa berpikir jernih karena kejadian kemarin. Bagaimana kalau ada yang lihat? Bagaiamana aku harus bersikap di depannya nanti? Apa aku harus marah? Tapi kalau marah kenapa tidak dari kemarin...


Hua...aku tidak peduli.


Harga diriku sudah tenggelam. Rasanya aku ingin pulang saja, mengurung diri di kamar.


Seperti biasa suasana kelas selalu riuh di pagi hari. Aku mengintip ke dalam sejenak sebelum masuk. Tidak terlihat kehadiran miral sama sekali. Sambil bernafas lega aku duduk di bangkuku. Hari ini Arman masuk, aku bisa memintanya duduk denganku sementara untuk menghindari miral.


  "Arman"


  "Hay nay, kok kamu kelihatan gelisah, ada apa?" Arman duduk di sebelahku.


Apa wajahku sekarang benar-benar terlihat gelisah? Kalau Arman saja menyadarinya, miral nanti pasti juga sadar.


  "Nggak apa-apa, kemarin kenapa nggak masuk?" mencoba mencairkan suasana, kukeluarkan buku dari tas dan menatanya di meja.

__ADS_1


  "Oh... Aku kemarin ada urusan di rumah. Lupa mau izin guru. Katanya ada murid baru yang duduk sama kamu?"


  "Eh, iya... Tapi dia belum datang" aku menatap pintu, tidak ada tanda-tanda miral datang, "hari ini kamu bisa duduk sama aku nggak, aku mau minta tolobg ajarin sesuatu" kupasang wajah memelas.


  "Trus anak baru itu bagaimana?"


  "Tukeran aja dulu"


Arman diam sejenak, aku berdoa dalam hati sambil memasang wajah lebih memelas."


  "Baiklah"


Lega rasanya.


Anehnya sampai bel berbunyi dan guru masuk ke kelas, miral belum juga datang. Apa dia tidak masuk? Kenapa?


  "Anak baru itu nggak masuk?"


Sekali lagi aku menatap pintu kelas. Bertanya-tanya dalam hati tentang keadaan miral. Sementara di belakangku lili dan gengnya sibuk mengoceh tentang kesedihan mereka karena miral tidak datang. Mereka bahkan sudah menyebut miral sebagai "calon suami"


Seharusnya aku merasa lega. Dengan tidak adanya miral, lili dan kawanan centilnya itu tidak terlalu mengusikku, aku juga bisa bebas berkeliaran tanpa diikuti tatapan iri gadis lainnya, dan yang terpenting aku tidak perlu memikirkan sikapku di depannya. Tapi anehnya, aku malah mencemaskannnya. Rasanya tidak mungkin kalau si miral itu sakit, memangnya dia bisa sakit?


Tentu saja, dia kan manusia.


Apa aku nanti perlu menjenguknya?


  "Nay"


Arman menepuk bahuku. Terlalu sibuk dengan lamunanku sendiri sampai aku lupa kalau Arman sedang ada di dekatku.

__ADS_1


  "Ada masalah?"


Aku menggeleng, "itu, kepikiran tugas dari guru tadi. Aku ke perpus dulu ya"


Bahkan sampai pulang pun aku masih tidak bisa mengeyahkan miral dari pikiranku. Dia seperti hantu yang bergentayangan dalam otakku.


  "Apa dia sakit?" gumamku pada diri sendiri. Kuamati puskesmas yang terlihat dari tempatku sekarang. Sesaat, terlintas pikiran untuk bertanya pada dokter rangga, tapi aku menepis pikiran itu karena merasa malu. Kalau pun miral sakit, pasti dia akan segera sembuh dan kembali ke sekolah. Lagipula aku harus berpura-pura marah padanya karena telah menciumku tanpa izin. Kalau dia masuk nanti akan kupastikan untuk menginjak sepatunya yang bagus itu sampai kakinya sakit. Kalau perlu akan kutampar juga dia...


Sepertinya itu terlalu berlebihan, aku tidak akan tega melakukannya.


"Nayla"


Miral? Aku berbalik cepat, ternyata Arman yang muncul. Entah kenapa aku merasa sedikit kecewa.


"Bukumu ketinggalan" dia menyerahkan buku tugas bahasa indonesia milikku.


Sepertinya buku itu lupa kumasukan ke dalam tas karena aku pulang terburu-buru.


"Makasih" aku menerima buku itu.


"Dari tadi pagi kamu kelihatan gelisah, emangnya ada apa?"


Dulu aku sering bercerita masalahku pada Arman. Dia satu-satunya teman yang tidak menjauhiku karena lili. Itu sebabnya kami punya hubungan yang cukup dekat. Bisa dibilang dia sahabatku. Tapi sepertinya aku tidak bisa cerita masalah miral padanya. Aku malu sendiri kalau mengingat kejadian sore kemarin, kalau sampai Arman tahu. Entah apa tanggapannya padaku.


"Eh, anak baru itu namanya miral kan?"


"Iya, kenapa?"


"Kayaknya dia nggak masuk bukan karena sakit. Aku tadi pergi ke ruang guru sebelum pulang, tidak sengaja dengar percakapan mereka tentang anak yang namanya Admiral. Katanya dia balik ke kota"

__ADS_1


"Kenang-kenangan"


Begitu katanya kemarin.


__ADS_2