Gadis Jerami

Gadis Jerami
Episode 16 : kenang-kenangan basi


__ADS_3

Aku baru saja dari kamar mandi membersihkan bajuku yang terkena kecap, tapi saat aku kembali Miral sudah duduk di kursi dapur sambil melotot padaku. Mungkin dia masih marah padaku, aku harus menjaga sikap mulai sekarang.


Berdasarkan cerita yang kudengar dari bik Narmi, Miral memang agak kasar tapi dia bukan tipe orang yang kejam.


Entahlah, aku tidak mengenal Miral dengan sifat seperti itu. Jadi aku akan menganggap tidak pernah bertemu dengannya, kupisahkan miral kecil dan dewasa. Itu lebih baik.


"Neng, tolong siapin capcaynya dulu ya, itu mas Miral mau makan duluan katanya" kata bik Narmi saat aku meniriskan capcay yang sudah matang.


"Eh, iya bik" aku mengambil piring lagi dan menyiapkan capcay khusus untuk Miral. Saat sedang meletakan nasi dan capcay di atas meja, aku merasa dia sedang menatapku dan benar saja, dia memang memperhatikanku. Apa maksud tatapannya itu? Apa dia sedang memikirkan rencana untuk mengusirku dari sini?


"Sekalian bikinin jus jeruk" katanya tiba-tiba


"Iya" aku bergegas melaksanakan perintahnya dan menaruh jus jeruk di depannya.


"Loe..."


Aku menoleh, dia mau ngomong apa?


"Nayla?"


Apa? dia tahu aku? Apa dia sudah mengenaliku? Padahal aku sudah memutuskan untuk melupakan semuanya.


"I..iya" jawabku gugup.


Miral tidak bicara apa-apa lagi, dia mengambil sendok dan menyantap makanan di depannya. Sementara aku, masih berdiri di samping meja dengan pikiran penuh tanya. Heran, terkejut, bingung.


"Ngapain masih di sini, mau ikut makan" aku menggeleng dan buru-buru pergi. Kalau dia sudah tahu aku, kenapa reaksinya hanya begitu? Apa dia juga sengaja, sama sepertiku, dia tidak mau mengingat masa lalu kami.

__ADS_1


Ahh.. Kenapa aku memikirkannya seperti ini? aku sudah bilang akan berhenti memikirkannya.


"Udah mateng semua bik?"


"Udah neng, tinggal siapin di meja makan. Kayaknya nyonya sama tuan bakal pulang cepet, gitu sih kata pak Raden"


"Bik, pak Raden nggak pernah cukur kumis ya?" iseng aku menanyakan hal itu, karena saat pertama bertemu pak Raden, aku langsung memperhatikan kumis tebalnya.


"Ha..ha... Bisa aja nanyanya. Jadi ceritanya dulu itu..." bik Narmi diam sejenak, melirik sekilas pada Miral yang masih sibuk makan.


"Mas Miral kan suka sama pak Raden di film si unyil, trus tiba-tiba dia nangis minta ketemu pak Raden, karena nggak bisa akhirnya dia minta pak Raden bikin kumis kayak pak Radennya si unyil. Nggak tahunya sampai sekarang pak Raden malah jadi suka kumisnya"


Aku tertawa mendengar cerita itu, walaupun aku tidak tahu betul tentang


Si unyil tapi membayangkan masa kecilnya miral mengasyikan juga.


*****


Kami sedang makan malam. Aku, bu Nia, pak Rangga, dan tentunya Miral yang hanya duduk di kursi sambil menguyah apel. Dia tidak makan lagi karena masih kenyang setelah menghabiskan sepiring capcay.


"Nay, minggu depan kamu bisa mulai kuliah"


"Beneran buk?" aku terlalu senang mendengar kabar tersebut sampai lupa belum menelan makananku.


"Iya, kamu akan kuliah di tempat yang sama dengan Miral. Kamu ambil jurusan seni kan, Miral juga anak seni lho" jelas pak Rangga sambil melirik miral, yang dilirik hanya diam saja.


"Makasih banyak ya pak, buk"

__ADS_1


"Iya sama-sama, nanti kalau kamu ada masalah di kampus, kamu bisa tanya sama Miral. Dia ini nggak cuma kuliah, tapi juga udah kerja sesuai jurusannya." kata bu Nia, memandangi putranya dengan tatapan bangga.


"Iya buk" aku tidak menyangka Miral menyukai seni. Sejak kapan?


"Oh ya, Miral, kamu nggak ke rumah sakit minggu lalu?"


"Nggak perlu pa, Miral baik-baik aja kok"


"Kamu nggak lupa kan?"


"Enggak, Miral udah merasa baikkan, makanya nggak ke sana"


"Tetep aja, besok kamu harus ke rumah sakit. Mama nggak mau kamu nanti..."


"Iya.. Iya.. Miral paham. Miral mau balik sekarang ya. Ada janji sama klien" meninggalkan meja makan, Miral menghampiri Bu Nia dan Pak Rangga, mengecup pipi mereka bergantian dan pergi. Apa ada masalah dengan kesehatannya ya? Aku ingin bertanya, tapi tidak berani. Semoga saja dia cepat sembuh.


Setelah selesai makan malam aku pergi ke kamar Miral lagi untuk mengambil pakaianku yang masih berada di sana. Tidak seperti ruangan lainnya, kamar Miral selalu gelap. Kalau diperhatikan lagi


Ruangan ini terasa kosong. Hanya ada ranjang, almari, meja dan kursi. Tidak ada hiasan apapun, bahkan tidak ada lukisan sama sekali. Kata orang kamar mencerminkan pribadi pemiliknya. Jika itu benar, apa seperti ini Miral yang sebenarnya?


Ah.. Aku ini mikir apa? Segera ambil baju dan kembali ke kamar sendiri. Aku menaruh bajuku di dalam ranjang pakaian. Hanya sedikit baju yang kubawa dari desa. Dan lagi kemarin bu Nia memberika banyak pakaian yang cantik. Aku bisa menggunakannya untuk kuliah nanti.


Setelah selesai mengambil pakaian aku pun kembali ke kamarku dan menatanya di almari. Saat sedang merapikannya aku menemukan satu pakaian yang bukan milikku. Sebuah kaos hitam dengan tulisan brother.


Pasti ini milik Miral....


Aku kembali lagi ke kamarnya dan meletakan pakaianya itu ke tempatnya. Entah mengapa aku tidak segera keluar dan malah berjalan menuju ranjang. Melupakan wajah Miral yang akan marah, aku menghempaskan badanku di atas ranjangnya.

__ADS_1


"Kenang-kenangannya udah basi" gumamku.


__ADS_2