
Pagi-pagi lili sudah berkumpul bersama teman-temannya di teras rumah. Entah apa yang mereka bicarakan, mungkin masih tentang cara memutihkan kulit dan curhat soal suami idaman mereka di masa depan. Pagi ini aku berada di sini karena harus membantu ibu membawa belanjaan dari pasar. Tapi aku akan segera pergi menepati janji dengan miral. Aku merasa malu sekali karena salah menyebut namanya. Gue? Ya ampun, harusnya aku sedikit belajar soal kehidupan kota.
"Bu, nggak apa-apa kan aku tinggal hari ini?" aku bertanya lagi pada ibu. Bagaimanapun juga aku merasa bersalah karena harus membiarkannya bekerja sendiri.
"Nggak apa-apa" ibu tersenyum lembut, aku mencium tangannya dan bergegas ke luar karena rupanya sudah jam 9 pagi, padahal kemarin aku bilang jam 8. Dia pasti akan marah lagi.
"Eh, mau ke mana?" seperti biasa lili selalu ada cara untuk menggangguku.
"Mau pergi, ada urusan" jawabku.
"Sok sibuk banget, bantuin tuh ibu kamu di dapur" katanya sinis.
Aku baru akan membuka mulut untuk menjawab saat seseorang memanggil namaku dengan lantang.
"Nayla" tak salah lagi, itu miral. Dia sudah berdiri di depan pagar rumah lily sambil melambaikan tangannya padaku.
Aku terkejut, kalau sampai lily melihatnya dia bisa membuat macam-macam gosip soal aku dan miral.
"Aku pergi dulu, ada urusan penting" kataku lalu berlari meninggalkan lily dan teman-temannya yang tak kalah terkejut dengan kehadiran miral. Saat sampai di dekat miral, aku hanya melihatnya saja, dan berlari makin kencang melewatinya. Dia pasti bingung, tapi ini kulakukan demi keselamtan kami.
Ketika sudah cukup jauh, aku berhenti untuk istirahat. Rasanya nafasku sudah mau putus
"Ckckc... Udah telat, malah kabur lagi" katanya menyindir
"Maaf, soalnya bisa gawat kalau lili lihat kita"
"Cewek yang tadi?"
"Iya, itu lili sama temen-temennya"
"Emangnya kenapa?"
"Ya, dia bisa nyebar gosip yang macem-macem soal kita"
"Ya bagus dong"
Aku melirik miral dengan tatapan penuh tanya.
"Kan kita jadi terkenal"
"Kamu aja, aku nggak mau" jawabku lalu melanjutkan perjalanan kami. Hari ini aku berencana mengajaknya ke hutan bambu. Salah satu tempat paling kusuka di tempat ini.
"Kita mau ke mana nih?"
"Ke suatu tempat yang indah banget"
"Awas loe kalau boong"
"Ya enggak lah, aku nggak pernah bohong"
__ADS_1
"Nah, itu boong. Nggak ada sejarahnya manusia nggak pernah bohong. Emangnya malaikat"
"He..he.. Iya sih" aku tertawa mendengar ucapannya.
"Loe punya pacar nay?"
"Nggak"
"Serius? Kenapa?"
"Ya karena, aku masih kecil"
Tawa miral meledak mendengar jawabanku, kenapa dia selalu tertawa tiba-tiba dengan suara sangat keras.
"Kecil dari mananya?" miral mengamati aku dari atas sampai bawah sehingga aku malu dan memalingkan wajahku.
"Gini. Maksud gue, kita seumuran kan. Berarti umur loe 16 tahun..."
"Lima belas" kataku menyela.
"Ya beda setahun doang, di usia segini, kita udah bukan anak kecil lagi. Di kota sana, cewek seumuran loe ini udah berkali-kali pacaran, malahan..."
"Ya, itu kan di kota. Di sini, semuanya masih serba tertinggal. Menurut adat di sini, para wanita baru bisa dikatakan dewasa saat usia meraka sudah 20 tahun dan sudah waktunya menikah. Kamu nggak bisa menyamakan keduanya tanpa lihat situasi" aku menyelanya lagi tanpa memberi jeda pada ucapannku. Sejujurnya aku memang agak kesal padanya. Secara tidak langsung dia sedang mengatai aku kampungan. Walaupun itu memang benar.
"Oke, maaf. Nggak perlu ngegas juga"
"Kamu sendiri gimana?" tanyaku memecahkan suasana canggung.
Miral menoleh padaku.
"Menurut loe?"
Yah, dia malah balik tanya.
"Ya, aku nggak tahu, aku kan belum pernah ke kota"
"Masak nggak bisa lihat, orang ganteng kayak gue gini udah pasti banyak penggemarnya" dengan percaya dirinya dia berkata seperti itu sambil mengedipkan sebelah matanya. Aku tertawa melihat kelakuannya tersebut.
"Malah ketawa, seriusan ini"
"Iya, iya, percaya"
Kami tertawa bersama, selama 2 jam perjalan itu miral bercerita lagi soal kehidupannya di kota, teman-temannya dan hal-hal lain yang ia rindukan. Sejujurnya aku sangat penasaran dan ingin melihat secara langsung tempat-tempat yang ia ceritakan padaku. Aku ingin bisa melanjutkan sekolah di kota, dan bisa bekerja di sana. Sedih rasanya jika membayangkan aku akan berada di desa ini selamanya. Aku ingin melihat dunia luar juga. Pasti ada banyak hal baru di sana.
"Eh, kita sudah sampai"
Kataku, berhenti melangkah dan menunjuk rimbunnya hutan bambu di depan kami. Sebuah tempat yang indah dengan suara-suara menenangkan dari bambu-bambu yang bergesekan karena tiupan angin. Di tempat ini rumputnya sangat hijau dan bersih, bambu-bambu tumbuh secara alami membentuk jalan-jalan bercabang, agak gelap tapi anehnya tidak memberi kesan seram.
"Wow...." miral berjalan lebih dulu sambil tak hentinya mengamati sekitar.
__ADS_1
"Kok bisa ada tempat sebagus ini tersembunyi, ini sih harusnya jadi tempat wisata." katanya dengan senyum kagum.
"Nggak boleh"
"Eh, kenapa?"
"Sudah aturannya begitu, ini salah satu tempat suci di sini. Menjadikannya tempat wisata, akan merusak kealamiannya"
Miral hanya mengangguk-angguk, sambil terus berjalan. Tiba-tiba dia berbaring dengan santainya di atas rumput. Menjadikan kedua tangannya sebagai bantal dan memejamkan mata.
"Ini yang namanya surga dunia" bibirnya tersenyum. Aku mendekat dan duduk di sampingnya.
"Ada dongengya nggak?' katanya membuka mata.
"Emmm... Nggak ada kayaknya. Aku nggak pernah dengar"
"Tapi kok sepi banget ya?"
"Emang jarang ada yang kemari"
Suasana hening untuk beberapa saat. Aku terbuai dalam suara alam dari gesekan bambu-bambu. Cahaya matahari mulai terlihat menerobos rimbunnya dedaunan, hangat. Aku tanpa sadar ikut berbaring di samping miral, hanya saja aku tetap membuka mataku. Menatap ke atas. Dulu, aku sering kemari bersama bapak, dia bilang tempat ini penuh energi positif dari alam yang bisa menghapus kesedihan. Itu sebabnya ketika bapak meninggal, aku pun berlari ke tempat ini dan menangis seharian di sini.
Sejujurnya, aku sangat rindu bapak. Sudah 7 tahun lebih dia meninggal.
Aku terkejut ketika kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipiku.
"Loe nangis?" miral menatapku, sambil sebelah tanganya mengusap airmataku yang tanpa kusadari terjatuh.
"Em.. Enggak" elakku sambil buru-buru mengusapnya. Terkadang aku tidak sadar jika sedang menangis.
"Mau cerita?"
"Cerita apaan?" aku tetap berusaha menghindar"
"Ya udah, kapan-kapan aja ceritanya"
Tak mau berlama-lama kepikiran bapak. Aku berdiri dan berjalan meninggalkan miral."
"Woe, tungguin!" aku menoleh sekilas lalu tertawa. Dengan cepat miral sudah berada di sampingku.
"Loe tuh, suka nggak ngomong mau kemana"
"Ke air terjun" jawabku.
"Ada air terjun di sini?"
"Lihat aja nanti"
__ADS_1