
Aku mengerjap beberapa kali, sebelum sadar bahwa aku berada di dalam mobil. Ingatanku terkumpul secara lambat. Bukankah aku sedang berkencan dengan Miral? Aku langsung duduk tegak. Menoleh ke samping. Kosong.
Di mana Miral?
Di kursi belakang juga tidak ada siapa-siapa.
Aku sudah panik saat kaca di sampingku diketuk sehingga aku terkejut. Tapi kemudian merasa lega begitu melihat senyum Miral. Dia membuka pintu mobil
"Saya kira kamu ninggalin saya di sini sendirian"
"Mana mungkin" Miral meraih tanganku dan mengandengnya. Genggamanya terasa hangat di tengah udara dingin.
"Gue cuma pergi bentar, nggak tega mau gangguin tidur loe, Ayo"
"Kita mau ke mana?"
"Bentar lagi sampai, loe nggak papa kan jalan kaki. Atau mau gue gendong"
Aku menggeleng sambil tertawa.
"Saya bukan anak kecil yang minta gendong karena jalan'nya jauh"
"Nggak masalah, kalau loe capek bilang aja"
Rasanya seperti nostalgia. Bukankah Miral dulu juga pernah mengatakan hal yang sama. Aku tersenyum malu.
Kami berjalan di tengah jalan setapak, di kiri kanan menjulang pepohonan tinggi. Angin gunung berhembus pelan namun terus-menerus. Kurasa, aku sudah melewatkan perjalanan karena ketiduran di mobil.
"Kamu pernah ke mari sebelumnya?"
Miral mengangguk, "entah kenapa gue suka pergi ke tempat kayak ini. Padahal gue benci gunung. Tapi gue suka hutan. Mungkin karena secara nggak sadar udara segar di sini mirip dengan desa jerami"
"Udara di sini memang segar banget" aku menarik nafas dalam-dalam.
Kami berjalan selama 15 menit'an, melewati sedikit tanjakan sampai akhirnya Miral berhenti.
"Loe lihat, 2 pohon di sana?" tangannya menunjuk 2 pohon raksasa tak jauh dari kami. Akar-akarnya yang besar merambat di permukaan tanah. Tak perlu waktu lama aku langsung mengenali kedua pohon itu sebagai 2 pohon di desa jerami. Meskipun berbeda, tapi bentuknya hampir sama. Aku tersenyum menatap Miral dan berlari menuju pohon itu. Mataku tidak bisa berhenti menatap takjub. Benar-benar mirip. Bagaimana bisa ada pohon seindah ini di sini.
Miral menyusulku tak lama kemudian. Dia duduk di atas akar raksasa sambil mengamatiku yang masih berlarian mengelilingi 2 pohon itu.
Setelah puas, aku duduk di sampingnya.
"Bener-bener Mirip" kataku antusias.
Miral pov
__ADS_1
"Gue masih inget ceritanya. Seorang wanita yang tetap mencintai pasanganya meskipun nyawanya berkurang setiap kali mereka bersama" Cerita yang mengendap di dalam pikiranku itu membuatku terkejut saat aku pertama mengingatnya. Sore yang indah sambil memperhatikan Nayla bercerita dengan semangat.
"Dongeng indah yang menyedihkan" Nayla menimpali.
"Kadang hal yang menyedihkan memang lebih mudah dikenang dan terkenal, iya kan"
Nayla mengangguk. Matanya terpejam sambil menarik nafas dalam.
"Makasih, saya seneng banget kamu ngajak saya ke sini"
Aku lebih senang melihat senyumnya. Sepertinya hari ini dia banyak tersenyum, atau hanya perasaanku saja. Aku meraih tangannya dan menggenggamnya.
"Gue lupa bilang kalau udaranya dingin, sorry ya" Aku sungguh lupa karena terlalu bersemangat. Bahkan aku sendiri juga tidak memakai jaket, hanya kaos biasa.
"Saya udah biasa sama hawa dingin, sikap kamu beberapa bulan lalu jauh lebih dingin"
Aku mengerutkan dahi mendengar candaanya.
"Itu karena gue belum ingat"
"Saya sampai takut dan mikir kalau kamu bukan Miral"
"Terus?"
"Maaf ya" aku mencium tangannya. Nayla tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aroma harum rambutnya membuatku merasa nyaman.
Kami menikmati hening beberapa saat. Meskipun cuaca tidak begitu cerah tapi pegunungan di kejauhan sana masih terlihat indah.
"Sejujurnya saya takut"
"Takut kenapa?"
"Kalau ini cuma mimpi, coba kamu pikir, berapa banyak perbedaan di antara kita. Saya selalu bertanya-tanya kenapa kamu milih saya? Sementara ada banyak gadis cantik yang suka sama kamu"
"Kenapa ya?" aku tersenyum, sejujurnya sulit menjelaskan alasannya.
"Nah, kamu sendiri bingung" Nayla mengangkat kepalanya, menatapku.
"Nggak ada yang spesial dari saya, kita cuma pernah kenal sebentar di desa. Itu pun karena kamu nggak sengaja ketemu saya di padang ilalang. Saya takut, kalau perasaan kamu sekarang nggak nyata, saya takut kalau justru saya yang terlanjur suka. Saya takut...."
"Nay...!" aku memotong ucapan Nayla, kutatap matanya dalam-dalam.
"Loe nggak usah mikir macam-macam. Cukup percaya kalau gue cinta sama loe" aku mengusap pipinya lembut. Bukankah cinta itu saat kita merasa nyaman bersamanya, dan rindu saat dia tak ada.
"I love you" aku mencium bibirnya sekilas.
__ADS_1
Nayla terdiam menatapku. Tiba-tiba tangannya terangkat menutupi bibirnya.
"Kenapa? Loe nggak mau dicium?"
Nayla menggeleng kuat
"Nggak, nggak gitu... Maksud saya..."
"Kita kan udah ciuman di mobil waktu itu..."
Hup, aku hampir terjengkang ke belakang karena tangan Nayla yang berpindah menutup mulutku. Aku menurunkan tangannya.
"Nay, loe mau bikin gue celaka? Punggung gue aja kadang masih sakit lho"
"Mm...maaf"
Aku berusaha menahan tawa melihat tingkahnya. Sebenarnya aku tahu, ciuman panas di mobil waktu itu terjadi karena Nayla mengira itu adalah mimpi. Ciuman panas?
Aku menggelangkan kepalaku. Sejak hari itu, aku jadi sering membayangkan yang tidak-tidak.
"Khem... Intinya kita kan sekarang pacaran" aku merangkulnya, mencoba bersikap akrab dan biasa.
"Kan cuma pacaran"
"Loe pengen jadi istri gue secepetnya?
Nayla tak menjawab, matanya melebar, mungkin terkejut dengan kata-kataku yang blak-blak'an.
"Nggak gitu juga"
"Jadi loe nggak mau jadi istri gue" memang paling menghibur menggoda Nayla.
"Nggak gitu maksud saya"
"Bukannya kalau loe tinggal di desa, loe udah kelewat waktu buat nikah ya. Bisa dibilang nggak laku"
Nayla langsung meninju lenganku.
"Saya masih harus sukses sebelum nikah"
"Sekarang banyak kok yang udah nikah tapi masih kuliah"
"Saya tahu kok"
"Gue serius Nay. Loe mau jadi Istri gue?"
__ADS_1